
Catalina berkata tergesa-gesa. Ia menoleh ke belakang dan tatapannya tidak sengaja bertemu dengan tatapan Sehan. Itu membuat jantungnya berdetak kencang.
Belum pernah ia bertemu dengan orang seperti ini. Dan itu membuatnya takut.
"Apa?" Otak Nick belum terkoneksi.
"Jawab aku, apa aku punya tunangan?" Catalina mengulangi pertanyaannya. Ini benar-benar merepotkan. Mengurusi keluarga angkat Tatiana saja sudah cukup merepotkan. Sekarang justru bertambah dengan munculnya seorang pria yang mengaku sebagai tunangannya.
"Ah, itu, maaf aku lupa mengatakan." Nick menggaruk tengkuknya. "Tatiana punya tunangan. Tapi kau tenang saja, mereka tidak sedekat itu. Jadi, kau tidak perlu khawatir. Kalian tidak akan bertemu dalam waktu dekat." Tatiana bertunangan dengan seorang pria hanya untuk memuluskan bisnis orang tua angkatnya. Pria seperti apa dia, ia juga tidak pernah tahu. Karena Tatiana tampaknya tidak dekat dengan pria itu. Ia bahkan berpikir hubungan mereka lebih buruk dari musuh. Maksudnya, berdasarkan penuturan Tatiana, pria itu sangat membencinya.
Catalina tercengang. Tidak akan bertemu dalam waktu dekat? Omong kosong macam apa ini? "Bajingan!" Catalina memaki. Ia mencengkeram ponselnya erat sampai nyaris hancur. Rasanya ia ingin merobek mulut sialan Nick yang hanya bisa memuntahkan kata-kata sampah. Siapa bilang mereka tidak sedekat itu dan tidak akan bertemu dalam waktu dekat? "Sekarang dia ada bersamaku, Nick."
Di ujung panggilan, Nick menyemburkan tehnya. "Bersamamu? Ba, bagaimana mungkin?" Kali ini ia tergagap.
"Apanya yang 'bagaimana mungkin'? Dasar tidak berguna." Dengan dua kalimat itu, Catalina mengakhiri panggilan. Ia merasa memanggil Nick tidak ada gunanya. Namun intinya, Tatiana tidak dekat dengan pria itu. Bahkan bukan tidak mungkin pria itu membenci Tatiana. Dari tatapannya, ia dapat menangkap semua kebencian itu.
Catalina memutar bola matanya sebelum membalikan badan dan berjalan menuju pria yang sedang duduk di sofa dengan bukunya di tangannya.
Catalina menangis di dalam hati. Bukunya yang berharga.
Ia dengan hati-hati mendekatinya, berniat untuk mengambil kembali bukunya di tangannya dan tasnya di sofa dan kemudian lari jauh dari pria yang mencurigakan ini.
Nick akan segera tiba. Seharusnya.
Catalina bahkan mempertimbangkan untuk meninggalkan bukunya yang malang dan segera pergi, tetapi tatapan pria itu seperti menelanjanginya. Seolah tahu apa yang ia pikirkan, Sehan buka suara, "Jangan mencoba pergi sebelum menjawab pertanyaanku." Dengan tidak perhitungan terhadap pengabaian yang Catalina lakukan sebelumnya saja sudah untung, masih berharap kabur darinya? Dalam mimpinya.
Catalina mengalihkan pandangannya, tidak berani menatap pria itu. Ia mengusap tengkuknya. "Siapa yang ingin pergi? Aku tidak." Catalina tidak tahu bagaimana Tatiana bisa memiliki tunangan yang tidak berperasaan ini. Dia tidak seperti tunangan. Daripada tunangan, pria itu seperti orang yang akan melenyapkan nyawanya demi pertunangan mereka berakhir.
Tunggu!
Melenyapkan nyawanya?
Catalina memikirkan sesuatu dan kesimpulannya berhenti pada kemungkinan pria ini berhubungan dengan kecelakaan Tatiana. Bukan tidak mungkin pria yang memiliki kekuasaan ini menaruh kebencian kemudian menghentikan pertunangan dengan membunuhnya. Juga..
Catalina memberanikan diri untuk menatap Sehan. Selain wajahnya yang rupawan, tubuh pria itu tegak dan aura yang terpancar darinya menjeritkan kekuasaan. Pria ini, adalah satu dari dua kemungkinan pelaku di balik kecelakaan itu.
Pria ini, patut di curigai.
Sehan menutup bukunya lalu tatapannya jatuh pada sosok ramping yang berdiri di depannya. Mengenakan jeans dan kemeja polos, tubuhnya melekuk dengan sempurna. Rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai, mempercantik wajahnya yang sudah cantik. Selain aura dan pembawaannya yang berbeda, gadis ini tidak tampak seperti baru bangun dari koma.
__ADS_1
Meski tiga minggu sudah berlalu sejak bangunnya gadis itu, Sehan tidak menyangka orang yang bangun dari koma, bisa berbeda seratus delapan puluh derajat dengan karakter sebelumnya, dengan pembawaan sebelumnya.
Apa mungkin tidur panjang itu mengubahnya?
Sehan menaikan sebelah alisnya. "Jadi kau ingin tinggal di sini?" tanyanya. "Baiklah, kau bisa tinggal. Duduk dan jangan merusak pemandangan." Ia memberikan tatapan tajam. Dan itu sangat mengintimidasi.
Jika itu adalah Tatiana, mungkin dia sudah menangis di tatap seperti itu. Namun ia adalah Catalina. Ia tidak mudah terintimidasi meski sejujurnya tangannya sudah basah karena keringat.
Mendengar apa yang Sehan katakan, Catalina kehabisan kata-katanya. "Apa kau bilang? Merusak pemandangan? Aku?" Ia menunjuk dirinya sendiri. "Kau pikir aku merusak pemandangan, begitu? Apa kau tidak lihat betapa cantiknya aku? Haish.. sial." Pada akhirnya Catalina tidak bisa mengatakan apapun dan memilih untuk mendudukkan dirinya dengan patuh. Ia tahu tidak bisa menang melawan pria ini.
Pertama, pria itu sangat kaya. Jelas. Lihat saja penampilan dan pembawaannya. Kedua, ia tidak bisa membuat masalah dimana ia yakin tidak bisa menang. Melihat bagaimana Sehan mengintimidasi, kekuatan pria itu tidak mungkin bisa dikalahkan oleh aktris kecil seperti dirinya.
Daripada melawan sesuatu yang jelas-jelas akan kalah, ia memilih untuk mengikuti kemana arus sungai membawanya. Di hotel yang mana ada banyak kamera pengawas, tidak mungkin pria ini terang-terangan membunuhnya. Setidaknya, ia aman untuk saat ini.
"Bagus," ucap Sehan. "Sekarang jawab, kau bisa membaca buku ini?"
"Ehm," Catalina berdehem. "Begini, aku bisa membacanya atau tidak, bukan urusanmu." Ia berbicara seramah mungkin, menghindari menyinggung pria itu.
"Bukan urusanku? Kau yakin?"
Eh? Catalina tercengang. "Bukankah seharusnya begitu?" Nick bilang, hubungan mereka tidak dekat. Dan ya, pria itu membencinya. Tidak. Pria itu membenci Tatiana. Karena dari tatapan yang Sehan berikan padanya saat ini, sudah berubah dari kebencian menjadi permusuhan.
"Itu adalah urusanku."
Catalina membisu sesaat sebelum bertanya, "Kenapa?"
"Aku tunanganmu."
"Hanya karena kami bertunangan, bukan berarti kau bisa memaksaku untuk menjawab sesuatu, kan?" Catalina terkekeh. "Itu adalah lelucon terburuk yang pernah ku dengar." Ia membuka ponselnya lalu mengetik sesuatu tentang 'tunangan Tatiana'. Namun tidak ada informasi apapun tentang itu. Yang itu berarti, pertunangan itu, hanya mereka yang tahu.
"Itu terdengar cukup masuk akal," sahut Sehan. Ini adalah interaksi pertamanya dengan Tatiana sejak mereka bertunangan setahun yang lalu. Ia tidak menyukai Tatiana karena baginya gadis itu terlalu lemah dan manja. Gadis itu selalu malu-malu saat melihatnya meski tatapan matanya tidak berbohong jika dia menyukainya.
Ia baru selesai rapat dengan seorang petinggi dan sedang menunggu asistennya ketika melihat gadis itu sedang membaca buku di lobi. Ia berpikir bahwa gadis itu tampak familiar. Kemudian ia menyadari bahwa dia adalah Tatiana Demaire, gadis yang ia perintahkan untuk di awasi.
Ia tidak ingin menemuinya, namun saat melihat apa yang dia lakukan, ia sedikit penasaran.
Laporan tentangnya menyebutkan bagaimana dia bertindak sangat berbeda dengan bagaimana dia sebelum kecelakaan. Tetapi baru sekarang Sehan mengerti ketika ia melihatnya dengan matanya sendiri. Namun, ia tidak percaya bahwa seseorang bisa berubah begitu saja. Gadis sialan itu pasti sedang bermain tarik ulur dengannya.
Catalina menghela nafas lega. Baguslah, setidaknya pria ini tidak seburuk yang ia pikirkan. Pria ini masih bisa diajak bicara baik-baik dan tidak seperti bagaimana novel menggambarkan karakter utama pria yang kejam, tajam dan mengintimidasi.
__ADS_1
Meski Catalina tidak yakin apakah Sehan karakter utama pria atau bukan, namun ia yakin hubungan Tatiana dan Sehan tidak semanis hubungan perjodohan yang sering ia baca. Melihat bagaimana sikap Sehan, mustahil pria seperti itu bisa mencintai dan tidak membunuh Tatiana saja sudah untung.
Jadi, haruskah ia mensyukurinya?
Bersyukur, apa yang harus disyukuri? Bertemu pria ini adalah bencana.
Sehan mengambil sesuatu dari dalam tasnya lalu meletakkan sebuah dokumen di meja. "Mari kita lihat apakah kau berbohong atau tidak," ujarnya. "Baca isinya dan ceritakan padaku. Mungkin aku akan percaya kau bisa membaca buku bahasa Rusia."
Catalina berniat mengabaikannya. Namun ia paling benci di remehkan. Meski bahasa Rusianya tidak bisa dikatakan sangat baik, namun itu benar-benar tidak buruk. Dan ia sangat marah jika seseorang mengatakan ia berbohong.
Catalina mengambil dokumennya dengan marah dan dengan enggan mulai membacanya. Lima menit kemudian ia menaikkan wajahnya. Jadi pria ini Sehan dari Geffrey Group?
Ditatap tajam oleh Catalina, Sehan berkata, "Kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Kau akan bekerja sama dengan Mosinzhprekt?" Alih-alih menjawab pertanyaan Sehan, ia justru menanyakan sesuatu.
Sehan terkejut. Mosinzhprekt adalah perusahaan Rusia yang menyiapkan proposal bisnis, ingin bermitra dengan perusahaannya untuk memasuki pasar Britania. Proposal bisnis ditulis sepenuhnya dalam bahasa Rusia, jadi bagaimana gadis ini tahu?
Sehan bahkan tidak bisa membacanya dan harus membaca terjemahan bahasa Inggris. Bisakah gadis itu benar-benar membaca bahasa Rusia?
Diabaikan, Catalina berdehem. "Ehm. Aku rasa bukan ide yang baik untuk bermitra dengan Mosinzhprekt. Jika kau benar-benar tertarik untuk bermitra dengan perusahaan Rusia, ada banyak pilihan lain yang lebih baik. Aliran dana mereka tidak mengalir ke arah yang semestinya. Kabarnya, perusahaan mereka mendekati kebangkrutan dan membutuhkan suntikan dana untuk menutupi kerugian. Jika kau bekerja sama dengan mereka, takutnya kau tidak bisa mendapatkan hasil seperti yang kau inginkan." Catalina menutup dokumennya dan menunggu jawaban dari Sehan.
Sehan terkejut sekali lagi. "Darimana kau tahu?"
"Aku membacanya di internet," jawabnya. Catalina membaca berita-berita Rusia di internet belakangan ini. Karena ada komputer dan Wifi, ia suka membuka apapun yang bisa ia lihat karena tidak perlu membayar seperti saat ia menggunakan komputer di warnet. Tapi, ya, ia tidak akan mengatakan itu kepada Sehan.
Sehan menatap Catalina. Keningnya berkerut.
Melihat tatapan aneh yang Sehan layangkan, Catalina mengusap tengkuknya. Apa ia terlalu bersemangat dan membuat Sehan curiga?
Tubuhnya menegang saat menyadari kesalahannya. Betapa cerobohnya ia.
Sial.
Bagaimana ini?
Apa yang harus dia lakukan sekarang?
Belum tahu bagaimana cara mengatasi ini atau keluar dari masalah ini, Nick muncul dan menyelamatkannya.
__ADS_1
"Tatiana, ayo kita pergi!"