
Sepanjang perjalanan diisi dengan keheningan.
Bosan karena tidak ada yang bisa dilakukan, Catalina melihat ponselnya dan masuk ke obrolan grup syuting serial yang sudah separuh pengerjaan.
Fred mengatakan syuting akan dimulai lusa, jadi semua orang diharapkan segera menyelesaikan semua urusan dan kembali besok untuk kemudian melakukan pengambilan gambar besoknya lagi.
Catalina melihat semua orang membalas pesan Fred dan ia pun mau tidak mau ikut membalas. Untungnya tidak ada orang menyebalkan sehingga grup obrolan damai dan tentram.
Ketika obrolan berhenti, Catalina kembali bosan. Dan kebosanan itu membuat pikirannya melayang kemana-mana.
Ia sudah mengumpulkan keberaniannya untuk melangkah sampai sejauh ini, tetapi pada akhirnya, itu seperti meninju kapas. Ia telah melakukan begitu banyak hal, ia telah melakukan begitu banyak upaya, tetapi pada akhirnya, semua masih abu-abu.
Catalina benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana. Terkadang, ia memiliki fantasi yang tidak realistis. Andai saja ia bukan Catalina, andai saja ia lahir di keluarga yang benar-benar seperti keluarga, andai saja ia putri semata wayang dari keluarga yang kaya, tidak, ia tidak membutuhkan kehidupan yang kaya, ia hanya menginginkan sepasang orang tua yang normal dan rumah yang bahagia dan nyaman.
Namun ia tahu keinginan sederhana itu terlalu mewah hingga mustahil ia dapatkan.
Empat puluh menit kemudian, mobil berhenti.
Catalina menyimpan ponselnya dan melihat ke luar jendela. Daripada mansion, tempat ini lebih seperti vila.
Ia ingat, setelah pertemuan pertamanya dengan Sehan, ia banyak mencari tahu tentang keluarga Geffrey. Dimana Sehan tinggal, dimana Lexus tinggal, bahkan dimana orang tua Sehan tinggal, ia mencari tahu semuanya.
Ketika sampai pada orang tua Sehan, ia membaca sebuah artikel bahwa saat perusahaan real estat yang berafiliasi dengan keluarga Geffrey sedang membangun akomodasi sebelumnya, mereka menyisihkan satu bidang tanah dan membangun deretan vila.
Mungkin tempat ini adalah yang di maksud dalam artikel.
"Nona, kita sudah sampai."
Suara pengemudi menyentak lamunan Catalina. Ia mengangguk. "Mm." Ia tahu bahwa mereka sudah tiba. Namun masalahnya, ia sedikit gugup. Meski berkata bahwa datang ke sini adalah keinginannya sejak lama, namun ketika benar-benar sampai di tempat ini, ia merasa hatinya bergejolak. Penasaran sekaligus takut.
__ADS_1
Pengemudi turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Catalina. "Silahkan, Nona."
Catalina mencoba mengatur nafas sebelum turun dari mobil. "Terima kasih," ucapnya. Sebuah senyum kecil tersungging di bibirnya namun sungguh demi apapun, ia tidak bisa menghentikan kegugupannya. Ia tidak tahu apa yang akan ia jumpai di sana. Dan drama keluarga kaya yang suka menghina menantu perempuan yang tidak sederajat tiba-tiba muncul dalam pikirannya.
Mungkin kah keluarga Geffrey juga seperti itu?
Melemparkan uang dan berkata 'tinggalkan putraku!'.
Haish.. konyol sekali. Jika memang begitu kejadiannya, tidak mungkin Raphael mengizinkan Tatiana menjadi tunangan Sehan. Sebelum Tatiana bahkan mendekat, mereka mungkin sudah melemparnya sejauh satu koma dua juta kilometer jauhnya.
Menyambut tidak jauh darinya adalah seorang kepala pelayan dengan seragam khasnya. Begitu Catalina turun dari mobil, dia membungkukkan badan. "Selamat datang, Nona. Lama tidak bertemu."
Catalina tersenyum. Dari apa yang kepala pelayan katakan, Tatiana jelas pernah datang ke tempat ini sebelumnya. Entah itu 'pernah' atau 'sering', intinya dia datang dan di sambut seperti ini oleh kepala pelayan.
"Ya, terima kasih. Bagaimana kabarmu?" Karena tidak tahu siapa namanya, hanya ini yang bisa Catalina katakan sebagai basa-basi. Namun ada satu hal yang mengganggu di pikirannya. Wajah orang ini terlihat cukup familiar. Dimana ia pernah melihatnya?
Ia mengawasi sosok itu lekat dan sesuatu tiba-tiba terlintas di benaknya.
Orang ini, mungkin kah dia saudara Harrison?
"Saya baik-baik saja. Bagaimana dengan Anda?" Harrington mengajukan pertanyaan yang sama.
"Seperti yang kau lihat, aku juga baik-baik saja."
"Syukurlah," jawab Harrington. "Lalu, boleh kah saya menanyakan sesuatu kepada Anda?"
"Tentu," Catalina menjawab cepat.
"Apa yang Anda pikirkan tentang saya?" Diawasi oleh Catalina, orang seperti Harrington tidak mungkin tidak menyadarinya. Itu sebabnya ia mengajukan tanya.
Catalina diam sebentar sebelum buka suara, "Sebenarnya aku merasa kau sangat mirip dengan seseorang. Maksudku, aku pikir kau mungkin saudara Harrison." Catalina mengatakan apa yang ada dipikirannya tanpa ragu.
__ADS_1
Mendengar ini, Harrington tersenyum kecil. "Jika itu yang Anda pikirkan tentang saya, maka Anda benar. Saya memang saudara Harrison. Nama saya Harrington." Dan sekali lagi keraguannya tentang gadis ini terkonfirmasi. Bahwa Catalina memang pernah dibawa pulang oleh Sehan. Karena jika tidak, Catalina tidak mungkin mengenali Harrison.
"Sudah ku duga," sahut Catalina. Tidak ada sedikit pun jejak keterkejutan di wajahnya, yang artinya ia sudah mengklaim dalam pikirannya bahwa mereka bersaudara.
"Kalau begitu, mari ikuti saya," ucap Harrington sembari menunjukkan jalan, mengarahkan kemana Catalina harus pergi.
Catalina pergi ke arah Harrington menunjukkan jalan dan mereka berjalan dalam diam.
Vila ini memiliki bagian dalam yang sangat luas. Interior yang di miliki memiliki desain modern bergaya natural dengan nuansa alam. Banyak tanaman hijau yang menjadi dekorasi dan semua itu diletakkan di tempat yang tepat hingga ruangan menjadi sangat menyenangkan untuk di lihat. Di tambah jendela-jendela besar, cahaya dari luar masuk dengan sempurna ke dalam ruangan.
Setelah menapaki anak tangga dan tiba di lantai dua, beberapa saat kemudian mereka tiba di depan sebuah pintu. Harrington mengetuk pintu. "Tuan, Nona sudah berada di sini."
"Masuk!"
Setelah mendapat instruksi masuk dari Raphael, Harrington segera membuka pintu dan mempersilahkan Catalina untuk masuk.
Catalina menghela nafas panjang kemudian merapikan sedikit pakaiannya sebelum melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan. Sebuah ruangan santai dengan jendela lebar, membuat sesosok pria yang mungkin berusia sekitar enam puluh tahun yang sedang duduk santai di kursinya tertangkap penglihatan.
Catalina membungkukkan badan. "Selamat siang, Tuan Geffrey. Saya datang," ucapnya. Tanpa sadar, tangannya menjadi dingin dan keringat membasahinya. Definisi yang nyata tentang sebuah kegugupan, agaknya seperti ini lah rasanya.
Ketika ingin melarikan diri namun tidak bisa, ketika ingin menghilang namun tidak bisa, ketika ingin bersikap biasa saja namun tetap tidak bisa. Perasaan serba salah dan takut melakukan kesalahan walau tidak melakukan apapun. Perasaan mencekam seolah di depan adalah lorong tanpa ujung, juga perasaan terintimidasi.
Sialnya, Catalina seperti kucing kecil yang menginjak pasir panas.
Ia cemas dan tidak berdaya.
"Apa kau bisa menyeduh teh untukku?" tanya Raphael.
Catalina tersentak. Menyeduh teh? Apa ia salah dengar?
"Apa kau bisa melakukannya?" Raphael mengulangi pertanyaannya.
__ADS_1
"Tentu. Saya bisa melakukannya." Kali ini Catalina mengangguk tanpa ragu. Ia tidak menduga kecemasan, ketakutan dan kegugupan yang sebelumnya ia rasakan hanya sia-sia.
Karena sepertinya Ayah Sehan tidak semenakutkan itu.