
Meski memakai salah satu dari beberapa barang aneh yang Sehan berikan, Catalina memutuskan untuk tetap memakai kimono handuk. Ia tidak mau dan tidak sudi berpenampilan seksi di depan pria itu dan membuatnya berpikir ia menggodanya.
Pertama, ia tidak mungkin dan tidak akan pernah merayunya. Dan kedua, karakter seorang pria, bagaimana mungkin ia tidak tahu?
Mereka adalah binatang buas jika dihadapkan pada kecantikan. Dan secara biologis, pria lebih mudah terangsang dan memiliki dorongan seksual yang lebih tinggi. Jadi ia tidak berani menggali sesuatu yang ia tidak yakin mampu menangani konsekuensinya.
Ketika melihat Catalina keluar dari kamar mandi dan masih terbalut kimono handuk, sebelah alis Sehan terangkat. "Kau masih memakai handuk?"
Catalina mengangguk. Ia berjalan menuju Sehan dan mengabaikan tatapan heran pria itu.
"Kenapa? Kau tidak menyukai pakaiannya?" tanya Sehan lagi.
Catalina mengerutkan kening. "Kau yakin itu pakaian?" Ia tidak tahu bagaimana cara Sehan mendefinisikan kata 'pakaian'. Atau bagaimana dia membedakan antara 'pakaian' dan 'pakaian dalam'.
Tetapi yang ia tahu, pakaian adalah bahan tekstil dan serat yang digunakan sebagai penutup tubuh. Sedangkan semua barang yang Sehan berikan, ****** ***** berlubang dan bra berenda, apakah bisa menutupi tubuhnya?
Baginya itu bukan pakaian tetapi pakaian dalam.
Sehan yang biasanya cerdas dan responsif, kali ini sedikit bingung. Apakah maksud Catalina, apa yang ia berikan bukan pakaian? Jika bukan, lalu apa?
Jelas-jelas ia meminta Kenny untuk membeli beberapa pakaian tidur, jika bukan itu, apakah mungkin..
Sehan menatap Catalina dan meraih pinggangnya. Kemudian ia secara paksa melepas ikatan tali handuk dan seketika tubuh Catalina dengan pakaian dalam merah, memenuhi garis pandangnya.
Tidak. Itu bukan pakaian dalam. Itu tidak mirip pakaian dalam. Itu lebih seperti lingerie. Terbuat dari kain tipis dan renda berbunga merah, dengan tali merah kecil dan diikat, semua itu menangkup bagian terpentingnya.
Karena bahannya sangat tipis, Sehan dapat melihat semua milik Catalina. Bagian atas dan bagian bawahnya, semuanya, tidak luput dari perhatiannya bahkan menjadi fokus utamanya. Dada yang bulat dan hutan yang rimbun, semua itu.. sebenarnya sangat indah. Benar-benar indah.
Jakunnya perlahan turun dan celananya menjadi ketat.
Pemandangan yang menakjubkan, keajaiban milik Catalina, berhasil menelan semua rasionalitasnya dan merebut semua akal sehatnya. Dan semua itu adalah kesalahan Kenny.
Kenny jelas salah memahami sesuatu. Ia meminta pakaian tidur, benar-benar pakaian tidur. Namun Kenny menangkap maksudnya dengan arti yang berbeda. Dia justru membeli barang-barang seperti itu dan Catalina menjadi semakin cantik saat memakainya.
Sial. Haruskah ia menaikan gajinya bulan ini?
Melihat Sehan menatapnya dengan tatapan ganas dan berapi-api, Catalina melepaskan diri dari Sehan kemudian mengikat tali handuknya dengan tenang dan berkata, "Apa kau sudah puas melihat? Sekarang kau bisa memberitahuku, apakah itu pakaian atau pakaian dalam?" Catalina memiringkan sedikit kepalanya dengan sedikit mengejek.
Sehan perlahan menjadi tenang dan terkekeh. "Apa kau sengaja merayuku?" Mengingat apa yang tadi ia lihat, ia menjadi bersemangat. Ia ingin menaklukkan dan mencoba hal baru bersama gadis ini. Ia ingin mereka menjelajah dan mencoba hal gila bersama. Ia menginginkan gadis ini, malam ini. Atau.. sekarang?
Sekarang?
Ia terkekeh.
Tentu saja sekarang. Kenapa tidak? Kenapa harus nanti jika bisa melakukannya sekarang? Kenapa harus menunda jika sekarang ada kesempatan?
Ia bukan orang yang suka menganiaya diri sendiri, ada kesempatan bagus, ia tidak akan pernah melewatkannya.
__ADS_1
Catalina tercengang. Merayu?
Sial.
Kenapa Sehan pintar sekali memutarbalikkan fakta?
Siapa yang merayu dan siapa yang bertingkah mesum sudah jelas tanpa harus ditanya. Tapi pria itu masih saja merasa segala hal bermula darinya, seolah ia yang memulainya, seolah ia yang memprovokasi. Benar-benar pria licik yang hanya tahu cara memanfaatkan kelengahan seorang gadis.
Sementara Catalina kesal, gairah Sehan kembali naik. Tubuhnya secara bertahap menjadi panas dan secara alami menuntun dirinya untuk mewujudkan apa yang ada di benaknya.
Sehan seperti baru melihat gadis itu untuk pertama kalinya.
Sosoknya yang indah tersembunyi dengan baik di balik handuk. Dan dia sungguh menakjubkan. Segala tentangnya membuatnya melupakan banyak hal termasuk prinsipnya sendiri untuk tidak jatuh cinta.
Nyatanya, tidak hanya jatuh cinta, ia juga menginginkan Catalina. Menginginkan untuk dirinya sendiri.
Catalina mencuri pandang ke arah Sehan, melihat gairah menyala di mata pria itu, ia seperti tertarik ke dalamnya. Nafas hangat yang mengenainya, juga caranya memandangnya seolah mengundangnya untuk masuk dan bergabung kemudian melakukan atraksi yang luar biasa.
Catalina segera mengalihkan pandangannya. Apa yang ia pikirkan adalah semacam kegilaan.
Ya, ini pasti kegilaan.
Namun itu bisa dianggap masuk akal juga, Sehan bukan lagi musuhnya, dan yang terpenting pria itu tampak lebih menyenangkan daripada sebelumnya.
Jauh lebih tampan.
Namun juga berbahaya.
Apakah ia berani mencoba?
Tidak. Ia tidak akan mencoba hal semacam itu.
Mereka adalah dua spesies yang berbeda. Mereka tidak berasal dari dunia yang sama. Perbedaan mereka sangat jauh. Sejauh langit dan kerak bumi. Tidak peduli apapun alasannya, mereka tidak cocok dan tidak mungkin bersama.
Tepat setelah Catalina membulatkan penolakan di hatinya, agresi Sehan baru di mulai.
Sehan kembali menarik tubuh Catalina dan mempererat pelukannya. Satu tangannya di pinggangnya sementara tangan yang lain mencubit dagunya. "Kau benar-benar pandai merayu." Dan itu tidak buruk. Asal hanya ia yang dia goda, asal hanya bersamanya dia melakukan ini, baik-baik saja maka.
Catalina menggeram. "Itu karena kau sangat mudah dirayu." Ia tidak melakukan apapun namun pria itu cepat sekali panas. Apakah mungkin itu kesalahannya?
Tentu saja tidak.
Itu karena struktur area otak tertentu di hipotalamus yaitu nukleys suprakiasmatikus milik Sehan lebih besar sehingga menghasilkan testosteron yang lebih tinggi, sehingga dorongan seksualnya juga lebih tinggi.
Jangankan melihat dirinya, melihat kambing betina pun mungkin dia akan terangsang.
Sehan tersenyum licik. "Ya, kau benar. Aku memang sangat mudah di rayu," ucapnya. Sebelum Catalina menimpali, Sehan kembali menambahkan, "Namun hanya kau yang mampu melakukannya."
__ADS_1
Catalina tercengang, tubuhnya membeku. Ia tidak tahu apa yang Sehan katakan, tapi ia mengerti apa maksudnya.
"Benar, hanya kau yang mampu melakukannya. Itu sebabnya aku menginginkanmu." Sehan menundukkan sedikit kepalanya dan menempelkan bibirnya di bibir Catalina. Ia ********** perlahan dan merasakan rasa Catalina di bibirnya masih sama. Sangat enak.
Sentuhan bibir dingin Sehan di bibirnya membuat Catalina tertegun. Pria mesum ini, menciumnya lagi? Namun untuk pertama kalinya ia tidak merasa terganggu atau merasa tidak nyaman, sebaliknya jantungnya justru berdebar kencang.
Apa yang terjadi?
Ada apa dengannya?
Ia tidak tahu kenapa, namun reaksi tubuhnya, bagaimana ia tidak mendorong Sehan menjauh, juga perasaan membara di hatinya, seperti yang pakar psikologi bilang tentang cinta, sepertinya, tidak, ini bukan lagi 'sepertinya', ia memang jatuh cinta pada pria itu. Dan itu sudah dikonfirmasi.
Tidak menolaknya adalah bukti bahwa ia juga menginginkannya.
Sial.
Kenapa semua menjadi seperti ini?
Beberapa saat yang lalu ia sudah memutuskan dan bertekad untuk tidak menangkap umpan yang Sehan berikan, ia sangat percaya diri dan yakin bisa melakukannya, namun saat ini pikirannya berubah dan sekarang dunianya hanya tentang pria itu.
Ia menyukainya.
Tidak.
Ia mencintainya dan.. ia sama berhasratnya seperti pria itu.
Mungkin ia terlalu serakah, namun ia tidak peduli. Ia juga menginginkan Sehan, untuk jadi miliknya.
Tidak mendapat penolakan dari Catalina, Sehan tersenyum jahat. "Reaksimu benar-benar nyata." Selesai mengatakan itu, Sehan kembali menciumnya.
Sehan adalah pebisnis yang cukup baik. Ia tahu bagaimana menilai situasi dan memilih strategi yang cocok. Karena ia dengan jelas merasakan bahwa hubungan antara ia dan Catalina telah berubah, hati Catalina yang sudah berantakan, yang harus ia lakukan selanjutnya adalah menambah kekacauan. Itu sebabnya Sehan mulai menyerang.
Ciumannya yang semula pelan menjadi semakin intens hingga Catalina mengira ia akan tenggelam. Ciuman itu membuatnya lupa sejenak bahwa ia takut, karena Sehan membuatnya merasa begitu nikmat, menciptakan keyakinan seolah semua yang mereka lakukan sangat benar. Ciuman itu membuai dirinya dan membuatnya berpikir ini sangat mudah. Bersekongkol untuk membuatnya lupa bagaimana caranya berpikir.
Catalina tidak ingin berpikir. Ia hanya merasakan. Dan tangannya melingkari leher Sehan secara alami. Tidak hanya itu, ia bahkan membalas ciumannya dan mulai menikmati ritme yang Sehan ciptakan.
Mendapat balasan dari Catalina, Sehan semakin bersemangat. Ia sudah menduga gadis ini menyukainya. Namun gadis ini tidak akan mengakui sebelum benar-benar ditampar oleh keadaan. Sekarang akhirnya gadis itu menyadarinya, menyadari bahwa perasaannya untuknya adalah nyata.
Sehan menjelajah punggung Catalina lalu turun ke pinggang dan turun ke bawah lagi. Tangannya berhenti di sana dan meremasnya perlahan.
Catalina benar-benar tenggelam dalam sensasi.
Tidak ingin membuang waktu, Sehan mengangkat tubuh Catalina tanpa melepaskan ciumannya dan membawanya ke tempat tidur. Ia membaringkannya dengan hati-hati lalu membuka ikatan handuknya.
Begitu apa yang ada di benaknya muncul kembali di depannya, darahnya semakin mendidih. Ia tidak pernah cukup sabar untuk mengagumi apapun, tapi sekarang ia tidak bisa mengalihkan pandangan darinya.
"Kau tidak keberatan jika aku melakukannya?" tanya Sehan. Suaranya berat. Kesulitan menahan hasrat. Namun ia masih bertanya dan meminta pendapat Catalina. Karena yang pertama adalah yang terpenting, ia tidak bisa memperlakukan gadis itu dengan buruk.
__ADS_1
Catalina memandangi pria di atasnya dan tatapannya menjadi rumit. "Aku.."