Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 14 • RGSA - Catalina Menggagalkan Rencananya ^^


__ADS_3

Catalina tidak bisa tidur dan matanya seperti panda keesokan harinya. Ada lingkaran hitam di bawah matanya dan itu membuat wajahnya tampak mengerikan.


Jika masuk kategori bukan manusia, maka ia lebih pantas disebut zombie.


Padahal sore ini ia harus mengikuti seleksi untuk serial drama remaja yang naskahnya di tulis oleh teman lama Nick. Nick menaruh harapan yang besar padanya dan ia jelas tidak boleh mengecewakan managernya yang berharga itu. Namun masalah Tatiana menghantuinya setiap hari dan itu membuatnya tidak bisa tidur.


Ia bahkan sempat berpikir untuk meminum obat tidur. Namun ia tidak punya di sini. Mungkin Nick sengaja tidak menyediakannya karena takut ia akan meminumnya seperti orang gila dan mati over dosis.


Sungguh menyebalkan.


Jika dulu yang membuatnya pusing setiap hari adalah uang, sekarang bukan lagi tentang uang, tetapi tentang Tatiana. Dan masalah itu jauh lebih serius daripada urusan finansial.


Catalina memaksa tubuhnya untuk duduk lalu beranjak dan pergi ke kamar mandi. Sambil mengikat rambutnya tinggi di belakang, ia keluar dari kamar mandi dan mengganti pakaiannya menjadi setelan olahraga ketat. Terdiri dari legging dan sport bra yang melekat sempurna di tubuhnya.


Yang ia lakukan selanjutnya adalah mengambil tas kecil kemudian melingkarkan nya di pinggangnya, lalu mengisinya dengan ponsel, beberapa lembar uang dan juga botol air minum kecil. Setelah memakai sepatu, topi dan masker, ia keluar dari kondominium dan berlari kecil menyusuri trotoar.


Ia tidak memiliki rute lari khusus karena ini pertama kalinya ia lari pagi setelah beberapa minggu tinggal di sini. Namun karena beberapa hari ini Nick mengajarinya mengemudi, ia hafal jalanan di sekitar sini dan ia yakin tidak akan tersesat.


Dua puluh lima menit kemudian, Catalina beristirahat sebentar. Ia mendudukkan dirinya di halte bus sebelum mengambil botol airnya dan meminum isinya. Meski lelah dengan nafas terengah dan dada naik turun, namun ada kepuasan tersendiri dalam dirinya. Sudah lama ia tidak berlari kecil seperti ini. Dan ia merindukan hal-hal kecil yang untuk saat ini sangat sulit untuk dilakukan.


Di sekitarnya, dua wanita paruh baya tampak sedang menunggu bus. Dengan barang belanjaan di tangan mereka, Catalina berpikir mereka baru saja kembali dari belanja pagi. Ia juga dapat mendengar perbincangan mereka yang sedang membahas acara televisi. Sebuah serial romantis yang pemeran utama prianya adalah Lexus.


Catalina mengulas senyum tipis. Selain tampan, Lexus juga berbakat. Pria itu beberapa kali bekerja dengan Tatiana dan berdasarkan penuturan Nick, tidak ada yang salah dengan mereka. Nick bahkan berpikir mereka cukup cocok menjadi teman dan hubungan mereka sejauh ini pun sangat baik. Hingga kecelakaan itu merenggangkan Tatiana dari dunia hiburan dan menjauhkannya dari teman-temannya.


Setelah cukup lama beristirahat, Catalina melanjutkan lari paginya. Namun tiba-tiba suara teriakan seorang pria tertangkap pendengarannya. Sebuah suara samar yang meminta tolong. Dari suaranya, orang itu jelas kehilangan barang berharganya yang di ambil pencuri.


Ia berniat mengabaikannya, namun tempat ini masih sangat sepi. Jika ia tidak membantu, takutnya tidak ada yang bisa menangkap pencuri itu. Juga, suara itu tidak terlalu jauh darinya.


Belum selesai memikirkan, tidak lama kemudian seorang pria bertopi dengan masker yang menutupi sebagian wajahnya, berlari kencang ke arahnya. Itu membuat hati nuraninya tergelitik. Dan pada akhirnya, keinginan untuk membantu mengalahkan segalanya.


Catalina mempersiapkan diri untuk menangkap pria itu, dan dengan gerakan cepat, ia segera menangkap dan membekuknya begitu mendapat kesempatan.


Catalina mengunci tangannya ke belakang dan membuat pria itu berlutut di tanah di bawah kendalinya.


Mengambil tas yang di curi dari tangan pencuri, Catalina mencibir, "Berani sekali kau mencuri pagi-pagi begini, huh?" Ia benar-benar tidak mengerti lagi. Kemiskinan memang membuat manusia berani melakukan hal-hal tercela. Sama seperti dirinya. Ia juga rela melakukan apapun demi sepotong roti. Namun ia tidak berani melakukan tindakan kriminal. Ia mengerjakan apapun yang bisa menghasilkan uang, bukan mencuri barang milik orang lain.

__ADS_1


"Lepaskan aku, brengsek!" Ia meronta. Namun ia terkejut karena gadis ini begitu kuat. Sebagai seorang pria, ia bahkan tidak sekuat itu.


"Kau sangat ingin bebas rupanya? Lalu kenapa kau mencuri, em?" Catalina bertanya santai. "Kau tahu, harus ada kompensasi yang dibayar atas semua yang kau lakukan. Sederhananya, kau mencuri maka hukuman menantimu."


Beberapa saat kemudian, beberapa orang datang dan membekuk pencuri itu. Catalina membiarkan mereka membawanya pergi untuk selanjutnya di serahkan kepada pihak kepolisian. Kemudian tatapannya memindai sekeliling, mencari seseorang yang kehilangan tas ini.


Melihat dia berlari ke arahnya, Catalina buru-buru menyerahkan tasnya. "Apa ini milikmu?" tanyanya. Pria itu terengah-engah, jelas mengejar pencuri itu. Yang itu berarti, dia pasti pemilik tasnya.


"Ya, Nona," jawabnya sambil menerima tasnya. Tapi ia tidak tahu apakah harus berterima kasih atau tidak. Masalahnya jauh lebih rumit daripada itu. Namun yang jelas, ia dalam masalah karena gagal melakukan misi.


Tidak lama berselang, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan mereka. Catalina menoleh dan terpaksa menatap ke arah mobil mewah yang tiba-tiba berhenti. Ia bertanya-tanya, siapa yang pagi-pagi begini berjalan-jalan dengan mobil semewah itu?


Haish, sungguh membuat orang lain iri.


Kapan ia bisa memiliki satu yang seperti itu?


Ah, bukan, bukan. Pertanyaannya adalah apakah ia bisa memilikinya?


Catalina menangis di dalam hati. Takutnya ia tidak bisa memilikinya sampai mati. Ia mendadak ingat jika saldo di akun banknya hanya tersisa beberapa digit. Jumlah yang terbilang kecil karena pembayaran hasil pemotretan di potong tujuh puluh persen oleh Nick untuk membayar hutang-hutangnya.


Pintu terbuka dan sesosok tampan keluar dari mobil.


Seketika atmosfer di sekitar berubah.


Catalina yang bersiap melanjutkan langkah, ketika melihat sosok itu, rahangnya jatuh seketika. Ia ingin pergi, dan seharusnya ia memang pergi, namun kakinya seperti jeli. Sama sekali tidak bergerak sekuat apa ia mencoba menggerakkannya.


"Tuan." Kenny membungkukkan badan. "Maaf, kami gagal," ujarnya, merasa sangat bersalah. Ia melirik Catalina, namun ia tidak mau mengatakan jika Catalina lah penyebab dari kegagalan mereka. Sebaliknya, ia ingin sedikit melindunginya. Namun sepertinya itu tidak mungkin. Sehan tidak bodoh dan tidak mudah dibodohi. Meski ia tidak memberi tahu, mustahil Sehan tidak tahu. Jadi nasib gadis itu, tergantung bagaimana Tuhan menyelamatkannya.



"Mm. Aku tahu." Sehan mengangguk kecil. Ia membetulkan jasnya dan mengarahkan pandangannya pada gadis ramping dengan pakaian olahraga ketat di depannya. Meski memakai topi dan wajahnya tertutup sebagian, dengan sekali lihat ia langsung tahu siapa gadis sial itu.


Jadi, dia yang sudah menghancurkan rencananya?


Susah payah ia mengatur rencana untuk menangkap si pengkhianat. Namun secara tidak terduga, gadis itu mengacaukan segalanya.

__ADS_1


Bagus. Sangat bagus.


Kebencian tumbuh semakin dalam di hatinya.


Pandangannya terkunci dan tidak berpindah dari Catalina untuk waktu yang lama. Namun saat melihat lekuk tubuhnya yang indah dan keringat yang semakin memperindahnya, jakunnya perlahan turun.


Ia tahu gadis ini memiliki wajah yang lumayan, namun baru kali ini ia melihatnya berpenampilan seperti itu. Biasanya dia bertingkah lemah dan baginya itu sangat menjijikan. Namun gadis di depannya ini jauh dari kata lemah. Selain cantik, kesan lain yang ia dapatkan adalah seksi dan menggoda.


Ya, lagipula gadis lemah mana yang mampu melumpuhkan seorang pencuri hanya dengan beberapa gerakan? Bukankah itu membuktikan jika dia tidak lemah?


Cukup!


Sehan berusaha menghentikan pemikirannya yang mulai mengarah ke hal-hal yang tidak seharusnya.


Sementara Sehan berusaha menghentikan pikirannya dari kegilaan, Catalina jatuh dalam keterkejutan sekali lagi. Pria itu, pria yang kehilangan tas, mengenal Sehan? Tidak. Jauh dari itu, kenapa pria itu memanggilnya Tuan? Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?


Alarm tanda bahaya tiba-tiba berbunyi di kepalanya.


Firasatnya mengatakan ini bukan situasi yang baik. Dan tampaknya, ini memang bukan situasi yang baik untuknya. Ia mengedipkan mata dan mengerang di dalam hati, apa masih ada waktu untuknya melarikan diri?


Tentu saja ada. Jawaban itu datang dari hatinya. Ia memakai masker dan topi, Sehan tidak mungkin mengenalinya. Setidaknya ia belum mengekspos dirinya. Apa itu artinya ia masih aman?


Namun itu hanya harapannya. Kenyataan bahwa Sehan sudah mengenalinya sejak awal tidak di ketahui oleh Catalina. Jika Catalina mengetahuinya, ia tidak akan begitu percaya diri bisa pergi dari sini.


"Ehm," Catalina berdehem untuk menghilangkan kegugupannya. "Permisi, Tuan-tuan, aku tidak ingin mengganggu waktu kalian, jadi silahkan nikmati waktu kalian. Aku pergi." Catalina hendak melangkah pergi namun Sehan menarik lengannya. Jari-jarinya mencengkeramnya erat, tidak membiarkannya melarikan diri.


"Tunggu." Sehan menahan Catalina.


Catalina mengambil napas dalam-dalam dan menatapnya dengan dingin. "Kau sangat kasar."


"Kau tahu apa yang terjadi sekarang?"


Catalina tercengang sesaat sebelum berkata, "Apa?" Ia tidak tahu apa yang salah. Ia hanya merasa sudah mengacaukan sesuatu dan itu memancing amarah pria itu. Tunggu! Tidak! Bukan itu! "Kau mengenalku?"


Sehan mengerutkan kening. "Pertanyaan bodoh seperti ini, apa masih harus ditanyakan?" Sehan tidak tahu kenapa Catalina menanyakan hal yang sudah sangat jelas. Apa mungkin Catalina berpikir ia tidak mengenalinya? Gadis bodoh ini.. benar-benar.

__ADS_1


Catalina menepuk dahi. Celakalah ia. Tamat sudah. Bukan hanya Tatiana, ia pasti akan mati di tangan pria terkutuk ini.


__ADS_2