
Suasana menegang.
Semua orang tidak mengira Sehan akan menyerang seorang gadis dengan kata-katanya. Sehan adalah pria yang tenang dan tidak banyak bicara. Ethan juga. Tapi kenapa hari ini kedua orang itu bertingkah aneh?
Orang lain mungkin merasakan keanehan itu, tapi Sehan ataupun Ethan tidak tahu bahwa diri mereka aneh di mata orang lain. Juga, mereka tidak merasa ada yang salah dengan diri mereka. Jadi mereka tidak memikirkan pandangan orang lain dan percaya diri dengan apa yang mereka lakukan.
Sehan menatap Daniel tajam. "Apa kau melihat dia ketakutan?" Sehan tidak tahu kenapa Daniel berpikir ia menakutinya atau berpikir Catalina takut. Melihat bagaimana tangannya mengepal, Catalina jelas ingin memukulnya. Tapi kenapa semua orang berpikir gadis itu ketakutan?
Ethan menyerahkan Nick sepenuhnya untuk Andreas tangani sementara ia mendekat ke arah Sehan dan menepuk bahunya. "Hei, Daniel benar. Kau menakutinya." Mereka hafal betul orang seperti apa Sehan. Seberapa kejam pria itu dalam melakukan sesuatu. Juga sifat mengerikan dan ketidakpeduliannya yang membuatnya ditakuti oleh banyak orang.
Sebagai pemimpin perusahaan besar, sikap seperti itu sangat penting. Namun Catalina tidak tahu apapun. Dia hanya gadis muda yang mungkin akan ketakutan jika melihat sisi Sehan yang seperti itu. Dan mereka tidak mungkin membiarkan Catalina melihat wajah aslinya.
Mendapat bantuan dari Ethan, Daniel merasa apa yang ia lakukan sudah benar. Untuk apa perhitungan dengan seorang gadis? Itu hanya akan membuat mereka tampak seperti iblis. Padahal orang-orang seperti mereka selalu menyembunyikan sifat iblis mereka di balik topeng untuk menghalangi orang lain mengetahuinya.
Jika Sehan membukanya begitu saja, citra yang selama ini mereka bangun akan sia-sia. Juga, citra baik mereka di mata publik tidak akan ada yang mempercayainya lagi.
Sehan menggeretakan gigi. Tidak ada seorang pun yang tahu betapa beraninya gadis itu. Tidak ada yang tahu berapa banyak dia mempermalukan dan menjatuhkan harga dirinya. Tidak ada yang tahu dia tidak selemah yang terlihat. Dan ia adalah satu-satunya orang yang paling tahu betapa palsunya dia. Namun ia tidak mungkin mengatakan jika ia sudah dipermalukan. Itu bisa melukai harga dirinya yang sudah dihancurkan oleh gadis sial itu.
"Sudah, ayo pergi." Ethan kembali buka suara. Ia mengalihkan pandangannya menatap Catalina. "Tidak baik seorang gadis berada di tempat seperti ini malam-malam begini. Ayo!" Seorang Sehan tidak mungkin meminta maaf kepada orang lain. Jadi mengakhiri permasalahan cukup sampai di sini adalah pilihan terbaik.
Catalina terkejut dengan bagaimana para pria itu bersikap. Mereka tidak membela Sehan, mereka justru menyelesaikan ini tanpa membiarkan pihak lain tercurangi. Dan yang terpenting, mereka tidak menyalahkan dirinya. Ya, mereka orang kaya. Mereka selalu merasa tersakiti meski mereka yang menyakiti. Jadi ia tidak menaruh harapan pada mereka karena ia pikir mereka pasti akan membenarkan diri mereka sendiri dan mengkambinghitamkan orang lain.
__ADS_1
Namun tanpa diduga, sebenarnya mereka sedang membantunya. Pria bernama Daniel, Andreas dan tutor systemanya, Ethan, para pria itu, mereka tidak seburuk yang ia kira. Dan ya, mereka benar-benar tidak seburuk itu.
Sesuatu yang aneh tiba-tiba mengalir di hatinya.
Untuk beberapa alasan, ia sangat tersentuh dan berpikir untuk membalas kebaikan mereka suatu hari nanti.
Sebelum kembali melanjutkan langkah, Catalina lebih dulu melirik Sehan. Pria itu.. sial, tiap mengingat orang itu, ia jadi emosi. Ia menghela nafas panjang, mencoba menenangkan diri. Tenang, Catalina. Jangan ambil hati apa yang dia katakan. Bukankah orang itu memang begitu? Dan, bukankah kau sudah biasa diperlakukan seperti ini? Jadi untuk apa kau marah?
Selesai menghentikan dirinya dari kegilaan, Catalina kembali melanjutkan langkah bersama yang lain. Di lain sisi, Sehan tidak mengatakan apapun namun tatapannya menyiratkan banyak hal. Kekesalan di hatinya semakin dalam dan hanya perlu sedikit waktu lagi sampai ia memuntahkannya.
Karena Andreas mengurus Nick sendiri, Ethan berjalan bersisian dengan Catalina dan mereka membicarakan tentang beberapa hal.
"Aku tidak menduga Ethan bisa begitu banyak bicara jika bersama seorang gadis." Daniel tidak kuasa menahan kekaguman pada teman baiknya itu. Mereka sudah berteman sejak kecil. Dan Ethan, siapa yang tidak mengenal pria itu? Pria yang acuh namun memiliki segudang talenta, tidak terhitung berapa banyak gadis yang sudah dia patahkan hatinya.
Secara mengejutkan, pria itu justru berbincang santai dengan gadis yang katanya adalah muridnya. Melihat bagaimana mereka berinteraksi, ia bahkan bisa mencium sedikit aroma musim semi di udara.
Saat menoleh, Daniel mendapati tatapan Sehan sedingin es. "Uh, ada apa denganmu?" tanyanya. "Apa kau baik-baik saja?" Daniel tidak tahu apa yang salah dan apa yang tidak sesuai dari perkataannya sampai menyinggung Sehan. Namun tatapan Sehan seperti akan membunuhnya. Dan itu membuatnya merinding.
Setelah menuruni tangga, mereka tiba di tempat dimana mereka memarkirkan mobilnya. Melihat mobil Nick terparkir tidak jauh dari tempat para tuan muda memarkirkan mobil mereka, Catalina ingat jika kunci mobil Nick tidak ada padanya. Nick mungkin meletakannya di saku celana karena pria itu tidak membawa tas.
Catalina berpikir untuk mencari kunci mobil Nick di saku celananya. Namun sebelum ia mendekat, tatapan tajam datang dari sampingnya.
__ADS_1
Tahu apa yang akan Catalina lakukan, Sehan segera memberikan tatapan peringatan. Seolah berkata, jika mendekat satu inci saja tamat riwayatmu.
Sehan tidak tahu berapa banyak nyawa yang Catalina miliki sampai berani memprovokasinya lagi dan lagi. Apa gadis itu pikir keberuntungan bisa selalu datang? Heh, rupanya gadis itu tidak mengerti jika keberuntungan tidak selalu ada. Tunggu sampai dia merasakannya obatnya sendiri, baru tahu rasa.
Nyali Catalina sedikit goyah. Sehan, sebenarnya punya masalah apa sih dengannya? Kenapa pria itu selalu marah dengan setiap yang ia lakukan? Padahal semua jelas tidak ada hubungannya dengan pria itu, juga bukan urusannya. Terlalu mengurusi urusan orang asing, bukankah itu sangat aneh?
"Daniel, cari kunci mobilnya!" Suara serak Sehan menyentak lamunan semua orang.
"Eh?" Daniel kebingungan sesaat sebelum otaknya terkoneksi dan bergerak maju mencari kunci mobil Nick. Jika tidak berteman lama dengan Sehan, mustahil ia tahu apa arti dari ucapannya yang tidak jelas itu.
Beberapa orang saling memandang dengan ekspresi rumit sedangkan Catalina melirik Sehan, pria itu, sebenarnya apa yang sedang dia lakukan?
"Aku mendapatkannya," ucap Daniel sembari menunjukkan kunci mobil yang baru saja ia temukan. Mendapat tatapan dari Sehan agar menyerahkannya pada Catalina, ia segera memberikannya kepada gadis itu. "Perlu seseorang untuk mengantar?" tanyanya.
Catalina menggeleng. "Tidak," tolaknya. "Aku mengemudi. Dan terima kasih semuanya," imbuhnya. Ia membuka pintu mobil dan Andreas segera memasukkan Nick ke kursi samping kemudi dan membantunya dengan sabuk pengaman.
"Jangan sungkan, hanya masalah kecil," jawab Andreas setelah selesai mengurus Nick. Di antara mereka, Andreas adalah yang paling sering mengurus teman-temannya yang mabuk. Secara teknis, ia memiliki banyak pengalaman.
Sekali lagi Catalina tersentuh. Ia tidak mengira para tuan muda ini sangat rendah hati. Tidak seperti yang ia bayangkan, mereka ramah dan mudah di ajak bicara. Tentunya, Sehan tidak termasuk. Pria itu, pengecualian.
Setelah berbasa-basi sebentar, Catalina duduk di balik kemudi dan meninggalkan club malam dengan kecepatan sedang. Mendengar kicauan Nick, ia menoleh ke samping dan berkata, "Apa kau sangat menyukainya?" tanyanya. Sedari tadi, hanya nama itu yang Nick gumamkan. Dan ia yakin, pria ini menyimpan perasaan yang dalam untuk gadis itu.
__ADS_1