Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 96 • RGSA - Tidak Bisa Dihubungi


__ADS_3

Pagi hari di perusahaan Geffrey.


Sehan duduk di kursinya dengan gelisah.


Sejak ia meninggalkan Catalina tadi malam, Catalina belum menghubunginya. Ia pergi karena ada urusan mendesak, dan karena tidak ingin membangunkan gadis itu, ia pergi secara diam-diam.


Ini sudah terlalu siang untuk Catalina berbaring di tempat tidur. Menyadarinya sudah tidak ada, seharusnya gadis itu ingat untuk menelepon atau mengirim pesan teks karena sedari tadi ia mencoba menghubungi, nomor gadis itu tidak aktif.


Satu yang mengganggunya, gadis itu jarang mematikan ponsel. Ketika ia menelepon sewaktu-waktu, panggilan selalu terhubung. Hanya saja gadis itu memilih untuk mengabaikan panggilannya. Namun kali ini, nomornya tidak dapat di hubungi. Benar-benar tidak dapat dihubungi.


Entah apa yang dia lakukan sekarang, ia sedikit khawatir.


"Tuan, rapat akan di mulai dalam empat puluh menit," Kenny berkata melalui intercom.


"Aku tahu," jawab Sehan. Namun masalahnya, hatinya tidak bisa tenang sebelum memastikan Catalina baik-baik saja. Ia takut gadis itu marah karena ia pergi begitu saja. Meski ia sudah menyeka tubuhnya dan memakaikannya pakaian, namun ia khawatir Catalina tidak mau mengerti.


Pada akhirnya Sehan mengambil ponselnya dan mengirim pesan teks kepada Kenny.


[Kirim seseorang untuk melihat keadaannya]


'Dia' yang Sehan maksud, Kenny langsung mengerti. Namun saat melihat pesan dari Sehan, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak terpaku. Sejak kapan Sehan pandai mengirim pesan teks?


Selama ia bekerja dengannya, mungkin ini adalah pertama kalinya ia mendapat pesan teks dari Sehan. Jika melalui email, ia tidak akan terkejut. Namun ini benar-benar pesan, pesan teks. Mustahil ia tidak bingung ketika menerimanya.


Namun meski kebingungan, ia tidak lupa untuk membalasnya.


[Ya]


Dan Kenny segera menghubungi seseorang untuk melihat keadaannya.


Ketika Sehan keluar dari ruangannya tiga puluh menit kemudian, Kenny sudah berdiri di depan pintunya. Sambil berjalan menuju tempat rapat, Kenny berbicara, "Nona tidak berada di kondominium."


Langkah kaki Sehan terhenti. "Apakah dia baik-baik saja?" tanyanya. Jika gadis itu sudah bangun dan pergi ke suatu tempat, kenapa dia tidak menghidupkan ponselnya? Hanya menghidupkan ponsel sekedar untuk mengirim pesan teks, apa dia terlalu sibuk untuk melakukannya?


Kenny mengangguk. "Ya."


"Lalu, mengapa nomornya tidak aktif?"

__ADS_1


"Mereka sedang mencari tahu."


"Baiklah."


Namun sampai hari berubah siang, sore dan malam, nomor gadis itu masih tidak bisa dihubungi. Sehan semakin gelisah. Pekerjaan yang menumpuk sudah membuatnya tidak nyaman, ditambah menghilangnya gadis itu, membuatnya semakin tidak nyaman.


Ia bertanya-tanya, kemana perginya dia, apa yang dia lakukan, mengapa dia tidak menghubunginya, kenapa begitu sulit menghidupkan ponsel? Mungkin kah ponselnya kehabisan daya?


Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Namun dari banyaknya kemungkinan, ia masih belum menemukan kesimpulan.


"Tuan." Kenny menerobos masuk ke dalam ruang kerja Sehan tanpa mengetuk pintu. Seperti biasa, ada hal mendesak yang membuatnya tidak sempat mengetuk pintu.


Sehan menoleh malas. "Ada apa?" Sudah terlalu sering Kenny menerobos masuk ke ruangannya hingga sudah menjadi pemandangan yang biasa dan Sehan tidak ingin mempermasalahkannya.


Kenny berusaha mengatur nafas. "Gadis itu.."


Sehan menaikkan sebelah alisnya. "Gadis itu, ada apa dengan gadis itu?" Ia memasang telinganya baik-baik, mendengarkan dengan seksama namun masih dengan keengganan yang sama.


"Dia sudah sadar. Dia sudah bangun dari koma."


Dua hari kemudian.


Jam berlalu dengan cepat.


Sejak Tatiana sadar, Catalina tidak menerima pekerjaan apapun. Ia sibuk di rumah sakit menjaga Tatiana yang sudah dipindahkan dari ruang gawat darurat ke ruang rawat inap. Letaknya berdampingan dengan ruang sebelumnya, dan keamanannya tidak kalah ketat. Perlu kartu akses untuk memasukinya dan ya, menjadi misterius ternyata cukup menyenangkan.


Catalina mulai menikmati kehidupan seperti ini.


Menikmati kehidupan barunya dengan Tatiana dan menjalani hari-hari baru dengan sosok yang tidak hanya tidur dan tidur. Gadis itu tidak hanya sudah bisa menggerakkan tangan, tetapi dia juga mulai bisa memakan sesuatu yang ia suapkan. Meski hanya berupa bubur cair, namun itu adalah perkembangan yang baik karena sesuatu akhirnya masuk ke dalam perut Tatiana melalui mulut, tidak melalui selang makanan.


Dua kali dalam sehari Nick datang untuk mengantarkan pakaian untuk Catalina sekaligus melihat kondisi Tatiana. Kali ini pun sama, ia datang dan membawa pakaian ganti untuk gadis itu.


"Kau datang?" tanya Catalina ketika melihat Nick masuk ke dalam ruangan dengan paper bag di tangannya.


Nick mengangguk. "Uh huh. Aku juga membawa pakaian untukmu," ujarnya sambil menunjukkan dua buah paper bag berukuran sedang di tangannya.


Catalina tersenyum. "Wah, kau sangat perhatian."

__ADS_1


"Kau baru tahu?" Nick mendudukkan diri dengan santai di sofa setelah terlebih dulu menengok Tatiana dan mengusap puncak kepalanya. Ia duduk dengan santai sambil mengawasi Catalina dan Tatiana yang tampak mirip namun tidak terlalu mirip.


Kenapa ia berkata begitu?


Tatiana sangat kurus. Tidak hanya tubuhnya, tetapi wajahnya juga. Daripada cantik, kata yang lebih tepat untuk menggambarkannya adalah.. menyedihkan. Benar-benar menyedihkan.


Karena daripada gadis berusia dua puluh tahun, dia lebih seperti nenek-nenek berusia empat puluh tahun. Sungguh, ia tidak bohong. Namun ia tidak berniat untuk mengatakan itu. Kejujuran bisa sangat menyakitkan. Jadi selain tidak ingin menyakiti perasaan Tatiana, ia yakin Tatiana akan kembali seperti semula seiring berjalannya waktu. Lagipula, ini baru permulaan hidupnya. Masih banyak waktu di masa depan.


"Tidak. Mana mungkin aku baru mengetahuinya?" Catalina tahu Nick memang perhatian. Tidak hanya perhatian, tetapi dia juga baik dan tidak ada kata yang bisa menggambarkannya. Intinya, dia sempurna. Maksudnya, bentuk kepeduliannya kepadanya dan kepada Tatiana sangat sempurna.


"Bagus. Aku harap kau tidak menyesal mengatakan itu dan tidak berubah pikiran."


Catalina tertawa. "Kau tenang saja. Aku tidak akan menyesal ataupun berubah pikiran."


"Aku akan memegang kata-katamu."


Catalina mengangguk. "Tentu."


Setelah selesai menyuapi Tatiana, Catalina menyeka tubuh Tatiana dengan handuk basah sebelum mendudukkannya di kursi roda dan mendorongnya menuju jendela. Tidak lupa ia membuka jendelanya lebar agar sinar matahari masuk dan menyinari tubuh Tatiana yang sudah lama tidak mencium aroma matahari.


Cahaya yang masuk segera mengenai Tatiana dan Catalina membiarkannya begitu saja. Selain kurus, gadis itu juga pucat dan menyedihkan. Ia tidak bisa membiarkan hal ini terus berlanjut. Matahari pagi adalah yang terbaik. Dan waktu terbaik untuk berjemur adalah pukul sembilan pagi. Jadi ia menjauh untuk sementara waktu selagi Tatiana berjemur.


Ia mendudukkan diri di sofa di samping Nick. Memperhatikan ketika pria itu sibuk membaca dokumennya. Saat melihat sesuatu yang menarik, ia mengambil dokumennya dan buka suara, "Apakah semuanya baik-baik saja?" tanyanya.


"Sejauh ini, semuanya baik-baik saja," jawab Nick.


"Baguslah," timpalnya. "Lalu, apa kau datang ke kondominium?"


Nick mengangguk. "Uh huh."


"Mm.." Catalina meletakan dokumennya dan menyentuh dagu, ragu untuk bertanya.


"Katakan saja!" ujar Nick ketika melihat keraguan Catalina.


Catalina menggigit bibirnya. "Apakah tidak ada yang datang ke kondominium?" Akhirnya pertanyaan ini terlontar dari mulutnya. Sejak Tatiana sadar, ia mematikan ponselnya dan belum menyalakannya lagi. Entah Sehan menghubunginya atau tidak, entah Sehan datang ke kondominium atau tidak, ia tidak tahu dan sejujurnya ia ingin tahu.


Pertanyaan Catalina membuat Nick menghentikan pergerakannya. Ia menoleh, menatap Catalina dan sebelah alisnya terangkat. "Maksudmu, Sehan Geffrey?"

__ADS_1


__ADS_2