
Sehan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan santai. Matanya terpejam sementara jari telunjuknya mengetuk pegangan kursi dengan tempo lambat.
Dari yang terlihat, ia memang tampak santai. Namun sebenarnya ia tidak sesantai yang terlihat. Bahkan boleh dikatakan ia jauh lebih gelisah dari biasanya.
Kapan semua itu bermula, beberapa hari yang lalu. Lebih tepatnya, sejak kecelakaan Catalina. Tidak hanya gelisah, terkadang ia bahkan merasa takut.
Namun rasa takut yang ia rasakan bukan tanpa alasan.
Alasannya sangat jelas. Sejelas siang hari.
Ia bisa menghilangkan ketakutan itu, namun ia harus menghancurkan beberapa hal yang berharga terlebih dahulu.
Dan sejauh ini, ia memutuskan untuk melakukannya. Ia memilih untuk menutupinya. Menyembunyikannya dengan sangat baik hingga tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.
Mungkin ia egois.
Katakanlah seperti itu.
Namun ia tidak peduli.
Hal semacam itu tidak bisa di ucapkan, tidak bisa di ungkapkan. Konsekuensinya terlalu menakutkan. Dan ia takut orang-orang yang ia cintai di sekelilingnya tidak bisa menanggung beban itu.
Matanya yang terpejam tiba-tiba terbuka dan ia menatap langit-langit ruang kerjanya. Ia memang menyelesaikan pekerjaannya tiga puluh menit lebih cepat. Namun pada akhirnya, ia masih di sini. Terjebak di ruangannya dengan segudang pikiran yang mengganggu.
Namun ia tahu ini bukan saat yang tepat untuk berdiam diri.
Ia harus melakukan sesuatu.
Sesuatu yang mungkin berguna baginya.
Sehan bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar dari ruangannya. Karena membutuhkan ketenangan, ia meminta Kenny dan sekretarisnya untuk pulang dan mereka pulang sejak tiga puluh menit yang lalu.
__ADS_1
Namun waktu berjalan sangat cepat.
Ia merasa baru memejamkan mata, dan setengah jam sudah berlalu.
Pengemudi yang sudah menunggu, begitu melihat Sehan keluar dari perusahaan, pintu mobil langsung terbuka dan Sehan segera masuk tanpa ragu. "Pergi ke vila," ucapnya memberi perintah.
"Baik, Tuan," jawab pengemudi sebelum mengemudikan mobilnya meninggalkan perusahaan menuju vila.
Sepanjang perjalanan di isi dengan keheningan.
Pergi ke vila, Sehan tidak tahu apa yang akan ia lakukan di sana. Siapa yang akan ia temui, apa yang akan ia bicarakan. Meski ada banyak kata serta pertanyaan-pertanyaan yang terpikir dalam benaknya, namun ia tidak yakin apakah harus mengutarakan nya atau tidak.
Dan ketika mobil mencapai area vila dan berhenti di halaman vila yang orang tuanya tempati, Sehan masih belum memutuskan tentang apa yang akan ia katakan.
Melihat Sehan diam saja dan tidak berniat turun, pengemudi dengan hati-hati mengingatkan nya, "Tuan, kita sudah sampai."
"Mm. Aku tahu," jawab Sehan.
Berjalan menuju pintu, Harrington tergopoh-gopoh datang menyambut. "Tuan muda, Anda datang?" tanyanya sambil membungkukkan badan.
"Mm." Sehan berjalan melewatinya dan masuk ke dalam. Namun saat mendengar suara percakapan dari ruang tamu, langkah kaki Sehan terhenti. "Apakah ada yang datang?"
"Keluarga Addams datang berkunjung," jawabnya.
Sehan mengangguk kecil. Ia melanjutkan langkah kakinya dan tidak berniat untuk menghentikan langkah meski melihat keluarga Addams di ruang tamu.
Sarah yang melihat putra sulungnya datang, segera memanggil namanya. "Sehan, kau datang?" Suaranya yang lembut masuk ke telinga semua orang. Tidak hanya membuat keluarga Addams menghentikan percakapan, tetapi juga membuat langkah kaki Sehan terhenti.
Sehan mengangguk. "Mm." Ia berjalan menuju ibunya lalu memeluk dan mencium sekilas dahinya.
"Kakak, lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" Pamela yang melihat Sehan, tidak melewatkan kesempatan untuk menyapanya. Ia sudah lama ingin masuk dan di akui secara resmi sebagai anggota keluarga Geffrey, itu sebabnya ia sudah mengupayakan banyak hal. Selain mengambil hati orang tua Lexus, ia juga harus mengambil hati calon kakak iparnya.
__ADS_1
Pamela Quincey Addams, adalah nama lengkapnya. Tunangan Lexus sekaligus putri semata wayang Thomas Addams dan Sylvie Addams. Ia adalah model terkenal berusia dua puluh dua tahun. Usianya beberapa bulan lebih muda dari Lexus.
Selain kedua keluarga yang berhubungan baik, hubungan persahabatan anak-anak mereka juga cukup baik. Pamela dan Lexus adalah teman masa kecil. Dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah, mereka sudah berteman dan hubungan mereka juga bisa dikatakan dekat.
Perangai, pendidikan serta asal-usul Pamela yang baik, Sarah sangat puas dan selalu menginginkan gadis itu menjadi menantunya. Itu sebabnya ia sangat tidak senang ketika suaminya memperkenalkan Tatiana sebagai tunangan Sehan.
Perbedaan Tatiana dan Pamela sangat jauh. Bak langit dan kerak bumi. Seperti Cinderella dan itik buruk rupa. Entah bagaimana dan darimana Sarah melihatnya, Tatiana tidak cocok untuk Sehan dan tidak pantas menjadi anggota keluarga Geffrey.
Selain hanya anak adopsi keluarga Atkinson, keluarga Atkinson juga seperti wabah yang menggerogoti keluarga Geffrey. Tidak hanya meminta di muluskan jalannya di dunia bisnis, mereka juga selalu membahas hutang budi yang Tatiana lakukan ketika gadis itu tidak sengaja menyelamatkan suaminya. Membuatnya muak.
Sehan mengangguk kecil. Ia tidak pernah menyentuh keluarga Addams, juga tetap diam dengan segala yang mereka lakukan, hanya karena hubungan kedua keluarga. Juga mengingat pertemanan ibunya dengan Sylvie Addams, ia menahan banyak keluhan.
Namun meski diam saja, bukan berarti ia menyukai mereka.
Mengabaikan Pamela, Sehan menatap sang ibu. "Apakah Daddy di atas?" tanyanya. Ia bahkan tidak repot-repot menyapa Thomas atau Sylvie. Walau sekedar basa-basi untuk memberi mereka muka, ia tidak berniat untuk melakukannya.
Sarah mengangguk. "Dia di ruang kerjanya." Sarah pun tidak mempermasalahkan bagaimana Sehan memperlakukan keluarga Addams. Ia mengenal putra sulungnya lebih baik dari siapapun. Karakter dinginnya, sikap acuhnya, itu adalah ciri khasnya. Jika tiba-tiba putranya menjadi ramah dan hangat, ia justru akan bertanya-tanya dan mungkin membawanya ke psikiater.
"Aku akan naik ke atas." Dengan begitu, Sehan naik ke lantai atas menuju ke ruang kerja ayahnya. Ia mengetuk pintu dan ketika mendengar instruksi masuk dari dalam, ia segera membuka pintunya. "Dadd," sapanya.
Mendengar suara Sehan, Raphael yang sedang menelepon seseorang, segera mengucapkan sampai jumpa dan menutup panggilan. Ia menyimpan ponselnya dan menatap Sehan dengan sebelah mata menyipit.
Di tatap dengan tatapan aneh, Sehan mengerutkan kening. "Ada apa?" Ia tidak tahu kenapa ayahnya selalu menatapnya seperti itu setiap kali ia datang. Ia merasa seperti makhluk asing yang datang ke bumi. Tidak diberi sambutan hangat, justru mendapatkan perlakuan aneh.
Raphael menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa," jawabnya. Kedatangan putranya untuk menemuinya adalah hal yang langka. Seperti tahun kabisat yang datang setiap empat tahun sekali, maka Sehan datang setiap empat bulan sekali.
Namun itu juga tidak tentu.
Tetapi ia bersyukur setidaknya bajingan itu tidak datang empat tahun sekali, menunggu setiap tanggal dua puluh sembilan Februari untuk datang berkunjung.
"Duduk!" Melihat putranya tidak berniat duduk, Raphael memberi perintah.
__ADS_1
Mengabaikan perintah Raphael, Sehan berkata, "Mau bermain catur?"