
Tiga minggu berlalu dengan cepat.
Selain mengunjungi Tatiana setiap malam, Catalina menjalani hari-harinya dengan segudang pelatihan dan pembelajaran. Saking sibuknya, ia hanya tidur sekitar dua sampai tiga jam perhari.
Perjuangan itu sangat melelahkan.
Hanya untuk memiliki keahlian, ia sangat sering menahan kantuk. Namun, setidaknya ia tidak menahan lapar. Berbeda dengan dulu. Jika dulu ia sering tidur untuk menahan lapar, sekarang ia tidak tidur karena takut kelaparan lagi. Perbedaan itu cukup kontras dan terkadang ia berpikir apa kehidupan ini benar-benar jauh lebih baik?
Kesibukan ini, apa mungkin suatu hari bisa membunuhnya?
Namun anehnya bobot tubuhnya tidak berkurang.
Tubuhnya justru terbentuk dengan sempurna.
Dengan pola makan dan olahraga seimbang, meski ia kurang istirahat, tidak mempengaruhi apapun. Belum lagi perawatan wajah dan kulit, bukannya kusut, wajahnya semakin cantik mempesona.
Betapa dahsyatnya kekuatan uang. Benar-benar luar biasa.
"Kau melakukannya dengan baik, Catalina," ucap Nick melalui sambungan telepon.
Ini adalah hari ke dua puluh satu sejak pelatihan pertama yang Catalina lakukan, dan sejauh ini sudah banyak keterampilan yang dia kuasai.
Semua berjalan lancar seolah gadis itu memang diciptakan untuk hal ini. Nick bahkan curiga ayah dan ibu Catalina mungkin selebriti atau sejenisnya. Karena biasanya, hal semacam itu diturunkan dari keluarga. Namun karena Catalina dan Tatiana yatim piatu, ia tidak ingin berspekulasi lebih jauh.
Dan untuk mengasah keterampilan yang selama ini dipelajari, Nick sudah menjadwalkan pemotretan sebuah brand untuknya di sebuah hotel. Ia pikir, itu akan membantunya mempertajam kemampuannya. Dan tentu saja ia akan mendampinginya.
"Aku tahu," jawab Catalina. Ia melakukan yang terbaik untuk mendapatkan hasil terbaik. Bukan karena ia jenius, bukan juga karena Nick terlalu menekannya, namun ia merasa harus menjadi ahli dalam waktu singkat agar tidak terlalu merepotkan orang lain.
Ia cukup tahu diri untuk tidak membuang-buang uang. Setidaknya, sebelum ia kaya, ia tidak ingin menghamburkan uang untuk membayar para guru yang sudah mengajarinya. Bagaimanapun, pembayaran mereka di potong dari penghasilannya jika ia bekerja nanti. Belum lagi Nick yang membuat peraturan ini. Mulai dari guru hingga waktu pelatihan, bajingan itu pasti memikirkannya dengan sungguh-sungguh.
"Kau cukup tahu diri," ucap Nick lagi. Entah itu pujian atau cibiran, tergantung dari sudut pandang mana orang melihatnya.
"Bukankah bagus menjadi tahu diri?" ujar Catalina. Ia bukan kacang yang lupa kulitnya. Siapa Nick, ia tahu persis. Dan siapa ia, ia juga mengetahuinya dengan jelas.
"Tentu." Nick mengangguk meski tahu Catalina tidak mungkin bisa melihat anggukannya. "Apa yang sedang kau lakukan sekarang?" Ia melihat arlojinya dan mendapati ini sudah siang hari. Pemotretan di jadwalkan sore hari, masih ada dua jam tersisa untuk pergi ke sana.
"Aku sedang menunggu guru systema," jawab Catalina. Daripada yoga, aerobik, atau zumba, ia lebih memilih systema. Alasannya sederhana, karena ia suka beladiri, ia merasa systema adalah yang paling cocok untuknya. Selain memperkuat masa otot, juga bisa memperdalam ilmu bela dirinya.
Selain itu, untuk memperbaiki atrofi otot karena terbaring di tempat tidur selama kurang lebih dua bulan, ia melakukan itu sebagai fisioterapi.
__ADS_1
Sebagai catatan, ia memerankan peran Tatiana, jadi aktingnya harus semaksimal mungkin. Ia koma, maka ia harus melakukan fisioterapi setelah ia bangun.
"Dua jam lagi aku akan menjemputmu," ucap Nick.
Catalina tersentak. "Kita akan pergi?" tanyanya. Ia tidak tahu kemana Nick akan membawanya. Namun jika untuk mengunjungi Tatiana, biasanya mereka melakukannya di malam hari. Tapi ini masih siang hari. Tidak mungkin Nick akan memperkenalkan dirinya ke publik sekarang, kan?
"Ya, kita akan pergi, ada pemotretan untukmu."
"Apa?" Catalina tersentak sekali lagi. "Pemotretan? Secepat itu?" Ini baru tiga minggu, dan ia merasa kurang percaya diri untuk tampil di depan banyak orang. Bukan ia menghindar, ia hanya belum siap secara mental.
"Lebih cepat lebih baik, bukan? Menunda pun tidak ada gunanya. Cepat atau lambat kau harus muncul di publik dan berurusan dengan mereka."
Catalina menghela nafas panjang. "Aku tahu," jawabnya. "Aku hanya terkejut. Memang aku tidak boleh terkejut?" Ia mengambil gelas yang berisi air putih di meja lalu meminumnya sampai tandas. Setelah meletakan gelasnya, ia berjalan menuju jendela lalu melihat ke luar.
Pemandangan di luar sangat indah. Langit biru dengan awan yang bergumpalan semakin memperindahnya. Sembari mendengarkan celotehan Nick, beberapa pemikiran tiba-tiba muncul di kepalanya.
Jika ia bisa pergi membawa Tatiana sekarang, mungkin ia akan melakukannya tanpa ragu. Namun ia tidak bodoh. Hidup perlu uang. Dengan kondisi Tatiana yang seperti itu, ia membutuhkan banyak uang untuk menopang kehidupannya. Dan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Ia akan bekerja keras mulai sekarang.
Tidak apa-apa.
***
Belum genap dua jam dan Nick sudah datang.
Catalina baru saja menyelesaikan latihannya dan duduk di sofa. Sedangkan guru systema baru saja pergi ketika Nick masuk melalui pintu.
Pria itu menggeleng saat melihat tubuh berkeringat Catalina.
"Kenapa?" Catalina mengikuti pergerakan Nick dengan ujung matanya dan sebelah alisnya terangkat. Mengikuti arah pandang pria itu yang jatuh di tubuhnya yang berkeringat, ia buka suara, "Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa kau tidak pernah melihat orang berkeringat?" Tidak ada yang salah dengan dirinya, namun tatapan Nick menyiratkan seolah ia adalah makhluk asing yang harus ditumpas dari muka bumi. "Atau kau tidak pernah melihat wanita seksi?" Catalina berpose seksi, sengaja menunjukkan dirinya versi menggoda. "Apa ini sudah cukup untuk menggoda mu?" Ia mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
Nick menjatuhkan tubuhnya di sofa. "Kau pikir itu menggoda?"
Catalina mendesis. "Kata-katamu sungguh menyakitiku," sahutnya sembari menyentuh dadanya seolah di sana terasa sangat sakit akibat perkataan Nick.
Nick mengerutkan kening. "Kau tidak merasa dirimu bermasalah?"
Catalina menggeleng. "Tidak," jawabnya. "Kupikir, kau yang bermasalah." Catalina adalah orang yang lugas, apapun yang terbersit di pikirannya, ia akan mengatakannya tanpa ragu. Tidak peduli apakah itu menyakitkan atau tidak, ia orang yang jujur.
__ADS_1
"Tidak. Bukan itu maksudku."
"Lalu apa maksudmu?"
"Aku pikir kau orang yang sulit bersosialisasi. Maksudku, kau tahu, aku pikir kau tidak pandai bergaul."
"Jika kau berpikir begitu maka kau seratus persen salah," sahut Catalina. "Aku pandai bersosialisasi, aku hanya tidak pandai berteman. Tidak. Aku memang tidak ingin berteman dengan siapapun." Bukan berarti tidak ada orang yang mau berteman dengannya, namun karena memang ia yang menutup diri dari dunia. Seperti yang pernah ia katakan sebelumnya, ia tidak ingin kehilangan siapapun dengan alasan apapun.
Nick mengangguk kecil. "Oh, begitu." Baguslah. Setidaknya itu bukan karakternya. Maksudnya, Catalina pandai bergaul hanya saja dia tidak mau bergaul. Karena mereka hidup di industri hiburan, seseorang harus pandai bergaul. Mau tidak mau, suka tidak suka. Jadi ia akan membuat Catalina melakukannya meski gadis itu tidak suka.
"Mm."
Nick tidak berkata lagi. Melihat sebuah buku tergeletak di atas meja, tangannya bergerak mengambilnya. "Apa ini?" tanyanya sambil membolak-balik halaman buku. Ia mengerutkan kening, tidak bisa membaca satu kata pun.
Catalina menoleh sekilas. "Itu buku," sahutnya, singkat, padat dan terdengar arogan. "Apa begitu saja kau tidak tahu?" Catalina setengah mencibir, sengaja menambahkan bahan bakar ke api.
Namun Nick tidak tersulut emosi. Dengan santainya ia melihat sampul buku, kemudian sebelah alisnya terangkat. "Apa ini milikmu?" Ia mengganti pertanyaannya.
Bola mata Catalina berputar, pertanyaan sampah apa lagi ini? batinnya.
"Memang milik siapa lagi? Apa kau lupa aku tinggal sendiri?" Catalina memutuskan membalikkan pertanyaannya.
"Tidak, bukan itu. Maksudku ini bahasa Rusia." Meski tidak bisa bahasa Rusia, namun bukan berarti Nick tidak tahu abjad Rusia yang rumit dan memusingkan.
"Memang."
"Lalu, kenapa kau memilikinya? Kau bisa bahasa Rusia?" Kini Nick bertanya-tanya, buku di tangannya berbahasa Rusia asli, bukan versi terjemahan. Jika itu versi terjemahan, ia tidak akan seterkejut ini. Sebuah pemikiran tiba-tiba di kepalanya, apa gadis sialan ini benar-benar bisa membacanya atau hanya pura-pura membaca?
Tiba-tiba ia meragukannya.
Melihat tatapan ragu Nick, Catalina angkat bicara, "Apa aku belum bilang kalau aku juga mengambil kelas bahasa Rusia?" Di Valdes, bahasa Rusia cukup populer. Dan ia tertarik untuk mempelajarinya.
Nick meletakan bukunya kembali ke tempat semula. "Bukankah kau belajar ilmu sosial?"
"Oh maaf, sepertinya aku lupa memberitahumu. Selain ilmu sosial, aku juga belajar bahasa Rusia. Sekarang kau mengerti kan kenapa ada buku Rusia di sini?" Catalina menunjuk ke bawah meja dengan matanya. Menunjukkan bahwa hampir semua buku miliknya berbahasa Rusia. Itu adalah novel-novel yang ia bawa dari Valdes. Kenapa ia membawanya, karena ia belum membacanya. Jika sudah dibaca, ia tidak akan susah payah mengajak mereka terbang ke Eropa.
Melihat setumpuk buku tebal di sana, Nick yang semula ragu, sekarang tercengang. Setelah bengong selama beberapa saat, ia bertepuk tangan. Mau tidak mau ia harus mengagumi kecerdasan gadis itu. Bahasa Rusia, betapa sulitnya itu, namun sebenarnya Catalina berhasil menguasainya.
Catalina mengulas senyum tipis. "Sudah, sudah, hentikan! Jangan tepuk tangan lagi," ucapnya. Namun bukan ekspresi rendah diri yang ia tunjukkan, tetapi ekspresi sombong. "Hanya bahasa Rusia, banyak yang bisa melakukannya." Ia semakin menunjukkan kesombongannya yang terbalut rapi dalam kerendah dirian. Namun siapapun yang melihat pasti langsung tahu apa niatnya. Apa lagi jika bukan untuk pamer?
__ADS_1
Nick mendesah kasar. Ia tahu gadis sial ini memang tidak bisa dipuji. Lihat saja betapa besar kepalanya sekarang. Ia bangkit dari duduknya. "Lupakan tentang bahasa Rusia, sekarang bersiap-siaplah! Ini pertama kalinya untukmu, kau perlu banyak persiapan."