Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 31. The Paints


__ADS_3

...Telah direvisi! ...


...Happy Reading, selamat menikmati! ...


...---...


Di mansion, Allard segera memasuki kamar mandi di lantai satu dan membersihkan dirinya di bawah guyuran shower. Tangannya yang terluka hanya dibiarkan saja bercampur dengan air. Memejamkan mata, Allard memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya untuk pria itu.


Mendapatkan satu ide, Allard tersenyum miring. Pasti ini akan membuat emosi Earnest berkobar, sungguh Allard tidak sabar dalam melakukannya. Selesai membersihkan diri, ia melilitkan kain kasa pada tangannya dan mengenakan handuk di pinggangnya, lalu berjalan menaiki tangga.


Namun, ketika menaiki tangga, ia bertemu dengan Katryn yang kebetulan ingin turun. Perhatian Katryn terarah pada tangan Allard. Secepat kilat Katryn menuruni tanga menghampiri Allard.


“Ada apa dengan tanganmu?” tanya Katryn panik.


“Bukan apa-apa.”


“Bukan apa-apa katamu? Ini berdarah!” ucap Katryn kesal, Allard hanya diam.


“Ayo!” ucap Katryn lagi sambil menggenggam tangan Allard yang terbebas dari perban.


Katryn mendudukan Allard di sofa kamar mereka. Kemudian, menghubungi Jordan lewat interkom untuk meminta menghubungi dokter. Selama menunggu dokter, Katryn beranjak mengambil pakaian Allard.


“Kenakan ini,” pinta Katryn menyerahkan sepasang pakaian. Allard mengambil pakaian tersebut.


Katryn menatap objek lain saat Allard seenak hatinya membuka kain yang membaluti tubuhnya. Tidak ada godaan seperti biasanya, Katryn yakin pria ini baru saja melakukan sesuatu di luar sana. Selesai Allard mengenakan pakaian, Katryn duduk di sebelah Allard.


Ia mengambil tangan Allard dan membuka perban itu perlahan. Bulu kuduknya meremang melihat luka Allard yang Katryn anggap sangat dalam. Detik itu pula dokter datang bersama Jordan, Katryn menyingkir mempersilakan dokter.


“Luka itu tidak perlu dijahit, Dok?” tanya Katryn khawatir.


“Tidak perlu, Nyonya. Ini tidak dalam,” jawab dokter tersebut.


“Tolong ganti perbannya, dan jangan terlalu banyak menggengam agar darahnya tidak keluar,” pesan sang dokter, Allard diam.


“Terima kasih, Dokter!” ucap Katryn tersenyum ramah, Allard seketika menggengam tangan Katryn agak kuat.


Kepergian dokter itu, Katryn kembali mendudukan diri di samping Allard. Tidak ada yang membuka pembicaraan, Katryn menunggu Allard menjelaskan, tetapi tampaknya pria itu tidak berniat menjelaskan apa pun.


“Kau menahan pisau, kan?” tembak Katryn langsung.


“Ya,”akunya.


“Kenapa?”


“Tidak perlu aku jelaskan.” Katryn menatap Allard tidak suka, yang dibalas Allard datar.


Sejujurnya Katryn khawatir, saat ini pun ia menahan air mata. Sedangkan Allard sendiri tahu bahwa sang wanita mengkhawatirkannya, terlihat jelas dari gerak-gerik dan tatapan matanya.


“Aku baik-baik saja,” ucap Allard pelan. Akhirnya, tangis Katryn pecah.


Allard memeluk Katryn, membisikkan kata penenangkan di telinganya. Katryn membalas pelukannya, menenggelamkan wajahnya pada dada bidang sang suami.


“Kau membautku takut, Al.”


...***...


“Apa sakit?” tanya Katryn melirik tangan Allard.


“Tidak.”


“Allard,” panggil Katryn pelan, Allard menoleh menatap Katryn.


“Hm.”


“Luka separah itu, apa kau tidak merasa sakit?” tanya Katryn penasaran. Pasalnya dua hari berlalu, sedikit pun Katryn tidak melihat Allard merasa kesakitan akan luka itu.


“Tidak.”


“Kenapa?”


“Aku tidak pernah merasa sakit, Katryna.” Allard berucap datar.


“Maksudmu, kau kebal dari rasa sakit seperti ini?” Allard mengangguk.

__ADS_1


“Sejak kapan?”


“Sejak kecil.”


Katryn mengerti, dia tidak bertanya lebih lanjut. Ekspresi wajah Allard menandakan pria ini memintanya untuk diam.


“Kau tidak berniat mengajakku berlibur?” Katryn mengubah topik pembicaraan.


“Kau ingin berlibur?” Katryn mengangguk antusias.


“Ke pantai!” ucap Katryn.


Allard menuruti permintaan Katryn, dia membawa Katryn ke salah satu pulau pribadinya yang tidak jauh dari mansion. Katryn mengganti baju dengan bikini, Allard membiarkan sebab di pulau ini hanya ada mereka berdua.


Saking antusiasnya, Katryn berlari ke arah pantai. Bermain air laut adalah hal yang membuat Katryn bahagia. Sesekali ia tertawa ketika ombak datang mengenainya, Allard tersenyum melihat sang istri.


“Allard, ayo!” ajak Katryn tiba-tiba berlari ke arahnya.


Yang biasanya Allard memaksa, kali ini Katryn yang memaksa Allard untuk mengikuti keinginanannya. Katryn menarik Allard hingga air laut sebatas pinggangnya. Allard memeluk Katryn agar sang istri tidak terbawa ombak.


“Kau bisa romantis juga!” komentar Katryn terkekeh.


Allard tidak suka dikomentari demikian, dengan santainya ia menolak tubuh Katryn. Tidak terima, Katryn bangun dan melakukan hal yang sama, tetapi Allard tidak bergerak.


“Tubuhmu terlalu besar,” komentarnya lagi sambil mendonggak menatap Allard. Begitulah... Katryn pendek jika dihadapkan dengan Allard yang menjulang tinggi.


“Kau saja yang terlalu pendek.” Spontan, Katryn memukul bahu Allard.


“Tidak!” teriak Katryn mengetahui Allard yang ingin menolaknya kembali.


Maka, Allard dengan mudahnya menggendong Katryn. Katryn yang kaget melingkarkan kakinya di pinggang sang suami.


“Allard, tanganmu!” peringat Katryn.


“Tidak masalah!”


“Itu akan berdarah.”


Katryn yang merasa geli tertawa. Menolak pun tak bisa, alhasil dia pasrah. Keduanya menghabiskan waktu bersama sampai hari hampir gelap.


“Mandi bersama,” ucap Allard.


“Tidak mau.”


“Bersama.”


“Tidak.”


Belum sempat Katryn menutup pintu kamar, Allard lebih dulu menahan pintu dan masuk ke dalamnya. Satu tangannya menarik Katryn ke arah shower, tangan yang dibalut perban menyalakan air.


“Astaga, Allard!”


“Yes, Amour?”


“Aku mengatakan tidak. Kau malah masuk seenaknya,” protesnya.


“Tidak ada salahnya, kau istriku!”


Menyelesaikan ritual mandi sekaligus kenikmatan, mereka berpakaian. Katryn yang pertama selesai berpakaian, memutuskan untuk keluar. Dia masih ingin menikmati suasana pantai di malam hari, tetapi langkahnya terhenti ketika membuka pintu, di depan sana telah berubah menjadi suasana romantis.


“Kau suka?” tanya Allard berbisik dari belakang.


“Allard, apa ini?”


“Romantic dinner.”


“Kau suka?” ulang Allard.


“Aku suka.”


“Kemarilah,” ucap Allard menyodorkan tangannya, Katryn menyambut uluran tersebut.


Mereka berjalan beriringan, Allard memundurkan sebuah bangku untuk bisa Katryn duduku. Kemudian dia berjalan ke bangku yang di hadapan Katryn.

__ADS_1


“Kapan ini disiapkan?” tanya Katryn.


“Ketika kau menikmati sentuhanku,” balas Allard menggoda.


“Allard, aku serius!” Allard mengedikkan bahunya seolah tak peduli.


Makan malam dihidang oleh pelayan, Katryn sendiri tidak tahu dari mana datangnya mereka. Hatinya senang mendapat hal manis ini, Katryn berterima kasih pada Allard.


“Aku tidak suka kau berterima kasih.”


“Kenapa?”


“Apa yang aku lakukan untukmu, cukup kau balas dengan senyum di bibirmu.” Tak tahan, Katryn tersenyum lebar.


Mereka mulai menikmati makan malam bersama. Tidak ada pembicaraan serius, sampai akhirnya selesai menyantap makan malam, Katryn meminta izin untuk duduk di pinggir pantai. Allard mengiyakan, membiarkan Katryn berjalan menuju bibir pantai.


Malam ini, tiada hentinya Katryn tersenyum. Matanya terpejam merasakan angin malam menerpa wajahnya. Katryn kaget tiba-tiba seseorang memasang sebuah kalung di lehernya, pelakunya adalah Allard. Spontan, Katryn memegang kalung yang melingkar di lehernya, lalu melihat Allard yang tengah menopang lutut di belakang tubuhnya.


“Allard, apa ini?” tanya Katryn walau ia sendiri sudah tahu jawabannya.


“Bunga favoritmu adalah Teratai. Aku memasannya untukmu,” ucap Allard. Katryn terharu, kalung berliontin Teratai ini sangat indah. Ditambah Allard yang memberikannya, satu berpaduan yang mengetarkan hati.


“Terima kasih, Allard.” Katryn tersenyum lebar seraya memeluk Allard, sebuah kecupan singkat ia hadiahkan di bibir Allard.


...***...


“Ah, aku malu...” ucap Katryn merengek.


Kamar mereka hancur, pakaian dimana-dimana. Barang-barang yang seharusnya di tempat, kini berserakan. Tentu Katryn tahu mengapa, apalagi jika bukan perbuatan suaminya dan juga dirinya. Mengingat malam tadi, Katryn tersenyum dan pikirannya mulai berkelana entah kenapa.


“Oke, cukup!” rutuk Katryn pada dirinya.


Katryn beranjak membersihkan kekacauan, mengambil pakaian mereka dan meletakkannya di keranjang kotor. Sebenarnya, bisa saja pelayan yang membersihkan, tetapi Katryn lebih suka mengerjakannya sendiri. Lagipula, Allard tipe pria yang tidak suka daerah pribadinya disentuh orang lain.


Dua jam berkutat membersihkan kamar, barulah Katryn mandi. Selesai itu, dia turun untuk sarapan. Oh, bukan sarapan, lebih tepatnya makan siang.


“Nyonya. Anda baru bangun?” tanya Mila pertama kali, Katryn mengangguk.


“Ini sudah siang, apa Anda ingin memakan sesuatu?” tanya Mila setelah menjawab pertanyaannya.


“Iya. Aku makan di sini saja,” ucap Katryn menunjuk pantri.


“Baik, Nyonya.” Mila menyiapkan makan siang Katryn.


Menunggu Mila, Katryn mengedarkan pandangannya. Terlihat di taman sana Selena duduk, terdapat sebuah ponsel di telinganya, seperti menelepon seseorang. Lama Katryn memperhatikan, Selena menoleh ke arahnya.


“Aunty, dimana Allard?” tanya Katryn pada Mila.


“Sepertinya di ruang kerja, Nyonya.”


Tumben sekali Selena tidak mengikuti Allard, batinnya.


“Silakan, Nyonya.” Mila meletakkan sepiring steak dan air putih di hadapannya.


“Terima kasih, Aunty.” Mila mengangguk seraya tersenyum ramah.


Dengan cepat Katryn menyelesaikan makan siangnya. Kemudian, Katryn memutuskan untuk bersantai di kolam teratai. Senyum Katryn mengembang, jari-jarinya menyentuh kalung pemberian Allard.


Bosan, Katryn memutuskan berkeliling ke lantai atas. Ada satu lantai yang sampai ini Katryn ingin tahu, yaitu lantai empat. Dulu saat Mila menamaninya mengelilingi mansion ini, lantai tersebut yang belum Mila terangkan. Sejauh yang Katryn dengar, lantai ini adalah daerah terlarang.


Jika dilihat, tidak ada yang menarik dari lantai ini, hanya ruang kosong biasa. Namun, yang membuat lantai ini suram adalah cat hitam memenuhi ruangan. Pertama kali menginjakkan kaki, Katryn merinding. Rasa penasaran yang besar, akhirnya memberanikan Katryn menyusuri ruang demi ruang.


Menariknya pada sebuah pintu terukir Bunga Teratai bewarna merah yang kontaks dengan cat hitam di ruangan ini. Membuka knop pintu, Katryn takjub dengan ruangan ini yang ternyata adalah sebuah lorong dengan hiasan teratai di dalamnya. Kenapa Katryn merasa ini diperuntukkan untuknya?


Dari tempat Katryn berdiri di sini, dia melihat sebuah lukisan, tetapi tidak begitu jelas karena pencahayaan minim. Katryn berjalan mendekati lukisan itu, dan ia terpaku pertama kali melihatnya. Ini lukisan dirinya, diperkuat dengan tulisan di bawah lukisan tersebut ‘Katryna, 2015’.


Di kiri Katryn sebuah lorong terlihat, Katryn semakin memasuki lorong tersebut. Kembali ia terpaku pada lukisan-lukisan dirinya, tidak hanya tiga, akan tetapi sangat banyak terpajang di setiap dinding. Penglihatan Katryn sedikit mengabur, kepalanya pusing bukan main.


Sekilas bayangan-bayangan tergambar di pikirannya. Apa yang pernah Alessa ceritakan, saat ini tengah datang memberontak di dalam kepalanya. Satu lukisan di depannya ini menggambarkan dirinya yang memegang sebuah teratai dengan tangan lainnya menjulur kedepan menyentuh jari seseorang pria.


“What are you doing here, Mi Amour?” bisik seseorang dari belakang.


“Allard...”

__ADS_1


__ADS_2