
...Telah direvisi!...
...---...
“Jordan, bawa semua orang. Mari beri waktu pria ini berpikir!” titahnya yang langsung dilaksanakan Jordan.
“Dengarkan aku baik baik!”
“Di sini aku berbicara sebagai keluargamu. Tentukan pilihan terbaikmu, gunakan hati dan logikamu, selaraskan keduanya! Aku tidak ingin sejarah dulu terulang kembali!”
“Jangan kau berpikir aku tidak tega menyakiti keluargaku, pun itu adik kandungku!”
Mereka menunggu selama 15 menit dengan hati was-was. Jujur, Ruldlof dan sepupu yang lainnya tidak ingin berada di situasi yang tidak menguntungkan bagi mereka, tapi apa yang bisa mereka perbuat. Ucapan Allard sebagai pemimpin utama tak bisa mereka bantah.
15 menit terlewat, mereka kembali masuk. Allard menatap Evelyn yang sedang menunduk menyembunyikan tangisannya, dengan cepat Allard mengalihkan pandangan ketika Evelyn balik menatapnya.
“Katakan, jangan membuang waktuku!” ketus Allard. Keynand memandang Allard tersenyum, senyuman tulus yang tidak pernah sekalipun ditunjukan seorang Keynand.
“Aku memilih, Selena―” ucap Keynand menjeda ucapannya, membuat semuanya tegang.
“Tapi, bagaimana pun aku akan tetap memilih keluargaku.”
“Aku paham maksudmu, Al. Kau tidak ingin aku terus terjerat dalam kubang yang sama,” ucap Keynand menatap Allard.
“Apa pilihanmu tulus, atau hanya di mulut saja?” tanya Allard menyipitkan matanya curiga.
“Aku melepaskan Selena. Dengan arti, aku mencoba melepaskan semua yang telah tertanam di hatiku.”
“Seperti mencabut bunga mawar yang berduri, akan sulit tapi tidak apa. Aku yakin, bisa melepaskan rasa ini bersama Lyla!” ucap Keynand.
“Pertanggung-jawabkan ucapanmu, Keynand! Sekali lagi kau melakukannya pada Aunty Caroline hanya karna jal*ng itu, bersiap kau yang akan ku habisi!” Peringat Allard tak main main.
Sebelum meninggalkan penjara, Allard menarik Evelyn untuk mengikutinya. Namun sebelumnya, Allard memerintahkan bawahannya untuk mengantar sepupunya kembali. Ketika mereka sampai di mansionnya, Allard langsung masuk tanpa menyapa Katryn yang tengah duduk bersama kedua orangtuanya.
“Ada apa dengan kakakmu, Evelyn?” tanya Caroline, Eve menggeleng tidak mengerti.
“Biar aku melihatnya,” ucap Katryn.
Sesampainya di ruang kerja Allard, Katryn langsung masuk dan melihat Allard terduduk di kursi kerjanya. Melihat Katryn masuk, Allard seperti menyembunyikan sesuatu di laci kerjanya.
“Apa yang kau pegang?” Katryn sesegera mungkin berlari mendekat, tangannya meraih gagang laci dan menemukan sebuah cutter.
“Allard ... kau tidak lagi melakukannya, kan?” tanya Katryn tertahan di tenggorokan.
“Maafkan aku...” Katryn menghela nafas, ia duduk dipangkuan Allard.
“Masih merasa bersalah pada dirimu?” Allard mengangguk, kepalanya ia tenggelamkan pada dada sang istri.
“Jangan lakukan lagi, Al. Kau menyakiti dirimu, aku tidak suka itu!”
...***...
Hampir sebulan belakangan ini, Katryn dipusingkan dengan kelakuan Allard yang menyebalkan. Pria ini meminimalisir wanita mana saja yang berada di lingkungan terdekatnya. Satu hal yang membuat Katryn geleng kepala, Allard memecat seluruh pelayan wanita di mansion ini, kecuali Mila.
Awalnya ia tak mengerti dengan maksud Allard ini, akan tetapi setelah Caroline menjelaskan bahwa putra tersebut melakukan cara itu sebagai pembuktian pada Katryn untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama terkait wanita. Konyol memang, tapi Katryn menghargainya. Asal pria itu tidak lagi menyakiti dirinya sendiri, itu sudah cukup untuk Katryn.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Allard memeluknya dari belakang.
“Tidak,” ucap Katryn tersenyum. Allard menatap mata Katryn, lalu mencium bibir ranumnya dengan lembut. Katryn memejamkan matanya menikmati ciuman itu.
“Katakan!” Paksa Allard.
“Kenapa kau memaksa?!” Katryn menjawab sarkas.
“Aku ingin tahu!” jawabnya cuek.
__ADS_1
Katryn terkekeh dengan tatapan Allard yang penasaran tetapi wajahnya terkesan cuek. Ia berjinjit, menyama-ratakan tinggi mereka, tetap saja Allard yang lebih tinggi dari padanya. Senyum jahil Katryn tampakkan, Allard menyipit curiga, penasaran apa yang akan dilakan istrinya. Dan tak lama dari itu, Katryn melompat dan melingkarkan kedua kakinya di pinggang Allard. Untung refleks Allard bagus, dia menahan bokong Katryn.
“Kau gila?! Kau sedang hamil! Jika kau jatuh bagaimana?!” semprot Allard, Katryn tertawa senang.
“Jatuh pun ke bawah, bukan ke atas!” balas Katryn jahil.
“Itu pernyataan bodoh yang pernah aku dengar!” sarkas Allard
“Jadi, menurutmu aku bodoh?”
Allard kesal dengan kelakuan Katryn, tanpa peduli dia melepaskan tangannya pada bokong Katryn, dan wanita ini panik bukan main. Katryn melingkarkan tangannya pada leher Allard dengan erat. Pria ini tidak terlihat kesusahan dengan posisi mereka seperti ini, malah dia sangat santai.
“Pegang aku dengan bagus!” bentak katryn.
“Kau ingin aku memegang yang mana?” tanya Allard datar. Sepertinya Katryn mengatakan kosa kata yang salah.
“Allard, kau harus tanggung jawab kalau aku jatuh!”
“Katryna, kau hamil pun aku bertanggung jawab!”
“Sekarang pun aku hamil, Bodoh!” Maki Katryn kesal. Allard tersenyum tipis, dia kembali menahan bokong Katryn dan mengecup bibirnya kilat.
“I love you!” ucap Allard.
“I’m not!” ketus Katryn. Bukannya tersinggung, Allard terkekeh. Itu lebih baik, daripada Katryn menyinggung masalah Selena.
“Amour, posisi ini tidak menguntungkan bagiku. Ini membuatku bergairah,” ucap Allard pelan.
“Tumben sekali kau memanggilku begitu?!” ucap Katryn menenggelamkan wajahnya di bahu Allard.
“Tidak boleh?!”
“Sangat boleh!” ucap Katryn semangat.
Allard menggeleng tak habis pikir, mood wanitanya ini sangat cepat berubah. Wajar saja, ibu hamil memang begitu dan Allard menyukainya. Dia menyukai Katryn yang manja dan tak ingin jauh darinya.
“Mengapa ... kau memecet semua pelayan?”
“Karena hanya kau wanita satu-satunya yang aku butuhkan!” jawab Allard tenang.
“Tapi, bukan dengan cara seperti ini. Maksudku, mereka juga butuh pekerjaan,” ucap Katryn.
“Aku hanya memindahkan tugas mereka, tidak memecat.”
“Kenapa harus sepeti itu?” tanya Katryn cepat.
“Simpel, aku takut kehilanganmu lagi. Ini caraku untuk menghalaunya!”
“Sayang, kau tahu itu terdengar ... konyol?” Tanya Katryn takut. Tanggapan Allard hanya tersenyum manis.
“Aku tidak peduli. Menurutku, itu jalan yang terbaik.” Bcap Allard. Katryn mengangguk paham, ia tak mau memperpanjang masalah. Toh, pelayan tersebut tidak kehilangan pekerjaannya.
“Baiklah. Aku ingin liburan bersama keluarga kita!” ucap Katryn memerintah, bukan permintaan.
“Apakah itu sebuah permintaan?” tanya Allard tak yakin.
“Perintah!” Allard menghela nafas, dan menatap mata Katryn dalam.
“Aku tidak suka keramaian, Amour.” Katryn melonggarkan pengeratnya di pinggang Allard, bermaksud untuk turun dari gendongan Allard, tapi dengan mudahnya Allard menahan bokongnya.
“Oke. Tapi, aku menginginkanmu sekarang!”
“Bisakah kau hidup tanpa memikirkan ************, Dude?” Allard tertawa, wajah Katryn sangat menggemaskan ketika marah.
“Salah. Aku tak bisa hidup tanpamu!” ucap Allard, dan Katryn memutar bola matanya malas.
__ADS_1
...***...
Sejak kemarin, seluruh keluarga Helbert dan Vinson berlibur, termasuk Alessa dan kedua sahabat Allard. Tentu ini adalah perintah Katryn langsung. Selain mereka, Lyla juga turut hadir diundang langsung oleh Cassandra.
Katryn bahagia dengan liburan ini, dia merindukan berkumpul bersama keluarga. Sudah lama sekali vibe berkumpul keluarga tidak Katryn rasakan. Walau saat ini hanya ibu dan Marchell, Katryn merasa bersyukur.
Katryn mendengar dari Marchell, keluarga mereka sekarang ini mulai mendatangi dengan tujuan tertentu dan menanyakan kabar. Jelas itu sulit diterima, sebab dulu ketika mereka berada dititik paling bawah, tidak ada keluarga yang peduli terhadap mereka. Hanya ada cacian dan makian yang hinggap dipendengaran mereka.
“Marcell.” Katryn memanggil.
“Siapa perempuan yang kau bawa itu?” tanya Katryn penasaran pada seorang gadis yang digandeng Marchell sejak kemarin. Cantik, dan sedikit gila, begitu kata Allard.
“Pacarmu?!”
“Doakan saja.”
Berbincang sedikit, Katryn mengajak Marcell berkumpul bersama yang lainnya. Mereka berkumpul di belakang villa, yang terdapat taman dan sebuah kolam renang. Katryn mendudukkan dirinya di samping Caroline, dan seperti biasa, si kembar yang membuat kehebohan.
“Ayo, kita bermain truth or dare!” ajak Neon dengan semangat.
“Bosan!” ucap Ruldlof jengah. Bagaimana tidak bosan? Setiap kali berkumpul, si kembar pasti dengan semangatnya mengajak bermain ToD tanpa absen.
“Dan para orangtua harus ikut!” ucap Leon penuh penekanan.
Allard ingin menghindar, namun si kembar sudah lebih dulu menghalanginya. Sedangkan, para orangtua yang ingin menolak tidak bisa berbuat apa-apa karna Fillbert yang memerintahkan untuk semua ikut. Dan pada akhirnya, hanya para lelaki saja yang ikut bermain, sedangkan para wanita hanya menonton.
“Uncle Fillbert, kenapa kau ikut-ikutan bermain?” protes Ruldlof.
“Tidak ada salahnya, bukan?”
“Kau seperti anak remeja saja, bodoh!” umpat Kyle.
Mereka membentuk lingkaran, Katryn terkekeh ringan akibat Allard yang memasang wajah kesal. Dan permainan pun di mulai, Leon mulai memutar botol dan putaran botol berhenti tepat di hadapan Kyle.
“Dad, truth or dare?!” tanya Neon jahil.
“Dare!”
“Baiklah. Unclel Fill, apa kau ingin memberi tantangannya?” tanya Leon penuh drama. Filbert menatap Kyle dengan senyuman jahat.
“Mudah saja, bawa seorang wanita ke club dan tinggalkan wanita itu!” ucap Fillbert.
“Kau ingin balas dendam, Fill?”
“Bisa dikatakan begitu!”
“Aku tidak mau!”
“Oh, tidak masalah! Aku akan memisahkanmu dari adik kesayanganku!” balas Fillbert ringan.
“Kau memang tak punya otak!” umpatnya. Tawa Fillbert pecah seketika.
“Aku tunggu nanti malam!” peringat Fillbert.
Allard yang mendengar percakapan tersebut, memandang malas ayahnya yang memasang wajah tanpa berdosa. Permainan terus berlanjut, yang awalnya Allard tenang, seketika jantungnya berdetak cepat. Putaran botol, berhenti tepat di hadapannya. Anggelo memandangnya senang bukan main, dan yang lainnya tersenyum menunggu giliran Allard adalah rencana mereka.
“Anggelo, ayo katakan!” ucap Fillbert.
Allard mengumpat dalam hati, baru sadar bahwa mereka semua sudah merencanakan sesuatu untuknya. Tanpa mempedulikan apapun, Allard bangkit dan menjauh dari mereka. Ia dapat menebak mereka akan mengatakan tantangan yang aneh.
“Ternyata kau pengecut, Boy!” ucap Fillbert meledek.
“Tidak peduli!”
“Dia tidak seru!” ucap Anggelo.
__ADS_1
Katryn terkekeh, prianya tidak sedikit pun terpengaruh dengan perkataan saudaranya. Dengan pelan ia bangkit menyusul Allard. Pria itu tengah berdiri di pinggir pantai yang berhadapan langsung dengan pantai. Dengan pelan, Katryn berjalan dan memeluk Allard dari belakang. Allard membalas dengan menggenggam tangan Katryn yang melingkar di pinggangnya.
...***...