Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 26. Avoid


__ADS_3

...Telah direvisi...


...Selamat membaca!...


...-----...


Sebulan kemudian~


Bukan Katryn yang menghindari, tetapi justru Allard yang berlaku demikian. Pernah Katryn mencoba membuka pembicara, Allard malah marah. Sikap Allard membimbangkan, setelah memaksanya menyaksikan keburukan itu, dia seolah tidak terima dengan kata perceraian.


Saat ini, Katryn lebih mau menghabiskan waktunya di kolam teratai. Daripada harus berada di mansion besar itu, Katryn tidak tahu harus melakukan apa. Ujung-ujungnya hanya duduk dan termenung.


“Katryna!” sapa seseorang, Katryn berbalik, ternyata Alessa.


“Alessa!” pekiknya.


“Apa kabar?” tanyanya.


“Baik. Bagaimana denganmu?” tanya Alessa balik seraya memeluk sang sahabat.


“Baik juga.”


“Aku tidak pernah melihatmu kemari, kemana saja?”


“Pekerjaan,” jawab Alessa singkat.


“Pekerjaan yang mengakibatkan kakimu pincang?” Alessa terkekeh dan mengangguk.


“Jeli sekali penglihatanmu!” Padahal cara berjalan Alessa tidak menunjukkan pincang.


Mereka duduk di kursi yang memang tersedia di dekat kolam teratai, Alessa menceritakan bagaimana bisa ia mendapatkan luka di kaki kananya. Ya, tak bukan karena terjatuh ke jurang saat mengejar tahanan.


“Katryn, aku ingin menanyakan sesuatu hal.” Alessa berucap dengan menatap Katryn serius.


“Apa?”


“Bagaimana perasaanmu terhadap Allard?” Katryn terdiam, nama itu dibahas.


“Aku tidak mengerti.”


“Hatimu mengerti, Katryna. Semakin besar kau menolak, maka semakin besar pula hatimu merasakannya,”ucap Alessa memandang sang sahabat lekat.


“Aku tidak tahu, Alessa."


“Satu pertanyaan. Apa kau tidak mengingat laki-laki yang sering bersama kita dulu?”tanya Alessa.


“Siapa?”tanya Katryn balik.


“Kau tidak mengingatnya,” simpul Alessa, Katryn menggeleng.


“Ingatanku melemah.”


“Kita berteman sedari kecil, ingatanmu sangat kuat dibanding aku. Kau tahu? Aku tidak percaya ingatanmu selemah itu, Ryn!” ucap Alessa menatap Katryn prihatin.


“Earnest pernah memberimu obat-obatan?” tanya Alessa langsung.


Kembali Katryn terdiam, mengingat obat-obatan yang diberikan Earnest untuk ia konsumsi setiap hari. Sebenarnya Katryn tidak tahu obat apa yang Earnest sodorkan, pria itu hanya mengatakan obat itu adalah vitamin kesehatan. Katryn percaya saja, sama sekali tidak mencurigai, tetapi Katryn merasakan perubahan pada dirinya. Di mana dia sering mengeluh sakit kepada dan suka melupakan hal kecil.


“Pernah.”


“Berbentuk apa obat itu?” tanya Alessa.


“Kapsul.”


“Oke. Bagaimana efek yang kau rasakan setelah meminumnya?”

__ADS_1


“Pusing dan terkadang aku suka berhalusinasi,”jawab Katryn.


“Kusimpulkan, melemahnya ingatanmu kemungkinan dikarenakan obat itu!”


“Apa itu bisa terjadi?” tanya Katryn tak yakin akan pernyataan Alessa


“Bisa saja!”


“Ada obat khusus yang bisa melemahkan ingatan seseorang. Untuk kasusmu ini, sepertinya dia menginginkan kau melupakan masa lalumu,” tambah Alessa.


“Masa laluku?”


“Ya, masa lalumu. Buktinya, kau tidak mengingat masa lalumu sebelum mengenal dia, kan? Contohnya tentang seorang pria di masa lalumu.”


“Siapa sebenarnya pria yang kau maksud itu, Alessa?”tanya Katryn penasaran, Alessa terus membahas pria masa lalu itu.


“Tanyakan pada hatimu.”


“Allard?” ucap Katryn tak yakin, Alessa tersenyum.


“Aku tidak yakin, tetapi aku merasa mengenal Allard,”lanjutnya.


...***...


...Warning: Adegan berdarah! Bagi yang tidak tahan, diskip saja!...


Kepergian Allard ke luar negeri mengurus bisnisnya adalah sebagai pelarian semata. Nyatanya, dia pergi karena menghindari sekaligus menenangkan pikiran kacaunya akan perkataan Katryn. Kata cerai yang terucap itu mampu menguasai kemarahan pada dirinya. Maka dari itu, Allard butuh waktu menyiapkan mentalnya agar tak terpengaruh.


“Tuan, transaksi akan dilakukan sejam lagi.” Selena memberitahu setelah mengetuk pintu.


“Aku tahu, Selena. Kau bisa ke lokasi langsung!”


“Anda?” tanya Selena ada nada berharap pada suaranya.


“Aku menyusul.”


Allard menempati perkataannya, dia menyusul ke lokasi bersama dua bawahannya. Jordan tidak bersamanya selama sebulan ini, pria tua itu menjaga Katryn selama Allard tidak ada di sana. Jadi, yang menjadi tangan kanannya selama di sini adalah Selena.


Sesampainya di lokasi, Allard disambut oleh Mr. Yordan yang mana menjadi kliennya dalam bertransaksi senjata api. Selena tanpa diminta berdiri tepat di sampingnya guna berjaga-jaga. Semua barisan telah diatur sedemikian rupa sama seperti biasanya mereka laksanakan.


“Akhirnya kau datang, Mr Helbert!”


“Tidak usah berbasa-basi, langsung saja pada intinya!” ujar Allard datar.


“Kau tidak sabar sepertinya. Baiklah, aku menerima penawaran yang kau berikan,” balas Mr Yordan.


“Benarkah itu?”


Selena merinding mendengar ucapan sang tuan, ini bukan suara biasa, melainkan peringatan lain. Selama menjadi pemimpin, ketika klien setuju dengan penawaran mereka, sang tuan pasti hanya menjawab ‘good’ sebagai tanda ia puas. Namun, transaksi hari ini pasti tidak akan berjalan baik.


Allard melangkah menuju Mr. Yordan. Kemudian, ia berdiri di samping Mr. Yordan dengan posisi saling berlawanan. Mata elangnya mengawasi sekitar, senyum culas tergambar di bibirnya.


“Bermain denganku, artinya bersiap dengan ajalmu.” Allard kembali pada posisi awal, sedangkan Mr. Yordan ketar-ketir di tempat.


“Saya tidak mengerti maksud Anda, Tuan.”


Begitu santainya Allard menunjuk beberapa titik yang terdapat orang-orang memegang senjata dan mengarah padanya. Tidak kelihatan dari mereka berdiri, tetapi Allard sangat jeli memperhatikan sekitar. Sebelum ke lokasi ini, Allard memeriksa keamanan agar dirinya aman dari musuh.


“Now!” ucap Allard agak keras. Sedetik kemudian suara tembakan menggema. Mr Yordan menegang mengetahui Allard tahu di mana penembak jitu ia tempatkan.


“See. Rencana tak menyenangkan, sangat mudah bagiku mengetahui titik orang-orangmu!” remehnya.


Allard memutar tubuh pria itu beberapa kali. Anah buah pria itu berusaha melindungi bos mereka, tetapi kalah cepat dengan anak buah Allard yang menghalangi. Allard berdiri tepat di belakang Mr Yordan, lalu mengeluarkan sebuah pisau dan menghunusnya pada punggung pria itu.


“Ah... berengsek kau!” maki Mr Yordan kesakitan setelah membalikkan tubuhnya saling berhadapan dengan Allard.

__ADS_1


Allard tersenyum manis membalas makiannya. Terburu-buru pria itu mengeluarkan sebuah pistol dan mengarahkannya pada Allard. Selena panik, langkahnya ingin melumpuhkan Mr Yordan terhenti karena Allard mengangkat tangannya.


“Tembak saja kalau kau memang bisa,” tantang Allard.


‘Dor’


Mr Yordan bersungguh-sungguh menembak tepat di bahu Allard, akan tetapi Allard tertawa seolah senang mendapat tembakan itu.


“Payah!”ejek Allard.


“Kenapa tidak di sini?” tambah Allard menunjuk tepat di jantungnya.


“Tidak berani! Tentu saja!” ucap Allard, dan Mr Yordan di depan Allard bergetar ketakutan.


“Sampaikan kata-kata terakhirmu sebelum kematian menghampirimu,” ucap Allard santai tidak memedulikan todongan pistol di depannya.


Penuh perhitungan, Allard mengambil alih pistol di tangan Mr Yordan. Selanjutnya, ia menggoreskan pisau pada leher pria itu hingga teriakan kesakitan terdengar menggembirakan di telinganya. Terakhir, Allard menembak mati pria itu tepat di jantungnya.


Selena membuang wajah menyaksikan kebengisan sang tuan. Tidak lupa darah mengucur dari tubuh pria tua itu, amat tragis kematiannya. Mata melotot seperti ingin keluar menandakan bahwa dia mati dalam keadaan kaget dan takut.


“Bersihkan!” titahnya pada bawahannya.


Di dalam perjalanan, Allard memasang wajah datar. Ketika setengah perjalanan, Allard menghentikan sopir. Ia memilih keluar setelah memerintahkan Selena membawa kotak obat yang biasa tersedia.


“Ini, Tuan.” Allard mengambil tanpa mengucapkan apa pun.


Meletakkan kotak tersebut di atas kap mobil, lalu membukanya. Sebuah gunting terlihat, Allard mengambil dan segera mengeluarkan peluru yang bersarang di bahunya. Tanpa ekspresi dan tanpa suara kesakitan Allard berhasil mengeluarkannya.


Anak peluru itu Allard masukan ke dalam kotak tersebut. Selena masih di sana memperhatikan sekaligus mengkhawatirkan kondisi sang tuan. Darah membasahi kemeja putih itu, tampaknya Allard tidak berniat menutupi luka berlubang itu.


“Tuan. Biar saya tutupi lukanya,” pinta Selena lembut.


“Hm.”


Mendapat izin, Selena secara cekatan mengobati luka tersebut. Allard hanya diam memperhatikan tangan Selena berada di tubuhnya. Allard membayangkan tangan Katryn yang mengobati lukanya ini.


“Sudah, Tuan.” Allard mengangguk, kembali memasuki mobil. Selena menghela nafas, mengikuti sang tuan.


Sejam berlalu, Allard sampai di penthouse. Segera ia membersihkan tubuhnya dan mengenakan pakaian. Ponsel di atas nakas berbunyi, Allard mengangkatnya.


[“Tuan. Pesawat Anda telah siap,”] ucap Selena di seberang sana.


^^^[“Ya.”] Allard mematikan panggilan, segera meninggalkan penthouse.^^^


...***...


Tiba di mansion pada sore hari, bukannya beristirahat, Allard memasuki ruang kerjanya. Allard yakin Katryn berada di kolam teratai, dia tidak tahu apabila sang suami sudah pulang. Membuka notebook, Allard mengeklik sebuah aplikasi yang terhubung langsung ke seluruh cctv di mansion ini.


Benar saja perkiraan Allard, Katryn di sana tengah duduk bersama Alessa. Jordan setiap hari memberi informasi tentang Katryn, juga tentang Alessa yang sering mengunjungi Katryn selama ia tidak di sini. Terlihat mereka tengah membicarakan sesuatu yang serius, wajah Katryn kebingungan membuat Allard penasaran apa yang mereka bicarakan.


Allard mengotak-atik notebook-nya, dan sekarang ia bisa mendengar Alessa menjelaskan masa remaja mereka, yang mana dirinya juga berada di masa itu. Sejak kapan Alessa membuka pembicaraan masalah itu? Kenapa dirinya tidak tahu?


[Ke ruanganku sekarang!] Sebuah text ia kirim pada Jordan.


Tangannya terus mengotak-atik notebook di hadapannya, melihat rekaman cctv selama sebulan lebih dia tidak berada di mansion. Allard menemukan rekaman Alessa menanyakan perihal Earnest, obat-obatan, dan dirinya. Terdengar suara pintu diketuk...


“Masuk!” Jordan masuk ke dalam ruangan, lalu menutup pintu.


“Sebulan lebih aku tidak berada di mansion, apa kau memberitahu semuanya padaku, Jordan?” Allard mengintimasi Jordan langsung.


“Tidak, Tuan.”aku Jordan.


“Beri aku alasan yang logis!”


“Saya rasa pembicaraan antara Mrs. Helbert dan Miss. Alessa bersifat pribadi, Tuan. Tidak pantas rasanya saya sampaikan lewat telepon.”

__ADS_1


“Maaf, Tuan...” sambung Jordan menunduk.


“Keluar!”


__ADS_2