
...Telah direvisi!...
...---...
Termenung seorang diri di teras balkon kamar, Allard merasa hampa tanpa Katryna. Wanita itu telah pergi membawa Anzel. Katryn bohong padanya dan Allard benci itu!
Tepat setelah dinner di luar, Katryn menyampaikan padanya, dia ingin berlibur menenangkan hati dan pikirannya bersama Allanzel. Tentu Allard tidak mengizinkannya, dia menolak mentah-mentah permintaan Katryn.
Namun, Katryn memaksa. Wanita itu mengatakan dia bosan disituasi seperti ini dan menginginkan suasana baru. Allard berpikir, Katryn ada benarnya, istrinya itu membutuhkan waktu untuk dirinya. Maka, Allard mengizinkan dengan syarat, Katryn harus dalam pengawasannya.
Semua terlaksana sebagaimana rencana, Katryn berlibur dengan pengawasan. Akan tetapi, dua minggu setelahnya Katryn tidak pulang, hanya Jeff yang pulang seorang diri. Katryn menghilang tanpa diketahui. Allard marah besar pada Jeff, pria itu mendapat hukuman keras darinya.
Allard sangat yakin yang menyembunyikan istri dan anaknya adalah Fillbert. Ketidak-jujuran Fillbert semakin membuat Allard tidak terkendali. Ya, Allard dan Fillbert berantem adu kekuatan di mansion Helbert.
“Katyrna, kau berhasil membuatku hancur...” Lirih Allard.
Dalam sekejab, raut wajah Allard berubah drastis, penuh kesinisan dan kedataran. Seketika di bangkit dari kursi, lalu berjalan meninggalkan kamarnya bersama Katryn.
“Tuan, Anda ingin kemana?” Tanya Jordan ketika Allard melewati ruang tamu. Allard tidak menjawab, dia tetap berjalan menuju garasi.
“Ayo, Jeff! Aku sangat yakin tuan ingin melakukan sesuatu!” Mereka berlari menyusul Allard. Sedangkan Allard kini sudah berada di mobil Koeningsegg CCXR Terevita bersiap untuk pergi. Tapi, Jordan dan Jeff menghalanginya.
“Tuan, biarkan saya yang mengantar Anda!” ucap Jordan.
Allard hanya menatap mereka datar. Tanpa mempedulikan apa yang terjadi nantinya, Allard langsung tancap gas. Untung saja, Jeff dengan cepat menarik Jordan untuk menghindari mobil itu. Jordan langsung menghubungi Fillbert. Tuannya tidak dalam kondisi baik, semua tergambar dari ekpresi sang tuan.
“Bagaimana itu bisa terjadi, Jordan? Bukankah itu sudah hilang?” ucap Fillbert dari seberang sana.
“Itu bisa kembali tergantung kondisi Tuan Allad, Tuan. Saya rasa, ini akibat emosi dan frustasi yang sedang dihadapi tuan dan mungkin tuan mengingat kembali masa lalunya itu, Tuan.” Jelas Jordan.
“Baiklah. Awasi, dan selalu kabari aku!”
“Baik, Tuan.”
Jordan sangat berharap, apa yang yang sedang ia pikirkan tidak terjadi. Sebab jika terjadi, akan sangat berbahaya dan berakibat buruk bagi orang lain.
...***...
Allard tertawa, detik berikutnya dia terdiam. Tawanya tidak tulus, terkesan sinis dan kebencian. Darick―sahabat Allard―pernah melihat Allard seperti ini, dulu sekali di saat sahabatnya berada di masa lalu yang kelam. Tangan Allard terus mengambil minuman alkohol dosis tinggi dan meneguknya habis. Darick menggeleng, tidak melarang sama sekali, hanya memperhatikan saja.
Sebenarnya, Darick tahu betul mengapa Allard seperti ini. Dia tak habis pikir, Allard adalah seorang pria yang sangat sulit ditaklukan hatinya karena hatinya telah terkunci pada Katryn. Tapi, kenyataannya Allard memiliki sedikit rasa pada Selena, seperti karma untuk Allard melalui Katryn.
"Sulit dipahami!" batin Darick
Darick tersadar ketika mendengar suara pecahan kaca. Yang benar saja, Allard berusaha menyakiti dirinya. Darick panik, segera mengambil pecahan kaca yang telah Allard pegang, tanpa peduli tangannya sedikit berdarah.
“Kau gila!!” Maki Darick.
Dengan cepat, Darick menarik Allard untuk segera pergi dari tempat laknat ini. Allard sempat memberontak, namun bisa Darick atasi.
“Berto, hubungi Jordan, katakan pria lakn*t ini bersamaku!” ucap Darick pada tangan kanannya ketika sampai di apartemennya.
Tidak lama, Jordan datang. Mereka berbincang membahas kemungkinan yang terjadi pada Allard. Rasanya gerah, Darick menggulung kemejanya hingga siku.
__ADS_1
“Sejak kapan tanda-tanda itu muncul?” Tanya Darick.
“Setelah Mrs Helbert hilang tidak diketahui kemana,” jawab Jordan.
“Apa dia pernah mencoba menyakiti dirinya?”
“Mungkin tuan melakukannya saat sendiri.” Darick mengangguk paham, Allard jika melakukan itu pasti tidak diketahui orang lain.
“Ini akan buruk!” ucap Darick.
“Jordan, satu-satunya cara untuk self-harm itu tidak muncul, adalah mengembalikan Katryn pada Allard!” jelas Darick
...*Self-Harm, adalah rasa senang menyakiti dirinya sendiri. Bagi yang memiliki ini, dia akan sangat bahagia dan tenang jika menyakiti dirinya sendiri, sebagai bentuk pelampiasannya. Munculnya Self-Harm ini bisa karena emosi yang tidak tertahan, frustasi, trauma di masa kecil dan hal lainnya.*...
Semasa kecil, Allard sering menyaksikan Nyle membunuh para musuhnya. Awal dimana Allard tidak menerima semua itu, di mana Allard kecil membenci Nyle yang memperkenalkan seluruh kekerasan pada Allard kecil. Dari sanalah, mengapa Allard suka menyakiti dirinya sendiri sebagai bentuk pelampiasannya.
Caroline yang pertama kali melihat putranya menyakiti dirinya sendiri, merasa hatinya sakit luar biasa. Pantas saja, saat itu Allard mempunyai banyak bekas luka goresan. Caroline dan Fillbert, sepakat membawa Allard ke psikiater. Dokter mendiagnosa bahwa Allard memiliki self harm dan Fillbert berusaha menyembuhkan penyakit mental itu.
Alasan itu juga yang membuat Fillbert membawa keluarga kecilnya pergi dari Nyle ke Indonesia. Itu terjadi hingga bertahun-tahun, sampai akhirnya Allard dinyatakan sembuh. Sadar atau tidak, Katryn kecil adalah obat untuk Allard, tentu dengan bantuan psikiater.
“Apakah Allard mencoba melampiaskannya kepada orang?” Tanya Darick hati-hati, meyakini semua pemikirannya salah.
“Ya. Tapi, Mr Helbert merasa tak puas akan hal itu!”
“Aku tidak yakin nantinya. Jalan satu-satunya, adalah mendatangkan Katryn untuk Allard!” ucap Darick.
Darick adalah salah satu sahabat yang mengetahui bagaimana kelamnya hidup Allard di masa lalu. Dia juga salah satu sahabat yang tahu, bagaimana Katryn menjadi obat penenang untuk Allard.
...***...
“Aku yakin, itu sebuah ruang rahasia!” ucap Angelo lagi.
“Kode apa yang dapat membukanya?” tanya Darick pelan, sambil memperhatikan setiap jengkal lukisan wajah Allard dan Katryn.
“Jika aku tebak, ulang tahun pernikahan mereka?” tebak Anggelo.
“Terlalu mudah.” Komentar Darick.
“Angka keberuntungan Katryn?” lanjutnya setelah sekian lama berpikir.
Darick memandang Anngelo, meminta Anggelo untuk mengatakan angka keberuntungan Katryn, sebab Annggelo pasti tahu apa yang ada pada Katryna. Anggelo menyebutkannya, dan Darick memasukan kode-kode tersebut. Benar, lukisan tersebut terbuka.
Mereka masuk berhati-hati, ruangan gelap menyusahkan penglihatan mereka. Anggelo berinsiatif mengambil ponselnya di saku celana dan menghidupkan fitur center di ponselnya.
“Ruangan ini, menyimpan kenangan tentang Katryn!” komentar Anggelo.
“Kau cemburu?” Todong Darick, sambil mencari keberadaan Allard yang tidak ditemukan dari beberapa jam yang lalu.
“Sedikit!” cicit Anggelo.
“Hilangkan perasaanmu, Anggel!”
“Anggelo, Darick! Aku bukan seorang wanita!” ucap Anggelo tidak terima.
__ADS_1
Darick tidak lagi menanggapi ucapan Anggelo. Matanya menemukan Allard tengah serius melukis sesuatu, Darick bergidik melihat lukisan itu hanya bewarna merah. Sedikit was was, Darick memperhatikan tangan Allard. Holy ****! Pria gila itu mengoreskan tangannya, dan darah tersebut dia gambarkan pada lukisan tersebut.
“Kalian, tidak perlu mencariku. Aku masih hidup!” ucap Allard datar, sambil terus memoleskan kuas ke lukisan itu.
“Allard, bisa kau tinggalkan itu?”
“Ayo, Al. Kau akan kehabisan darah!” ucap Anngelo menambahi ucapan Darick.
“Oh. Hay, Anggelo!” sapa Allard tersenyum sinis.
Tatapan Allard pada Anggelo sangat mematikan, Anggelo merinding luar biasa. Ditambah, ruangan ini gelap yang hanya disinari oleh lampu kecil di dekat pria itu, dan satu lagi dari ponsel Anggelo. Darick tidak tahan melihat wajah Allard yang pucat pasi. Dia segera mendekat dan mengajak Allard untuk keluar dari ruangan ini.
“Pergi!” ucap Allard lesu.
“Bersama denganmu!” ucap Darick tidak gentar. Tubuh Allard tak berdaya setelah Darick mengangkat tubuh Allard untuk berdiri. Anggelo membantu, dan mereka membawa Allard keluar dari ruangan tersebut.
...***...
Keadaan Allard semakin memburuk, ia selalu menyakiti dirinya dan tidak menyentuh obat penenang. Maka, Fillbert memutuskan memindahkan Allard ke rumah sakit jiwa dan diawasi oleh penangan khusus. Seminggu berada di rumah sakit ini, setiap kali terbangun Allard tersenyum miris. Kedua kalinya dia merasakan hawa rumah sakit jiwa.
Tidak akan ada perubahan apapun jika dia berada di sini, karena dia akan terus merasa frustasi tanpa Katryn. Mereka bodoh, Allard akan selalu mempunyai cara untuk menyembunyikan benda-benda tajam di sekitarnya. Seperti sekarang, dia bangun dan berjalan ke arah kamar mandi. Mengambil pisau keter kecil dari sela-sela lubang yang ada di kamar mandi tersebut.
Dengan santainya, dia menggoreskan pisau keter tersebut sambil tersenyum senang. Sedikit demi sedikit Allard merasa tenang dan lega. Tapi, ini hanya bertahan sementara. Air mata menetes tanpa disadari, Allard kembali terngiang wajah cantik Katryn, dan bagaimana sikap Katryn yang berani padanya. Dia merindukan wanita itu, dia merasa bersalah karna sikapnya dan berakhir Katryn meninggalkannya.
Tidak ingin berlama, Allard dengan cepat membersihkan lukanya. Lalu, keluar dari kamar mandi. Darick menyipitkan matanya, memandang Allard curiga ketika keluar dari kamar dengan wajah sedikit lega.
“Kau melakukannya lagi?”
“Tidak!” Darick memeriksa kamar mandi, tidak ada yang mencurigakan tapi Darick tahu Allard baru saja menyakiti dirinya sendiri.
“Kau tidak bisa berbohong , Allard! Tanganmu membuktikan semua itu!” ucap Darick kesal, sedangkan Allard hanya mengedikan bahunya tidak peduli.
Allard membaringkan tubuhnya, mencari kenyamanan. Dia ingin tidur, agar bisa membuang pikirannya tentang Katryn untuk sementara. Dia lelah, lelah dengan Katryn yang selalu berkelana di pikirannya. Sedangkan Darick, dia kembali ke kamar mandi mencari benda tajam apa yang digunakan Allard. Ia mengeledah semua celah-celah di kamar mandi tersebut, tidak butuh waktu lama dia menemukan pisau tersebut.
Dan yang Darick tidak sangka, banyak pisau yang disembunyikan pria gila itu. Lalu, Darick keluar dengan empat pisau di tangannya. Di luar dia menemukan Filllbert dan Caroline yang duduk, sedangkan Jeff dan Jordan berdiri di dekat mereka. Pandangan Caroline mengarah pada pisau di tangan Darick.
“Darick...” lirih Caroline, dan menangis terisak-isak.
Fillbert langsung memeluk Caroline, menenangkannya. Darick, langsung memerintahkan Jordan dan Jeff untuk mengeledah semua celah di ruangan tersebut. Setelah kepergian mereka, Darick langsung menatap Fillbert.
“Dad, aku rasa sudah cukup. Pertemukan mereka!” ucap Darick. Fillbert menggeleng lemah.
“Katryn sendiri yang tidak mau, Darick.”
“Kita hanya bisa menunggu sampai Katryn mau kembali,” ucap Fillbert.
...***...
Aku mau membahas tentang self-harm sedikit, ya, Guys!
Self Harm ini sangat berbahaya! Mungkin sebagian dari kita bertanya, mengapa harus menyakiti diri sendiri? Menurutku, sebagai manusia kita pastinya memiliki masalah hidup yang berbeda-beda. Kita gak boleh menyama ratakan masalah kita dengan orang lain, menurut orang itu masalah kecil, tapi bagi orang lain itu belum tentu kecil. Bagi mereka mempunyai self-harm, mereka beranggapan dengan menyakiti diri sendiri mereka merasa lega, mereka puas setelah menyakiti diri mereka.
Self-harm bisa disembuhkan dengan cara dukungan keluarga, teman, sahabat atau pun orang terdekat. Aku ingat satu komentar dari pembaca aku, dia dulunya self-harm juga, tapi sekarang sudah sembuh semenjak menikah. Itu menandakan bahwa dukungan orang tersayang sangat dibutuhkan bagi mereka. So, jika ada kerabat kalian, jangan dijauhi, tetapi beri semangat agar dia keluar dari itu semua.
__ADS_1
Apapun menyangkut penyakit mental, jangan dibiarkan. Segera konsultasi dengan psikolog! Mental bukanlah suatu hal yang bisa disepelekan!
Sekian, salam manis dari Allard & Katryn:)