Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 39 • RGSA - Mansion Pria Itu


__ADS_3

Sepanjang perjalanan di isi dengan keheningan.


Keduanya dengan pikiran masing-masing. Memikirkan masalah mereka sendiri. Pikiran mereka berada di ujung yang sama sekali berbeda. Bahkan mereka tidak berada di jalur yang sama.


Catalina memikirkan Tatiana. Sedangkan Sehan memikirkan Catalina. Catalina mengkhawatirkan Tatiana. Sementara Sehan mengkhawatirkan Catalina. Mereka berdua saling mengejar tanpa tahu kekhawatiran atau kegelisahan satu sama lain.


Padahal mereka hanya perlu berbicara, namun mereka tidak melakukannya. Mereka memilih bungkam dan memilih solusi atas permasalahan dengan cara mereka sendiri.


Catalina tenggelam dalam pikirannya.


Sudah sangat lama ia merasakan rasa bersalah di hatinya. Sejak pertama kali Tatiana di adopsi. Sebagai kakak, meskipun tidak tahu siapa yang lebih tua atau yang lebih muda, karena ia jauh lebih dewasa dan berpandangan luas, ia selalu menganggap dirinya sebagai kakak, dan hal pertama yang ingin ia lakukan adalah melindungi Tatiana, kemudian memberikan kehidupan yang baik kepada gadis itu.


Seperti dulu, seperti saat mereka masih anak-anak.


Meski mereka tinggal di panti asuhan, ia selalu berhasil menjaga dan melindunginya. Ia benar-benar bisa memenuhi tanggung jawab seorang kakak dan Tatiana selalu mengandalkannya dalam berbagai hal, dalam melakukan sesuatu.


Gadis kecil itu selalu bahagia dan ceria. Dan ia pikir kebahagiaan itu akan berlangsung lama atau bertahan selamanya. Namun ternyata ia keliru.


Ia gagal dalam hal itu.


Tidak hanya gagal, namun juga hancur.


Hidup Tatiana, hidupnya, semua habis tak tersisa.


Segala yang Tatiana lakukan sekarang, dosa-dosa itu, semua kesalahan, ia turut andil dalam hal itu. Ketidakmampuannya, ketidakcakapannya, kebodohannya, semua terakumulasi dan menyisakan kepedihan serta rasa sakit juga penyesalan yang tidak ada artinya.


Andai ia bisa menjaganya, andai ia bisa melindunginya, akankah semua itu tidak terjadi? Akankah Tatiana masih menjadi gadis kecil yang ceria dan bahagia?


Sayangnya, tidak ada ruang untuk penyesalan.


Penyesalan hanyalah beban. Hidup konstan bergerak maju. Tidak ada gunanya menyesali hal-hal di masa lalu karena ia percaya seseorang selalu bisa menggunakan masa kini dan masa depan untuk memperbaikinya.


Jadi yang harus ia lakukan sekarang adalah melakukan yang terbaik untuk memperbaikinya.


Sehan melirik gadis yang duduk di sampingnya dan melihat dia tenggelam dalam pikirannya. Apa yang dia pikirkan, ia sedikit penasaran. Namun ia tidak bisa menanyakan sesuatu yang jelas Catalina tidak ingin menyebutkan.

__ADS_1


Ia sudah meminta Kenny untuk menyelidiki.


Dan hasilnya sesuai dugaan, gadis itu datang ke keluarga Atkinson dan kembali dalam keadaan seperti ini. Apa yang terjadi padanya, sudah sangat jelas. Mereka mungkin meminta Catalina melakukan sesuatu namun gadis itu menolaknya.


Tidak hanya itu, Trent Chatsfield, pemilik perusahaan wine, juga terluka di kepala dan wajahnya. Siapa pelakunya, mungkin Catalina yang melukainya. Tidak. Catalina jelas melakukannya.


Gadis kecil itu tidak hanya berani, namun juga kuat. Lebih kuat dari yang dipikirkan, lebih kuat dari yang bisa dibayangkan. Hanya menghajar Trent, bukan masalah besar dan Catalina lebih dari mampu untuk melakukannya. Dan ia yakin gadis itu benar-benar tidak akan mengecewakan jika sudah bertekad.


Tidak seperti saudara kembarnya yang bodoh dan tidak berguna, Catalina mandiri, tegas, dan sangat bisa di andalkan. Dan pilihan yang Catalina buat untuk berbalik melawan mereka cukup membuatnya puas.


Setidaknya gadis itu tidak buta dan bisa memilih apa yang baik untuknya, tidak mudah di takuti, arogan dan terpenting tidak mudah di ancam. Bahkan jika harus mempertaruhkan keselamatannya sendiri, ia cukup yakin Catalina tidak akan memilih jalan seperti itu. Lebih baik mati daripada memasuki dunia yang hanya akan menghancurkan diri sendiri.


Sehan menatap ke luar jendela.


Gadis itu sangat cantik. Dia juga memiliki sosok yang sempurna. Namun dia telah berada di situasi yang sulit selama ini. Sepertinya dia benar-benar tidak memiliki waktu yang mudah.


Namun ia, Sehan, tidak memiliki banyak simpati. Setiap orang memiliki nasib yang berbeda. Jika dia ingin menyalahkan seseorang, dia harus menyalahkan nasib buruknya sendiri.


Tidak berselang lama, pengemudi menghentikan mobilnya.


Catalina segera menata pikirannya dan bersiap turun. Namun saat sepintas melihat ke luar jendela, apa yang memenuhi garis pandangnya adalah sesuatu yang lain. Ia menelan kembali ucapan terima kasih yang sudah disiapkan untuk ia lontarkan kepada pria yang sudah berbaik hati memberikan tumpangan.


Ia menoleh ke pria di sampingnya. "Dimana ini?" tanyanya. Ini bukan kompleks kondominiumnya. Karena di daerah ia tinggal, hanya ada bangunan-bangunan tinggi di sekitarnya. Tidak ada kompleks rumah, apalagi rumah besar seperti yang ada di luar sana. Dimana mereka sekarang, adalah yang ingin ia tahu.


Namun jika tebakannya tidak salah, seharusnya ini adalah rumah pria itu. Selain rumahnya besar dan luas, bangunannya mewah dan megah. Daripada rumah, bangunan itu lebih pantas di sebut istana. Tapi apa yang dia lakukan membawanya ke sini? Apa maksudnya? Apa maunya?


Sehan mengulurkan tangan dan mengusap puncak kepalanya. "Terkadang otak kecilmu benar-benar tidak berguna," cibirnya.


Catalina cemberut. Ia hanya bertanya. Jika Sehan tidak mau menjawab ya sudah. Apa harus menghina dirinya seperti itu? Benar-benar pria yang menyebalkan. Namun ia malas untuk berdebat. Ia lelah. Ia perlu ruang untuk dirinya sendiri dan ia ingin sendirian sepanjang malam dengan ditemani kegelapan.


Sehan tersenyum secara alami. Catalina yang pendiam dan penurut, bukan yang ia harapkan. Meski ia menyukai gadis penurut, namun ia lebih menyukai perasaan saat dia bermain kasar dan keras dengannya. Jika dia bertingkah seperti ini, justru terasa aneh, seperti bukan dirinya yang biasanya.


"Turun!" Sehan sudah membuka kaitan sabuk pengamannya dan membantu Catalina dengan sabuk pengamannya juga.


Catalina menggelengkan kepala, tidak mau turun. Selain kondominiumnya, ia sudah memutuskan untuk tidak pergi kemanapun.

__ADS_1


"Kau ingin turun sendiri atau kau ingin aku menjemput dan menurunkanmu secara pribadi?" Sehan tidak keberatan jika harus menggendong Catalina. Ia pernah melakukan yang lebih dari itu. Jika harus melakukan yang lain, ia sama sekali tidak keberatan.


Lagipula ia sangat yakin Catalina gadis yang masih memiliki hati, dan setelah berinteraksi dengannya, ia percaya pada kenyataan yang ia alami sendiri. Ini adalah hal yang paling penting. Adapun apakah dia bersedia atau tidak, maaf, ini bukan pertimbangannya. Selain setuju, sama sekali tidak ada cara lain untuk pergi.


Melihat tatapan panas dan berapi-api pria itu, Catalina memalingkan kepalanya, ia tidak akan tunduk pada pria itu. Jika ia terus mempertahankan sikapnya yang seperti ini, mungkin Sehan bersedia mengantarnya pulang. Bukan Sehan, namun supirnya. Jika Sehan masih memaksa dan ia tidak mau, bisakah pria ini menggendongnya?


Tebakan Catalina benar. Ia baru saja selesai berpikir ketika tubuhnya tiba-tiba terangkat dan melayang di udara, membuatnya sangat ketakutan sehingga ia berteriak kaget. Ia benar-benar dibawa oleh pria ini?


"Apa kau kecanduan bermain keras?" Sehan berbisik di telinga Catalina. "Jika kau sangat ingin aku gendong, kau tidak perlu bertingkah seperti ini. Kau hanya perlu mengatakannya dan aku akan melakukannya." Sehan mengangkat Catalina dan menggendongnya tanpa menunggu persetujuannya.


Catalina tidak menyangka pria ini benar-benar menggendongnya. "Lepaskan aku!" Ia meronta. Melihat rumah besar di depannya, ia sudah ketakutan. Ia bukan orang bodoh. Kenapa Sehan membawanya, ia tahu dengan jelas.


"Stt, diam. Jika kau bergerak lagi, sesuatu yang lebih buruk bisa terjadi," bisik Sehan di telinga Catalina dengan cara menggoda.


Catalina menutup mulutnya dan tidak berani bergerak lagi. Pria ini memang mesum. Dan ia cukup yakin pria ini akan merealisasikan apa yang dia katakan tidak peduli apa.


Sehan hanya sedikit menggodanya, namun ia tidak menduga kata-kata seperti itu bisa membuat gadis ini menjadi diam dan tenang. Ia tersenyum puas.


***


Melihat Sehan datang dengan seorang gadis dalam gendongannya, kepala pelayan tercengang. Ia adalah pria tua berusia lima puluh lima tahun. Saat melihat pria muda yang selama ini ia layani membawa pulang seorang gadis untuk pertama kalinya, ia tidak bisa menahan rasa kekagumannya.


Perasaan yang sama juga dirasakan oleh para pelayan yang lain. Mereka penasaran dengan gadis yang berhasil mencuri hati bos yang terkenal dingin dan kejam. Mereka ingin tahu seperti apa dia. Apa dia secantik dan semenarik itu?


"Tuan," Harrison membungkukkan badan. Meski rambutnya memutih karena usia, namun ia sangat cekatan sebagai kepala pelayan. Itu sebabnya Sehan mempercayainya untuk mengelola mansion ini.


"Siapkan kamar," ucap Sehan sembari menurunkan Catalina.


"Baik." Harrison mengangguk.


"Juga, siapkan makan malam dan obat untuk lecet," Sehan menambahkan.


"Segera," Harrison pamit undur diri dan tidak lupa melirik gadis yang berdiri di samping Sehan. Dengan satu lirikan, ia tahu dia gadis yang spesial. Jika tidak, dia tidak mungkin mampu menarik perhatian serta minat tuan muda yang dingin dan sulit didekati.


Setelah kepergian Harrison, Catalina memutar bola matanya. Mendengarkan percakapan Sehan dengan orang tadi, seperti yang ia duga. Sehan membawanya pulang ke rumahnya.

__ADS_1


Sial.


Niatnya adalah untuk menjauhi pria itu. Sekarang, kenapa semua menjadi seperti ini?


__ADS_2