
...Telah direvisi!...
...Happy reading!...
...-----...
“Apa dia sudah membuka mulut?” tanya Allard datar.
“Belum, Tuan.” Jordan menjawab takut, mood sang tuan sangat tidak baik setelah sang nona mencoba kabur.
“Semut sekecil itu saja tidak bisa kau atasi!” cemoohnya.
“Maaf, Tuan. Saya akan segera membereskannya,” ucap Jordan menunduk.
“Kau ingin aku yang turun tangan atau kau bereskan hari ini juga?!”
“Akan saya bereskan hari ini juga, Tuan!” ucap Jordan cepat, bila sang tuan yang turun tangan, bukan tahanan itu saja yang tuannya bereskan.
“Aku tunggu dalam dua jam!”
Suara ketukan pintu terdengar, Allard memerintah seseorang itu masuk. Seorang gadis berusia sama seperti Katryn masuk bersama Selena. Cantik dan polos, tetapi kepolosannya hanyalah kedok semata.
“Maaf mengganggu waktu Anda, Tuan. Beatrix ingin menyampaikan sesuatu kepada Anda,” ucap Selena sopan.
“Katakan!”
“Perusahaan Merigo Company telah membobol data penting perusahaan yang berada di Spanyol, dan—” Gadis itu menghentikan ucapan, ragu untuk melanjutkan.
“Kau membuang waktu!” ucapnya berdecih.
“Maaf, Tuan. Ini tentang Nona Katryn.” Seketika Allard menegakkan tubuhnya, tatapannya semakin menajam.
“Mr. Ford mengetahui Alessa telah mengubah identitas Nona Katryn, Tuan. Saat itu, Klan Black Sea juga ikut membantu Mr Ford dalam mencari keberadaan Nona Katryn,” jelas Beatrix.
“Ford tahu Katryn tinggal bersamaku?” Mata Allard menyipit, tidak ingin mendengar kata iya.
“Kemungkinan besar Mr. Ford tahu, Tuan. Mr Ford sempat membuat sketsa wajah Anda dan menunjukkan pada Mr. Black.”
“Black setuju membantu psikopat itu,” simpulnya, yang diangguki oleh Beatrix.
“Keluar!” perintahnya singkat.
Beatrix keluar bersama Selena. Wanita itu sempat menatap Allard penuh kekhawatiran, ingin menemani sang tuan.
Allard memejamkan matanya, nafasnya memburu. Emosinya tak terkendali, dan Jordan sama sekali tidak mengeluarkan suaranya, menunggu sang tuan memberi perintah. Namun, sang tuan terus diam, tangannya mengepal di atas meja.
Sekali kedip, Allard meninju kaca di hadapannya menggunakan tangannya, sehingga mengeluarkan darah segar. Memikirkan nyawa Katryn membuatnya lepas kendali, musuhnya tahu keberadaan sang gadis di tangannya.
__ADS_1
Klan Black Sea adalah organisasi gelap dan menjadi musuh Klan Hellbert sejak dua tahun lalu. Klan tersebut nekat melakukan hal gila demi menjatuhkan klannya, tak pernah berhasil. Terakhir kali, Klan Black Sea hampir membongkar siapa pemimpin Klan Hellbert, tetapi gagal.
Klan Hellbert sering menjadi incaran kepolisian, bahkan intel. Sayangnya, mereka tidak dapat mengungkap kejahatan klannya. Allard selalu mengajarkannya pada bawahannya bermain licin.
“Tuan!” Jordan panik, darah di tangan sang tuan berceceran di atas kaca yang pecah.
“Kerahkan anak buahmu, perketat penjagaan! Sekalipun aku tidak ingin mendengar kesalahan seperti sebelumnya!” ucapnya tegas tak terbantahkan.
“Baik, Tuan.”
“Tangan Anda—”
“Keluar!” bentaknya.
“Allard, kenapa bunga-bunga itu di—” Tiba-tiba Katryn masuk, tak sempat menyelesaikan ucapannya saat matanya terpaku pada tangan Allard.
Pandangan Jordan tertuju pada Katryn, tidak dengan Allard. Pria itu tahu betul Katryn sesuka hatinya dan berani melakukan hal demikian.
“Jordan, lakukan tugasmu!” peringat Allard datar.
Jordan segera pergi, dan saat melewati Katryn, ia tersenyum dan berbisik:
“Nona, tolong obati tuanku.” Jordan yakin, Katryn dapat meredamkan amarah sang tuan.
Katryn menghela nafas, lalu berjalan mendekati Allard. Beberapa detik ia hanya memandang luka pria itu.
“Apa ini adalah perbuatanmu?” tanya Katryn hati-hati, hatinya mengkhawatirkan Allard.
“Tunggu sebentar,” ucapnya dan berlalu dari ruangan tersebut.
Tak begitu lama, Katryn kembali dengan membawa air hangat di dalam baskom dan di tangan kirinya terdapat kotak obat. Lalu, ia meletakkan peralatan tersebut di atas meja santai yang terdapat di ruangan tersebut.
“Kemarilah,” pintanya.
“Kau yang kemari!” bantah Allard.
“Aku tidak mau mengobati lukamu di situ,” ucap Katryn keras kepala.
“Jika tidak ingin, kau bisa keluar!” balasnya mengusir Katryn terang-terangan.
Jengkel dengan ucapan Allard, Katryn mendekati pria itu dan menarik tangannya yang terbebas dari luka. Allard tidak bergerak sedikit pun, dan membuat kejengkelan Katryn bertambah.
“Ayo, Allard. Jangan menjadi anak kecil!” ucap Katryn menaikkan suaranya. Allard sempat menatap Katryn tajam, tidak suka diperintah orang lain.
“Allard!” ucap Katryn menahan kesabaran.
Akhirnya, Allard mengikuti sang gadis untuk duduk di atas sofa. Secara lihai, Katryn membersihkan lukanya. Ada pecahan kaca yang tertancap di tangan pria itu, Katryn perlahan mengambilnya sambil meringis.
__ADS_1
“Apa tidak sakit?” Allard menggeleng.
“Kau seperti biasa dengan luka ini,” komentarnya. Pasalnya, pria ini sekali pun tidak mengeluarkan suara rintisan kesakitan.
“Mungkin!”
Setelah yakin luka tersebut bersih, Katryn memberi obat tetes dan membalut perban untuk terakhir kalinya. Oh, betapa sakitnya luka ini, batinnya. Katryn sering mendapat luka, ia tahu jelas bagaimana sakitnya ketika kulit bertemu dengan benda tajam.
“Selesai!” ucap Katryn tersenyum tulus.
Allard juga tersenyum tipis. Rasanya, sudah lama tidak melihat senyum cerah nan tulus di bibir sang gadis. Kejadian kemarin menciptakan jarak panjang di antara keduanya. Apakah egois bila Allard menginginkan senyum itu hanya untuk dia seorang?
...***...
“Allard, menjauh!” pekik Katryn kala Allard menggodanya.
Tak kunjung didengar, Katryn bangkit dari ranjang membawa serta buku di tangannya. Berpindah ke sofa, melanjutkan bacaannya. Tidak semudah itu, Allard mengikuti duduk di atas sofa dan tangannya mulai bermain di paha Katryn.
“Allard, please!” lirihnya tak kuasa menahan segala godaan.
“Tidak.”
“Apa maumu? Aku sedang membaca!” kesalnya.
“You.”
Pilihan lain adalah pergi dari hadapan pria ini, tetapi terlambat, Allard lebih dulu merangkul pundaknya. Kemudian, memajukan wajahnya mencium Katryn. Buku di tangan Katryn jatuh begitu saja, Allard tersenyum di sela ciuman mereka. Katryn tidak akan pernah menolak dirinya!
Katryn tak sadar Allard membuka satu per satu kancing piyama yang ia gunakan. Dingin menyapa kulitnya, detik itulah Katryn menyadari tubuh hampir polos. Bodohnya lagi, Katryn tak menggunakan bra di balik piyama tersebut. Katryn berniat merapatkan piyama-nya, akan tetapi tangannya ditahan oleh Allard.
“Tidak menggunakan bra, hm?” Kekeh Allard, dan Katryn menahan malu.
“Allard, hentikan! Please!” pintanya serak.
“I want you!” Suara Allard terdengar bergairah, Katryn menggeleng.
“Ingat perjanjian kita!” ucap Katryn memejamkan matanya. Lain di mulut, lain di hati. Katryn menikmati setiap inci ciuman Allard di tubuhnya.
“Mulutmu meminta berhenti, bagaimana hatimu?” tanya Allard terkekeh santai.
Well... di dalam hati Katryn merutuki dirinya yang seperti ******, menikmati sentuhan Allard dan pasrah di bawah kekuasaannya.
“Aku mohon,” lirih Katryn meneteskan air mata.
Allard terkekeh, dia mengancing piyama Katryn kembali. Lalu, mencium keningnya lembut. Tidak, Allard tidak sekejam itu memaksa Katryn untuk melakukan hubungan intim. Akan lebih nikmat jika Katryn dengan suka rela menyerahkan dirinya.
“Kau butuh istirahat,” ucap Allard membaringkan tubuh sang gadis di atas ranjang.
__ADS_1
“Good night, Amour.”
“Night too, Allard.” Balas Katryn.