Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 78. Self Defense


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...---...


Sebulan kemudian~


Selama sebulan ini, Katryn dan Allanzel berada di markas utama bersama Aleesa, Selena, Keynand dan Ruldlof. Setelah penyerangan yang dilakukan Mr Yan, mereka tetap berada di sini. Yang Katryn tahu, para orang tua menjaga Allard di mansion utama.


Pernah sekali Katryn ingin menemui Allard. Namun, Fillbert melarang karena akan lebih aman untuknya dan Allanzel berlindung di markas. Terkadang, Katryn merindukan Allard. Dan yang bisa Katryn lakukan untuk membunuh kerinduannya adalah cara berlatih fisik. Di markas ini, disediakan alat-alat olahraga lengkap. Sesekali juga, Katryn ikut berlatih bela diri.


Melihat bagaimana keadaan di markas ini, tidak seburuk yang Katryn pikirkan selama ini. Markas ini, seperti penampungan untuk mereka yang ingin berlatih bela diri. Bukan seperti markas kejahatan.


Markas ini juga terdapat pembunuh bayaran, Katryn awalnya takut, tetapi mulai terbiasa hidup bersama mereka yang pada sesungguhnya memiliki cerita menyedihkan. Masa lalu mereka lah yang menjadikan mereka jahat!


Dan yang membuat Katryn tidak habis pikir, beberapa dari wanita disini dijual oleh keluarga mereka hanya untuk uang. Seperti gadis yang masih berumur tujuh belas tahun bernama Belva, dijual oleh ayah tirinya kepada Jordan karena tidak sanggup membayar hutang-hutang. Jordan bukan menggunakan gadis malang itu, dia hanya memberi tempat untuk Belva di markas ini.


“Kau dendam dengannya?” Tanya Katryn perlahan, Belva mengangguk.


“Dia juga membunuh kakakku.”


“Apa yang akan lakukan kedepanya?”


“Berlatih. Ada saatnya aku membalasnya!” ucap Belva.


Belva menatapnya, Katryn sedikit tersentuh dengan tatapan rindu di mata gadis ini. Pertama melihat gadis ini, Katryn tertarik. Gadis ini paling muda dan kecil di antara yang lain.


“Boleh aku memelukmu?” tanyanya ragu. Katryn tersenyum dan merentangkan tangannya. Belva menyambut pelukkan tersebut, gadis ini menangis di dalam pelukannya.


“Aku merindukan kakakku.” Lirihnya. Katryn mengelus rambut gadis ini dengan lembut.


“Jangan bersedih, Belva.” Ucap Katryn.


“Mother.” Jeff menghampiri mereka.


“Tuan muda menangis.”


“Astaga. Aku melupakan putra tampanku itu,” ucap Katryn.


“Ayo, Belva. Ikut aku!” Ucap Katryn pada Belva.


“Tidak. Aku di sini saja,” tolak Belva menunduk.


“Oh, ayolah! Jangan takut pada Jeff!” ucap Katryn menarik tangan Belva.


Jeff menggeleng kepalanya tak percaya. Semenjak Katryn berada di markas utama, istri dari tuan mereka membuat suasana markas ini sedikit bewarna. Anggota di sini senang dengan keberadaan Katryn. Wanita itu, sangat cepat berbaur dengan sekitar dan membawa suasana baik.


“Jeff, dimana putraku?” tanya Katryn melihat Allanzel tidak berada di kamar yang dia tempati.


“Sepertinya Alessa membawa tuan muda ke lapangan belakang, Mother.” Jeff terlihat kesal, Katryn seperti mengerti, mereka pasti bertengkar lagi.


Katryn langsung ke lapangan belakang. Ya, tempat di mana dia melakukan persyaratan itu. Benar saja, Allanzel bersama Aleesa sedang bersama anggota lainnya.


“Mother!” sapa mereka, sedikit menunduk.


“Oh, jangan memanggil mother!” ucap Katryn malas.


“Percuma saja kau berkata seperti itu! Mereka sangat menghormati father dan mother mereka!” komentar Ruldlof yang sedang berbaring di samping Aleesa.


“Maklum saja, dia sangat senang dipanggil Mrs Helbert!” celetuk Aleesa.


“Kau benar, Aleesa!” sahut Ruldlof.


“Bukan begitu, Mrs Helbert?” goda Ruldlof. Katryn memutar bola matanya jengah.


“Kami akan tetap memanggil Anda mother,” ucap Jeff kalem.


“Setuju!” ucap anggota yang berda di sana.

__ADS_1


“Terserah kalian saja!” ucap Katryn malas.


...***...


Setelah menidurkan Allanzel, Katryn keluar dari kamar yang menjadi kamar pribadi Allard. Ia berpesan pada Jeff, ketika putranya terbangun langsung bawa saja ke ruangan berlatih bela diri. Katryn berjalan ke ruang berlatih, sejenak ini dapat menghilangkan kekhawatiran terhadap Allard. Setidaknya, di markas ini ada banyak yang bisa mengalihkan perhatiannya. Sesampai di sana, Katryn mendengar umpatan Aleesa. Sahabatnya itu, setiap saat berlatih tinju bersama Ruldlof.


“Yang benar saja, bangsat!” umpat Aleesa.


“Kau membantingku!”


“Salahmu, tidak fokus!” jawab Ruldlof polos.


“Tidak dengan cara membantingku!”


“Ini sakit, brengsek!”


“Apa aku menggangu pertengkaran, kalian?” tanya Katryn.


“Kebetulan sekali. Kau akan berlatih, kan? Ayo, aku akan melatihmu,” ucap Aleesa.


Katryn menaiki ring tersebut. Ia melepas sweater-nya, menyisakan tanktop yang dia kenakan di dalamnya.


“Bersyukur suamimu tidak di sini,” ucap Ruldlof.


“Pergi!” usir Aleesa berteriak kesal.


“Baiklah, Girl's. Aku menunggu berlatih bersamamu lagi,” ucap Ruldlof mengedikan mata.


“Ruldlof, sial*n!” umpat Aleesa.


“Kau sangat sensi sekali!” ucap Katryn.


“Dia tidak punya otak, dia menyentuh bokong seksiku!” Katryn terbahak.


“Jadi, hanya Nick yang bisa memegang bokong seksimu?” Goda Katryn.


Bela diri adalah salah satu yang tidak ingin Katryn lakukan, namun setelah Allanzel ada di dunia ini, Katryn tertarik mempelajari itu. Di masa depan, dia dapat menebak apa yang terjadi. Jika Allanzel kecil belum bisa bela diri, dia akan menjadi pelindung untuk putranya.


“Kau cepat menguasainya.” Puji Aleesa.


“Tidak ingin berlatih tembak, atau cara menggunakan pisau?” tanya Aleesa.


“Aku belum berpikir sejauh itu!”


“Bela diri, tidak menjamin kau bisa selamat!” celetuk Aleesa. Katryn memang menceritakan pada Aleesa alasan dia berlatih. Aleesa mendukung itu, maka terkadang Aleesa mengajari teknik bela diri yang dia ketahui.


“Kau benar.”


“Ngomong-ngomong, dimana Selena?” Aleesa mengedikan bahunya.


“Jika Selena dan Keynand tidak ada, kau pasti tahu jawabannya!” ucap Aleesa.


“Hubungan mereka rumit!” komentar Katryn memejamkan matanya yang kini telah membaringkan tubuhnya di atas ring bersama Alessa.


“Kau tahu? Nick berbohong. Dia sama sekali tidak memiliki tunangan!” Alessa mulai bercerita.


“Setelah menjelaskan, dia kembali menarikku ke dalam hidupnya!”


“Alasan dia berbohong?” Tanya Katryn.


“Fernand menginginkan Nick menghancurkan Helbert.”


“Dia ragu memilih antara kau dan keluarganya?” Tebak Katryn, Alessa mengangguk membenarkan.


“Nick anak angkat mereka, dia tidak berniat membalas dendam keluarga Fernand. Tapi, keluarga itu memaksa Nick melakukannya.”


Alessa selalu menghalangi Nick, pria itu selalu ragu memilih. Sebagai sahabat, tentu Alessa akan melarang Nick melakukan sesuatu yang menyakiti sahabatnya. Sejujurnya, Alessa tidak mau menjalin hubungan dengan mereka yang menjadi musuh Helbert. Namun, hati siapa yang bisa merencanakannya. Aleesa jatuh hati terhadap pria itu, begitu juga dengan pria itu.

__ADS_1


Ketika Aleesa sedang bercerita, Selena mendekati mereka. Ikut membaringkan tubuhnya di samping Katryn.


“Darimana?” Tanya Katryn.


“Lapangan belakangan, Nyonya.” Balas Selena rendah.


...***...


“Ruldlof,” panggil Katryn.


“Hm.”


“Mengapa Mr Yan sangat segan terhadap Allard?”


“Karena suamimu mempunyai pesona yang menakutkan.”


“Kurasa ada benarnya! Tidak sepertimu yang memiliki wajah konyol!” komentar Alessa.


“Jangan menilai seseorang dari sisi depan. Kau akan tertipu melihat dari satu sisi saja!” ucap Keynand kalem.


Aleesa dan Katryn saling melirik satu sama lain, ucapan Keynand sangat lembut tetapi memiliki makna dibaliknya. Selena dan Ruldlof tertawa melihat wajah mereka yang sangat lucu sekali. Katryn tidak banyak bicara dengan sepupu Allard satu ini. Keynand seperti membuat pembatas pada semua orang. Jika Allard adalah si dingin yang kejam, Keynand adalah si dingin yang kalem.


Bisa dihitung jari Keynand mengeluarkan suaranya selama berada di dekat mereka. Seperti sekarang pun, sudah hampir dua jam mereka di ruang baca, baru itu ucapan yang keluar dari mulut Keynand.


“Keynand!” Panggil Aleesa. Keynand mengalihkan mata dari buku di tangannya, melirik Aleesa kalem.


“Seperti katamu tadi, jangan menilai seseorang dari sisi depan. Apakah di balik kekalemanmu, kau memiliki sisi liar?” tanya Aleesa amat penasaran. Keynand hanya melirik Selena yang duduk di samping Katryn dengan tatapan anehnya.


“I got It!” ucap Aleesa bertepuk tangan.


“Kau sangat semangat sekali!” Komentar Ruldlof.


“Aku baru menemukan spesis seperti Keynand!” ucap Aleesa.


“Bagaimana denganmu?” Tanya Ruldlof.


“Apa?” Tanya Aleesa tidak mengerti.


“Apa kau memiliki fantasi yang liar?” Tanya Ruldlof, Aleesa memerah.


“Kau tidak punya pertanyaan yang baik?”


“Pikiranmu kotor! Fantasi liar, seperti psikopat! Bukan ranjang!” ucap Ruldlof.


“Kau mengatakan dirimu sendiri, Brother!” ucap Keynand kalem, fokus dengan bacaan. Katryn menggeleng, pikiran Aleesa tidak jauh dari sana. Tapi, sepertinya Ruldlof menanyakan ke arah sana, namun mengelak.


“Jadi? Kenapa dia segan terhadap Allard?” Tanya Katryn kembali pada topik.


“Aku kurang tahu. Tapi, tidak jauh dari masalah mafia tentu saja,” ucap Ruldlof.


“Sebenarnya. Tujuan pria itu, ingin menguasai tambang emas!” Sambung Ruldlof.


“Tambang emas?!”


“Ya!”


“Kau terlalu banyak memberi informasi, Brother!” ucap Keynand kalem.


“Tidak masalah, bukan? Daripada aku membongkar aibmu dengan Selena!” ucap Ruldlof sinis, pria ini kelihatan sekali tidak menyukai Selena.


“Ingat, Brother. Jangan menyiakan seorang wanita hanya karena wanita yang masih mencintai pria lain! Akan sangat bermanfaat bila kau menjaga hati Lyla yang jelas menyerahkan hatinya padamu! Tidak seperti wanita lain yang tetap mencintai pria lain!”


Katryn menatap Selena dengan pandangan yang sulit diartikan. Sangat tahu, siapa wanita yang dimaksud oleh mereka.


“Aku mengantuk,” ucap Katryn, lalu bangkit.


“Good night!”

__ADS_1


...***...


__ADS_2