Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 15 • RGSA - Kau Harus Bertanggung Jawab


__ADS_3

"Kau tahu apa yang terjadi sekarang?" Sehan mengulangi pertanyaannya.


Catalina tidak bisa memikirkan apapun lagi. Pikirannya kosong. Ia juga mengulangi jawaban yang sama. "Apa? Memangnya apa? Kau pikir aku tahu?" Ia hanya menyelamatkan orang yang barangnya dicuri, oke? Ia tidak melakukan kejahatan atau tindak kriminal. Jadi, apa masalahnya? Ia membantu orang yang kesulitan karena jiwa menolongnya tinggi, salahnya dimana coba?


"Sederhananya, kau menghancurkan rencanaku," ujar Sehan.


Catalina tercengang. Menghancurkan rencananya? Kapan ia melakukannya? Ia baru saja menolong orang. Ia baru saja menjadi pahlawan. Jadi bagaimana mungkin ia menghancurkan rencana pria busuk itu?


Tahu apa yang Catalina pikirkan, Sehan berkata. "Singkatnya, kau menghentikan orang yang salah. Kami hampir mengetahui siapa pengkhianatnya jika kau tidak menghentikan orang itu. Sekarang, rencananya hancur berantakan dan kami tidak mendapatkan hasil apapun selain kegagalan. Dan penyebabnya adalah kau." Sehan menekankan perkataannya dengan tegas. Sebenarnya apa yang ia katakan tidak salah, namun keadaan sebenarnya tidak seburuk itu. Ia hanya sedikit menakuti gadis sial ini.


Kenny mengangkat alisnya sedikit saat mendengar apa yang Sehan katakan. Sehan adalah pria yang cerdas dan kharismatik, jadi ia belum pernah melihat Sehan mengancam gadis kecil yang tidak tahu apa-apa. Bahkan jika rencana ini gagal, mereka masih punya rencana cadangan yang bisa dilakukan di lain hari. Tapi apa harus Sehan menakuti gadis yang sebenarnya berniat membantu ini? Ya, meskipun caranya kurang efisien, setidaknya gadis ini memiliki niat yang baik.


Catalina mengedipkan matanya. Jadi, begitu? Jadi Sehan membiarkan tasnya di curi untuk mengetahui orang yang sudah mengkhianatinya? Sekarang ia mengerti kenapa Sehan begitu marah. Ternyata, karena dirinya? Ia menggagalkan rencana pria itu?


Ah, sial.


Betapa sialnya ia?


Sekarang, bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan?


Tidak ingin memperburuk keadaan, Catalina membungkukkan sedikit badannya. "Maaf, Tuan Geffrey yang terhormat, aku benar-benar tidak tahu. Aku hanya ingin membantu. Jika aku tahu kau sengaja merencanakan ini, aku tidak akan ikut campur. Maksudku, kau sangat murah hati. Kau tidak mungkin perhitungan dengan gadis lemah sepertiku, kan?" Catalina berusaha yang terbaik untuk merangkai kata, demi meminimalisir kemarahan pria itu.


Masalahnya, selain berkuasa, pria ini juga sangat mengerikan. Dia bisa membuat Tatiana celaka dan membiarkan orang lain menanggung kesalahannya. Jika ia sampai membuat iblis ini marah, mungkin tubuhnya akan segera ditemukan di selokan tanpa nyawa.


Sehan mengerutkan kening. "Apa aku terlihat seperti orang yang murah hati? Dari sebelah mana kau melihatnya?" Suaranya dingin, sangat tidak puas dengan permintaan maaf Catalina. Lagipula, memang permintaan maaf bisa mengubah segalanya? Baginya, itu sama sekali tidak berarti.


Catalina menelan ludah dengan susah payah. Dari ekspresinya, permintaan maafnya jelas tidak menyenangkan Sehan, tetapi justru membuatnya tidak senang, Ia menjadi bingung, apa maksudnya ia tidak cukup tulus dalam menunjukkan permintaan maafnya?


Catalina dilema.


Ia tidak menduga sikap baiknya menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Tahu begitu, ia lebih baik menjadi kejam dan tidak berperasaan. Namun sayangnya, sudah terlambat untuk menyesal. Semua sudah terjadi dan tidak ada lagi tempat untuk kembali.


"Aku tidak peduli kau orang yang murah hati atau tidak, aku hanya akan bilang, aku harus pergi. Aku masih punya urusan." Dengan begitu, Catalina berbalik, bersiap pergi. Namun lagi-lagi Sehan menarik lengannya, tidak membiarkannya pergi.


"Kau tahu, seseorang harus bertanggung jawab atas hal ini," ucap Sehan.


Suara dingin Sehan menyapu telinga Catalina. Meski jarak mereka tidak terlalu dekat, namun sungguh, demi apapun, pria itu seperti akan mencekik lehernya.

__ADS_1


Merasa kesal, Catalina mencoba melepaskannya tetapi cengkeraman di lengannya bukannya terlepas justru semakin erat. Ia menghela nafas panjang, memaksa dirinya untuk tenang.


Kehangatan dari tangan Sehan yang memegang lengannya membuat detak jantungnya lebih cepat. Musuh, tidak diragukan lagi, ini pasti tubuhnya yang menyuruhnya menjauh dari pria berbahaya ini. Pasti naluri bertahan hidupnya yang menunjukkan antisipasi.


"Kau tahu, harus ada kompensasi yang dibayar atas semua yang kau lakukan. Sederhananya, kau merusak rencanaku, jadi kau harus bertanggung jawab." Sehan kembali buka suara.


Catalina hampir saja memuntahkan seteguk darah. Sial. Itu adalah kata-kata yang ia ucapkan kepada pencuri itu, hanya berbeda kata belakangnya saja. Kenapa Sehan bisa mengetahui bahkan mengulangi perkataannya? Ia menangis di dalam hati. Pria itu benar-benar iblis.


"Jadi, apa yang kau inginkan dariku?" tanya Catalina. Pria itu tidak ingin ia menjadi umpan, kan? Meski itu cukup masuk akal, namun menjadi umpan bukankah ide yang bagus. Ia seorang aktris, maksudnya Tatiana. Jadi ia tidak mungkin melakukan hal berbahaya yang bisa membahayakan nyawanya hanya karena ia menyebabkan sedikit masalah, kan? Bukankah itu tidak sebanding dengan bahayanya? Lagipula, selain rencana yang gagal, Sehan tidak rugi apapun. Juga, Sehan masih bisa merencanakan hal lain di masa depan.


"Masuk ke mobil!"


"Tunggu!" Catalina berusaha menghentikan Sehan dari perintah mutlaknya. "Begini, aku sangat sibuk hari ini. Kita akan membicarakan ini lain kali." Belum selesai berkata, Catalina sudah melarikan diri. Berhasil pergi dua langkah, ia pikir sudah selamat. Namun ternyata itu hanya khayalannya.


Kenny yang mendapat instruksi dari Sehan untuk memasukkan Catalina ke mobil, bergerak cepat mencegah gadis itu pergi. "Maaf, Nona, silahkan masuk ke mobil." Ia berdiri tepat di depan Catalina. Tubuhnya yang tinggi dan tegap, segera menghalangi tubuh rampingnya.


Catalina merasa hidupnya sudah berakhir hari ini. Ia tidak tahu sefatal apa kesalahannya sampai harus menderita kerugian sebanyak ini. Satu yang pasti, ia tidak akan melakukan kebaikan dalam bentuk apapun mulai dari sekarang. Ia hanya akan menyisihkan sedikit uangnya untuk orang miskin seperti janjinya saat itu. Untuk kebaikan lain, ia tidak akan melakukannya.


Sungguh.


Apa yang ia lakukan hari ini sudah cukup membuatnya trauma.


"Maaf, Nona, bukan kapasitas saya untuk menentukan," jawabnya singkat.


Catalina merasa sudah tidak punya harapan lagi. Jadi tidak ada gunanya terus melawan. Itu hanya akan membuat dirinya terlihat semakin lemah. Padahal, kekuasaan yang membuatnya lemah. Jika sedikit saja ia punya kekuasaan, ia tidak akan takut melawan pria ini. Sayangnya, beginilah nasib orang miskin.


Dengan enggan, Catalina berbalik dan masuk ke dalam mobil. Ia berniat duduk di depan, namun Kenny mempersilahkan dirinya untuk duduk di belakang.


"Jangan mengabaikan peringatanku."


Kalimat itu langsung terdengar begitu Catalina masuk ke dalam mobil. Ia memutar bola matanya. Mengabaikan peringatannya? Kapan? Ia bertanya-tanya. Namun dari banyaknya pertanyaan, hanya satu jawaban yang berhasil ia pikirkan. Apa maksudnya email itu? Jika maksudnya email, maaf, itu bukan peringatan, tapi ancaman.


Catalina memutuskan untuk mengabaikannya.


Mobil perlahan pergi dan bergabung dengan arus mobil.


"Baca ini!" Sehan melemparkan dokumen kepada Catalina secara kasar.

__ADS_1


"Hei, kau!" Suara Catalina meninggi. "Kasar sekali." Untuk kelimat ini, ia merendahkan suaranya. Ia lupa sosok seperti apa pria di sampingnya. Dia adalah iblis.


"Baca dan beritahukan padaku!" Ulang Sehan. "Kau akan membayar kompensasimu perlahan." Yang itu berarti, ini merupakan bagian dari kompensasi.


Catalina tidak menyentuh dokumennya, ia justru menatap Sehan dan kebencian di hatinya sudah berkembang menjadi berkali-kali. "Dengar, aku bukan pembantumu. Kau tidak punya hak untuk memerintahku."


"Aku akan membayarmu."


"Apa?" Catalina terkejut. "Membayar? Kau bilang ini kompensasi?" Membayarnya? Hanya untuk membaca dokumen-dokumen itu? Benarkah? Ia merasa semua tidak sesederhana itu. "Tidak. Maksudku, apa kau pikir aku kekurangan uang?" Ia mengalihkan pembicaraan dengan cepat saat menyadari ucapannya terlalu sembrono. Orang seperti dirinya, yang biasa berkutat dengan perekonomian lemah, tidak bisa tidak tertarik jika berbicara tentang uang. Dan itu sangat berbahaya. Satu kata saja ia salah bicara, tamat riwayatnya.


Sehan menyeringai. Hanya dengan sedikit umpan, gadis ini benar-benar menunjukkan taringnya. Menunjukkan betapa banyak perbedaan Tatiana sebelum dan sesudah koma. Lihat saja bagaimana gadis itu berbicara dan menjawab, keberanian seperti itu, tidak dimiliki oleh Tatiana yang dulu.


Dan kecurigaan itu, di konfirmasi dengan kepergian Nick ke luar negeri beberapa minggu yang lalu. Meski Sehan tidak tahu kemana tujuan pastinya dan apa yang dia lakukan, namun Sehan cukup yakin sesuatu pasti sudah terjadi. Belum lagi email yang di abaikan oleh gadis itu. Jika itu Tatiana yang dulu, gadis itu pasti sudah menjelaskan tentang dirinya.


Beberapa hal benar-benar menjadi semakin jelas.


Sehan melihat ke luar jendela. "Ya," jawabnya. Bibirnya terangkat menjadi senyuman, matanya berkilat berbahaya seperti predator yang akhirnya mengunci mangsa yang selama ini ditunggu-tunggu.


"Hei, kau pasti salah memahami sesuatu. Aku tidak kekurangan uang." Untuk beberapa alasan, Catalina merasa Sehan sudah mencurigai sesuatu.


"Ambil dan baca!" Sehan tidak membiarkan Catalina menjelaskan apapun. Baginya semakin Catalina menjelaskan, semakin jelas pula kenyataannya.


Catalina mengambil dokumennya. "Jangan berpikir aku melakukan ini karena kekurangan uang. Aku hanya sedang membayar kompensasi," ujarnya sebelum mulai membaca dokumennya.


Sehan terkekeh. "Terserah kau saja."


Keadaan menjadi hening.


Melihat wajah serius Catalina, Sehan tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, "Apa kau benar-benar tahu bahasa Rusia?"


Catalina berpikir sejenak. Tetapi pada akhirnya ia memutuskan untuk jujur. "Ya."


"Bagaimana? Kapan?" tanya Sehan, santai. Tidak ada sedikitpun jejak keterkejutan di matanya. Yang itu berarti ia sudah menduganya.


"Belajar sendiri. Saat aku luang."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Kenapa? Em.." Catalina berpikir sejenak. Sebenarnya ia tidak memiliki alasan khusus belajar bahasa Rusia. Ia hanya merasa bahasa itu sedikit menarik. Tapi Sehan tidak mungkin mempercayai alasan sederhana semacam ini. "Karena aku ingin menjemput pria Rusia. Mereka seksi, tahu tidak?"


__ADS_2