Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 54. He is Psychopath


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...Selamat membaca! ...


...-----...


Allard mengatakan pada Katryn akan pergi keluar negeri untuk empat hari. Tapi, itu hanya sebagai alasan saja. Memang benar dia akan keluar negeri selama tiga hari, sisanya akan membasmi psychopath itu.


Kedua kalinya, Katryn mengetahui jika dia akan mengurus masalah Earnest. Wanitanya selalu tahu, jika dia akan mengurus segala sesuatu yang berbau kejahatan. Untuk kali ini, dia mengelak. Tidak berbohong sepenuhnya bukan, dia memang ada bisnis di luar negeri.


“Al.”


“Hm.”


“Ini tempat Aunty Cassandra disekap dulu, ya?” tanya Ruldolf, Allard mengangguk.


“Kenapa kau memilih tempat ini?”


“Disini jauh lebih aman.”


“Lalu, kenapa kau berbohong pada Katryna?”


“Kau sedang wawancara atau apa?" Ruldolf tertawa pelan.


Mereka sampai di ruang bawah tanah. Kedatangan mereka disambut tawa oleh Earnest. Dari tawa itu, Ruldlof melihat bayangan sang ayah di dalam diri Earnest.


“Dia psikopat,” batinnya.


“Kau terlalu banyak membuang waktu untuk membunuhnya,” komentar Ruldlof. Sedikit banyak dia tau bahwa Earnest sering menjadi tahanan Allard. Tapi, akhirnya dilepas.


“Kau sengaja melepaskannya,” ucap Ruldlof, mengeluarkan isi pikirannya.


Senyuman Allard mengembang. Baiklah, Ruldlof mengerti sekarang. Melepaskan Earnest dengan mudah, hanya sebagai kesenangan untuk Allard. Sedari awal, itu menjadi pertanyaan diotaknya.


Allard sangat ketat menjaga para tahanannya, dan tidak mudah untuk melepaskan mereka. Karena di setiap markas, mempunyai sistem keamanan yang sangat ketat, ditambah para anggota memiliki kemampuan bertarung yang hebat.


“Bagaimana keadaan istrimu, Helbert? Apakah semakin gila setelah mendengar ucapanku?” Ucap Earnest, lalu tertawa.


Allard masih diam dengan memutar-mutar pisau di tangannya. Pandangan mata Allard, sangat tajam dan berbahaya. Ruldof merinding, sudah lama tak melihat pandangan mematikan itu.


Allard berjalan dua langkah, dan melempar pisau tersebut ke arah Shian. Lemparan itu sengaja dilesetkan olehnya. Tapi, amukkan Earnest berhasil terpancing. Shian menangis ketakutan dan berguman ‘maaf’.


“Helbert, Bre*gsek! Enyah kau!” Maki Earnest.


Pria itu berteriak penuh emosi, dan terdengar suara besi saling bersahutam karena pergerakan Earnest yang membabi buta. Penjaga disana, membawa Shian kehadapan Allard. Itu membuat Earnest semakin menjadi-jadi.


“Jika aku menyakiti istrimu. Itu tidak seimbang dengan rasa sakit yang istriku rasakan!” ucap Allard, memiringkan kepalanya dan menatap tajam Earnest.


“Lepaskan dia, B*ngsat!”


“Shian. Kulepaskan kau,” ucap Allard pelan, Shian menatapnya sendu sambil mengangguk.


“Dengan syarat, bermainlah bersama penjaga disini, dan kau akan bebas!” Senyum mengerikan itu terlihat lagi di wajah Allard.


“Tidak! Tidak! Tidak!” ucap Shian menggeleng kuat.


“Ku bunuh kau, Helbert! Lepaskan aku! Jangan menjadi pencundang, Bre*gsek!”umpat Earnest.


Seorang penjaga mendekat ke arah Shian. Lalu, tanpa aba-aba langsung mencium Shian dengan rakus. Hal itu yang membuat Earnest semakin tak kerkontrol. Suara rantai terputus, Earnest berhasil memutuskan rantai pada tangan kanan-nya.


“Bawa dia!” titah Allard pada penjaga tersebut.


Penjaga tersebut membawa Shian keluar dari ruangan tersebut. Earnest berusaha memutuskan rantai yang melingkar di tangan kirinya. Dengan kekuatan penuh, Earnest menarik paksa rantai tersebut, dan terlepas.


Allard semakin tersenyum puas melihat rantai itu terputus secara sempurna. Earnest berjalan perlahan ke arahnya.

__ADS_1


“Lepaskan istriku!” teriak Earnest dengan penuh penekanan.


“Mudah saja! Setelah istrimu di pakai secara bergilir!” Earnest mengepalkan tangannya. Dia berbalik, mengambil rantai yang mengikatnya tadi lalu, mengayunkannya pada Allard. Dengan cepat Allard menghindar.


“Ruldlof, keluarlah!”


“Tidak!”


“Keluar! Aku akan mengurusnya sendiri."


“Aku suka melihat psikpat ini mengamuk!” ucap Ruldlof, dan Allard memutar bola matanya.


“Kau terlalu banyak omong!” Ucap Earnest, dan mengayunkan rantai ke arah Ruldlof. Dengan santai pria itu mengelak.


Ketika Earnest ingin mengayun kembali rantai tersebut ke arah Ruldlof. Allard melempar sebuah pisau tepat ke punggung Earnest, sampai pria itu berteriak kesakitan.


"Wow, bravo, Man!" sahut Ruldolf


“Fu*k!” Earnest mengumpat dan memandang tajam Allard.


Pria itu melempar rantai tersebut, menimbulkan nada berdenting di lantai. Dia berjalan kearahnya, dan Allard melempar sebuah pisau kedua kalinya ke arah Earnest, tepat di bahu kiri. Earnest terjatuh ke lantai, menahan sakit di punggung dan bahunya.


“Kau ingin membunuhku, silahkan!” ucap Earnest menatap Allard dengan senyuman sinis.


Allard mengeluarkan sebuah pistol, dan menembaknya ke bahu kanan Earnest. Earnest tertawa seperti orang gila. Sambil bergumam, aku puas.


“Earnest!” panggil Shian, berdiri di depan pintu.


“Shian!” lirih Earnest berusaha bangun. Tapi, terjatuh kembali.


“Lepaskan dia, Helbert!”


“Tentu. Setelah istri tersayangmu lolos dari pengawalku,” balas Allard tenang.


“Bedebah kau!”


“Jika impoten ini tidak ada. Akan ku pastikan, aku orang pertama yang mengambil mahkota berharganya!” ucap Earnest, lagi-lagi tertawa seperti kesetanan.


Seketika tawa itu berhenti, Allard memuntahkan pelurunya. Ketika pria itu tak bernyawa lagi, Allard masih menembaknya, hingga peluru tersebut habis tidak tersisa.


“Bereskan!” Ucap Allard berjalan keluar. Allard menatap Shian yang menunduk menangis. Ingatannya, terlempar pada Katryn yang meminta sesuatu padanya.


“Bawa dia!” Ucap Allard pada anak buah tersebut.


Allard duduk seraya menyesap sampanye. Shian di depannya terduduk di lantai, sedangkan Jordan berdiri di samping sang tuan.


“Maafkan aku,” lirih Shian. Allard terdiam cukup lama.


“Aku membebaskanmu, dengan catatan kau harus menjauh dari kehidupan istriku!” Shian mengangguk antusias.


“Aku kan melakukannya. Aku akan menjauh darimu dan Katryn.”


“Good. Jangan sekali-kali berpikir, kau bisa membalaskan dendammu kepada Katryn atau pun pada orang terdekatnya.”


“Sedikit saja kau merencanakan nya. Maka, aku akan menghabisimu!” Shian mengangguk.


“Aku berjanji.”


“Good. Aku akan memberimu tunjangan hidup!”


“Ke―kee―kenapa, kau membebaskanku dan memberiku tunjangan?” tanya Shian ragu.


"Katryna yang meminta.”


...***...

__ADS_1


Allard sudah berada di mansion Helbert malam kemarin. Pagi ini ia mendengar suara gerasak-gerusuk yang akhirnya membangunnya. Ternyata Katryn sedang membuka lemari mencari sesuatu


“Morning, Amour.”


“Morning!”


Allard terdiam beberapa detik, memperhatikan Katryn yang terlihat tidak peduli. Allard bangkit dan berjalan ke arahnya. Katryn sedang menyisir rambut terhenti karena Allard memeluk sang istri dari belakang.


“Awas!”


“No!”


“Allard, please!” pinta Katryn dengan nada memohon. Bukan melepaskan, Allard menundukkan Katryn di kursi rias, posisi mereka kini saling berhadapan. Allard yang berjongkok di hadapan Katryn, mengelus pipinya dan berkata,


“Ada apa?”


“Tidak ada!” ucap Katryn ketus.


“Kau ingin sebuah paksaan?!” tanya Allard tajam.


“Tidak ada yang terjadi!”


“Secara tidak langsung, kau mengatakan ada sesuatu yang terjadi di antara kita!” ucap Allard tak mau kalah, Katryn menghela nafas.


“Cara paksaan, hm?!”


“Apa yang kau lakukan sebelum ke Swiss?” tanya Katryn.


Allard menatap Katryn dengan pandangan yang mampu membuat Katryn lemah. Tanpa menjawab, Allard memajukan wajahnya untuk mencium Katryn. Akan tetapi, Katryn membuang wajahnya ke samping dan Allard hanya mencium pipinya.


“Jawab!”


“Kau sudah tau jawabannya, bukan?” Katryn menitikkan air mata, dia tahu apa yang dilakukan Allard. Dia ingin Allard berkata jujur, tanpa menutup-nutupinya.


“Kau berbohong saat itu!” Allard mengangguk.


“Kenapa?!”


“Karena aku membunuhnya!”


“Membunuh bukanlah akhir dari segalanya!” sahut Katryn keras.


“Kita sudah membahas ini, kenapa kau membunuhnya?”


“Peduli, hm?” Allard bertanya balik.


“Masih mencintainya?”tuntut Allard.


“Ini bukan soal aku, Allard. Aku tidak mau suatu saat nanti akan berakibat pada anak-anakku. Pikirkan itu!”


“Jika aku tidak membunuhnya, dia akan berusaha merebutmu dan mencelakaimu! Begini cara kerjaku sebagai seorang mafia, jadi jangan protes!”balas Allard.


Katryn tahu Allard adalah seorang mafia dan bagaimana cara kerja seorang mafia. Tapi, katryn tidak ingin Allard membunuh mereka. Mereka telah mendiskusikan semua permasalahan tersebut. Katryn tahu, membunuh wajar di dalam dunia gelap. Akan tetapi, itu akan menumbuhkan dendam yang baru di masa yanag akan.


Katryn tidak ingin dendam itu berdampak pada masa depan anak-anaknya dan keluarga mereka. Katryn bukan marah karena Allard membunuh Earnest, hanya tidak ingin dendam terus berputar di dalam kehidupan keluarga mereka.


“Amour, kau telah memasuki duniaku. Mau tidak mau, kau akan ada di dalam itu semua!”


“Terserah padamu, Allard. Aku lelah...”


“Kau tidak bisa lelah, kau tidak bisa meninggalkanku!” Allard memeluk Katryn dan Katryn menangis tersendu-sendu di bahunya. Allard mengelus punggungnya, menenangkannya. Katryn melepaskan pelukannya dan berkata,


“Mandilah, lalu sarapan.” Allard mengangguk.


“Kiss morning, please!” ucap Allard mendekatkan wajahnya. Katryn mencium bibirnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2