
...Telah direvisi!...
...---...
5 Tahun kemudian
Hidup memang pasti selalu ada tantangannya, ya, itu benar. Seperti yang Katryn rasakan saat ini, setelah semuanya telah berlalu, ia sebagai orangtua harus mendidik anak-anaknya dan itu adalah sebuah tantangan yang tak mudah.
“Pergi!!”
“Jangan ganggu!!” Teriakan yang akan selalu mengisi harinya.
“Punya kamu jelek!” Alland semakin menganggu sang adik.
“Anzel...” teriak nyaring Allena mengadu pada Allanzel.
Biasanya akan ada Allanzel yang menengahi adik-adiknya, tapi kali ini Allanzel sedang pergi bersama Allard. Fyi, Allanzel sangat suka ikut bersama Allard, namun tiga bulan belakangan ini putranya mulai menunjukan ketidaksukaannya. Entahlah, ia terkadang bertanya langsung pada Allanzel namun jawaban Allanzel berbalik dari sikapnya.
“Alland!!” teriak Allena kesal. Katryn menghela nafas lelah, mengumpulkan kesabarannya agar tak hilang kendali di depan anak-anaknya.
“Alland, Alenna, sisa kalian tidak saling berteriak? Apa itu boleh dilakukan?” tanya Katryn sabar.
“Tidak, Mom!” jawab si kembar menunduk.
“Lalu, apa harusnya agar kalian berbaikan?” Si kembar saling tatap satu sama lain, Katryn tahu tatapan itu! Tatapan tidak mau mengalah! Begitulah si kembar ini, tidak mau meminta maaf terlebih dahulu.
“Ya, sudah. Sebagai hukumannya, tidak ada cerita dongeng untuk malam ini.”
“Tidak!” ucap mereka kompak, senyum Katryn sedikit terbit. Walaupun terkadang mengesalkan, namun kedua kembar ini bisa saja membuatnya tersenyum dengan tingkah mereka.
“Maafin, Land, ya...” ucap Allan pertama kali.
“Len juga,” ucap Allena balik, lalu Allena memeluk kembarannya. Kedua kembar itu menghampirinya, memeluknya bersamaan. Katryn semakin tersenyum, ia mencium pipi si kembar bergantian.
“Mommy, dimana Anzel?” tanya Allena ketika mereka menonton kartun bersama dan keduanya tengah bersandar dipelukan Katryn.
“Pergi bersama dad.”
“Kenapa tidak bilang?” protes Allena.
“Karena Len jelek!” Malah Alland yang menajwab santai sambil matanya fokus menatap kartun dihadapannya.
“Len tidak jelek!” Protes Allena tidak terima.
“Sudah, sudah! Jangan berantam.” Peringat Katryn.
...***...
Kegiatan rutin setiap malam yang selalu Katryn terapkan adalah menonton bersama di ruang keluarga sebelum tidur. Itu cara yang ia lakukan untuk saling berbagi cerita bersama keluarga, agar kekeluargaan mereka erat.
Seperti inilah yang ingin ia rasakan sejak dulu bersama keluarganya. Sekarang sangat susah berkumpul, mereka hidup saling berjauhan. Marcell telah menikah, dan mempunyai anak perempuan yang imut. Sedangkan ibunya, memilih untuk tinggal bersama Marcell.
__ADS_1
“Kau mengabaikanku, hm?” suara Allard terdengar ditelinga.
Ini yang membuat Katryn semakin menyukai Allard, yang selalu sadar jika ia tengah memikirkan sesuatu. Pria ini mempunyai cara untuk mengalihkan pikirannya, sebab dia pernah mengatakan ‘Entah mengapa, aku tidak suka ketika melamun seperti memikirkan sesuatu. Wajahmu menampakan kesedihan, dan aku tidak suka’. Kalimat yang saat itu membuatnya tersenyum haru
“Aku tidak mengabaikan, Sayang.”
“Buktinya, kau tidak mendengarkan aku berbicara!” Suaranya datar, terdengar kesal.
“Memangnya, kau mengatakan apa?”
“Lupakan!” Katryn terkekeh, walaupun terdengar kesal namun, suaminya ini dengan nyaman merebahkan dirinya di atas pangkuannya sambil memainkan ponselnya.
“Jadi, kau tidak mau mengatakannya padaku?” Allard menggeleng.
“Ya, sudah!”
“Kau tak berniat membujuk?!” Protes Allard menatap tajamnya dari bawah.
“Kau bukan anak kecil lagi, Sayangku!”
Tak ada ucapan yang keluar dari prianya, inilah sikap Allard yang ia sukai. Semakin bertambahnya usia pernikahan mereka, semakin banyak sikap-sikap Allard yang baru ia ketahui. Ternyata benar apa yang orang katakan, setelah menikah kau akan mengetahui sifat dan sikap pasanganmu!
“Daddy!” Suara Allan terdengar, dengan wajah tak suka.
“Hm!”
“Daddy, tidak boleh berada di situ!” Protes Alland yang tak suka jika posisi Allard berbaring di paha kiri sang ibu, sebab itu adalah tempatnya sedangkan paha kanan tempat untuk Allena.
“Tidak boleh!” Teriak Allan, sepertinya akan menangis.
Katryn tak habis pikir dengan si kembar, tidak suka hak miliknya diambil orang. Pernah di satu waktu, Allena berada di pangkuannya, lalu Alland menatapnya sedih. Dengan polosnya Allan berkata, jika Len di situ, Lan duduk dimana? Pertanyaan yang membuatnya dan Allard tidak mengerti saat itu.
Allard yang sekan tak peduli, masih membaringkan kepalanya. Tak lama, suara tangisan Alland terdengar nyaring, seperti mempunyai kontak batin, tak lama Allena menangis juga. Bukannya menenangkan, Allard malah tertawa santai dan semakin menggoda mereka. Sedangkan Allanzel yang tengah fokus pada bacaan di tangannya, hanya menggeleng saja, semakin ke sini, Allanzel menunjukkan sikap penyendiri.
Katryn menghampiri keduanya, menenangkan mereka. Tak butuh lama mereka tenang, dengan posesifnya si kembar memeluknya. Kejahilan suaminya tak habis sampai di situ. Pria itu berjalan ke arah sofa yang Allanzel duduki, dan meletakkan Allanzel di atas pangkuannya. Dengan nyaman, Allanzel menyandarkan tubuhnya dan kembali fokus pada bacaannya kembali.
“Mommy, Daddy..” Adu Allena.
“Ayo, panggil dad!” ucap Katryn.
“Daddy...” panggil Allena.
“Hm.”
“Peluk...”
“Peluk mommy saja, kalian tak ada yang mau memeluk dad.”
“Daddy, peluk!!” ucap Allena yang mulai kesal.
“Kemarilah!” Si kembar berlari arah Allard, dengan sangat manisnya Alland duduk di kiri dan Allena duduk di kanan seraya memeluk Allard. Sedangkan Katryn, terkekeh geli memandang Allanzel melepaskan buku di tangannya dan memeluk leher Allard.
__ADS_1
Allanzel-nya ini memang sedikit bersikap dingin, namun akan menghangat jika pada keluarganya. Ia sama seperti Allard, sangat tidak menyukai berinteraksi dengan orang asing, dia hanya berinteraksi dengan keluarga dekat, kecuali Neon dan Leon yang menurut Allanzel menyebalkan.
Di usianya yang hampir menginjak 7 tahun, Allanzel menunjukan sikap yang membuat Katryn ataupun Allard takjub melihatnya. Putra pertama mereka, sangat tenang menghadapi si kembar, persis seperti seorang abang yang melindungi adiknya. Bukan itu saja, Allanzel pun sangat menyukai membaca buku. Allard memang menerapkan pada anak-anak untuk mencintai buku, dan Allard sering memberikan buku entah itu novel anak ataupun buku pelajaran lainnya, namun tidak memaksa.
Katryn ingat betul, Allard melakukan itu karena ia ingin anak-anaknya mengetahui di mana passion mereka. Katryn saat itu bertanya, apa kau akan mengizinkan mereka memilih jalan mereka sendiri? Seperti Allanzel yang akan mewarisi Klan Hellbert, bagaimana nantinya jika di tak mau? Jawaban Allard saat itu adalah aku membiarkan mereka memilih jalannya, namun posisi mereka telah ditetapkan sejak awal harus terlaksanakan!
...***...
Setelah kesedihan pasti ada kebahagian, dan begitu juga sebaliknya setelah kebahagian pasti ada kesedihan, itulah kehidupan yang dijalani. Setiap manusia tidak tahu kesedihan ataupun kebahagian seperti apa yang akan terjadi di masa depan, begitu juga dengan Katryn. Kehilangan sang ibu kembali membuat dunianya terguncang. Rasanya baru kemarin dia melihat sang ibu tertawa bahagia melihat cucu-cucunya, kini ia tak bisa lagi mendengar tawa bahagia sang ibu.
Katryn hanya bisa melihat wajah pucat sang ibu di dalam peti. Tetesan air mata terus mengalir deras, sampai akhirnya dunia terasa berputar dan Katryn jatuh pingsan. Allard dengan sigap menahan tubuh Katryn agar tak terjatuh. Segera ia membawa Katryn sedikit menjauh dari kerumunan, diikuti oleh Caroline di belakangnya.
Caroline duduk di samping ranjang, memberi minyak angin ke hidung Katryn agar cepat sadar. Tak lama, Katryn membuka matanya perlahan. Matanya berkaca-kaca menatap Caroline, lalu Katryn menubruk tubuh Caroline memeluknya sangat erat.
“Mama, pergi..”
“Ssst... kau masih mempunyai mom, Sayang...” ucap Caroline mengelus punggungnya. Sedangkan Allard yang berdiri tak jauh hanya menyaksikan kepiluan sang istri. Hatinya seperti diremas melihat Katryn yang kehilangan gairah, ia tak tega melihatnya.
“Al. Jaga Katryn, mommy akan menjaga anak-anak.” Beritahu Caroline saat tangisan Katryn telah reda.
Setelah Caroline meninggalkan mereka berdua, Allard berjalan dan mendudukan dirinya di samping ranjang tepat yang Caroline duduki sebelumnya. Lalu, Allard menghapus sisa air mata di pipi Katryn, namun mata indah itu lagi dan lagi menetes. Ia menghela nafas, membuang sesak yang menganjal di hatinya.
“Menangislah, Amour...” ucapnya, dan memeluk Katryn.
Diam-diam, Allard juga meneteskan air matanya. Sungguh, dadanya terasa sangat sesak! Ia mengingat kembali tiga hari lalu, Aleysia menyampaikan petuah padanya untuk menjaga Katryn dan jangan pernah meninggalkan Katryn, karena hanya ia lah yang akan menjadi penopang hidup Katryn.
“Apa kau juga akan meninggalkanku?” tanya Katryn lirih.
“Tidak. Aku akan terus berusaha berada di samping!” ucap Allard.
“Kau tak boleh meninggalkanku!”
“Hei, dengarkan aku, Amour.” Allard melepaskan pelukan mereka, lalu membingkai wajah Katryn dengan kedua tangannya.
“Aku tak mau menjanjikan apapun. Yang pasti, aku akan selalu berada di sampingmu sebisaku!” ucap Allard, sedikit membuat Katryn tenang dan membenarkan ucapan Allard.
“Kau ingin turun? Atau beristirahat?” tanya Allard.
“Turun.”
“Baiklah.” Pasrah Allard.
“Berjanjilah tidak menangis,” ucap Allard, menghapus air mata Katryn.
“Ada aku, Allanzel, si kembar, Marcell dan keluarga kita yang lainnya. Kau tidak sendirian, Amour!” ucap Allard lembut, dan Katryn mengangguk.
Perkataan Allard benar, dia masih memiliki banyak orang di sisinya. Katryn bersyukur, masih ada mereka, walaupun keluarga dari pihak sang ayah atau pun sang ibu tak pernah menganggap mereka, namun Tuhan masih memberikan orang baik di sekitarnya.
“Terima kasih selalu ada untukku. Aku mencintaimu!” ucap Katryn tulus.
“I love you more!” balas Allard tersenyum tulus.
__ADS_1