
Satu jam lima belas menit mengudara, pesawat mendarat di London.
Catalina turun dari pesawat dan Nick menunggu dengan wajah lelahnya. Melihatnya seperti itu, Catalina tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, "Ada apa denganmu? Apa kau tidur dengan seorang gadis?" Ia hanya asal bertanya, namun jawaban Nick sungguh sangat mengejutkan.
"Ya, kau benar," Nick menjawab cepat. "Aku memang tidur dengan seorang gadis. Tidak hanya itu, aku juga mempunyai ini." Ia menunjukkan dua pcs pengaman yang ia ambil dari saku celananya dan memperlihatkannya kepada Catalina tanpa malu-malu.
Bola mata Catalina membulat. Melihat dua pcs barang di tangan Nick dengan tulisan 'gerigi', ia segera tahu barang laknat apa itu.
Benar. Itu adalah pengaman yang bergerigi.
Meski ia tidak pernah membeli barang seperti itu, namun bukan berarti ia tidak tahu. Sepolos-polosnya ia, ia tetaplah gadis normal yang terkadang penasaran dengan barang-barang yang biasanya digunakan orang dewasa.
Namun yang membuatnya penasaran adalah, kenapa bajingan busuk itu menunjukannya kepadanya? Apa dia gila? Apa dia kehilangan otaknya?
Catalina mendekat lalu mencubit perut Nick dengan sedikit kekuatan. "Kenapa kau menunjukkan barang seperti itu kepada gadis yang masih polos? Apa kau orang cabul?" Ia menggeram marah. Bisa-bisanya Nick menunjukkan barang seperti itu kepadanya di tempat umum? Apa dia sudah bosan hidup?
"Aduh, aduh, aduh, sakit." Nick meringis saat merasakan cubitan Catalina di perutnya semakin keras. "Lepas, lepas, lepas!" Ia menepuk-nepuk lengan Catalina agar melepaskan cubitannya.
Catalina melepaskan cubitannya dan meliriknya penuh ancaman. "Sekarang kau tahu apa itu sakit?"
"Memang kapan aku tidak tahu? Kau menyiksaku setiap hari," keluh Nick. Ia hampir saja memasukkan kembali pengamannya ke dalam saku namun gagal saat ia melihat Stacey datang dengan membawa dua koper.
Merasa sedikit panik, kepanikan itu membuat Nick refleks memasukkan pengaman di tangannya ke dalam tas Catalina. "Aku titip sebentar," ucapnya. Nick tidak mungkin membiarkan citra garangnya ternodai dengan beberapa bungkus pengaman. Itu bisa menurunkan kredibilitasnya sebagai petinggi di organisasi.
Catalina tercengang. "Apa yang kau lakukan?" Ia berusaha mengeluarkan barang sialan itu dari tasnya, namun Nick mencegahnya mati-matian.
"Jangan berani mengeluarkannya atau aku akan menelan semua aset Tatiana untuk diriku sendiri," ancamnya.
Gerakan tangan Catalina berhenti. "Apa?" Cukup lama sebelum otaknya terkoneksi. Dan setelah berhasil terhubung, ia kembali berbicara, "Wah, hebat. Kau mengancamku hanya karena barang sialan ini?" Catalina semakin marah. Namun meski marah, ia tahu ancaman Nick akan berlaku jika ia tidak mematuhinya.
"Ya," jawab Nick.
Catalina menggertakan gigi. "Kau ini!" Namun meski kesal, ia terpaksa menelan kekesalan itu untuk dirinya sendiri. Ia hanya bisa menekan amarahnya untuk ia ledakan nanti saat mereka hanya berdua.
__ADS_1
Namun kenyataannya, realita berjarak sangat jauh dari ekspektasi.
Karena begitu Catalina dan dua kopernya turun dari mobil begitu tiba di depan gedung kondominium, Nick langsung tancap gas dan mobilnya melaju kencang meninggalkan debu-debu yang beterbangan di udara.
Tidak percaya, bengong, bagai disambar petir.
Menyaksikan mobil Nick pergi dan perlahan menjauh lalu menghilang di ujung jalan, Catalina masih terpaku di tempatnya. Butuh banyak waktu sebelum ia menyadari sesuatu bahwa ia.. di tinggalkan.
***
Catalina masuk ke unit kondominiumnya dengan amarah yang memenuhi hati. Ia tidak menduga bajingan itu berani melakukan hal tercela seperti ini kepadanya. Dan kekesalan itu membuatnya melupakan alasan mengapa ia kesal.
Catalina menjatuhkan tubuhnya di sofa dan benar-benar melupakan keberadaan pengaman yang masih berada di dalam tasnya. Yang ia pikirkan hanya bagaimana cara membalas pria itu.
Sedang menyusun rencana untuk menjungkirbalikkan Nick, Catalina tersentak saat ponsel di dalam tasnya berdering. Ia mencari keberadaan benda pipih itu dan begitu mendapatkannya, ia segera melihat layar dan mendapati nama Sehan tertera di sana.
"Halo." Catalina menerima panggilannya dengan lesu.
"Uh huh. Aku baru saja sampai di kondominium," jawabnya.
Sehan tersenyum kecil. Sesuai dugaan, gadis itu memang sudah sampai. Dan ternyata perhitungannya cukup akurat. Kemudian ia kembali bertanya, "Apa kau baik-baik saja?"
"Ya, aku baik-baik saja. Tidak ada masalah."
"Kalau begitu, bisakah kau datang ke sini?"
Catalina terkejut. Ia yang semula berbaring, tiba-tiba duduk dan menjadi linglung. "Datang ke mana?"
"Ke perusahaan. Ada sesuatu yang harus ku diskusikan denganmu. Bisakah kau datang?" Ulangnya.
"Ah, itu, apakah sekarang?"
"Ya," jawab Sehan.
__ADS_1
"Tapi, apakah aku sungguh harus datang? Maksudku.. bisakah aku tidak datang?" Catalina bertanya dengan hati-hati. Jika hanya datang ke mansion pria itu, Catalina mungkin tidak keberatan. Namun jika dia memintanya datang ke perusahaan, bukankah itu terlalu berlebihan?
Masalahnya, ada banyak orang di sana.
Bagaimana jika ada yang melihatnya dan membuat gosip?
Bukankah Sehan akan di rugikan dengan gosip itu?
"Kau harus datang, Sayang. Maksudku, kau harus berada di sini," jawab Sehan. Ia tidak menerima penolakan. Lebih tepatnya, ia tidak akan membiarkan Catalina menolaknya. Apapun yang terjadi, bagaimanapun caranya, gadis itu harus di sini.
Catalina memijit ruang di antara alisnya. Antara datang atau tidak datang, ia merasa jika ia datang, lebih banyak masalah yang akan timbul. Namun jika tidak datang, sepertinya Sehan benar-benar membutuhkannya.
Bagaimana ini?
Apa yang harus ia lakukan?
Ia dilema.
"Baiklah, jika kau tidak mau, aku tidak akan memaksa. Aku tahu kau lelah," Sehan kembali buka suara. Karena Catalina sedang bimbang, ia tidak keberatan memerankan peran pria yang tersakiti.
Karena beberapa wanita, lebih tepatnya gadis seperti Catalina, tidak membutuhkan pria yang terlalu mendominasi. Gadis seperti dia biasanya mudah luluh dengan hal-hal seperti betapa lemah dan betapa tidak berdaya. Jadi jika memang harus, ia tidak keberatan berakting menjadi teratai putih yang lemah dan tidak berdaya.
"Baiklah, baiklah, aku akan datang." Catalina bahkan belum memulai, tetapi pria itu sudah menyerangnya lebih dulu. Sial. Dia memang pria yang sulit di tangani.
Sehan tersenyum penuh kemenangan. "Kalau begitu, aku akan mengirim seseorang untuk menjemputmu." Ia sedang berada dalam kondisi hati yang baik, jadi ia tidak ingin membuat Catalina kesulitan.
"Tidak perlu, aku akan datang sendiri." Catalina menolak secara halus. Ia baru saja tiba, masih ada beberapa hal yang harus ia lakukan. Jika Sehan mengirim seseorang, itu hanya akan membuatnya terburu-buru dan tidak konsentrasi dengan apa yang ia lakukan.
"Mm." Sehan mengangguk meski tahu Catalina tidak mungkin bisa melihat anggukan kepalanya. "Aku akan menunggumu."
"Kalau begitu, aku akan menutup panggilannya." Setelah menyelesaikan perkataannya, Catalina mematikan sambungan telepon dan menyimpan ponselnya kembali.
Catalina menghela nafas panjang. "Tidak apa-apa. Kau datang untuk bekerja. Dia memiliki masalah yang harus didiskusikan dan dia membutuhkanmu untuk itu. Berhenti berpikir negatif dan bergerak sekarang atau kau akan terlambat." Selesai memberikan dorongan kepada dirinya sendiri, Catalina bangkit dan pergi ke kamar tidurnya untuk bersiap-siap.
__ADS_1