
...Telah direvisi!...
...Selamat membaca, selamat menikmati!...
...-----...
...*Note: Bagian ini mengandung unsur darah, jadi yang tidak tahan diskip saja.*...
Prosesi pemberkatan telah usai. Kini, saatnya Allard dan Katryna saling memasang cincin pernikahan. Jordan yang dari awal hadir, berjalan mendekati mereka seraya membawa sebuah kotak berukuran sedang. Tiba di hadapan pengantin, Jordan mengeluarkan sebuah pisau kecil dan memberikannya pada Allard.
Lalu, Jordan kembali mengeluarkan wadah kaca dari kotak tersebut. Allard dengan santainya menggoreskan telapak tangannya dan menampung tetesan darah di wadah kaca yang Jordan pegang. Kemudian, ia menyerahkan pisau itu pada Katryna, meminta wanita itu melakukan hal yang sama.
“Untuk apa? Itu sangat menjijikkan!” ucap Katryn tak nyaman sekaligus jijik.
“Katryna!” peringat Allard dan Katryn menolak keras.
Tanpa perhitungan, Allard menarik tangan Katryn dan melakukan hal yang sama, sehingga membuat Katryn berteriak kaget. Setelah tetasan darah Katryn masuk ke dalam wadah tersebut, Jordan mencampurnya dengan air putih biasa. Selanjutnya, Jordan mengeluarkan sepasang cincin dan mencelupkan cincin tersebut ke dalam wadah yang sudah dicampur darah beserta air. Allard mengambil salah satu cincin yang dikhususkan untuk Katryn, lalu memasang cincin tersebut ke jari manis sang wanita.
“Giliranmu!” ucap Allard mengulurkan tangannya ke hadapan Katryn.
Bimbang, Katryn sekilas melihat Allard dan wadah di tangan Jordan bergantian. Tatapan Allard mengisyaratkan Katryn untuk segera memasang cincin itu ke jarinya. Katryn melakukannya, ia memasang cincin itu ke jari manis Allard. Semua prosesi ini sangat aneh dan gila, Katryn tidak dapat mengerti maksud mencelupkan sepasang cincin ke dalam wadah berisi darah beserta air.
“Anda boleh mencium pengantin Anda!” ucap sang pendeta mempersilakan.
Allard menyambar bibir ranum sang gadis dengan rakus. Jordan dan beberapa orang kepercayaan menyaksikan pemimpin mereka dengan senyuman bahagia. Menit berlalu, Allard masih bertahan menyecap rasa sang gadis. Pria itu berhenti saat Katryn berusaha menghindar dari ciuman kasarnya.
Matanya menatap bola mata Katryn berkaca-kaca. Secepat mungkin Katryn menutup matanya agar air matanya tidak terjatuh di hadapan pria yang sudah berstatus suaminya. Entahlah... Katryn tidak tahu perasaan apa di dalam hatinya sekarang, Katryn tidak dapat menjelaskannya.
“Now, you are my wife!” bisik Allard lembut di telinganya.
*Sekarang kau adalah istriku*
...***...
Katryn menggeliat di dalam pelukan Allard. Perlahan, matanya terbuka dan langsung bersitatap dengan mata biru milik Allard sekaligus senyum kemenangan tercetak di bibirnya. Setelah permberkatan dadakan kemarin, Allard kembali membawa Katryn ke mansion keluarga Helbert.
“Tanyakan apa yang ingin kau tahu!”
Katryn bermaksud untuk menjauh dari pelukan Allard, tetapi pria itu menahan pergerakannya.
“Tetap seperti ini!”ucap Allard.
“Bisa kita berbicara dalam posisi wajar?” tanya Katryn pelan.
“Wajar seperti apa yang kau maksud? Bercinta?” balas Allard.
“Mengapa kau tidak mengatakan apa pun tentang pernikahan kemarin?” tanya Katryn tidak lagi membalas ucapan gila Allard.
__ADS_1
“Kenapa aku harus mengatakannya? Kau sudah menandatangani berkas itu, artinya kau sudah setuju menikah denganku, kapan pun aku mau!”
“Oke. Tanpa orang tuaku dan orang tuamu?”tanya Katryn.
“Ya.”
“Alasannya?”tanyanya lagi.
“Aku tidak ingin orang tahu tentang pernikahan itu,”jawab Allard.
“Kenapa? Apa kau menikahiku untuk menjadikanku budakmu?” Keberanian besar bagi Katryn mengatakan hal ini.
“Mungkin,” balas Allard datar menatap Katryn tajam penuh peringatan.
Hampir saja Katryn mengeluarkan makian, Allard sudah lebih dulu bangkit dan meninggalkan kamar. Katryn
memejamkan matanya erat, kata budak memenuhi pikirannya. Mengapa rasanya sakit? Tidak mungkin Katryn berharap lebih pada pria asing yang detik ini adalah suaminya, bukan?
Katryn memutuskan membersihkan diri. Setelah selesai, Katryn turun ke lantai bawah. Seorang pelayan menuntunnya ke ruang makan, yang mana di sana keluarga Allard tengah menyantap sarapan bersama.
“Good morning, Katryna!” sapa Evelyn pertama kali.
“Good morning.”
“Duduklah,” pinta Caroline ramah.
Duduk tepat di samping Allard, Katryn mengambil selembar roti dan mengoles selai kacang pada rotinya. Suasana
saat ini didominasi oleh Fillbert dan Allard membahas pekerjaan. Sesekali Fillbert bertanya, Katryn menjawab seadanya.
Sejauh Katryn menilai, Fillbert adalah kepala keluarga yang tegas dan dingin, sama seperti putranya. Ketampanan yang dimiliki sang kepala keluarga tidak perlu dipertanyakan lagi, amat sangat tampan.
Fillbert memang dingin, tetapi ada sebuah kehangatan di mata biru itu terhadap keluarganya, terutama pada Caroline. Dari sini saja Katryn paham seberapa besar cinta Fillbert untuk sang istri. Katryn memperhatikan segala perlakuan Fillbert, sampai pria itu pergi pamit dengan cara lembut dan romantis ia saksikan.
“Kau tetap di sini, aku ada urusan yang harus diselesaikan!” tutur Allard berlalu begitu saja.
“Jangan diambil hati sikap pria itu, dia memang menyebalkan!” ucap Evelyn ketika mereka , Katryn tersenyum menatap Evelyn.
“Begitulah Allard, luar dalam sangat berbeda!” Kini, Caroline yang ikut menimpali.
“Kalian lanjutkan sarapannya, mom ingin melanjutkan pekerjaan di dapur!” sambung Caroline.
Tinggal Katryn dan Evelyn yang berada di meja makan, ingin sekali Katryn bertanya masalah tukar cincin kemarin.
“Evelyn, apa boleh aku bertanya sesuatu?”
“Tentu, tanyakan saja!” ucap Evelyn senang hati.
__ADS_1
“Apa kau tahu prosesi apa saja yang dilakukan ketika pemberkatan selesai?”
“Kau sudah tahu dan mengalaminya, kenapa bertanya?” ucap Evelyn bingung.
“Kau tahu aku dan dia menikah?” Evelyn mengangguk.
“Mom dan dad juga mengetahuinya!”
“Pasti kau bingung dalam prosesi pertukaran cincin, kan?” Katryna mengangguk.
“Aku rasa, kau tahu makna yang terkandung dalam prosesi itu.”
“Ya, aku tahu!”jawab Evelyn.
“Kenapa harus ada darah?” tanya Katryn pelan berhati-hati.
“Prosesi itu adalah tradisi turun-temurun di keluarga Helbert, bahkan sudah menjadi kepercayaan. Kenapa darah? Menurut cerita yang aku dengar, pencampuran darah dari sepasang suami-istri diharapkan sebagai pengikat hubungan keduanya. Sedangkan pemasangan cincin yang telah dicelupkan dalam wadah itu sebagai pengikat pernikahan untuk selamanya,”jelas Evelyn.
“Apa bedanya pengikat hubungan dengan pengikat pernikahan?”tanya Katryn.
“Kau penasaran, Mrs. Helbert?” tanya Evelyn balik seraya terkekeh, Katryn mendatap gadis itu datar.
“Pengikat hubungan maksudnya mengeratkan keharmonisan antara kedua manusia yang terikat dan pengikat pernikahan maksudnya mengeratkan pernikahan sampai maut memisahkan,”jelas Evelyn.
“Bagiku, itu tidak masuk akal. Hubungan semua itu hanya Tuhan yang menentukkan, tetapi mau tidak mau, itu adalah kepercayaan keluarga ini,” tambah Evelyn, Katryn mengangguk setuju.
“Seperti pemikiran bodoh,” komentar Katryn tanpa sadar. Evelyn tertawa, ia pun berkomentar sama pada saat pertama kali mendengar tradisi itu.
Di malam hari, Katryn kembali duduk bersama keluarga Helbert di meja makan. Pelayan menyediakan semangkuk kecil berisi bubur di hadapannya dan Caroline. Kebingungan, Katryn menatap Allard dengan pandangan bertanya.
“Karena mulai sekarang kau bagian keluarga ini, jadi kau harus melakukan setiap tradisi yang ada!” ucap Fillbert.
Katryn mendengarkan kalimat itu seraya memperhatikan Caroline yang mulai mengambil sendok di dalam mangkuk tersebut, lalu wanita itu menyendokkan sesendok bubur ke hadapan Fillbert. Kemudian, Fillbert melakukan hal yang sama seperti yang Caroline lakukan.
Ya, tradisi lain dari keluarga Helbert adalah dikhususkan saat makan malam keluarga untuk pasangan suami-istri memakan bubur di mangku dan sendok yang sama.
“Ada-ada saja! Aneh! Di mana-mana, bubur dimakan di pagi hari!” batin Katryn.
“Lakukan!” ucap Allard.
Katryn melaksanakan hal tersebut, dengan canggung ia menyuapi Allard dan begitu juga sebaliknya. Namun tanpa diprediksi, Allard tiba-tiba mengecup bibirnya. Ia mengira itu adalah tradisi keluarga, tetapi Katryn tak melihat Fillbert melakukannya. Yang ada, mereka tertawa geli.
“Itu bukan tradisi!” ucap Evelyn menjawab pertanyaan Katryn. Pipi Katryn memerah, ia tersipu malu.
“Kau terlalu mudah untuk dibaca!” komentar Allard seraya menyuapkan sepotong steak ke dalam mulutnya.
“Begitu juga kau menyukainya!” balas Evelyn santai, tidak terpengaruh tatapan bengis sang kakak.
__ADS_1
Sedangkan Katryn, menunduk malu karena kecupan Allard di bibirnya. Jika berdua, Katryn tidak akan semalu ini!