Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 19. Comeback and Failed


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...*H***appy** reading!...


...------...


Membosankan bagi Alessa ketika mendengar perdebatan antara Katryn dan seorang penjaga. Beribu kali dia mengatakan Allard tak mengizinkan wanita itu pergi, Katryn tetaplah dengan kekerasan kepalanya.


“Richard, ada apa ini?” Jordan datang dan bertanya.


“Paman, dia tidak memberiku izin untuk melihat peternakan kuda di depan sana.”


“Tuan Allard tidak mengizinkannya, Nona.”


“Hanya sebentar, aku mohon!”


“Baiklah. Mari saya temani,” ucap Jordan.


“Terima kasih, Paman!” balas Katryn bersorak riang dan berjalan lebih dulu ke peternakan kuda.


Alessa yang menyaksikan terkekeh, dia pun mengikuti langkah Katryn dalam diam. Sesampai di peternakan, Katryn tersenyum cerah melihat berbagai macam kuda.


Seketika senyumnya redup menemukan satu objek di lapangan sana. Selena tengah menaiki kuda dengan beberapa orang lainnya yang tak Katryn kenali.


“Kau mengenal wanita itu?” tanya Katryn pada Alessa.


“Selena?” tanya Alessa memastikan dan Katryn mengangguk.


“Tidak begitu. Tetapi, setahuku dia orang kepercayaan Allard!”


Tak ada jawaban Katryn, dia berjalan ke seekor kuda yang terpisah dari kandang lainnya. Kuda itu berbeda dari kuda lainnya, berwarna putih sedikit bercorak hitam di bagian kepalanya dan seperti paling besar.


“Paman, kuda ini yang paling besarkah?” tanya Katryn penasaran.


“Benar, Nona.”


“Apa kuda aneh ini satu-satunya?” tanya Alessa.


“Tidak. Kuda ini hanya satu dan ini milik Tuan Allard,” ucap Jordan sedikit tersenyum pada Alessa.


“Oh, milik Allard!” Alessa menciut mendengar jawaban Jordan.


“Paman, apa boleh aku makan bersama keluargaku di luar?” tanya Katryn tiba-tiba dan Jordan terdiam.


“Aku mohon, Paman. Aku ingin menghabiskan waktu bersama keluargaku,” ucap Katryn sebelum Jordan menolak permintaannya.


“Baiklah. Saya tanyakan lebih dulu pada tuan,” balas Jordan sedikit menjauh menghubungi sang tuan.


“Nona. Tuan ingin bicara,” ucap Jordan menyodorkan ponselnya dan Katryn menerimanya.


“Halo!”


“Ada apa di luar sana? Apa kau tidak bisa tidak membantah perintahku?!” Allard langsung berucap kasar.


“Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama keluargaku,” ucap Katryn.


“Kau di rumah itu bersama keluargamu, Katryna! apa yang kau lakukan di sana? Menghabiskan waktu, bukan?”


“Beda. Aku ingin seperti yang lainnya, makan di luar bersama keluarga!” balas Katryn berteriak.


“Katryna, ikuti perkataanku!” ucap Allard tegas.


“Tidak. Setelah kau kembali, aku tidak dapat menghabiskan waktu bersama keluargaku di luar sana!” bantah Katryn.


“Oke. Kau boleh keluar dan masih dalam penjagaan! Jangan mencoba kabur, atau kau tahu akibat dari perbuatanmu! Ingat janjimu!” ucap Allard terakhir kali dan mematikan sambungan. Katryn tersenyum menyerahkan ponsel Jordan dan berkata,


“Dia memberi izin, Paman.”


...***...


Di malam harinya, tepat pukul tujuh malam, mereka telah berada di sebuah restoran ternama.


“Bagaimana keadaanmu selama di sana?” tanya sang ayah, Thomas.


“Baik, Pa.”

__ADS_1


“Papa senang kau berada di dekatnya, dia selalu bisa diandalkan.” Katryn kebingungan, dia yang dimaksud sang ayah adalah Allard? Artinya, Thomas mengenal pria itu?


“Papa, mengenal Allard?” Thomas tersenyum, lalu mengusap kepala sang putri.


“Kau pun mengenalnya, Nak.” Katryn terdiam, hatinya seakan membenarkan ucapan Thomas.


“Sudah, ayo kita menikmati makanan ini!” ucap Alessa mencairkan suasana.


Mereka yang berada di ruangan tersebut mulai menikmati hidangan, sesekali bersenda gurau. Katryn tak fokus dengan pembicaraan Alessa dan keluarganya, pikirannya teralihkan dengan ucapan Thomas di awal. Maka, dia pamit untuk membasuh wajah.


Di depan pintu, Katryn bertemu dengan Jordan dan beberapa pengawal lainnya. Jordan menemaninya hingga pintu masuk kamar mandi. Akan tetapi, Katryn tidak jadi melangkahkan kakinya lebih jauh, sebab tepat di depan sana sebuah dinding bertulisan merah darah—Katryn milikku! Katryn wanitaku!—menyambut matanya pertama kali.


Aroma merah darah itu mampu mengocok perutnya. Segera Katryn keluar dan melaporkannya pada Jordan terbata-bata.


“P—pa—man, a—aku takut!”


“Mari, Nona. Tempat ini tidak aman,” ucap Jordan setelah memeriksa dan memfoto apa yang dia lihat sebagai bukti. Jordan yakin, tempat ini nantinya akan bersih sebersihnya setelah mereka pergi.


Sesampai di ruangan di mana keluarga Katryn berada, Jordan memerintahkan semua untuk bangun,


“Paman, ada apa?” tanya Alessa pertama kali.


“Katryn, are you okey?” Pandangan Alessa berpindah pada Katryn, rautnya penuh ketakutan dan waspada. Segera Alessa mengambil tangan Katryn, seolah paham dia memeluk Katryn erat.


“Aku takut... aku takut, Alessa. Dia di sini...” lirihnya.


“Katryn, ada apa, Nak?” tanya Aleysia ikut panik.


“Akan saya jelaskan nanti. Mari semuanya,” ucap Jordan menjawab dan mengajak semuanya untuk pergi.


“Ayo, *Uncle, Aunty*! Kita tidak ada waktu! Marchell bersembunyi di belakang Uncle Jordan,” perintah Alessa.


Jordan bersama Marchell, diikuti Alessa dan Katryn, sedangkan di belakang kedua orang tua Katryn bersama beberapa pengawal.


Keluar dari ruangan tersebut, Alessa baru sadar keadaan sepi. Para pengawal yang ditugaskan tak lengkap, tersisa sepuluh penjaga yang berjaga di sana.


“Paman, tunggu!” seru Alessa. Dia berjalan ke arah meja resepsionis dan mengambil sebuah kertas di atasnya.


“Apa itu?” tanya Jordan sadar seseorang meletakkan kertas di meja tersebut.


“Kita akan keluar dengan farmasi seperti ini? Itu bahaya, Paman!” Alessa menggagalkan niat Jordan yang akan membuka pintu.


Jordan tak menjawab, dia membuka pintu. Ternyata Jordan sudah menyiapkan penjaga lain di luar restoran. Tanpa diperintah, para penjaga tersebut mengerubungi mereka sehingga mereka tidak dapat melihat jalan.


Para penjaga berhenti, otomatis langkah mereka juga terhenti. Jordan maju setelah penjaga di depannya memberi jalan.


“Kenapa ini?” tanya Aleysia.


“Sebaiknya Anda pergi!” Suara Jordan memasuki pendengaran mereka.


“Aku akan pergi, setelah gadisku ikut bersamaku!” Katryn menegakkan pandangannya, walau tidak kelihatan siapa pria itu, Katryn hafal pemilik suara itu.


“Earnest...” lirihnya ketakutan.


Sedangkan Alessa waswas pada penjaga, takut jika anak buah Earnest menyamar. Kondisi di depan sana semakin kacau, Earnest menodongkan pistol pada Jordan dan dalam hitungan detik suara letusan menggema.


“Nona, mari ikut saya!” ucap salah satu penjaga berwajah datar, Katryn ketakutan melihat wajah pria itu dengan luka besar di wajahnya.


“Siapa yang memintamu?” tanya Alessa ketus.


“Tuan Jordan,” jawab penjaga itu.


“Marchell, jangan biarkan pria ini membawa Katryn! Aku harus memastikan sesuatu!” ucap Alessa, lalu berjalan ke depan.


“Kau melakukan hal benar, ada seseorang penyusup di sini!” bisik seseorang ketika Alessa berdiri tepat di belakang Jordan menyembunyikan diri dari penglihatan Earnest.


“Oh, ya?”


“Ya. Hanya saja kami tidak tahu siapa,” jawab seseorang itu.


“Well. Terima kasih informasinya,” balas Alessa malas, tak berminat mendengar ungkapan pria ini.


“Hai, Alessa!” sapa Earnest, Alessa menghembuskan nafasnya.


“Hai, Psikopat!” Earnest terkekeh pelan.

__ADS_1


“Semakin hari kau semakin cantik, tapi tidak secantik wanitaku!” ucapnya dengan tawa aneh.


Baiklah, Alessa memutuskan untuk menampakkan dirinya. Ah, sepertinya keputusan itu tidak tepat, psikopat itu tiba-tiba melembar benda tajam—berbentuk obeng—ke lengannya. Wajah kesal dan marah terlihat jelas, Alessa mencabut benda itu dan melemparnya balik pada Earnest.


“Terima kasih sambutan baiknya, sangat berkesan!”


“Tapi, aku tidak terkesan dengan anak buah bodohmu!” sambung Alessa mengejek.


“Ini!” Alessa mendorong salah seorang yang berbisik padanya tadi.


“Lain kali, ajari anak buahmu menjadi penyusup yang baik dan benar! Mengaku pada lawan, sangat bodoh! Secara tidak langsung, anak buahmu memperlihatkan kebodohanmu!” ejeknya.


Selagi menatap tajam anak buahnya, Alessa segera menanyakan pada Jordan terkait penjaga yang akan membawa Katryn.


“Cukup mengangguk,” bisik Alessa pelan, sebab Earnest memusatkan perhatiannya kepada Alessa.


“Apa? Benar, bukan?” Alessa memasang wajah innoncent. Dari ujung matanya, Alessa melihat Jordan mengangguk, pertanda itu benar.


Jordan dengan cepat mengalihkan perhatian Earnest agar tidak berfokus pada Alessa. Melihat kondisi pas, Alessa mundur perlahan dan segera menanyakan rencana apa yang akan dilakukan.


“Oke. Bagaimana anak buah pria itu? Berapa banyak?” tanya Alessa berbisik.


“Aku tidak tahu pasti, kemungkinan mereka sangat banyak.”


“Dari belakang, ada yang memperhatikan pergerakan kita?” Pria itu mengangguk.


“Oke. Kita mulai perlahan,” ucap Alessa.


“Aunty, Uncle, tetap tenang. Jangan panik ketika sesuatu terjadi,” ucap Alessa memperingati kedua orang tua Katryn.


Perlahan namun pasti, Alessa menggandeng tangan Katryn, membawanya mundur. Saat berada di barisan paling belakang—masih di kelilingi oleh penjaga—Alessa berteriak keras,


“Sekarang!”


Para penjaga di barisan belakang mundur, suara tembakan dari arah depan dan belakang saling bersahutan Katryn memejamkan matanya erat, tak ada suara yang bisa ia keluarkan saking takutnya.


“Ayo!” Alessa menarik tangannya menaiki sebuah mobil yang telah terparkir di hadapan mereka.


“Kau berdarah,” lirih Katryn menyadari lengan Alessa berlumuran darah.


Mobil melaju kencang, sedangkan Earnest mencoba mengejar mobil tersebut. Akan tetapi, jarak dan banyaknya penjaga menghalanginya.


“**** off!” makinya.


“Kejar mereka!” perintahnya.


“Kau tidak akan bisa, Mr. Ford!” kecam Jordan.


Earnest menyeringai, ujung matanya melirik kerubungan di belakang Jordan. Mengapa dia melupakan satu hal? Batinnya.


“Jika aku tidak bisa mendapatkan Katryna, maka Mr and Mrs. Vinson beserta adiknya aku dapatkan!”


Jordan tak punya banyak waktu meladeni omongan pria itu melumpuhkan pergerakan Earnest dengan cara menembak kakinya.


“Kita pergi, lindungi mereka! Jika ada yang menghalangi lumpuhkan!” perintah Jordan pada anak buahnya.


Benar saja, ketika para penjaga membimbing keluarga Katryn untuk pergi, anak buah Earnest menghalangi jalan mereka. Sebagaimana yang diperintahkan, mereka melakukan hal tersebut.


Di tengah perjalanan, Jordan memikirkan bagaimana cara Earnest kabur dari penahanan dan mengetahui sang nona berada di restoran itu?


“Barga, selidiki semua orang. Pasti ada orang dalam yang berkhianat!”


“Baik, Tuan!”


Ponsel Jordan berdering, Allard menghubunginya. Sebelum menerima panggilan, Jordan menghembuskan nafasnya.


“Tuan.”


“Kau tidak becus! Bodoh!” maki Allard di seberang sana.


“Maaf, Tuan. Saya sudah memperkirakan ini tidak akan terjadi, tetapi ada orang dalam yang membantunya kabur.”


“Siapa pun itu, cari! Cukup ini yang terakhir kalinya, Jordan! Ini terjadi lagi, jangan harap kau hidup!” peringat Allard.


“Saya mengerti, Tuan!”

__ADS_1


__ADS_2