
Waktu berlalu dengan cepat.
Tanpa terasa dua jam telah berlalu sejak pertama kali Catalina datang ke sini. Jika dihitung dari pertama kali ia dijemput di mansion, maka sudah hampir tiga jam.
Orang tua dan anak muda itu berjalan bersisian keluar dari vila. Pembicaraan mereka terdengar sangat menyenangkan. Sesekali mereka tertawa dan keakraban terbentuk dengan sangat cepat.
Catalina tidak tahu sejak kapan hubungannya dengan Raphael menjadi sebaik ini. Namun pria tua itu memiliki pemikiran yang bagus dan juga bijaksana. Dan ia merasa sudah bertemu dengan orang yang tepat.
Namun tetap saja ia harus pergi. Ini sudah sangat lama. Ia takut Lexus akan kembali dan bertemu dengannya di sini. Ia tidak siap bertemu dengannya. Sangat tidak siap.
Catalina membungkukkan badan. "Terima kasih, Tuan Geffrey. Saya sangat senang bisa bertemu Anda hari ini," ucapnya penuh hormat. Di antar oleh Raphael Geffrey, walau hanya sampai halaman, sudah merupakan suatu kehormatan yang bisa ia pamerkan di depan Sehan.
Ia ingin berkata, 'lihat, aku kembali dalam keadaan utuh, bukan? Sudah ku katakan semua akan baik-baik saja. Dan kau tidak mau dengar, ish ish ish', ia akan mengatakan kata-kata itu dengan sombong di depan Sehan. Tetapi, tentu saja ia akan mengatakannya lain kali. Karena setelah ini ia akan meminta pengemudi untuk mengantarnya kembali ke kondominium.
"Aku juga senang kau datang. Permainan caturmu sangat hebat. Aku berharap kau bisa datang lagi lain waktu dan jika saat itu tiba, aku akan mengalahkanmu," Raphael berkata dengan percaya diri. Cukup sulit menemukan teman bermain catur yang seimbang. Ada, namun mereka adalah teman sebayanya. Bukan anak muda seperti Catalina.
Putra sulungnya terlalu sibuk dengan pekerjaannya, tidak punya waktu untuk menemaninya bermain. Putra bungsunya juga sama saja, dia sama sibuknya. Sedangkan istrinya, dia wanita yang lebih memilih berbelanja daripada bermain catur. Itu sebabnya papan caturnya sudah menganggur sangat lama. Sampai hari ini, akhirnya ia bisa membuka kembali papan caturnya dan memainkannya sampai puas.
Catalina tersenyum kecil. "Kalau begitu, saya tidak sabar melihat kemampuan Anda," ucapnya. "Jika saat itu tiba, harus kah kita bertaruh menggunakan uang?" imbuhnya. Bagi Catalina, tidak sulit menyenangkan atau menangkap hati orang tua.
Ketika masih di Valdes, ia terbiasa melihat beberapa orang tua bermain catur di pinggir jalan. Ia memperhatikan mereka dan pada suatu hari ia mencoba memainkan nya. Butuh waktu lama hingga akhirnya ia dapat menguasai semua tekniknya dan mengalahkan lawan.
Setelah merasa cukup berkemampuan, ia pergi ke tempat khusus dimana orang-orang bisa memainkan catur dan memilih lawan lalu menggunakan uang sebagai taruhan.
Dari sana pula ia mendapat uang tambahan selain dari bekerja paruh waktu. Rasanya sangat menyenangkan dan entah mengapa ia merindukan masa-masa itu.
Valdes tempat yang paling ia benci namun juga menjadi tempat yang paling ia rindukan.
Lucu, bukan?
Ia pernah berkata tidak akan pernah menyesal meninggalkan tempat sialan itu, namun baru beberapa bulan, ia sudah merindukannya. Betapa naifnya.
"Tentu saja. Kita akan menggunakan uang lain kali," jawab Raphael.
Catalina tidak bisa menahan senyum. Sungguh menyenangkan memiliki orang tua seperti ini. Jika ia memilikinya, mungkin ia akan menjaganya seumur hidupnya. Namun sayangnya, ia tidak memilikinya, dan mungkin.. tidak akan pernah.
__ADS_1
Catalina membungkukkan badan sekali lagi sebelum masuk ke dalam mobil. Dan ketika mobil yang membawanya meninggalkan vila, sebuah mobil dengan model yang berbeda namun memiliki warna yang sama, masuk ke area vila.
Melihat Raphael masih berdiri di halaman, Lexus yang melihat ini, mengerutkan kening. Ia mengikuti arah pandang Raphael dan melihat sebuah mobil perlahan menjauh.
Lexus menoleh, menatap ibunya. "Mom, apa yang Daddy lakukan di sana?" tanyanya. Ia baru saja menemani ibunya berbelanja. Dan mereka menghabiskan beberapa jam untuk berputar-putar, pergi dari satu toko ke toko yang lain, dan sisanya habis di perjalanan.
Jika tidak mengingat wanita ini adalah ibunya, demi apa pun, ia tidak sudi membuang-buang waktunya yang berharga untuk hal tidak penting seperti ini.
Namun mengingat bagaimana dia melahirkan, merawat dan membesarkannya dengan baik, tidak apa-apa bahkan jika ia menghabiskan satu minggu penuh untuk menemaninya.
Bagaimanapun ia adalah anak yang tampan dan berbakti.
Sarah mengangkat baru. "Mana ku tahu," jawabnya. "Kenapa kau tidak bertanya padanya?" Setelah mengatakan itu, ia turun dari mobil. Ia sedang dalam suasana hati yang buruk ketika melihat suaminya tampak begitu bahagia.
Kenapa suaminya seperti itu, tentu saja karena calon menantu kesayangannya datang. Itu pula alasan yang membuatnya tidak senang dan alasan kenapa ia meminta Lexus untuk menemaninya berbelanja. Selain tidak menyukai gadis itu, ia juga tidak sudi berurusan dengannya.
Mendengar jawaban ketus ibunya, Lexus terbatuk kecil. Ia tidak tahu apa yang salah, wanita itu tiba-tiba kembali pada mode menggigit. Benar-benar wanita sejati.
Lexus menggerutu di dalam hati sebelum mengikuti ibunya turun dari mobil. Berjalan beberapa langkah, ia berhenti di depan Raphael. "Dadd, apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya.
Melihat bagaimana ayahnya menghibur ibunya, juga bagaimana ayahnya meninggalkannya, Lexus menghela nafas panjang.
Kemarin ia diseret dari perusahaan kakaknya, tadi ia di gertak oleh ibunya padahal ia sudah menyisihkan waktu untuk menemaninya berbelanja, dan sekarang ayahnya mengabaikannya.
Setelah memikirkannya baik-baik, ia yakin sepuluh ribu persen ia bukan anak kandung orang tuanya. Ia jelas anak adopsi. Bahkan jika semua orang mengatakan ia anak kandung, ia tidak akan mempercayainya.
***
Perjalanan kembali juga diisi dengan keheningan.
Namun setidaknya hasil yang Catalina dapatkan sangat memuaskan. Selain rasa penasarannya terpenuhi, ia juga mengetahui kenyataan yang selama ini mengganggu dipikirannya.
Satu demi satu rahasia, perlahan mulai menunjukkan titik terang.
Dan sejauh ini, Catalina cukup puas dengan hasilnya.
__ADS_1
Saat mendengar ponselnya berdering, Catalina segera mengambil ponselnya di dalam tasnya. Melihat nama yang tertera, ia segera menerimanya. "Halo."
Di balik panggilan, Sehan menghela nafas lega saat mendengar suara Catalina. Ia sangat mengkhawatirkan gadis itu dan berniat untuk pergi menyusulnya. Namun kejadian tak terduga terjadi. Kenny tiba-tiba menghubunginya dan berkata ada masalah serius di perusahaan.
Meski tidak mau, pada akhirnya Sehan pergi ke perusahaan dan menyelesaikan urusannya. Saat ini ia baru saja keluar dari ruang rapat dan langsung menghubungi Catalina. Ia berpikir untuk menyusulnya, namun ini sudah sangat lama. Kalau pun pergi ke vila, gadis itu mungkin sudah pulang. Jadi ia memutuskan untuk meneleponnya.
Mendengar helaan nafas panjang Sehan, Catalina mengerutkan kening. "Kenapa kau menghela nafas? Apa kau baik-baik saja?"
"Aku tidak baik-baik saja. Aku sangat mengkhawatirkan mu, tahu!" jawabnya, sedikit lebih santai.
"Kau khawatir ayahmu akan mempersulit ku?" Catalina terkekeh. "Ayolah, sudah ku katakan aku baik-baik saja. Kenapa kau tidak mempercayaiku? Kalau pun tidak mempercayai ku, seharusnya kau mempercayai ayahmu, bukan?" Raphael sangat baik kepadanya, bagaimana mungkin dia menyakitinya?
"Aku hanya mempercayai apa yang ku pikirkan. Tidak peduli apa, aku..."
Ketika Sehan sedang berbicara, Catalina menjauhkan ponselnya dari telinganya dan berkata dengan suara rendah, "Bisakah kau mengantar ku ke kondominium?" tanyanya kepada pengemudi sambil menutup speaker di ponselnya.
"Tentu saja, Nona," sahut pengemudi.
Catalina mengangguk. Baik-baik saja maka.
Setelah itu Catalina kembali mendekatkan ponselnya ke telinganya dan mendengarkan ucapan Sehan. Namun bukan urutan dari perkataan tadi, melainkan berubah menjadi sebuah pertanyaan.
"Kau tidak pulang ke mansion?" tanya Sehan. Apa yang Catalina katakan kepada pengemudi, mustahil ia tidak mendengarnya. Catalina jelas meminta pengemudi untuk mengantarnya ke kondominium bukan ke mansion.
Catalina tercengang. Ia sudah menutup speakernya, kan? Dan ia juga sudah menggunakan suara paling rendah yang bisa ia buat. Namun bagaimana mungkin Sehan bisa mendengarnya? Apakah dia memata-matainya?
Tahu apa yang sedang Catalina pikirkan, Sehan berkata, "Berhenti berpikir yang tidak-tidak. Aku bisa mendengarnya bahkan jika kau menutup speakernya."
Tertangkap basah, Catalina berdehem, "Ehm, begini, aku harus kembali ke lokasi syuting besok. Kau tahu, aku harus mempersiapkan diri dengan baik."
"Apakah menjauhiku juga bagian dari persiapan syuting?"
Catalina terperanjat. Ucapan itu, bukankah terlalu menjebak?
Sial.
__ADS_1
Catalina lupa jika Sehan adalah iblis. Manusia biasa, mana mungkin bisa menang berdebat melawannya?