
Sehan terpaku cukup lama dan menatap lekat Catalina yang tampak sibuk memeriksa ponselnya.
Gadis itu memang terlihat polos dan manis, namun ia tidak menduga gadis itu memiliki pemikiran yang sangat-sangat mesum dan terbuka. Bahkan berkali-kali lipat lebih mesum dari dirinya.
Apakah agresifitas yang ia lakukan selama ini yang telah membuatnya menjadi begitu nakal? Mengubahnya menjadi wanita penggoda?
Sehan mengambil dua bungkus barang itu dan menatap Catalina dengan takjub. "Ternyata benar, kau memang datang untuk merayuku. Kau bahkan membawa ini." Ia menunjukkan dua kemasan pengaman yang tadi ia ambil kemudian membolak-baliknya dan memperhatikannya dengan seksama. "Wah, aku benar-benar tidak sabar ingin mencobanya. Bukankah bagus kau memiliki yang bergerigi?" Ia menambahkan dengan suara serak yang terdengar genit dan menggoda.
Catalina yang baru saja selesai memeriksa dan memastikan tidak ada yang salah dengan ponselnya, ketika mendengar suara Sehan, ia menoleh. Melihat pria itu membolak-balik sesuatu yang familiar, ia terkejut.
"Ah," Catalina menjerit dan hampir saja terjengkang dari jongkoknya. "Ba, ba, bagaimana mungkin barang sialan itu ada di sana?" Tidak. Maksudnya, bagaimana mungkin barang laknat itu masih di sana? Bukankah ia sudah membuangnya?
Sial.
Sepertinya ia lupa untuk menyingkirkannya karena dibutakan oleh kebencian terhadap Nick dan sepenuhnya dikuasai olehnya.
Sekarang Sehan sudah mendapatkannya, bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan?
"Kenapa kau bertanya padaku? Bukankah sudah jelas kau menyiapkan ini sebelum menemui ku? Apa kau sudah sangat menginginkannya? Apa kau menginginkan sensasi yang lebih mendebarkan? Kau ingin melakukannya di ruangan ku? Di atas meja? Huh, lihat, ternyata harimau betina kita sangat inisiatif, aktif dan kreatif." Sehan sedikit mengejek sebelum melanjutkan mengambil barang-barang milik Catalina lalu membantu gadis yang tampak tertekan itu berdiri.
Catalina terdiam, tidak tahu bagaimana harus menanggapi. Kalimat pertama yang Sehan ucapkan terdengar seperti ucapan manusia. Namun kalimatnya selanjutnya sama sekali tidak terdengar seperti ucapan manusia.
'Sangat menginginkannya', 'sensasi yang mendebarkan', 'di ruangan', 'di atas meja', 'inisiatif, aktif dan kreatif'?
Omong kosong macam apa itu?
Ia datang untuk bekerja sesuai kesepakatan awal, oke? Ia tidak pernah memiliki niat untuk menggoda ataupun merayu. Pengaman di tasnya adalah sebuah kesalahpahaman. Benar-benar kesalahpahaman. Tetapi sepertinya sulit menjelaskan itu kepada Sehan.
Yang Sehan lakukan selanjutnya adalah memasukkan barang-barang itu ke dalam tasnya. Semuanya kecuali dua bungkus berwarna hitam yang sekarang sudah ia masukkan ke dalam saku celananya.
"Tu, tunggu, tidak, maksudku, kenapa kau menyimpannya?" tanya Catalina, terbata-bata. Melihat Sehan menyimpan barang itu, firasat buruk segera datang dan memenuhi perasaannya. Pria itu tidak mungkin ingin menggunakannya, kan?
__ADS_1
Tentu saja tidak.
Meski ia meminta Sehan supaya lebih berhati-hati saat melakukannya agar ia tidak hamil, namun pria seperti Sehan pasti akan memilih untuk mengeluarkannya di luar daripada memakai pengaman.
Itu yang ia pikirkan. Namun apakah yang ia pikirkan sama dengan yang Sehan pikirkan?
Kepercayaan diri serta anggapan Catalina segera di patahkan oleh perkataan Sehan selanjutnya.
"Mengapa aku tidak menyimpannya? Jika membuangnya, aku takut kau akan kecewa di sudut hatimu yang paling dalam karena tidak mencicipi sensasi baru yang kau inginkan," Sehan berkata dengan santai, namun maksud ucapannya masih tetap menyudutkan dan mengejek Catalina atas penemuan baru yang membuatnya memiliki alasan untuk menggoda gadis itu.
Catalina sedikit kesal dengan ejekkan Sehan, namun ia tidak bisa membalas karena semua memang kesalahannya. Ia berdehem sebelum berkata, "Ehm, begini, jika aku mengatakan barang itu bukan milikku, apa kau akan percaya?"
"Tidak," Sehan menjawab cepat sambil meraih tangan Catalina lalu mengaitkan tangannya pada tangan gadis itu kemudian mengajaknya pergi menuju lift.
Catalina mendesis. "Haish, sudah ku duga." Maka tidak ada gunanya menjelaskan. Pria itu tidak mungkin mempercayainya sebanyak apapun ia menjelaskan.
"Mengapa kau terus menyangkal padahal bukti sudah ada di depan mata?" tanya Sehan. Ia menekan tombol lift dan ketika pintu lift terbuka, ia menarik Catalina hingga gadis itu masuk ke dalam pelukannya.
"Uh huh." Sehan mengangguk. "Menurut pakar psikologis, penyangkalan itu disebut denial syndrome. Atau sikap mengabaikan fakta yang ada di depan mata terutama ketika situasi tidak sesuai yang diharapkan," ucapnya. "Kau tidak mengakui kenyataan atau menyangkal konsekuensi dari kenyataan itu sendiri. Kau gagal dalam mengenali konsekuensi dari tindakanmu. Itu maksudku," jelasnya.
Catalina tercengang. "Wah, aku tidak menyangka kau tahu banyak? Apa kau belajar tentang psikologi?"
Sehan menggeleng. Tidak."
"Lalu kenapa kau begitu hebat?" Catalina tidak bisa menyembunyikan kekagumannya. Ia adalah orang yang percaya diri dan merasa dirinya cukup hebat. Namun saat bersama Sehan, ia merasa tidak ada apa-apanya.
Pria itu tidak hanya tampan, tetapi juga hebat, berkemampuan dan berpengetahuan. Segala hal seolah pria itu mempelajari semuanya.
"Karena priamu ini memiliki otak yang cerdas serta memiliki gen dengan kualitas unggul. Aku sangat kompeten dan memiliki banyak kemampuan. Aku hebat dan tampan. Aku mapan dan kaya. Aku yakin kau tidak akan menemukan pria yang sehebat ini selain aku." Sehan mempromosikan dirinya tanpa malu-malu. Karena Catalina sudah mengungkitnya, maka baik-baik saja jika ia juga mempromosikan dirinya dengan sungguh-sungguh.
Catalina mengulas senyum tipis. "Ya, kau benar, aku mungkin tidak akan menemukan sosok sehebat dirimu bahkan jika aku bertransmigrasi ke dunia lain."
__ADS_1
***
Setelah kepergian Sehan, suasana lobi menjadi gempar.
Beberapa orang bergosip di antara mereka dengan ekspresi rumit, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Seperti mimpi, mereka masih mengira ini hanya mimpi.
Namun saat mencubit tubuhnya dan terasa sakit, mereka menyadari ini bukan sekedar mimpi. Ini adalah kenyataan. Kenyataan yang sungguh mencengangkan. Tidak hanya mencengangkan, tetapi juga menakjubkan.
Bos besar yang kejam dan pemarah, pria berdarah dingin yang tidak segan memecat karena masalah sepele, bajingan gila itu, sebenarnya sangat lembut terhadap seorang gadis. Tidak hanya itu, pria itu bahkan tampak menyayangi dan sangat memanjakannya.
Melihat bagaimana dia memperlakukannya, dia jelas sangat mencintainya. Sangat-sangat mencintainya. Jika tidak, tidak mungkin iblis besar berubah menjadi kucing kecil menggemaskan dan bertingkah sangat imut.
"Astaga, astaga, astaga, kau lihat itu? Ini bukan mimpi, kan?" Abigail, seorang gadis resepsionis masih terbawa perasaan setelah menonton pertunjukan romantis di depan mata. Meski menyaksikan dari jarak yang cukup jauh, namun ia dapat merasakan cinta dari bos untuk wanitanya sangat besar.
"Kau ingin ku cubit?" Rossie, gadis yang lain menimpali.
"Tidak." Abigail menggelengkan kepala. Ia sudah berulang kali mencubit lengannya hingga muncul ruam merah dan itu menyakitkan.
"Kalau sudah tahu, kenapa masih bertanya?"
"Aku tidak menyangka. Benar-benar tidak menyangka bos begitu manis memperlakukan seorang gadis." Abigail pikir, rumor tentang bos yang memiliki kekasih hanya sekedar rumor. Bos yang sebelumnya tidak pernah terlihat memiliki hubungan dengan gadis manapun, bos yang bahkan memiliki reputasi buruk dan di anggap menyukai sesama jenis, ternyata hari ini membuktikan bahwa beberapa rumor benar, dan beberapa rumor hanya omong kosong belaka.
"Ya, kau benar. Aku pikir, kedatangan bos yang turun secara pribadi ke lobi untuk menjemput tamu kehormatan. Mungkin pemimpin perusahaan lain atau siapa, aku tidak menyangka dia menjemput kekasihnya sendiri," Rossie menyahut. "Harus ku akui, terlepas dari seberapa kejamnya dia, dia memperlakukan wanitanya dengan sangat baik," imbuhnya.
"Ah sial, aku benar-benar ingin melihat seperti apa wajahnya. Ku pikir dia sangat cantik meski kacamata hitam dan masker menutupinya. Kau lihat tubuhnya, dia tinggi dan anggun. Pakaiannya juga berkelas dan mahal. Mungkinkah dia seorang model? Atau apakah mungkin dia anak dari keluarga konglomerat?" Abigail mulai melompat dari terkejut menjadi penasaran. Wanita mana dan wanita seperti apa yang bos sukai, tidak mungkin mereka tidak ingin tahu.
Rossie mengangkat bahu. "Entahlah, aku tidak tahu. Tapi aku juga penasaran. Aku ingin membuka maskernya untuk melihat siapa dia. Kenapa bos pelit sekali tidak membiarkan kita tahu?"
"Dia memang sangat pelit."
"Tapi sudahlah, lupakan saja apa yang tadi kita lihat. Kita akan mendapat masalah jika ada rumor lain yang muncul."
__ADS_1
"Mm. Ayo kita menutup mulut dan menelan rasa penasaran kita."