Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 65. Apologize


__ADS_3

...Telah direvisi...


...Selamat membaca! ...


...---...


“Katryna...”


“Hm.”


“Ada sesuatu yang ingin aku katakan,” ucap Aleesa.


“Apa?” tanyanya seraya mengerjakan tugas kuliah.


“Tentang Lauren.” Perkataan Aleesa mampu membuat Katryn menatapnya.


“Lauren?!” Aleesa mengangguk.


Sejak kejadian itu, Katryn tidak pernah mendengar kabar Lauren. Allard pun tidak pernah membahas masalah Earnest, dan Katryn juga tidak bertanya. Jujur dari hati paling dalam, Katryn merasa bersakah kepada Lauren, karenanya wanita itu tersiksa.


“Apa kabar dia?” Tanya Katryn menatap Alessa dalam.


“Lebih baik.”


“Sekitar sebulan yang lalu. Lauren mendatangiku,” ucap Alessa pelan.


“Untuk?”


“Memohon agar bisa bertemu denganmu,” ucap Aleesa.


“Allard tidak akan mengizinkan,” ucap Katryn.


“Kurasa, kau kirim sebuah pesan saja,”usul Alessa.


“Tidak. Aku akan membicarakannya dengan Allard, dia pasti mengizinkan,” ucap Katryn yakin.


...***...


Allard pulang tiga jam kemudian. Katryn tengah bersama Alessa dan Selena di dapur membuat kue. Allard mendekati Katryn, lalu memeluk wanitanya dari belakang,


Melihat Katryn tengah tertawa akibat keributan antara Aleesa dan Selena. Allard mendekati Katryn, memeluk wanita sexy ini dari belakang.


 


“Hai...” sapa Katryn lembut, Allard tersenyum.


“Bagaimana?”


“Hanya masalah teknis,” bisik Allard.


“Kau lelah?” Allard mengangguk di ceruk lehernya.


Katryn menghela nafas, ia meminta Allard beristirahat, akan tetapi sang suami menolak. Kondisi Allard belum pulih total, Katryn sekalipun tidak pernah mendengar keluhan Allard. Ya, memang pria ini kebal dengan rasa sakit, tapi Katryn tetap khawatir.


“Ayo, kau harus istirahat!” ucap Katryn.


“Aku tinggal, tidak apa-apa?” pinta Katryn pada Alessa.


“Tentu,” jawab Alessa.


Katryn sejenak melihat pandangan memuja Selena terhadap Allard, seberkas sinar cemburu di mata itu.


“Ayo, Al.”


Sesampai di kamar, Allard membaringkan kepalanya di atas paha sang istri dengan posisi menghadap ke arah perut besar Katryn. Usapan lembut terasa karena ulah tangan Allard, Katryn tersenyum manis mendapat hal tersebut. Pergerakan tangan Allard mengusap perutnya terhenti, Katryn menatap Allard yang memejamkan matanya.


Katryn membelai rambut halus Allard, pikirannya jatuh pada ucapan dokter kandungannya yang memperkirakan kelahiran bayi mereka dua minggu lagi. Rasanya tak sabar menanti, memikirkannya saja jantung Katryn berdebar hangat.


Selama kehamilan ini banyak hal terjadi, Katryn bangga pada kandungannya yang kuat dengan semua yang terjadi. Semakin mendekati hari, Katryn sering merasa sakit di perutnya, tetapi dia diam tidak mengatakan pada Allard. Dan juga, Katryn mudah sekali panik dan semakin susah berjalan.


 


“Apa kau sudah memikirkan nama untuknya?”


Ternyata Allard tidak tidur, ia hanya memejamkan mata. Katryn yang diajukan pertanyaan termenung, setelah pulang dari makan anak-anak itu, Katryn sudah berpikir tentang nama bayi mereka.


“Jika laki-laki, aku ingin memberi nama Allanzell.” Katryn dapat merasa tubuh Allard tegang.


“You okey?” Allard menghela nafas dan mengangguk.


 


Allard mengambil tangan Katryn dan mengelusnya. Dia pernah bertanya, mengapa Allard suka mengelus tangannya? Pria ini menjawab, dia suka karena nantinya tangan ini akan menimang Allard junior.

__ADS_1


 


“Jika perempuan?” tanya Allard.


“Aku belum mendapatkan nama yang tepat.”


“Bagaimana denganmu?” tanya Katryn.


“Aku suka namamu, Katryna Helena. Aku ingin memberi nama putriku Kalena,” ucap Allard yang membuat Katryn tersenyum.


“Jika laki-laki?” tanya Katryn.


“Katryna, kenapa Allanzell?” Allard bertanya balik.


“Setelah dari pemakaman mereka, aku seperti mendapatkan bisikkan,” jawab Katryn.


“Arti Allanzell sendiri adalah tempat yang baik. Dan aku berharap, bayi ini selalu ditempatkan pada kebaikan,” sambung Katryn.


“Apa kau keberatan?” tanya Katryn, ketika Allard tak mengeluarkan suaranya.


“Jika nama itu membuatmu teringat akan masa buruk, kita bisa mencari nama lain,” ucap Katryn sambil tersenyum.


Allard menatap bola mata Katryn, mata yang selalu bisa menenangkannya. Wanita ini selalu mengerti dirinya, walau dia tak mengatakan secara langsung.


 


...***...


Allard mengajak Katryn ke taman belakang di malam hari. Catat, memaksa... bukan mengajak, pasalnya pria ini mengendong Katryn dan membawanya begitu saja. Katryn malas, dia sudah sangat lapar.


“Allard, turun. Aku lapar,” rengeknya seraya memeluk leher Allard erat. Sesungguhnya, dia takut tiba-tiba Allard menceburkannya ke dalam kolam renang seperti yang lalu-lalu.


 


“Lihat kedepan!” Perintah Allard.


“Allard, turunkan aku!”


“Amour, kau tidak akan terjatuh. Lihat lah ke depan!” ucap Allard sekali.


Katryn melihat ke depan, dan terkejut melihat halaman belakang telah disulap seindah mungkin. Katryn meraup bibir Allard cepat, Allard terkekeh pelan disela ciuman Katryn.


 


“Istriku agresif, I love it!” Bisik Allard.


 


“Aku suka itu!” ucap Katryn antusias.


“For you...” bisik Allard.


Katryn tidak dapat menahan senyum di wajahnya. Matanya memandang kolam renang yang begitu indah. Kolam renang tersebut penuh dengan bunga mawar, di tengah kolam terdapat teratai putih dirangkai membentu namanya ‘KATRYNA HELENA HELBERT’.


 


“Kenapa tidak membuat, I love you Katryna? Seperti di novel-novel yang pernah ku baca.”


“Kenapa harus namaku?”tuntut Katryn.


“Kau lihat nama Helbert di sana?!” Katryn mengangguk antusias menunggu ucapan Allard.


“Kau pasti tahu maksudnya, jangan pura-pura bodoh!” lanjut Allard sarkas.


Bukannya marah, Katryn malah tertawa. Allard yang tidak suka basa-basi mode on, pikir Katryn. Dia tahu maksud dari rangkaian tersebut, Allard bukanlah pria romantis seperti di novel-novel romantis kesukaannya. Allard romantis dengan caranya yang simple dan tidak terkesan berlebihan. Ya, bukan gaya Allard menyatakan cinta dengan kalimat romantis.


 


“Kenapa harus Helbert? Kenapa tidak Vinson?” Katryn semakin membuat Allard merasa kesal.


“Katryna!” ucap Allard dengan nada suara rendah, namun sarat peringatan.


“Baiklah, Mr Helbert. Istrimu ini hanya bercanda!” balas Katryn, lalu terkekeh.


“Tidak lucu!” Ketus Allard.


“My husband sedang marah pada istrinya.” Katryn semakin bersemangat menggoda Allard.


“Mrs Helbert, stop it!”


“Baiklah, baiklah...”


Mereka kembali melanjutkan makan malam yang telah pelayan hidangkan. Sesekali Katryn mengomentari makanan tersebut. Selesai makan, Katryn menatap Allard seksama.

__ADS_1


“Allard!” Pria itu menoleh.


“Aku ingin mengatakan sesuatu.”


“Katakan!”


“Apa boleh, aku menemui Laurent?” Allard menatapnya, lalu meminum sampanye sedikit.


“Untuk?”


“Hanya ingin bertemu, dan mengetahui keadaannya.” Allard menganguk, lalu melipat tangannya di atas meja dengan menatap Katryn intens.


“Dengan satu syarat!”


“Apa?”


“Dia yang menemui, disini. Dan hanya satu jam, bagaimana?” Katryn mengangguk.


“Tidak lebih sedetikpun!” Katryn kembali mengangguk.


“Come to me!” ucap Allard. Katryn memundurkan kursi. Lalu, melangkah ke arah Allard. Ia duduk dipangkuan Allard.


 


“You are so sexy!” bisik Allard.


“Yes, I am...” ucap Katryn seraya mendesah pelan.


“Oh, god... Kau kembali seperti bunglon!” Katryn terkikik.


“Aku manusia, bukan Bunglon!” balas Katryn.


“I knew, Baby. Sikapmu seperti Bunglon, suka berubah-ubah.”


“Aku suka itu,” bisik Allard.


Katryn gemas dengan sikap Allard yang mempermaikannya, pria ini maju dan sedetik kemudian mundur seakan tidak jadi menciumnya. Secepat kilat ia menahan tengkuk Allard dan mencium bibir Allard.


...***...


Tidak membutuhkan waktu lama, Lauren sudah berada di mansion Allard. Kini gadis itu duduk di taman depan bersama Katryn, Allard tidak mengizinkan Lauren masuk ke dalam mansion.


“Kau kelihatan sangat dewasa,” komentar Laurent pertama kali melihat Katryn.


“Mungkin, karena kehamilan ini...” ucap Katryn, sambil memegang perutnya.


“Elena... maafkan aku,” ucap Lauren ketika beberapa saat dengan mata berkaca-kaca.


“Aku tidak berniat mencelakaimu. Mereka mengancamku, aku tidak bisa melakukan apapun selain mengiyakan perintah.” Detik itu tangis Lauren pecah. Katryn memegang tangan Lauren yang berada di atas meja.


“Itu bukan salahmu. Seharusnya aku yang meminta maaf, karenaku kau memasuki lubang kegelapan.” Lauren menggeleng kuat.


“Seorang teman tidak akan pernah menempatkan temannya dalam bahaya.”


“Lauren, dengarkan aku. Sekalipun kita tidak berteman, aku akan tetap dalam bahaya.”


“Hidupku penuh bahaya. Jadi, kau tidak perlu merasa bersalah. Di sini jelas, bahwa aku yang menempatkanmu dalam bahaya,” sambung Katryn tersenyum lembut.


“Aku takut terjadi sesuatu denganmu, pria itu menyeramkan...”


“Ya, dia memang menyeramkan. Mulai sekarang, hidup lah dengan tenang,” ucap Katryn. Lauren tersenyum dan mengangguk senang.


“Terima kasih, Katryna.”


“Bagaimana kuliahmu?” tanya Katryn, Lauren terdiam dan menduduk.


“Lauren!”


“Aku tidak kuliah lagi.”


“Kenapa?” Laurent menggeleng.


“Apa, Allard melakukan sesuatu padamu?” Laurent kembali menggeleng.


“Lalu?”


“Beasiswaku di cabut, aku bolos selama dua minggu.”


Belum satu jam, Jordan sudah menghampiri mereka dan mengatakan Laurent harus meninggalkan mansion segera. Katryn merasa tak enak pada Laurent, ini pasti Allard yang menyuruh.


 


“Kalau begitu, aku pulang dulu.” Pamit Laurent. Katryn memandang kepergian Laurent dengan raut wajah tak tega.

__ADS_1


“Nyonya, Mr Helbert menunggu Anda,” ucap Jordan.


“Iya, Paman. Terima kasih,” balas Katryn.


__ADS_2