Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 48 • RGSA - Pandai Memilih


__ADS_3

Catalina keluar dari kamar mandi dan tak lama berselang Sehan mengikuti di belakangnya. Mereka menghabiskan setidaknya tiga puluh menit di kamar mandi untuk membersihkan diri. Benar-benar membersihkan diri. Tidak melakukan apapun.


Mereka berendam di bak mandi bersama dan melakukan percakapan singkat untuk memperhangat suasana. Dan benar saja, ketika keluar dari kamar mandi, wajah mereka berdua tampak jauh lebih menyenangkan berkat suasana hati yang baik.


"Aku sudah menyiapkan beberapa pakaian di lemari. Kau bisa memakainya," ucap Sehan saat melihat Catalina menatapnya.


Catalina mengangguk. "Uh huh." Sudah ia duga jika Sehan sudah menyiapkan pakaian untuk digunakan wanitanya ketika membawanya pulang ke rumah. Sama seperti bagaimana novel menggambarkan karakter pria utama. Dia akan menyiapkan segalanya sebagai cara untuk menjerat pemeran utama wanita.


Namun sekali lagi ia kembali memperingatkan diri sendiri bahwa ia bukan pemeran utama wanita. Ia hanyalah umpan meriam yang sewaktu-waktu bisa kehilangan kegunaan dan tidak di butuhkan lagi. Ia hanyalah orang yang tidak sengaja lewat di kehidupan pria itu. Dan ya, tidak ada yang perlu di harapkan, apalagi memasukannya ke dalam hati.


Memikirkan itu, ia menjadi sedikit lebih tenang.


Ia berjalan menuju lemari dan menemukan beberapa pakaian wanita memang terlipat di sana. Bercampur dengan pakaian milik Sehan, beberapa ruang berisi segala macam keperluan wanita. Mulai dari pakaian, tas, sepatu, aksesoris, hingga peralatan makeup. Semua seolah sudah di sediakan sebelum Sehan memindahkannya ke kamar ini.


Dan semua yang berada di sana merupakan brand ternama yang setidaknya berharga puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu pounds. Sehan, pria itu benar-benar memiliki modal untuk menjadi sombong.


Melihat Catalina hanya berdiri dan menatap pakaian di dalam lemari tanpa berniat memakainya, Sehan berjalan menuju gadis itu lalu memeluknya dari belakang. Tangan kekarnya melingkar di pinggangnya yang ramping. Dagunya berada di bahunya. Mengikuti arah pandang Catalina, ia mencoba menebak apa yang sedang Catalina pikirkan.


"Terkadang, aku ingin membuka kepalamu untuk melihat apa isi di dalamnya," celetuk Sehan dengan suara rendah. Ia tidak tahu apa yang Catalina pikirkan, dan ia selalu penasaran.


Gadis itu begitu rumit sejak awal. Jika dia menyukai uang, tidak akan sulit untuk memerangkapnya dan akan sangat mudah untuk menjeratnya. Tentunya ia tidak akan kehabisan cara.


Namun gadis itu berbeda. Gadis itu tidak mendambakan atau memiliki ambisi menjijikkan seperti bagaimana biasanya para gadis menatapnya. Tatapan mereka begitu penuh nafsu sampai ia ingin mencongkel matanya. Sedangkan tatapan Catalina begitu datar seolah tidak memiliki keinginan apapun. Dia seperti tidak memiliki ambisi atau keinginan walau sedikit ketika menatapnya.


Dan itu membuatnya terganggu.


Catalina menumpuk tangannya di tangan Sehan dan menimpali dengan santai, "Bukankah itu terlalu kejam?" Meski tahu perkataan Sehan hanya ucapan acak yang keluar dari mulut, namun untuk beberapa alasan, ia yakin pria itu bisa melakukannya jika dia ingin.


"Kau tidak tahu aku kejam?"


"Jadi kau berniat menyiksaku?"


Sehan terkekeh. Ia mencium bahunya dan berkata, "Ya."


Keadaan menjadi hening untuk sementara waktu sampai suara Catalina kembali terdengar. "Aku akan pergi setelah sarapan," ucapnya. Karena harus pergi selama beberapa minggu, ia harus berkemas dan mempersiapkan segala keperluan yang harus di bawa selama periode itu.

__ADS_1


"Secepat itu?" Sehan terkejut. Namun reaksi terkejutnya segera tertutupi dengan senyum lembut yang tersungging di bibirnya seolah yang tadi terkejut bukan dirinya.


Catalina mengangguk. "Uh huh."


"Kalau begitu, biarkan Kenny mengantarmu."


***


Catalina dan Sehan menuruni anak tangga bersama-sama.


Mengenakan celana panjang hitam dan top biru tua yang menonjolkan perut ramping dan dada bulatnya, juga sepatu bertumit tinggi yang melengkapi, membuat penampilannya tampak dewasa dan profesional. Rambut bergelombang yang diikat tinggi di belakang, juga memperlihatkan leher serta bahunya yang indah.


Entah bagaimana Sehan menyiapkannya, namun semua pas di tubuhnya. Ukuran sepatunya juga sesuai. Pria itu memang bukan pertama kali meraba-rabanya, namun ia tidak percaya jika Sehan bisa begitu tepat mengenai ukuran tubuhnya.


Berjalan bersisian, Catalina menceritakan apa saja yang akan ia lakukan selama berada di lokasi syuting. Ia sudah membuat jadwal dan ia ingin kegiatannya di sana teratur dan terarah.


Sehan mendengarkan dengan seksama dan sesekali mengutarakan pendapatnya. Karena akan berpisah dengan Catalina, ia tidak ingin dia mendekati atau berdekatan dengan pria lain. Namun caranya menyampaikan tentu tidak kasar dan terang-terangan. Ia mengatakan secara halus dan lembut untuk menghindari gadis itu memberontak jika merasa terkekang


Gadis yang memiliki keberanian seperti Catalina, semakin dikekang akan semakin melawan. Dan ia tidak ingin hal itu terjadi. Ia ingin dia menjadi patuh selama jauh darinya.


Kekhawatiran seperti itu yang terus mengganggu di pikirannya dan membuatnya tidak rela Catalina pergi ke lokasi syuting. Namun karena menyayanginya, ia tidak mungkin melarang apalagi membatasi kebebasannya.


Sekarang ia dilema.


Ia ingin menculik dan membawanya pergi ke tempat yang tidak diketahui oleh siapapun. Tempat yang tidak dapat dimasuki bahkan dilihat oleh orang lain selain dirinya.


Ia ingin melakukannya.


Sangat ingin.


Namun, ia tidak bisa.


Catalina mendengarkan semua yang Sehan katakan dan tidak keberatan karena baginya semua yang ia katakan cukup masuk akal. Pria itu tidak ingin sesuatu terjadi padanya dan ia menghargai itu.


Harrison dan beberapa pelayan yang melihat keharmonisan ini, benar-benar terpaku. Rumah yang biasanya sedingin es, kini mulai terasa hangat. Sehan yang biasanya acuh, juga tersenyum cerah dan tampak bahagia.

__ADS_1


Melihat bagaimana Catalina mengubah Sehan menjadi manusia, mereka sangat terharu dan hampir meneteskan air mata karena bahagia.


Mereka berharap Sehan segera menjadikan Catalina sebagai nyonya di rumah ini. Karena dengan begitu, mereka yakin Catalina akan memberikan kemudahan bagi mereka yang selalu kesulitan menghadapi bos seperti Sehan.


Setelah mencapai lantai bawah, Sehan segera membawa Catalina ke ruang makan.


"Selamat pagi, Harrison," sapa Catalina ketika melihat Harrison berdiri menyambutnya dengan beberapa pelayan. Ia masih mengingat namanya karena pria itu sangat baik dan tidak menyulitkannya.


Harrison terkejut. Gadis ini masih mengingatnya? Tidak. Bukan itu. Gadis ini menyapanya dengan sangat manis. Dia sangat sopan dan tidak kasar seperti nona muda yang biasanya manja dan cengeng. Daripada manja, Catalina seperti orang yang akan memanusiakan orang lain.


Gadis seperti ini, benar-benar cocok untuk Sehan karena dia pasti bisa mengimbangi dan mengubah ketimpangan menjadi seimbang.


Tidak heran Sehan tampak sangat menyayanginya.


Ternyata gadis ini memang sangat luar biasa.


"Selamat pagi, Nona," Harrison menimpali dengan ramah. "Anda sangat cantik dengan pakaian itu. Tuan benar-benar pandai memilihnya untuk Anda." Karena nona ini begitu lembut, mereka tidak keberatan memberikan kesan seolah Sehan adalah pria yang baik.


Catalina mengulas senyum tipis. "Apakah begitu?" Ia menoleh dan menatap Sehan. "Kau benar, dia memang pandai memilih," imbuhnya sambil menyentuh dasi Sehan dan membelainya dari pertengahan hingga ke ujung. Gayanya santai namun gerakannya seperti gadis nakal yang sudah berpengalaman tidur dengan banyak pria.


Benar saja, hanya dengan gerakan itu, Sehan mulai tergoda. Ia meraih tangan Catalina sebelum gadis itu meninggalkan dasinya dan berujar, "Jangan menggodaku. Kau akan kesakitan jika aku melakukannya lagi." Meski tersenyum, namun sorot matanya ganas dan berapi-api.


Catalina terpaku, tubuhnya membeku. Apa yang Sehan katakan di depan begitu banyak orang? Apa pria itu ingin mengatakan bahwa mereka sudah berhubungan intim? Tidak. Pria itu sudah mengatakannya. Mengatakan secara terang-terangan bahwa mereka berhubungan intim tadi malam.


Melihat reaksi Catalina, Sehan tersenyum puas. Itu lah konsekuensi dari memprovokasinya. Itu belum seberapa karena ia bisa langsung menelanjanginya dan melakukannya di meja makan.


Tunggu!


Melakukannya di meja makan?


Itu terdengar menyenangkan.


Catalina mengalihkan pandangannya dan tersenyum canggung. Ia tidak tahu bagaimana cara memperbaiki ini. Atau lebih tepatnya, ia tidak akan bisa memperbaiki situasi ini.


__ADS_1


Ganti cover, bikinan MT..


__ADS_2