Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 41. Telling to Alessa


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...Selamat membaca! ...


...-----...


Allard sampai di sebuh gedung diselenggarakannya acara pemeran busana. Acara ini pada dasarnya telah diagendakan sejak lama, tetapi malam ini akan ada petunjukkan kecil. Ia duduk di bangku vvip, Tania di sampingnya.


Acara dimulai menampilkan model papan atas yang memamerkan busana rancangan hasil kerja sama dengan perusahaan fashion terkenal. Allard tersenyum miring ketika Liana tampil dengan lingerie transparan.


“Jordan, bawa wanita itu sekarang!” ucap Allard beranjak.


“Kau ingin kemana?” tanya Tania.


Allard tak menjawab, ia berjalan keluar menunggu Jordan membawa Liana.


“Tuan. Kita akan kemana?”


“Ikut saja!” Liana tersenyum senang, pikirannya jauh entah kemana.


“Ini tempat apa?” tanya Liana takut ketika sampai di sebuah club malam.


“Jordan, tutup mulutnya!” Jordan dengan sigap menutup mulut Liana.


Mc membuka acara tersebut, tak lama mc tersebut memanggil satu per satu nama-nama peserta. Gililiran Liana masuk dari belakang panggung, dia belum mengerti apa-apa. Tubuhnya gemetaran melihat orang-orang mengangkat sebuah papan putih dengan tulisan harga di dalamnya. Dia akan dijual!


“Tuan. Mr Barala ingin berbicara,” ucap Allard menyerahkan ponselnya, Allard tersenyum cerah. Rencana memancing kemarahan pria tua ini berhasil!


“Halo, Mr. Barala!" Sapa Allard tenang.


"Keparat kau, Helbert!"


"Jangan macam-macam padaku!" ucap lawan bicaranya. Allard tertawa senang.


"Kau yang macam-macam padaku, Mr. Barala."


"Bajingan kau, Helbert!"


"Ah terima kasih atas pujiannya. Bagaimana rasanya mendengar anakmu di jual?"


"Kau!!" Ucap disebrangnya geram.


“Maka dari itu jangan main-main denganku. Kau menyakiti wanitaku, beribu kali aku menyakiti putrimu!” peringat Allard memutuskan sambungannya.


“Siapa yang membelinya?”


“Mr Black, Tuan.” Allard tersenyum sinis, Black akan memperlakukan Liana kasar, Allard yakin itu, pilihan tepat bagi Mr Black.


Malam ini, satu per satu orang terdekat musuhnya yang bekerja sama dengan Dagoberto akan habis ditangannya!


...***...


“Tuan Darick menunggu Anda, Tuan”


“Dimana dia?”


“Ruang kerja Anda, Tuan.” Allard mengangguk sekali dan segera pergi ke ruang kerja. Benar saja Darick di sana dengan ponsel di tangannya.


“Apa yang kau dapat?”


“Anggelo sengaja bergabung untuk membuatmu merasa dikhianati,” ucap Darick to the point.


“Ingat kejadian di masa dulu, dia marah padamu karena mengetahui kau meninggalkan Katryn?”


Allard mengingat jelas itu, di mana awal Anggelo tertarik pada Katryn saat berlibur ke Indonesia. Ketika itu Allard belum menunjukkan ketertarikannya pada Katryna, tetapi sejak awal dia memang sudah menyukai Katryn si pemberani.


Selanjutnya Allard cemburu kedekatan mereka kian hari kian romantis di matanya, ia mengatakan pada Anggelo secara terus terang. Anggelo marah karena pada detik itu ia akan meminta Katryn menjadi kekasihnya, Allard mengatakan demikian yang Anggelo rasa mengkhinati dirinya.


“Masalahmu dengannya sudah selesaikan?” Allard mengangguk.


“Lalu, kenapa dia melakukan hal itu?” Allard memikirkan hal yang sama.


“Sepanjang pengetahuanku, Anggelo sudah move on dan dia sekarang berpacaran dengan seorang artis. Apa kau salah?”


“Kau benar. Dagoberto sialan itu mempengaruhi orang-orang untuk menjatuhkanku,” ucap Allard.


“Secara dia ahli dalam memperngaruhi lawan bicara,” komentar Darick pelan. Masuk akal mengapa Anggelo bergabung, dia menjadikan Katryn sebagai alasannya.


"Allard," ucap Darick menatap Allard.


"Dagoberto pernah memintaku untuk bekerja sama untuk menjatuhkanmu," sambungnya.

__ADS_1


"Aku tahu itu!" Ucap Allard memejamkan matanya.


Allard benar-benar ingin membunuh Dagoberto sekarang juga. Pria tua itu selalu mencoba cara menjatuhkan klan-nya, bukan hanya klan tetapi keluarga. Bertahun-tahun pria itu tidak menemukan titik kelemahannya, sekarang dia tahu dan terang-terang mengajak orang-orang menjatuhkan karirnya. Sayang, sebagian besar tidak berani ikut, berurusan dengan Allard tidak pernah semenyenangkan itu.


...***...


“Katryn,” ucap seseorang. Katryn menoleh cepat.


“Alessa? Kau di sini?” tanya Katryn berdiri cepat menghampiri Alessa.


“Apa yang terjadi?” Wajah Alessa membiru.


“Aku mencoba menyelamatkanmu, gagal. Satu lawan seribu, jelas aku kalah!” gerutunya.


“Aku tidak bisa berlama-lama di sini,” ucap Alessa.


“Maksudmu?”


“Aku sudah dua hari disekap. Hari ini aku keluar, Nick membeliku,” ucapnya dengan nada malas.


“Nick?”


“Selamat siang, Mrs Helbert. Kau baik-baik saja?” tanya Nick muncul di ambang pintu.


“Sedikit buruk.”


“Allard akan menyelamatkanmu, kau tenang saja.”


“Ayo, Alessa. Kita tidak banyak waktu sekarang, mereka akan mencurigai kita.” Nick mengajak Alessa keluar.


“Aku ingin di sini! Kita punya kesempatan membawa Katryn juga,” ucap Alessa.


“Tidak mungkin, Alessa. Hanya kau dan aku di sini, kita bisa mati melawan mereka!”


“Mungkin, aku punya rencana!” teriak Alessa.


“Pelankan suaramu,” peringat Nick.


“Alessa pergilah, aku tidak papa.”


“Kenapa kau membeliku?” tanya Alessa jengkel.


“Sengaja, nyawamu tidak aman berada di sini. Mereka akan membunuhmu malam ini,” ucap Nick.


Katryn tersenyum menatap Nick dengan rasa terima kasih. Berkat Nick sahabatnya selamat, walau Katryn tahu Nick memiliki dendam pada Allard karena kematian Xen Fernand―Kakek Nick―di malam acara Allard membawa Katryn dan bertemu dengan pria tua itu. Namun, mungkin Nick tidak membalas kematian sang kakek untuk sekarang.


Selama berada di tempat ini, Katryn mengetahui bahwa penyekapan ini dilakukan oleh Mr. Dagoberto yang bekerja sama dengan musuh-musuh Allard. Hanya Nick yang tidak dia lihat dalam perkumpulan musuh Allard, dia baru melihat Nick hari ini. Dan sangat yakin, Nick bukan komploton mereka.


“Bagaimana dengan Katryn?” tanya Alessa sedih.


“Katryn aman, kau tenang saja, Allard sedang merencanakan sesuatu.”


"Pergilah, Aleesa. Tidak ada gunanya kalian membawaku, selamat dirimu. Seperti yang kau katakan tadi, satu lawan seribu jelas kau kalah." Katryn membujuk Alessa yang akhirnya mau. Alessa memeluk Katryn erat dan berjanji akan menyelamatkannya.


Setelah Nick dan Alessa pergi, Katryn seorang diri di kamar yang pengap ini. Tangannya tiada henti mengelus perutnya yang kian memasuki bulan kelima. Ingatannya terlempar saat pertama kali di tempat ini, mereka menamparnya habis-habisan dan mengikat tubuhnya di ranjang.


Katryn bersyukur anaknya kuat bertahan, Katryn sempat drop karena penyiksaan Earnest ditubuhnya. Pria itu marah melihat Katryn dengan perutnya membuncit, pernah sekali setelah pria itu menggores tubuhnya dengan pisau, dia menangis.


Baru saja dipikirkan, pria itu masuk. Katryn menghela nafas lelah, malas sekali melihat wajah Earnest.


“Sahabat tersayangmu telah laku terjual,”kekeh Earnest.


“Dia bukan barang!” ketus Katryn.


“Kau tidak takut lagi padaku, Baby Cat? Rupanya Allard sudah banyak merubah kekasihku,” komentar Earnest.


“Kenapa? Allard mengubahku pun aku senang!”


Earnest menatap Katryn tajam, lalu memegang dagu Katryn kuat dan mencium bibirnya kasar. Katryn memberontak, tidak menyangka seorang impoten seperti Earnest bisa mencium seganas ini. Earnest menjilat bibirnya dan terakhir mengigitnya.


“Aw,” teriak Katryn kesakitan yang disambut tawa Eanest.


“Aku tergoda mengugurkan bayi itu,” ucap Earnest terlihat berpikir.


“Tidak!” teriaknya.


Di tengah hutan sana, Nick dan Alessa dicegat oleh seseorang. Nick mengenali pria itu, tetapi Alessa tidak. Dia sempat menggerutu kesal pada pria itu.


“Untuk apa pria itu menghalangi jalan kita?!”


“Dia Anggelo, sahabat Allard,” beritahu Nick.

__ADS_1


“Buka pintu belakang,” ucap Anggelo pada Nick.


“Tidak.”


“Ini tentang Katryn,” ucapnya dan Alessa meminta Nick membukakannya.


“Jalan saja!” ucap Anggelo ketika sudah masuk ke dalam mobil membuat Nick kesal dengan perintah pria ini yang sesuka hatinya. Setengah hati, dia menjalankan mobil.


“Ada apa dengan Katryn?" Tanya Aleesa.


“Katryn akan dibawa ke sebuah tempat―”


"Aku tahu!" potong Nick setengah membentak.


"Aku belum menyelesaikan ucapanku!" ketus Anggelo.


“Besok pagi mereka akan membawa Katryn,”sambung Anggelo.


“Bukankah dua hari lagi?” tanya Nick seraya fokus menyetir.


“Rencana memang begitu, tetapi mereka mengubah rencana.”


“Beritahu Allard, malam ini akan ada penyerangan di mansion Helbert. Usahakan jangan ada orang di mansion itu, mereka tahu keluarga Allard di sana,” beritahu Anggelo.


“Informasi lainnya, kau pasti tahu!” ucap Alessa.


“Nick,” ucap Anggelo, Nick menatap dari kaca spion depan.


“Kusarankan, kau membawa Alessa ke tempatmu dulu guna mengoceh mereka. Kau dicurigai mereka bekerja sama dengan Allard,” ucap Anggelo.


“Kenapa kau memberitahu kami?” Tanya Aleesa. Angggelo tersenyum tipis, menerawang sesuatu dalam pikirannya.


“Aleesa apa kau melupakanku?” Tanya Anggelo, Aleesa mengerutkan dahinya.


“Siapa kau?”


“Teman kecil Allard,” Aleesa tak bisa menutupi rasa terkejutnya.


“Lalu, kau menjadi pengkhianat?” teriak Aleesa terkejut.


“Bisa di bilang begitu,” tanggap Anggelo santai.


“Elo. Apa kau sadar menghianati sahabatku sendiri?” Anggelo tersenyum mengingat panggilan 'Elo' di sematkan padanya. Panggilan di masa kecilnya.


“Aku bodoh, Aleesa. Menghianati sahabatku sendiri,” sesal Anggelo.


“Elo, kau bisa pergi dari mereka.”


“Tidak!”


“Kenapa?”


“Kurasa, aku sebagai mata-mata ini, sedikit menebus pengkhianatanku.”


“Elo. Aku ingin menanyakan sesuatu,” ucap Aleesa.


“Kau tidak pernah bertanya seingin-tahu padaku,”desah Nick yang cemburu.


“Elo, apa alasanmu bekerja sama dengan mereka?” tanya Alessa menghiraukan ucapan Nick.


“Katryn. Mereka menjanjikan Katryn bersamaku, nyatanya tidak.”


“Katryn?” tanya Alessa tidak mengerti.


“Ada hal antara aku dan Allard yang tidak bisa kuceritakan.”Alessa mengangguk dan tidak banyak komentar


“Baiklah. Turunkan aku disini,” pinta Anggelo. Nick memberhentikan mobil, tanpa membantah ucapan Anggelo. Dia tak peduli, jika memberhentikan Anggelo di tengah hutan-hutan.


"Kau gila menurunkannya disini?"


“Dia yang meminta."


“Setidaknya suruh anak buahmu di belakang sana mengantarkannya.”


"Dan membuat mereka curiga? Tidak, lebih baik dia turun di sini, ”tolak Nick.


"Sudahlah. Aku tak apa," ucap Anggelo menyela perdebatan dua manusia itu. Lalu, membuka pintu mobil. Sebelum keluar dia mengatakan,


“Ngomong-ngomong kalian sangat cocok menjadi pasangan.”


“Terima kasih, Anggelo," ucap Nick dengan senang hati. Sedangkan secara bersamaan Alessa menjawab,

__ADS_1


"Tidak!"


__ADS_2