Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 79 • RGSA - Pengemudi Yang Ayahnya Kirim ^^


__ADS_3

Tidak ada yang bisa menghentikan erosi waktu.


Dua insan manusia yang terjebak dalam pusaran masalah yang mereka ciptakan sendiri, kini di serang keterkejutan dalam ketidakberdayaan.


Kerumitan, kekacauan, kerusuhan, kerusakan, semua adalah hasil dari apa yang mereka tanam. Kebohongan yang sejak awal dikubur dan disembunyikan dengan baik, kini mulai berakar, bertunas, tumbuh bahkan berbuah.


Ayahnya ingin ia datang? Catalina terkejut.


Catalina menoleh dan tatapannya bertemu dengan tatapan Sehan. Namun keduanya hanya diam. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, memikirkan masalah mereka sendiri. Pikiran mereka berada di ujung yang sama sekali berbeda. Bahkan mereka tidak berada di jalur yang sama.


Sehan mengkhawatirkan Catalina. Sangat mengkhawatirkannya. Jika ayahnya memintanya datang, itu bisa menjadi bencana besar. Masalahnya gadis itu bukan Tatiana. Gadis itu belum pernah bertemu dengan ayahnya dan ya, ia tidak bisa membayangkan hasilnya jika dua orang asing itu dikumpulkan dalam satu ruangan.


Sedangkan Catalina, ia mengkhawatirkan Sehan. Ia takut Sehan mencurigai sesuatu dan menyadari bahwa ia bukan Tatiana. Jika itu sampai terjadi, ia tidak bisa membayangkan seperti apa hasilnya. Bahkan ia mungkin tidak bisa menanggung konsekuensinya.


Pemikiran ini yang membuat mereka gagal menemukan kedamaian karena mereka sama-sama diserang kekhawatiran akibat kebohongan yang mereka ciptakan sendiri.


"Jika kau tidak siap, kita bisa menundanya," ucap Sehan memecah keheningan. "Aku akan menelponnya dan berkata kau sibuk. Kau tidak perlu merasa terbebani dengan apapun bahkan jika itu adalah orang tuaku." Daripada Catalina, mungkin Sehan adalah yang paling khawatir.


Jika gadis itu adalah Tatiana, ia yakin gadis itu pernah bertemu dengan ayahnya. Jika tidak, tidak mungkin ayahnya bersedia membuatnya bertunangan dengannya.


Namun yang saat ini berada di sampingnya bukan Tatiana. Dia tidak pernah bertemu ayahnya. Bahkan mungkin dia tidak tahu siapa ayahnya. Ia sedikit khawatir ayahnya akan mempersulitnya. Tidak. Daripada itu, ia khawatir ayahnya mencurigai sesuatu.


Catalina mengulurkan tangan dan menggenggam jemari Sehan. Tangannya yang besar terasa dingin. Ia bertanya-tanya, apa pria ini gugup? Mengapa? Bukankah yang seharusnya gugup adalah dirinya?


Catalina mengukir senyum. "Tidak apa-apa. Aku akan datang." Meski gugup, sejujurnya ia merasa lega mendengar ini. Bertemu dengan Raphael Geffrey, ayah Sehan, berarti ia semakin dekat dengan kebenaran.


Alasan kenapa Tatiana dan Sehan bisa bertunangan. Alasan kenapa Raphael menyetujui pertunangan itu. Juga bagaimana Tatiana bisa mendapatkan hati Raphael hingga pertunangan itu terjadi. Ia ingin mengetahuinya, mengetahui semuanya.


Bahkan jika Sehan khawatir dan melarangnya untuk tidak datang, ia masih akan datang. Bertemu dengan Raphael adalah hal yang ia tunggu sejak lama. Ada kesempatan bagus di depan mata, ia tidak mungkin melewatkannya. Lagi pula kesempatan sebagus ini, ia tidak yakin akan datang di kemudian hari. Jika ia melewatkannya hari ini hanya karena Sehan melarangnya, takutnya kesempatan ini tidak akan datang lagi. Jadi selagi ada, ia akan memanfaatkannya sebaik mungkin.


"Tapi.."

__ADS_1


"Semua akan baik-baik saja, Sehan. Sungguh." Catalina memotong perkataan Sehan. "Kau tidak perlu cemas atau khawatir. Bukankah aku pernah bertemu dengannya? Dan ya, sejauh ini semuanya baik-baik saja, bukan?" Maksudnya Tatiana. Sehan mungkin tahu jika Tatiana pernah bertemu Raphael. Jika ia berkata gugup dan tidak bisa datang, bukankah Sehan akan mencurigainya?


Daripada dicurigai oleh Sehan, ia lebih memilih untuk datang langsung ke pusat badai dan mencari peruntungan dengan menangkap mata badainya.


Jika beruntung, ia akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Jika tidak, anggaplah ia sedang sial. Lagipula tidak ada yang pasti dalam sebuah pertaruhan. Konsekuensinya hanya dua, jika tidak menang maka kalah.


Melihat wajah tenang Catalina, pikiran Sehan menjadi rumit. Ia tidak tahu apa yang Catalina pikirkan, namun itu membuatnya takut. Sangat takut hingga membuatnya kesulitan bernafas.


Ia tidak mengerti mengapa Catalina sangat percaya diri dan berkata 'semua akan baik-baik saja'? Yang pernah bertemu dengan ayahnya adalah Tatiana bukan Catalina. Kenapa dia begitu yakin ayahnya tidak akan mencurigai sesuatu?


Tidak peduli seberapa banyak Catalina mencoba menenangkannya, itu tidak akan berhasil. Ia masih tidak bisa tenang. Tidak akan pernah.


***


Catalina sudah sarapan dan sudah selesai merias diri ketika mobil yang Raphael kirim tiba di halaman mansion.


Gaun semi formal sederhana berwarna mint menguraikan sosoknya yang indah. Rambutnya yang bergelombang tergerai malas di punggungnya. Kakinya yang jenjang ditambah sepatu bertumit tinggi, membuatnya seperti model yang akan berjalan di landasan. Bibirnya merah alami, dan matanya menawan.



Karena tidak tahu bagaimana gaya berpakaian Tatiana ketika bertemu Raphael, ia hanya bisa mengenakan pakaian yang sesuai di tubuhnya. Ia berpikir, asal sopan, baik-baik saja maka.


Lagipula, persetan dengan busana Tatiana, siapa yang peduli tentang itu?


Ia bosan memikirkan gadis itu.


Bosan menghadapi kerumitannya.


Namun daripada bosan, kata yang paling tepat adalah 'sedih'. Karena setiap kali mengingat gadis itu, setiap jengkal kehidupannya, membuatnya kesulitan menahan tangis.


Tidak ingin hanyut akan perasaan melankolis, Catalina berjalan keluar dengan Sehan di sampingnya.

__ADS_1


"Masih ada waktu jika kau berubah pikiran," celetuk Sehan. Ia masih belum menyerah membujuk Catalina. Ia tidak bisa tenang. Ia tidak bisa membiarkan Catalina pergi ke rumah orang tuanya. Dan ia berharap gadis itu berubah pikiran.


Ia akan melakukan apapun asal gadis itu mengubah keputusannya. Karena jika sudah pergi dengan pengemudi yang ayahnya kirim, akan sulit untuk membalikkan keadaan.


"Kenapa aku harus berubah pikiran? Bukankah kau senang aku bertemu orang tuamu? Kenapa kau begitu gugup, eh?" Catalina benar-benar tidak mengerti. Seharusnya skenarionya tidak seperti ini. Seharusnya Sehan senang jika ia datang dan bertemu orang tuanya. Tapi ada apa dengan pria ini? Sejak mendapat telepon pagi ini dari Raphael, dia itu terus mengikutinya dan membujuknya untuk tidak datang.


Sehan tercengang. Ya, seharusnya ia senang Catalina bertemu orang tuanya. Seharusnya begitu. Namun sayangnya, situasi dan kondisi tidak cukup mendukung untuk membuatnya senang.


Melihat Sehan dan Catalina sudah datang, pengemudi yang Raphael kirim segera membukakan pintu mobil, mempersilakan Catalina untuk masuk.


"Terima kasih," ucap Catalina sebelum masuk ke dalam mobil, sepenuhnya mengabaikan Sehan. Karena keputusan ada di tangannya, ia akan memilih untuk bergerak maju dan menanggung konsekuensi jika seandainya yang menyambutnya di depan sana adalah kegagalan.


Ketika Sehan juga berniat masuk mengikuti Catalina, pengemudi segera menghalanginya. "Maaf, Tuan Muda, Tuan tidak mengatakan Anda ikut dengan kami. Beliau hanya berkata untuk menjemput nona. Dengan segala hormat, Anda tidak bisa masuk." Dengan begitu, pengemudi menutup pintunya lalu membungkukkan badan sebelum masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan mansion.


Semua itu terjadi sangat cepat. Hingga ketika mobil perlahan menjauh, Sehan masih berdiri linglung di tempat yang sama. Tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, ia menatap mobil yang meninggalkannya dengan amarah membara yang memenuhi hati.


Harrison yang berdiri di belakang, tidak bisa menahan senyum.


Awalnya tuan muda adalah orang yang paling khawatir dengan kepergian nona ke mansion utama. Karena cemas, dia tidak pergi ke perusahaan dan membujuknya sepanjang waktu. Dia mengiming-iminginya dengan berbagai macam hadiah. Namun nona bersikeras menolaknya. Ketika mobil akhirnya datang, tuan muda justru tidak bisa ikut.


Tuan muda ini, sedang ditinggalkan, ya?


Di dalam mobil, Catalina tertawa kecil saat melihat pemandangan langka yang baru saja terjadi. Mulai dari ketika pengemudi tidak membiarkan Sehan masuk hingga dia menjadi bengong melihat kepergiannya.


Semua itu adalah pemandangan langka yang mungkin hanya akan terjadi hari ini. Dan untungnya Catalina dapat melihatnya atau ia akan menyesal seumur hidupnya karena tidak melihat Sehan yang tampak tertekan dan begitu menyedihkan.


Melihat bagaimana pengemudi berhasil menghentikan Sehan, Catalina merasa dia bukan orang biasa. Atau lebih tepatnya Sehan bahkan tidak berani melawan orang suruhan ayahnya. Jika dipikir-pikir, terlepas dari seberapa brengseknya Sehan, dia tetaplah anak yang baik dan berbakti.


Tidak hanya tidak berani melawan, dia bahkan tidak berani mengatakan keluhannya. Daripada mengeluh kepada mereka, dia lebih senang membujuknya untuk tidak datang.


Benar-benar pria yang luar biasa dan sulit untuk tidak jatuh cinta dengan pria seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2