
Club malam.
"Sehan bilang, dia akan segera tiba," celetuk Andreas begitu menerima pesan teks dari Sehan. Ia menyimpan ponselnya dan menoleh menatap kedua temannya. "Belakangan ini dia selalu sibuk dan jarang berkumpul dengan kita, apa yang salah dengannya?"
"Apa kau bercanda? Kami baru saja berkumpul di rumahnya beberapa hari yang lalu. Kau tidak ingat Ethan meninggalkan mobilnya di sana?" Daniel menuang minuman dengan santai sambil membalas perkataan Andreas dan tidak keberatan untuk mengingatkan pria itu tentang malam saat mereka berkumpul.
"Aku ingat. Mana mungkin aku lupa?"
"Kalau begitu, kenapa masih bertanya? Kenapa kau menyimpulkan ada yang salah dengan Sehan? Yang salah bukan Sehan, tapi kau!" Daniel memperjelas celaannya.
Andreas memutar bola matanya dan hendak menjawab namun gagal karena perkataan Ethan selanjutnya sangat-sangat mengejutkan.
"Jangan terlalu usil dengan urusan orang lain," kali ini Ethan buka suara. Suaranya santai dan tenang seperti biasanya. "Jangan mengganggu orang yang sedang jatuh cinta," imbuhnya. Ia tampak puas setelah mengatakan itu.
Rahasia yang di simpan erat, tidak mungkin bisa disembunyikan selamanya. Cepat atau lambat, mereka semua akan tahu. Lagipula Sehan juga tampak tidak keberatan jika orang lain mengetahui tentang hubungannya. Dia terlihat santai seolah siap rahasia itu menjadi konsumsi publik.
"Apa?" Daniel dan Andreas tersentak dan berkata secara serempak. Daniel yang sedang minum bahkan menyemburkan sedikit minuman di mulutnya. Tidak percaya dengan apa yang didengar, mereka berdua saling memandang sebelum kembali berkata, "Jatuh cinta? Sehan?" Pandangan mereka beralih secara kompak menatap Ethan, meminta jawaban.
Ethan mengangguk. "Uh huh."
"Benarkah?" Andreas adalah orang pertama yang bangun dari keterkejutannya. Meski sudah mendapat konfirmasi dari Ethan yang jelas terbukti kebenarannya, ia masih saja tidak percaya.
"Kau tidak percaya?" Ethan menimpali dengan santai.
"Tidak. Bukan begitu."
"Jadi, kau pikir aku berbohong?"
"Tidak. Sudah ku bilang bukan begitu," sahut Andreas lagi. "Aku hanya sedikit terkejut. Maksudku, kau tahu bagaimana Sehan? Orang seperti itu, bagaimana mungkin dia jatuh cinta?" Sehan jatuh cinta sama seperti tanggal tiga puluh di bulan februari, itu tidak mungkin. Sama sekali tidak mungkin.
"Ada apa denganmu? Lihat betapa piciknya dirimu? Perasaan manusia, mana tahu? Jangan menyimpulkan seenaknya sendiri." Daniel lebih bijaksana menanggapi. Ekspresi dan tingkah lakunya juga jauh lebih tenang seolah sudah berdamai dengan keadaan dan menerima dengan lapang dada tentang fakta yang tadi hampir merontokkan jantungnya.
__ADS_1
Andreas linglung selama beberapa saat sebelum merespons. "Ya, kau benar. Perasaan orang, tidak ada yang tahu." Ia menoleh, menatap Ethan. "Jadi katakan, dengan siapa dia jatuh cinta? Gadis mana yang dia cintai?" Ia setengah memaksa. Mendesak agar Ethan segera menjawab dan tidak menutupi apapun.
"Kau mengenal gadis itu. Kalian berdua dan aku, kami semua mengenalnya," jawab Ethan.
"Jangan bilang, dia adalah muridmu?" Daniel segera menebak karena perkataan Ethan begitu jelas menggambarkan sosok yang ia kenal. Catalina, ya, sepertinya benar karena hanya gadis itu yang mereka berempat kenal.
"Huh huh." Ethan mengangguk. "Kau benar, dia adalah gadis itu, muridku."
"Wah, wah, wah." Andreas bertepuk tangan seolah baru saja memenangkan lotre. "Hebat. Mimpi apa aku semalam sampai mendengar kabar menakjubkan seperti ini?" Ia bangkit dari duduknya dan berjalan memutar sambil bertepuk tangan seolah sedang melakukan pemujaan.
Daniel mengabaikan perilaku aneh Andreas dan berkata, "Sejak awal aku sudah merasa ada yang aneh dengan mereka. Jika gadis itu adalah dia, aku tidak akan terkejut lagi." Daniel benar-benar sudah menduga Sehan dan Catalina memiliki semacam hubungan rahasia. Jika tidak, tidak mungkin Sehan terus menargetkannya dari awal hingga akhir
Namun daripada hubungan rahasia, kata-kata yang lebih tepat mungkin 'benci karena cinta'. Sehan tampak membenci gadis itu karena menyukainya. Dia sengaja menargetkannya untuk mencari perhatiannya.
Pria seperti Sehan, ia tidak menduga menjadi benar-benar imut saat sedang jatuh cinta. Itu sangat mengejutkan.
"Kau benar." Ethan menyetujui penuturan Daniel. "Sehan menunjukkan perasaannya dengan jelas." Mustahil mereka tidak tahu jika Sehan bahkan menunjukkan perasaannya secara terang-terangan. Mereka tidak mengeksposnya hanya karena mereka belum menemukan bukti. Karena sekarang sudah ada bukti nyata di depan mata, baik-baik saja maka.
Saat keheningan melanda, pintu terbuka.
Semua pandangan menoleh ke arah pintu dan melihat Sehan datang masih dengan setelan bisnisnya.
"Apa kau langsung ke sini?" tanya Daniel sambil menyodorkan segelas minuman kepadanya saat pria itu duduk di sampingnya.
Sehan menerima gelasnya dan mengangguk. Ia meminum sedikit minumannya dan menyalakan sebatang rokok sebelum berbicara, "Hadiah apa yang biasanya digunakan untuk menunjukkan rasa cinta?"
Semua orang yang sebelumnya sudah santai, terperanjat. "A, a, apa? Hadiah?" Ethan, Andreas dan Daniel menanggapi secara serempak. Mereka baru saja menghentikan pembicaraan sebelum Sehan datang. Mereka berpikir mungkin Sehan tidak menyukai pembahasan ini. Namun sepertinya mereka keliru.
Sehan bukan hanya tidak menyukainya, pria itu justru seperti sengaja membahas ini untuk menunjukkan bahwa dia sudah punya pacar dan Catalina adalah pacarnya.
Sungguh pria yang picik.
__ADS_1
"Mm. Aku akan pergi ke luar negeri. Tapi aku tidak tahu hadiah apa yang disukai para gadis," ujar Sehan masih dengan wajah datarnya.
"Wow." Andreas tidak bisa menahan kekagumannya. Ia sudah berteman dengan Sehan selama bertahun-tahun. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Sehan bertindak seperti ini terutama terhadap seorang gadis.
Pria itu tidak pernah begitu serius terhadap seorang gadis. Ia bahkan curiga Sehan menyukai sesama jenis.
Sekarang akhirnya ia menyadari, bukan karena Sehan tidak menyukai seorang gadis, tetapi tidak ada seorang gadis pun yang mampu menarik minatnya, tidak ada bisa yang melakukannya.
Standar Sehan untuk wanita terlalu tinggi, dia harus sangat kompeten dan luar biasa untuk menarik perhatiannya.
Tetapi, apakah ada wanita seperti itu di dunia ini?
Sayangnya, ia bisa melihat dengan jelas bahwa Sehan menunjukkan minat yang luar biasa pada Catalina.
Dia telah jatuh cinta padanya.
Sangat cinta.
Sehan menghisap rokoknya dengan tenang dan menghembuskan nya perlahan. "Jadi, kalian juga tidak tahu?"
"Jujur saja, aku tidak tahu," jawab Ethan cepat. Ia belum pernah menjalin hubungan dan tidak tahu apapun tentang hadiah yang disukai para gadis.
"Aku pun sama," jawab Andreas. Hadiah, bagaimana mungkin hal-hal seperti itu ia mengetahuinya? Benar-benar konyol.
"Aku pikir, para gadis menyukai perhiasan," ujar Daniel. Semua pandangan beralih padanya dan ia kembali berbicara, "Kalian tahu, rubi berwarna merah dikenal sebagai simbol cinta, serta dipercaya sebagai batu yang membuka hati dan memperkuat perasaan cinta. Jika kau ingin memberinya hadiah, bukankah seharusnya kau membelikannya perhiasan dengan batu rubi?"
"Wah, kau tahu banyak rupanya?" Ethan menimpali.
"Saudaraku memiliki toko perhiasan di luar negeri, apa kau lupa?" tanyanya. "Belakangan ini ia meluncurkan desain baru menggunakan batuan itu." Daniel cukup percaya diri dengan apa yang ia katakan karena saudaranya terus mengoceh tentang batuan itu. Ia terpaksa mendengarnya dan ia tidak percaya hal-hal membosankan itu akan berguna.
Sehan mengusap dagu. "Jadi begitu?" Jadi batu rubi dipercaya sebagai batu yang membuka hati dan memperkuat perasaan cinta? Jika begitu, maka ia akan memberikannya untuk Catalina sebagai simbol cintanya. Ia yakin gadis itu akan senang menerimanya. Atau.. tidak?
__ADS_1