Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 52 • RGSA - Konsekuensi Dari Pilihannya


__ADS_3

Sehan melingkarkan tangannya di bahu Catalina kemudian mendekapnya erat. Perilaku Catalina saat ini sedikit aneh. Dia yang biasanya kasar dan pemarah, sangat lembut dan lembut. Membuatnya semakin mencintainya.


"Kenapa kau diam saja, eh? Ayo, katakan, katakan, aku ingin mendengarnya lagi." Sehan memainkan ujung rambut Catalina dan mendesaknya untuk memanggilnya dengan panggilan itu lagi. Hubby, baginya panggilan itu sangat manis.


Catalina menggeleng. "Aku tidak mau mengulanginya lagi."


"Kenapa kau tidak mau?" tanya Sehan. "Sial, seharusnya aku merekamnya, kan?" Sekarang ia menjadi kesal dengan dirinya sendiri. Sangat jarang Catalina bersikap seperti ini. Dan seharusnya ia memanfaatkan setiap momennya.


"Iya, seharusnya kau merekamnya. Kenapa kau tidak melakukannya?" Bukannya menjawab pertanyaan pertama Sehan, Catalina lebih memilih untuk menimpali kalimat keduanya.


"Kau tidak memberiku waktu untuk melakukannya," jawab Sehan.


Catalina terkekeh. Memang, ia sengaja tidak memberi Sehan waktu. Dan jika ada yang harus disalahkan, Sehan bisa menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu lamban.


Dengan banyak rasa penyesalan di hatinya, Sehan mengambil ponsel dari saku celananya dan menyerahkannya pada Catalina. "Ambilah. Kau bisa memakai ini."


Catalina terkejut. "Ini.. untukku?" Melihat sebuah ponsel berwarna putih di tangan Sehan, sebenarnya pertanyaan yang ia lontarkan sangat bodoh. Karena Sehan mengulurkan padanya, tentu saja ponsel itu untuknya.


Sehan mengangguk. "Uh huh."


"Kenapa? Kenapa kau memberiku ponsel?" Catalina kehilangan ponselnya, tapi, bagaimana Sehan tahu ia tidak punya ponsel? Ia menjauhkan sedikit tubuhnya dari Sehan dan menatapnya penuh selidik.


"Kau memblokir nomorku," jawab Sehan.


Catalina mengusap tengkuknya, tersenyum canggung. Memang, ia memang memblokir nomornya dan sekarang ia kehilangan ponselnya. Jadi, mau bagaimana lagi?


"Kalau begitu, aku tidak akan sungkan." Catalina menerima ponselnya dengan senang hati dan segera mengatur email dan menyimpan nomor Nick tanpa malu-malu. Tidak lupa ia juga mengatur akun banknya.


Melihat Catalina begitu sibuk, Sehan berkata, "Ada nomorku dan nomor Kenny di sana. Jika ada sesuatu yang mendesak dan nomorku tidak bisa di hubungi, kau bisa menghubungi Kenny."


"Aku mengerti," jawab Catalina. Ia membuka akun banknya dan terkejut saat melihat saldonya bertambah sekitar lima puluh ribu dolar. Kepalanya secara refleks berputar ke samping. "Kau yang melakukannya?" Tidak perlu ditanya, pelakunya jelas Sehan. Ia hanya ingin memastikan. Lagipula, lima puluh ribu dolar, jumlah yang sangat besar. Ia juga tidak tahu kenapa pria itu terus mengiriminya uang dalam pecahan dolar dengan nominal yang sama. Itu membuat kepalanya pusing.


"Apa itu cukup?" tanya Sehan.


Catalina menggertakan gigi. Ingin marah, namun tidak bisa. Ia hanya memijit ruang di antara alisnya. Pria gila ini benar-benar tidak ada obat.


Gerakan frustasi yang Catalina lakukan, Sehan salah mengartikannya. Sehan pikir nominal itu tidak cukup banyak sehingga ia mengambil ponselnya dan kembali mentransfer lima puluh ribu dolar lagi.


Catalina berhenti memijit pelipisnya ketika mendengar notifikasi masuk ke ponselnya. Saat melihat notifikasi penerimaan dana, ia menoleh ke samping dengan cepat. "Sehan, kenapa kau melakukannya lagi?!"


***

__ADS_1


Catalina tidak bisa dikatakan berada dalam suasana hati yang baik, namun juga tidak berada dalam suasana hati yang buruk. Ia tidak sedang senang, namun juga tidak sedih.


Ia hanya kesal karena Sehan terus-menerus mentransfernya sejumlah uang.


Ia menyukai uang.


Tentu saja.


Siapa yang tidak menyukai uang?


Namun jika uang itu diberikan dalam jumlah besar secara terus-menerus, orang seperti dirinya juga bisa merasa tidak nyaman.


Ia orang miskin, dan justru karena ia miskin ia selalu merasa bahwa selalu ada niat terselubung di balik kebaikan seseorang.


Sehan sangat baik kepadanya. Dia memperlakukannya dengan lembut dan memberinya uang. Ia tidak punya apapun selain tubuhnya. Dan ia merasa tidak ada satu bagian pun dari dirinya yang menarik dan bisa di manfaatkan. Jadi, apa arti dari kebaikan yang selama ini Sehan lakukan padanya?


Cinta?


Apakah itu bisa dijadikan alasan?


Kalaupun benar itu alasannya, apakah itu mungkin?


Orang seperti Sehan tidak mungkin menjadi bodoh karena cinta. Pria itu terlalu pintar untuk di bodohi oleh perasaan tidak penting seperti itu. Dan ya, siapa yang akan percaya jika seseorang rela memberikan semua yang dia miliki bahkan menyerahkan hidupnya untuk orang yang dicintai?


Ketika mobil berhenti di depan gedung kondominium, Catalina sudah kembali ke akal sehatnya. Meski isi di kepalanya belum sepenuhnya tertata, namun ia sudah lebih dari siap untuk mengucapkan kata 'selamat tinggal' kepada Sehan.


Catalina menoleh ke samping, "Terima kasih sudah mengantar." Ia mendekat dan memberikan kecupan ringan di pipi Sehan. "Selamat tinggal, Sehan. Semoga harimu menyenangkan," lanjutnya.


Namun sebelum Catalina menarik diri, Sehan lebih dulu meraih pinggangnya dan memeluknya erat. "Kau harus menjaga dirimu baik-baik dan ingat untuk selalu merindukanku." Karena dengan begitu, dengan semua upaya yang sudah ia lakukan, dengan semua hal yang sudah ia berikan, Catalina tidak akan tega untuk mengkhianati kepercayaannya.


Catalina membalas pelukannya dan mengusap punggungnya. "Tentu. Aku akan selalu merindukanmu dari waktu ke waktu." Ia melonggarkan pelukannya dan meraih tangan Sehan untuk kemudian menggigitnya. "Aku pergi, oke?" Setelah meninggalkan bekas gigitan di tangan Sehan, ia turun dari mobil tanpa sedikitpun penyesalan.


Melihat siluet Catalina perlahan menghilang, Sehan mengalihkan pandangannya dan melihat luka gigit di tangannya. "Gadis itu, bukankah semakin berani?"


Kenny dan pengemudi yang duduk di kursi depan saling memandang. Apakah Sehan bertanya pada mereka, atau tidak? Mereka hanya melihat Sehan menyeringai dan itu membuat mereka berdua merinding.


***


Catalina mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Nick.


[Dimana kau?]

__ADS_1


Tidak ada balasan.


Catalina bukan orang yang tidak sabaran. Jadi ia mengirim pesan ulang.


[Nick?]


Hening, masih tidak ada balasan.


Daripada emosi karena pria itu, Catalina memutuskan untuk menyimpan ponselnya dan masuk ke dalam lift. Lift bergerak naik membawanya ke lantai atas. Setelah pintu lift terbuka, ia segera keluar dan masuk ke kondominiumnya.


Catalina melepaskan sepatunya dan menjatuhkan tubuhnya di sofa.


Mencium aroma lezat dari dapur, Catalina menduga Nick berada di sana, mengacaukan dapurnya. Dan benar saja, beberapa saat kemudian pria itu keluar dari dapur dengan sepiring penuh croissant.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Catalina.


"Menghangatkan croissant." Nick berjalan menuju Catalina kemudian menepuk pantatnya dan kembali berkata, "Bangun!"


Catalina memaksa tubuhnya untuk bangun dan mendudukkan diri dengan enggan. Sementara Nick meletakkan pantatnya di sampingnya. "Kau mau?" Nick menyodorkan croissantnya kepada Catalina.


Catalina mengambil satu dan memakannya. "Kau baru membelinya, kenapa kau menghangatkannya?"


"Mereka sudah dingin saat aku tiba di sini."


"Oh, begitu." Catalina memakan dan mengunyah croissantnya kemudian menelannya setelah halus. "Kenapa kau tidak membalas pesanku?" tanyanya kemudian.


"Aku mematikan ponselku," sahut Nick. Panggilan dari keluarga angkat Tatiana tidak berhenti. Dan itu sangat mengganggu kedamaiannya.


Catalina mengangguk. Pantas pesannya tidak di balas. Dan ia tahu alasan kenapa Nick melakukannya. Keluarga angkat Tatiana pasti membombardirnya dengan ratusan panggilan dan ribuan pesan singkat.


"Jadi, kau sama sekali tidak mengkhawatirkan aku?" tanya Catalina. Dari wajahnya, Nick tampak tidur nyenyak tadi malam. Yang itu berarti pria itu jelas tidak mengkhawatirkannya.


Nick mengangkat bahu. "Kenapa aku harus?"


"Tentu saja kau harus. Aku hampir mati di rumah itu."


"Tapi kau masih hidup sekarang." Nick meletakkan piringnya di atas meja dan memakan potongan croissant di tangannya dengan sekali makan.


Catalina melakukan gerakan memukul dan Nick sudah menutupi kepalanya dengan lengannya, siap menerima pukulan. Namun Catalina menarik tangannya kembali, tidak jadi memukul. "Bajingan." Ia hanya memaki. Kemudian ia memakan potongan croissant dengan sekali makan. Membuat mulutnya penuh.


"Kau 'hanya' hampir mati. Dan kau belum mati. Kenapa aku harus khawatir? Lagipula aku yakin kau bisa keluar dari sana hidup-hidup," ujar Nick. Ia mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah lain.

__ADS_1


Hanya ada dua pilihan jika masuk ke rumah itu. Pertama, hancur seperti Tatiana. Atau kedua, melarikan diri seperti yang Catalina lakukan.


Karena Catalina memilih yang kedua, 'hampir mati' adalah konsekuensi dari pilihannya.


__ADS_2