Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 76. Revenge


__ADS_3

...Telah direvisi! ...


...---...


Awal dari semua ini terjadi saat perjodohan antar rekan bisnis. Di mana keluarga Red adalah salah satu rekan bisnis Helbert yang menjadi kandidat paling cocok untuk dijodohkan dengan salah satu putri di keluarga mereka.


Perjodohon itu tidak sembarangan, siapa yang menjadi pasangan harus mengikuti tradisi keluarga yang ada. Keluarga Haven mendengar itu mempromosikan putra mereka untuk dinikahkan dengan Keisha, Adik Ruldlof. Karena satu dan hal lainnya, Nyle setuju.


Namun, inti dari semua itu adalah harta. Joe membunuh Keisha, dan mengambil semua warisan yang Keisha punya. Sebuah kecelakan, begitu Joe katakan pada Nyle dulu. Fillbert yang masih menjabat sebagai pemimpin Klan Hellbert, tidak percaya begitu saja.


Setelah diselidiki, ternyata adanya kesengajaan. Jelas Nyle marah, Keisha cucu perempuan yang paling disayang oleh Nyle. Berlanjut dengan dendam, Joe mati terbunuh di tangan Nyle. Tidak puas, Nyle memerintahkan Allard membunuh anak-anak mereka beserta keluarga lainnya yang ikut dalam pembunuhan Keisha.


“Tanganku sendiri yang akan membunuh keluarga Haven, tanpa tersisa!” ucap Allard dingin.


“Al, sudahi dendam itu,” ucap Caroline sendu.


“Tidak, Mom. Mereka akan membalas pada Allanzel!” balas Allard


“Keluarga mereka, akan habis kali ini!” ucap Allard penuh janji.


“Aku ikut!” ucap Ruldlof.


“Aku juga!” ucap Keynand setelahnya.


Katryn memegang tangan Allard, lalu menggeleng. Menandakan bahwa ia tidak setuju keputusan tersebut. Allard menatap mata Katryn sebentar, lalu menghadap ke depan.


“Sekarang!” ucap Allard berdiri, mengakibatkan gengaman Katryn terlepas.


Allard berjalan ke arah pintu keluar, diikuti oleh Ruldlof dan Keynand. Caroline dan Cassandra berteriak melarang mereka untuk pergi. Seketika Katryn mengikuti Allard, dan menahan langkah Allard yang hampir mencapai pintu mobil.


“Allard, semakin dendam dibalas, akan semakin banyak dendam lainnya.”


“Aku mohon padamu. Jangan lakukan itu,” pinta Katryn sungguh-sungguh. Allard menggeleng.


“Cara mengakhiri ini semua adalah, membinasakan semua keluarga Haven!” ucap Allard, matanya penuh amarah.


“Allard, untuk kali ini saja, dengarkan aku!”


Allard merapatkan tubuh mereka, mengecup bibir Katryn lama. Lalu menyatukan dahi mereka seraya memeluk erat pinggang Katryn.


“Mereka mengincar putra kita.”


“Sebelum mereka mendapatkan Kyle. Tanganku sendiri yang akan membinasakan mereka, dan dendam itu selesai!” Katryn menggeleng. Ketika Allard melepas pelukan mereka, Katryn mencengkeram pinggang Allard.


“Katryna, aku ingin terus bersamamu dan melihat anak-anak kita tumbuh dewasa.”


“Bagaimana jika nanti kau yang tiada? Aku tidak mau itu!” teriak Katryn.


“Jika aku tiada, ada anggota lain yang akan menjagamu dan keluarga ini. Kau sebagai mother, harus menggantikanku,” ucap Allard lembut. Katryn terisak, dia tidak ingin Allard tiada dan meninggalkannya bersama Allanzel.


“Kau akan meninggalkanku?!” Katryn segugukan.

__ADS_1


“Aku membicarakan kemungkinan yang ada.”


“Aku mohon, Al! Jangan!” Allard menggeleng.


“Jagalah Kyle selagi aku belum kembali!” ucap Allard, yang kemudian mengecup dahi Katryn. Selanjutnya, Allard benar-benar pergi menuntaskan dendam itu.


...***...


“Bagaimana, Jo. Kau sudah menghubungi markas?”


“Sudah, Tuan.”


“Aku yakin mereka bisa menuntas habis keluarga itu. Tapi, aku tidak yakin Haven bermain halus,” Ucap Mikhael.


“Keluarga itu penuh kelicikan!” tambah Cassandra.


Selena dan Aleesa memasuki ruang keluarga. Suara tangisan Allanzel menyadarkan Katryn ia belum memberi asi pada sang putra. Alessa menyerahkan Allanzel, Katryn segera membawa Allanzel ke dalam pelukannya, sekilas dia mengecup hidung mungil Allanzel.


“Kyle, jangan nangis. Daddy pasti akan kembali untuk kita,” bisik Katryn lembut.


Allanzel seolah mengerti menangis kencang. Katryn meminta izin untuk menenangkan Allanzel. Di taman belakang, Katryn termenung setelah Allanzel tertidur lelap.


“Hai. Jangan melamun,” ucap Alessa menyadarkan Katryn dari lamunanya.


Lain halnya dengan Allard, Ruldlof dan Keynand yang telah berdiri berhadapan dengan Geland Haven, ayah dari Joe. Pria ini yang membuat awal dari permasalahan.


“Ketiga putra dari keluarga Helbert mendatangiku. Oh, ini sangat menarik!” ucapnya tertawa aneh.


“Apa kabar dengan adikmu di alam sana?!” Geland bertanya khusus untuk Ruldlof.


“Bunuh wanita ini menggunakan pemotong daging!” titah Keynand seraya menyerahkan wanita tersebut kepada anggota mereka. Allard tersenyum miring melihat Gerand yang gentar.


Keynand mempunyai kepribadian yang tidak banyak orang ketahui. Anak pertama dari Cassandra ini, memiliki kepribadian yang sama seperti Kyle, psikopat. Di balik sikap ramahnya, dia mempunyai mempunyai beribu fantasi membunuh dalam pikirannya.


“Kau terlihat takut,” ucap Allard santai, melipat kedua tangannya ke dada.


“Wanita itu tidak ada apa-apa!” balas Geland seketika tidak peduli.


Allard mengelilingi rumah ini, ia melihat foto-foto yang terpajang di dinding rumah ini.


‘Ahh’ seseorang berteriak kesakitan, Allard tersenyum sinis. Ketika berbalik, dia menatap Keynand bangga. Sosok pria mati tertancap pisau di lehernya karena ulah Keynand. Si pendiam ini memang sangat menghanyutkan, tetapi dalam detik berikutnya dia bisa mematikan.


“Kau tidak berubah, Haven. Curang dan licik!” komentar Allard santai.


“Menikam dari belakang! Penakut!” Tambah Ruldlof.


“Sepertinya, kau memiliki kebahagian dari wanita tadi!” ucap Allard lagi.


“Jangan macam-macam, Helbert!”


“Kau ingin membunuh putraku, bukan?” Allard masih santai.

__ADS_1


“Bagaimana jika putrimu yang aku bunuh terlebih dahulu.”


Allard kembali berdiri dihadapan Gerand, ia menatap pria ini dingin. Ruldlof yang tidak sabaran, menendang Gerand sampai pria itu terjungkang kebelakang. Tidak terima, Gerand kembali menyerang. Terjadilah perkelahian di antara mereka. Namun, sudah jelas yang kalah adalah Gerand.


“Sepertinya, dia memberi tanda,” ucap Ruldlof pada Allard.


“Berhati-hati!” peringat Allard.


Dalam hitungan detik, dua tembakan mengenai Allard dan Keynand. Tembakan pada Allard mengenai luka sayatan di punggungnya, sedangkan Keynand terkena di bahunya. Ruldlof memperhatikan sekitar, ternyata beberapa anak buah Gerand bersembunyi. Ketika dia menghadap ke depan, Gerand sudah tidak ada.


“Gerand! Kau akan mendapatkan kematian yang paling menyakitkan!” ucap Ruldlof dengan nada mengerikan.


Keynand membantu Allard yang kini terjatuh ke lantai. Dia tidak merasa sakit, tetapi ia lemas karena luka di punggungnya terbuka akibat tembakan itu sehingga mengeluarkan banyak darah.


“Cari dia!” Perintah Allard dengan sarat kemarahan. Pengawal berpencar mencari pria itu, tetapi yang mereka temukan adalah putri Gerand berumur tiga tahun.


“Habisi dia!” ucap Allard pelan seraya membuang muka.


Keynand tanpa belas kasihan membunuhnya. Seperti tujuan awal, memusnahkan semua keluarga Haven. Ketiga pria itu, tidak mempedulikan anak buah Gerand yang akan menambak mereka sewaktu-waktu.


“Cepat!” Teriak Allard tidak sabaran.


“Ruldolf, kau tetap disini, aku akan mencari bajingan itu!” ucap Keynand, Ruldolf mengangguk.


Keynand mencari pria tua itu di lantai dua. Tak lama, dia kembali dengan kondisi luka tempat di lengannya. Dia menyeret gerand, sampai pria itu terguling dari tangga.


“Sekali tembakan saja. Kalian habis denganku!” Ancam Keynand pada mereka yang bersembunyi di balik pilar-pilar.


Suasana semakin tegang, Keynand mengeluarkan sebuah cutter tajam. Allard tersenyum miring, jiwa psikopat itu keluar. Teriakan dari Gerand semakin menambah lebarnya senyum Allard. Dengan ekspresi biasa, Ruldlof menguliti pria itu.


“Lepaskan aku!”


“Keparat kau, Helbert's!” Maki Gerand.


Kembali suara tembakan terdengar, mengarah pada lengan Allard. Hitungan detik, Allard menembak orang-orang yang bersembunyi di balik pilar itu. Inilah definisi tidak takut mati. Mereka tahu, banyak penembak yang diletakkan Gerand di sekitar rumah ini. Namun, mereka tidak takut dan tahu bagaimana konsekuensi yang akan mereka dapat.


“Cukup, Keynand! Aku muak mendengar suaranya!” ucap Allard.


Suara kesakitan Gerand, sudah cukup puas didengar. Sekarang waktunya mengantarkan pria tua ini ke dalam neraka. Allard mengarahkan pistol ke arahnya.


“Aku mohon, jangan!” ucap Gerand ketakutan.


“Seharusnya, kau mengetahui watak keluargaku! Kau hanya mengetahui setitik dari kejahatan kami.”ucap Allard.


“Kau tidak tahu, bahwa kami adalah Klan Mafia Hellbert,”tambah Ruldolf terkekeh, Gerand terbelalak mendengar itu.


“Tidak mungkin!” bantah Gerand.


“Semuanya mungkin untuk Helbert!” ucap Allard sombong.


“Seharusnya, kau lebih teliti tentang itu. Kami, keluarga Helbert, sedetikpun tidak pernah takut akan kematian!” ucap Allard. Terakhir kalinya, Allard menambak mati pria itu.

__ADS_1


“Hanguskan semuanya!” titah Allard. Saat itu juga, tembakkan kembali mengenai punggungnya.


...***...


__ADS_2