Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 78 • RGSA - Kembali Ke Tempat Ini Lagi


__ADS_3

Setelah cukup lama, Catalina mengangguk. "Aku baik-baik saja," jawabnya. Ia melonggarkan pelukannya dan mencium pipi Sehan. "Terima kasih," imbuhnya.


Tiba-tiba dicium oleh Catalina, Sehan tercengang. "Ada apa? Kenapa tiba-tiba?" Sehan menatapnya dengan serius seolah ada sesuatu di wajahnya yang membuatnya tak berkedip.


Catalina mengulas senyum tipis. "Tidak tiba-tiba. Aku memang ingin melakukannya. Benar-benar ingin." Waktu, kasih sayang, perhatian dan juga kepedulian, ia berterima kasih untuk semua yang sudah Sehan berikan.


Tahu apa yang Catalina maksud, Sehan tersenyum. "Kenapa kau manis sekali, huh? Bagaimana jika aku semakin menyukaimu? Apa kau mau bertanggung jawab?"


Catalina mengibaskan tangan. "Lupakan!" ucapnya. "Apakah lelang sudah di mulai? Haruskah kita pergi ke sana?" tanyanya, mengalihkan pembicaraan. Jika pembicaraan tetap pada pembahasan ini, ia yakin Sehan bisa melakukan sesuatu di sini. Sesuatu yang, uhuk uhuk.. sedikit cabul.


Sehan melihat arlojinya. "Seharusnya sudah dimulai," ucapnya. "Jika kau ingin pergi, mari kita pergi bersama." Sehan kembali memberikan sikunya dan Catalina mengaitkan tangannya. Kemudian mereka berjalan bersisian menuju aula.


Pada dasarnya keluarga Martinez melelang barang-barang berharga milik keluarga mereka, seperti perhiasan, barang antik dan lukisan. Dan hasil penjualan akan di berikan kepada yayasan sosial atau panti asuhan.


“Berapa banyak item yang akan kau tawar?" tanya Catalina. Ia duduk di samping Sehan. Di tangannya, ada papan bundar bertuliskan nomor yang bisa di angkat jika berminat untuk membeli barang yang di tawarkan.


"Tidak ada rencana," jawab Sehan. "Perusahaan kami tidak memiliki hubungan bisnis dengan keluarga Martinez. Kami hanya datang untuk memberi mereka dukungan," lanjutnya.


Satu persatu barang di keluarkan dan masing-masing berhasil menemukan pembelinya. Setelah semua barang berhasil di lelang, Sehan dan Catalina segera meninggalkan tempat acara.


Tidak ada barang dari keluarga Martinez yang menarik minat Sehan, jadi ia pulang dengan tangan kosong.


Catalina pun demikian, cincin yang sangat biasa itu di hargai beberapa puluh ribu pounds, siapa yang mau membelinya? Bahkan jika Sehan berkata akan membayarnya, ia masih tidak akan membelinya.


Ia memiliki pemikiran bahwa lebih baik membeli yang baru daripada membeli barang di lelang. Harga barunya bahkan tidak sampai separuhnya. Lalu kenapa harus repot-repot membeli barang bekas yang harganya melampaui harga barunya?


Benar-benar perampokan.


Ia juga tidak mengerti mengapa mereka begitu senang saat berhasil mendapatkan barang-barang itu. Ia tidak mengerti mentalitas seperti ini. Satu-satunya hal yang membuatnya senang adalah pelelangan yang membosankan itu akhirnya berakhir.


Dalam perjalanan kembali, Catalina di serang kantuk dan ia tidur dalam pelukan Sehan.

__ADS_1


Setelah waktu yang tidak diketahui, Sehan mengulurkan tangan dan dengan lembut mengusap sisi wajahnya dengan ujung jarinya. Kemudian, ia membantunya menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya, dan jari-jarinya menempel di daun telinganya selama beberapa detik lagi.


Gadis dalam pelukannya ini memiliki kehidupan pribadi yang tidak bisa ia campuri. Itu sangat rumit dan ia tahu sulit untuk Catalina menjalani sekaligus menerima kenyataan yang terjadi dalam satu waktu.


***


Catalina tahu kesalahannya.


Karena tidur di dalam mobil, ia kembali ke tempat ini lagi.


Mansion milik Sehan.


Benar-benar pria yang picik. Memanfaatkan ketidaksadaran seorang gadis dan membungkus nya untuk di bawa pulang. Pria yang tidak mau rugi, pria paling menyebalkan, bajingan tercela, namun sayangnya, dia tampan.


Lagipula seseorang dengan wajah tampan, prinsip terpenting adalah 'kau tampan maka kau menang'.


Intinya, ia kalah telak.


Catalina terkekeh. "Aku hanya memutuskan untuk membiarkannya," jawabnya. Kalau pun marah, ia juga tidak marah padanya. Ia marah pada dirinya sendiri karena terlalu mempercayai iblis berwajah malaikat seperti Sehan.


"Karena sudah sampai di sini, kau harus menerimanya, bukan?"


"Haruskah kau membuat kalimat itu menjadi pertanyaan? Tidak bisakah kau tidak memakai tanda tanya? Aku yakin itu bukan sebuah pertanyaan tetapi pernyataan. Tolong bedakan kedua kalimat itu dengan benar, Tuan Geffrey," Catalina menimpali. Ia tidak habis pikir. Pria di sampingnya ini sedikit memaksakan kehendak. Tidak. Dia sangat memaksakan kehendak.


Meski ia tidak mengatakan ingin pulang ke kondominium karena ketiduran, namun bukan berarti ia ingin pulang ke mansion. Namun membicarakan hal ini dengan Sehan, ia tahu hanya membuang tenaga. Pria itu tidak akan peduli.


"Baiklah. Karena kau sudah sampai di sini, kau harus menerimanya." Sehan mengulangi perkataannya dengan menghilangkan tanda tanyanya. Membuatnya menjadi sebuah pernyataan.


Catalina mengangguk. "Baik, Tuan Geffrey."


Malam yang panjang berlalu dengan damai.

__ADS_1


Sehan dan Catalina tidak melakukan olahraga malam atau pun pemanasan sebelum tidur. Mereka hanya berbaring sambil berpelukan lalu tahu-tahu mereka tertidur.


Pagi harinya, Catalina terbangun dengan dering ponsel yang cukup nyaring. Tahu itu bukan ponselnya, ia membangunkan pria di sampingnya. "Sehan, ponsel mu berdering. Kau harus menerimanya. Siapa tahu panggilan penting," ucapnya sambil menarik selimut lalu kembali tidur.


Ini masih terlalu pagi untuk bangun.


Karena Catalina tidak memiliki sesuatu untuk dilakukan, ia berniat untuk bermalas-malasan dan bangun sedikit siang. Jadi ia memejamkan mata dan menikmati hari liburnya dengan bahagia.


Sehan membuka mata lalu mengambil ponselnya. Dan begitu melihat nama yang tertera, ia segera menerima panggilannya. "Halo," ucapnya sambil memeluk gadis yang tertutup selimut di sampingnya. Hanya wajah cantiknya saja yang terlihat dan ia mencium sekilas dahinya.


"Apa kau sedang bersama gadis itu?"


Mendengar suara seorang pria dari balik panggilan, Sehan tercengang sesaat sebelum melirik ke samping. Bagaimana dia tahu? batinnya. Namun ia mengesampingkan pertanyaan ini. Sebaliknya ia menjawab. "Ya."


"Aku akan mengirim orang untuk menjemputnya. Kau lanjutkan pekerjaanmu. Aku akan menutup panggilannya." Dengan kalimat itu, dia menutup panggilan.


Sehan menjauhkan ponsel dari telinganya begitu panggilan terputus dan ia menatap layar ponselnya dengan rumit. Apa maksudnya dengan 'mengirim orang untuk menjemputnya'? Apakah dia ingin Catalina datang? Ke rumah itu?


Tidak merasakan pergerakan di sampingnya, Catalina membuka mata, sekedar untuk memastikan apa yang terjadi. Namun saat di suguhkan wajah tampan Sehan yang tampak serius berpikir, ia merasa ada yang salah dengan pria itu.


Catalina bertanya, "Apakah semuanya baik-baik saja?" Meski hanya dua kata yang Sehan ucapkan, 'halo' dan 'ya', namun itu sudah cukup membuatnya merasakan keanehan yang tidak biasa Sehan tunjukan.


"Tidak ada masalah," jawab Sehan. "Hanya saja.." Ia menghentikan ucapannya, ragu untuk melanjutkan.


"Apa?" Catalina menunggu kelanjutan perkataan Sehan dengan penasaran.


"Dia ingin kau datang," Sehan berkata dengan suara rendah. Sangat rendah sampai nyaris tak terdengar.


Catalina mengerutkan kening. "Dia? Dia siapa?"


Keadaan hening untuk sementara waktu sampai Sehan menjawab, "Ayahku."

__ADS_1


__ADS_2