
...Telah direvisi!...
...Selamat membaca! ...
...---...
Pertama kali bangun, Allard melihat Katryn mengendong Allanzel serta menyusui bayi mungil itu. Melirik jam, ternyata sudah menunjukkan pukul lima pagi.
“Morning, Husband!” Sapa Katryn.
“Morning, Amour!”
Allard bangkit dan mendekati mereka. Dia sangat menyukai ini, di pagi hari melihat Allanzel digendongan Katryn. Allard mencium bibir Katryn dan beralih mencium lembut ubun-ubun Allanzel. Kegiatan paginya bertambah dua minggu belakangan ini, yaitu memperhatikan Allanzel sebelum mandi.
Allard sangat membatasi Allanzel digendong oleh orang-orang, ia telah menetapkan bahwa hanya Katryna yang boleh mengendong bayi mereka. Allard sangat protektif pada Allanzel, sedangkan Katryn sendiri setuju-setuju saja. Dalam mengurus Allanzel, Katryn tidak ingin melibatkan baby sitter. Dia ingin tangannya sendiri yang mengurus bayi-nya.
Sejam yang lalu Allard pergi ke kantor, Allanzel tertidur pulas di box. Kesempatan itu Katryn gunakan menikmati kesendiriannya di bawah pancuran air. Sebenarnya, pikirannya menganjal pada saat Allanzel berumur tiga hari. Fillbert dan Nyle, bertengkar hebat di depan semua keluarga, termasuk keluarganya.
“Allanzel. Harus dididik sebagaimana Allard dulu!” seruan Nyle berputar di kepalanya.
Allard kecil telah dididik dari umur dua bulan. Allard berumur dua tahun saat itu telah merasakan aura perkelahian di sekitarnya. Ya, di depannya dua orang berkelahi atas perintah Nyle sampai Allard mungil menangis ketakutan.
Tentu Fillbert tak ingin nantinya Allanzel dididik dengan cara seperti itu. Nanti ketika Allanzel mengerti dan siap, Fillbert tidak akan melarang. Fillbert tidak ingin cucunya sama seperti Allard, memberontak dan melakukan hal gila.
Masa lalu Allard kecil sangat tidak menyenangkan. Ia selalu membunuh hewan peliharaan, dan yang paling membuat Caroline saat itu putus asa adalah Allard kecil membunuh temannya karena dia merasa tidak suka.
Allard kecil dengan mudah membunuh teman-temannya. Fillbert dan Caroline, bersusah payah membuat Allard sadar, dan berbagai upaya mereka lakukan demi Allard kecil saat itu. Katryn tidak menyangka, Allard-nya dididik dengan cara tidak manusiawi. Dia ingat wajah Allard ketika Nyle dan Fillbert membahas masa kecilnya, pria itu hanya diam menatap mereka datar.
Allard tidak pernah menceritakan bagaimana masa kecilnya. Yang Katryn tahu adalah masa kecil Allard setelah mengenalnya. Katryn tidak tahu bagaimana masa lalu Allard dari 12 tahun ke bawah.
Katryn menunduk, memejamkan matanya dan menghela nafas. Dia ingin Allanzel menjalankan kehidupannya senormal mungkin tanpa adanya aturan. Air mata Katryn disamarkan oleh air yang mengalir. Ini yang selalu dia lakukan, menangis tanpa sepengetahuan Allard. Tak ingin terus larut, Katryn keluar dari kamar mandi.
Selesai berpakaian, Katryn melihat Allanzel yang tertidur sangat lucu. Katryn tersenyum, ia mengelus pipi Allanzel lembut. Suara pintu diketuk, Katryn membuka pintu tersebut. Mila, mengatakan Nyle menunggu nya di ruang musik.
“Aunty, tolong panggilkan Aleesa.” Mila mengangguk sopan dan pamit memanggil Aleesa.
Tak lama Aleesa masuk dan Katryn meminta Alessa menjaga Allanzel selama ia menghadap Nyle. Katryn berjalan ke arah ruang music, suara alunan piano menyambut pendengarannya ketika membuka pintu ruang musik. Katryn duduk di sofa berdekatan dengan jendela. Sekitar lima menit, Nyle menyelesaikan permainan piano. Pria tua itu ikut duduk di sebelahnya.
“Katryna.” Katryn hanya menoleh menatap mata Nyle.
“Allanzel adalah penerus keluarga ini dan kau harus mengikuti didikan di keluarga ini!” ucap Nyle datar.
Semenjak Allanzel lahir, Nyle sangat terobsesi menjadikan Allanzel penerus Allard. Aturan dan didikan yang dilakukan kepada penerus Klan Hellbert tidak main-main, sangat bahaya.
“Jangan membawa kabur Allanzel, seperti mertuamu lakukan dulu!” Peringat Nyle, ia sangat mewanti-wanti hal dulu yang dilakukan Fillbert dan Caroline.
“Aku tahu resiko menjadi keluarga Helbert, dan melahirkan penerus Helbert. Tapi, aku tidak ingin Allanzel dididik seperti itu,” ucap Katryn menyuarakan keinginananya.
“Biarkan Allanzel besar dan mengerti semuanya!” sambung Katryn.
“Kapan?” Nyle bertanya dengan suara tajam.
__ADS_1
“Beranjak dewasa, akan membuatnya susah dididik!”
“Didikan seperti itu, mengakibatkan psikis anak terganggu!” bantah Katryn tidak terima.
“Itu sudah biasa di keluarga ini! Bahkan penerus sebelumnya, bunuh diri akibat didikan itu!” balas Nyle tenang. Katryn memejamkan matanya mendengar ucapan itu.
“Allard pun pernah diposisi itu!” Katryn lemas mendengar itu.
“Aku mengizinkan Allanzel dididik seperti itu. Tapi, tidak di saat umurnya masih kecil!” ucap Katryn menentang Nyle.
“Aku tetap melakukan didikan itu, tanpa ataupun seizinmu!” Setelah mengatakan itu, Nyle bangkit dan berjalan ke arah piano.
Suara alunan piano itu membuatnya emosi. Katryn keluar dari ruangan musik dengan membantingnya.
“Nyonya, ibu Anda menunggu di ruang tamu.”
“Ya!” Katryn menghampiri ibunya. Ternyata ibunya datang bersama Marcell.
“Mama, Marcell.” Katryn duduk di sebelah ibunya.
“Mama, apa kabar?”
“Baik. Kamu semakin cantik saja,” puji Aleysia mengelus rambut Katryn.
“Mama lebih cantik,” balasnya.
Katryn menatap sang adik yang fokus memainkan ponselnya. Sekarang dia lebih tenang, karena sang adik bisa melanjutkan sekolahnya ke jenjang lebih tinggi.
“Lancar.”
“Belajar yang benar.”
“Iya, bawel.”
“Nak.” Katryn menoleh pada sang ibu.
“Mama, kenapa melihatku seperti itu?” Tanya Katryn, pasalnya Aleysia hanya menatapnya.
“Kau bahagia berada di tengah keluarga ini?” Tanya sang ibu sendu. Katryn menunduk, tak sanggup menatap mata Aleysia. Tidak ingin menunjukan kegelisahannya pada Aleysia.
“Aku bahagia, Mama.” Aleysia tersenyum, tahu bahwa anaknya berkata jujur.
“Kau tertekan dengan aturan keluarga ini!” ucap Aleysia.
Katryn berat mengatakan iya atau tidak, mulutnya terasa berat menjawab. Setelah perkataan Nyle pada waktu itu, orang tuanya tahu apa bisnis keluarga ini sesungguhnya dan aturan dalam keluarga ini. Orang tuanya sempat mengatakan ingin membawa Katryn pergi. Namun, Katryn memberi pengertian pada orang tuanya.
“Katryna, kamu bisa pergi dari sini dan membawa Allanzel,” ucap Aleysia.
“Mama. Ini tidak semudah yang di bayangkan,” balas Katryn pelan.
“Ryn, papa-mu bisa membawamu pergi dari keluarga ini.”
__ADS_1
“Ma, aku mengerti kekhawatiranmu. Tapi, itu bukan menyelesaikan masalah.” Aleysia memeluknya erat.
“Mama tidak ingin kamu dalam bahaya,” bisik Aleysia. Katryn mengelus punggung Aleysia.
Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya dalam bahaya. Begitu pun dengannya yang tidak ingin Allanzel berada disituasi bahaya. Dia rela untuk melakukan apapun, asal Allanzel-nya aman.
...***...
“Aku membangunkanmu?” Katryn menggelang.
“Aku menunggumu,” ucap Katryn serak.
“Tidurlah lagi,” ucap Allard sambil mengambil sebotol wine.
“Kau minum di jam segini?” Katryn berdecak kesal.
“Sedikit.”
“Kau membutuhkan tidur, bukan minum!” ucap Katryn mendekatinya.
Ketika ingin meminumnya, Katryn merebut botol tersebut. Kemudian, ia meletakkan botol itu dengan sedikit bantingan. Melihat ke arah Allard, yang kini memainkan ponselnya. Katryn mengambil ponsel tersebut dan duduk di atas pangkuan Allard.
“Ada masalah?” Allard menggeleng.
“Aku ingin tidur.”
“Kau tak ingin mengatakannya padaku?”
“Tidak ada masalah apapun!” ucap Allard sedikit keras, mengakibatkan Allanzel terkejut dan menangis. Katryn bangun dan menghampiri Allanzel. Sedangkan Allard membaringkan tubuhnya.
Dengan pelan Katryn menepuk bokong Allanzel, menenangkannya sambil memberi asi. Allanzel berhenti menangis, tetapi matanya masih melek seraya tersenyum. Katryn bermain sebentar dengan Allanzel.
Katryn berdiri dan kembali menepuk bokong Allanzel. Tak lama, Allanzel memejamkan matanya. Katryn meletakkan sang bayi dan menyelimutinya sampai dada. Matanya menatap Allard yang membelakanginya. Biasanya, Allard akan menemani jika Allanzel menangis di tengah pagi begini.
Katryn mengelilingi ranjang, lalu duduk di samping ranjang. Allard memejamkan matanya, Katryn menahan gejolak aneh di dadanya, ini pertama kali Allard seperti ini. Biasanya, jika marah Allard masih meresponnya. Katryn yakin ada sesuatu yang terjadi, sangat jelas mereka tidak memiliki pertengkaran apapun, selain masalah Nyle.
“Tidurlah!” Allard berucap masih dengan mata terpejam. Tidak mendengarkan, Katryn mengelus pipi Allard pelan.
“Al, jangan membuatku salah paham dengan sikapmu seperti ini.” Allard tetap dalam posisi.
“Baiklah. I love you,” ucap Katryn tidak memaksa dan beranjak. Katryn menaiki tempat tidur kosong di samping Allard. Berbaring menghadap punggung Allard, kali pertama Allard memunggungginya.
Matahari terbit, Katryn membawa Allanzel berjemur sebentar. Ketika bangun pagi ini, Allard masih tidur. Allanzel anteng dalam gendongannya. Dari belakang, Katryn mendengar suara langkah kaki, Nyle muncul dan berdiri di sampingnya.
“Dia sangat mirip dengan Allard.” Katryn diam, dia tidak bisa bersikap biasa saja setelah Nyle memberi peringatan padanya.
“Sikapmu seperti itu, mengingatkanku pada Lyla.” Katryn berdehem.
“Katryna, keluargaku harus kuat dan tidak boleh terlihat lemah di mata musuh! Silakan menentang itu, tetapi ingatlah satu hal, Allanzel sendiri yang akan melindungimu dan seluruh keluarga Helbert.” Setelah mengatakan itu, Nyle beranjak pergi.
Katryn membawa Allanzel kembali masuk. Ketika melewati meja makan, Allard dan Nyle sedang sarapan. Katryn melanjutkan langkahnya, dia dapat mendengar Nyle membicarakan tentang Allanzel.
__ADS_1