
...Telah direvisi! ...
...Selamat menikmati ☺...
...---...
“Mereka mengikutiku?” tanya Allard pada Selena.
“Iya, Tuan.” Allard mengangguk.
Sebelumnya ia dan Tania mengurus surat undangan pernikahan. Allard merencanakan sesuatu untuk mengelebui musuhnya agar fakta Katryn kekasihnya berpindah pada Tania.
“Good. Mulai sebar undangan kepada rekan bisnisku, biarkan Dagoberto dan antek-anteknya tahu sesuai alur.”
“Tuan, apa Anda yakin?” Kini, Jordan angkat suara.
“Yakin,” jawab Allard tegas. Siapa yang tahu, hatinya berkata sebaliknya. Musuh satu ini adalah saingan terbesar Klan Hellbert. Allard belum mendapatkan informasi dengan siapa Dagoberto bekerja sama.
“Kalian keluar!” titahnya.
Kepala Allard sakit luar biasa, sudah dua hari ini dia tidak tertidur. Berbagai masalah dan pikirannya terhadap Katryn mempengaruhi pikirannya. Ponselnya berdenting, sebuah pesan masuk.
[Father, anak buah Dagoberto tertangkap. Mereka saya sekap di mansion.]
^^^[Tunggu, aku kesana sekarang!]^^^
Allard meminta Jordan menggantikan rapat yang akan dimulai sejam lagi. Setelahnya dia segera mengendarai mobil menuju mansion. Sesampai di sana, Allard berjalan ke ruang bawah tanah.
“Silakan, Father.” Allard mengangguk sekali dan memasuki satu ruangan gelap. Kali ini Allad ingin bermain cepat.
“Dagoberto menyuruh kalian membuntutiku, ya?”
“Tidak.” Allard menatap keempat pria di hadapannya.
“Sama saja kalian mengantar nyawa padaku. Jadi, pilih hukuman kalian, digantung atau dipotong-potong?”
Mereka bergedik ngeri. Salah satu dari mereka menatap Allard penuh permohonan, berbeda dari ketiga temannya yang menutupi ketakutan dengan cara menantang Allard.
“Aku sudah memutuskan,” ucap Allard tersenyum.
“Perd, potong tubuh ketiga orang ini dan berikan pada Fla. Untuk yang satu ini biarkan aku yang mengurus,” titah Allard pada Perd yang berdiri di belakangnya.
“Baik, Father.”
“Jangan lupa berikan juga pada Flo.” Fla dan Flo adalah sepasang harimau buas kesayangannya.
Ketiga pria itu lenyap dari pandangan Allard, tinggal seorang pria yang kini menunduk ketakutan. Allard diam mengintimidasi lawannya.
“Siapa namamu?”tanya Allard.
“Khai, Tuan.”jawab pria itu.
“Kenapa kau tak menentangku seperti ketiga temanmu?” Khai menggeleng.
“Kau takut?” Khai mengangguk jujur.
“Kau lebih mengerikan daripada Tuan Dagoberto.” Allard tertawa sinis.
“Aku mohon, lepaskan aku...”
__ADS_1
“Bisa saja, dengan satu syarat.”
“Katakan, Tuan.”
“Apa yang Dagoberto ketahui tentangku?” tanya Allard seraya mengeluarkan pistol dari balik jas yang ia kenakan.
“Tuan mengetahui Anda akan menikah dalam waktu dekat dan Anda sangat mencintai wanita itu.”
“Wanita itu?”
“Iya, jika aku tidak salah tuan menyebut wanita itu, Tania.”
“Hanya itu yang aku tahu.” Allard terkekeh, ia menodongkan pistol pada Khai.
“Kau pikir aku bodoh? Semua orang tahu dengan hal itu!” sarkas Allard.
“Ampun, Tuan.”
“Percuma aku membiarkanmu hidup, informasi sampah yang kau berikan!” ucap Allard berwajah malas.
“Kumohon, Tuan. Jangan bunuh aku, aku memiliki anak dan istri. Aku mohon...” ucap Khai panik ketika Allard hendak menekan pelatuk pistol.
“Tuan Dagoberto sedang mencari celah menyingkirkan orang tua Tania, Tuan. Dia mengincar nyawa orang tua Tania dan orang terdekat Tania,” ucap Khai cepat.
Allard mengerutkan dahinya, orang tua Tania? Wanita itu tidak memiliki orang tua, Tania hidup sebatang kara di dunia ini.
...***...
Kelas Tata Busana usai, Katryn dan Alessa saat ini berada di kantin kampus. Alessa tengah bercerita dia sedang menjalankan misi penyelidikan pada sebuah keluarga dan bagaimana kesalnya dia bertemu salah satu anggota keluarga itu yang gilanya luar biasa.
“Undangan sudah tersebar? Kau serius?”
Awalnya Katryn tidak begitu mendengar, tetapi ketika nama Mr Helbert disebut, dia menajamkan pendengarannya. Segerombolan mahasiswi tengah berbincang tidak jauh dari mereka.
“Kukira kekasih dia bukan Tania. Beberapa bulan lalu sempat adanya pemberitaan Mr Helbert membawa seorang wanita di sebuah acara, kan? Tapi, publik tidak tahu siapa wanita itu,” ucap salah satu mereka.
“Bukannya itu orang sama?”
“Menurutku beda, dari postur tubuhnya, wanita itu sedikit berisi dari Tania.”
“Alessa, ayo pulang!” ajak Katryn.
“Allad, kau berhasil mendorongku ke dalam jurang kesakitan!” batin Katryn berteriak marah.
Di tengah malam Katryn terbangun dengan Alessa di sampingnya. Saat Alessa mengantar sore tadi, Fillbert meminta Alessa tinggal semalam di sini.
“Katryna?” Katryn menoleh tersenyum tipis.
“Terbangun?” Katryn mengangguk.
“Aku lapar,” cicitnya.
“Ayo, aku temani.”
“Kau tidur saja. Aku bisa sendiri,” tolaknya.
“Ayo!” Alessa bersikeras.
“Aku ke kamar mandi bentar,” ucap Alessa berjalan ke toilet.
__ADS_1
“Aku keluar luan, ya.”
Bukannya berjalan menuju tangga, Katryn melangkah ke kamar pribadi Allard di mansion ini. Lantai tiga ini dipergunakan untuk kamar-kamar keluarga inti Helbert, sedangkan di lantai satu untuk para tamu. Dan di lantai dua dikhususkan ruang-ruang seperti ruang keluarga, bioskop dll.
Katryn membuka pintu dengan kode yang ia hafal di luar kepala. Kamar ini sempat ia tempati beberapa minggu, tujuan Katryn adalah melihat lukisan Allard di kamar ini. Nuansa hitam menyambut Katryn, netranya lansgung tertuju pada lukisan di atas ranjang, lukisan dirinya.
Pertama kali masuk ke kamar ini, Katryn terkejut. Mansion ini atau pun mansion Allard menyimpan lukisan Katryn. Secercah rasa hangat hinggap di hatinya, boleh Katryn egois? Ia ingin Allard untuk dirinya seorang.
“Katryn,” panggil Alessa dari pintu.
Katryn berjalan ke walk in closet, Alessa mengikutinya dari belakang. Sesampai di sana, Katryn berdiri di sebuah lukisan memanjang ke atas yang diapit dua lemari, ini adalah lukisan dirinya dan Allard berpelukan.
“Ingat lukisan ini?” Katryn mengangguk.
“Kau belum menceritakan lukisan ini,” ucap Katryn.
“Ya. Aku sampai lupa seberapa banyak Allard melukismu,” balas Alessa. Memang Alessa banyak bercerita lukisan-lukisan Katryn setelah Katryn menemukan ruang lukisan di mansion Allard.
“Aku senang kau sedikit mengingat masa lalumu.”
“Aku mengingat semuanya,” ucap Katryn, Alessa menatap Katryn berminat.
“Sejak?”
“Selama aku di sini dengan menatap lukisan ini.”
“Wow. Hanya sebuah lukisan dapat mengembalikan ingatanmu, tidak sia-sia Allard melukismu selama ini,” ucap Alessa tidak percaya. Ia ikut menatap lukisan tersebut.
“Kala.” Ucap Alessa, Katryn yang mendengarnya menoleh ke arah tulisan di bawah lukisan.
“Kala, Katryna Allard?” tanya Alessa sedikit geli.
Tiba-tiba lukisan itu berbunyi, Alessa dan Katryn mundur dua langkah. Lukisan tersebut bergeser dan ternyata di balik lukisan itu terdapat sebuah pintu.
“Pintu apa ini?”
“Seperti ruang rahasia,” komentar Alessa.
Katryn penasaran segera memasukkan kode keamanan yang sama dengan kamar ini, gagal.
“Tanggal lahirmu?” ucap Alessa memberi saran dan ... gagal.
“Angka keberunganmu.” Katryn ragu, tetapi ketika memasukkan angka-angka tersebut, berhasil.
“Masuklah, aku menunggu di sini.”
Katryn menatap Alessa sejenak, lalu memasuki ruang rahasia tersebut. Di dalam pikirannya, Allard selalu punya rahasia dan kemisteriusan. Ruang ini tidak jauh berbeda dari ruang sebelumnya di mansion Allard, gelap.
Banyaknya palaroid bergambar dirinya membuat Katryn terperangah seketika. Foto-foto ini diambil secara candid, ditambah dengan ukiran namanya pada dinding tersebut. Juga, barang-barang Katryn yang ia sendiri sudah melupakan ada di sini, ikat rambut, gelang, dan segala macamnya.
Katryn mengambil sebuah album tebal yang terletak di rak kecil berdekatan dengan ukiran namanya. Senyumnya mengembang ketika album tersebut diberi nama ‘Mi Amour’, sangat cantik dan berkesan. Halaman petama tertulis kalimat yang menyentuh hati,
...‘...Katryna, gadis manis si penyuka Teratai. Si pemberani yang begitu berharga untukku. Dia bisa membuatku tersenyum dengan tingkah lucu dan manjanya. Aku menyukainya...’...
Ia membuka halaman demi halaman, sebuah isi yang membuat Katryn tiada hentinya tersenyum. Hingga di pertengahan halaman, Katryn menemukan kata-kata yang mengungkapkan kekecewaan pria itu terhadapnya.
...‘...Jika aku tahu sejak awal penolakan kudapat, maka aku tidak akan pernah mengungkapkan rasa cinta ini pada gadis manisku. Katryna... dia si gadis yang memberiku penolakan dan kecewa. Walau demikian, aku akan bertahan dengan cinta ini, sekarang dan untuk selamanya. Selalu bahagia menyertaimu, Mi Amour...’...
Tangis Katryn pecah, dia ingat saat menolak Allard. Pada masa itu Katryn masih anak smp yang belum mengerti cinta lawan jenis-nya. Dia hanya tahu bahwa dia menyayangi Allard, nyaman berada di dekat pria itu dan bergantungan padanya.
__ADS_1
Tidak tahan berada di ruangan ini, Katryn segera keluar seraya terisak memeluk album di pelukkannya. Alessa yang tengah duduk di atas ranjang terkejut melihat Katryn berlinang air mata. Alessa memeluk Katryn, memberi elusan menenangkan di punggungnya.