Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 41 • RGSA - Sangat Tersentuh


__ADS_3

Setelah kepergian Catalina, Sehan segera menghubungi Kenny.


"Bawa pakaian tidur untuk seorang gadis," celetuknya santai.


Di balik panggilan, Kenny terpaku.


Pakaian tidur untuk gadis?


Ia memerlukan waktu selama beberapa saat sebelum terkoneksi. Setelah mengerti, bibirnya melengkung membentuk sebuah senyum.


Ternyata bosnya cukup keras bermain dengan seorang gadis. Baru beberapa hari berlalu, dia mampu membawa gadis itu ke tempat tidur. Benar-benar layak menjadi pemimpin Geffrey Group.


"Baik, saya akan segera menyiapkannya," sahut Kenny sambil masih tersenyum.


Kenyataannya, apa yang Kenny pikirkan, berbeda dengan apa yang ada di benak Sehan. Jika Sehan memikirkan piyama tidur biasa, maka Kenny membayangkan lingerie seksi berbahan tipis dengan banyak lubang dan renda.


Jika Sehan tahu pikiran mesum Kenny, ia akan memukul kepalanya tanpa ampun dan memotong gajinya tanpa ragu. Sayangnya ia tidak mendeteksi ada yang salah dengan Kenny, sehingga ia segera pergi ke pembicaraan dengan perintah baru. "Juga, bawa ponsel baru," perintahnya.


Selain tidak melihat Catalina membawa uang, ia juga tidak melihatnya membawa ponsel. Mungkin barang-barangnya tertinggal di rumah Atkinson. Karena Catalina tidak bercerita, ia enggan bertanya, dan ia hanya bisa berinisiatif.


"Baik." Kenny mengangguk meski tahu bosnya tidak bisa melihat anggukannya. Senyum pipis masih tersungging di bibirnya walau panggilan sudah berakhir. Dan semakin membayangkan, ia semakin kagum.


Ia tidak tahu bosnya kecanduan bermain keras hingga memesan lingerie-lingerie untuk dikenakan gadis itu. Betapa menyenangkannya malam dengan bertukar pikiran dan memainkan permainan kecil. Benar-benar hidup yang menyenangkan.


***


Catalina keluar dari kamar mandi terbungkus kimono handuk.


Sambil menggosok rambut panjangnya dengan handuk yang lain, ia berjalan dengan santai dan terkejut saat melihat siluet seorang pria duduk di sofa.


Ia hampir berteriak namun ia berusaha keras membuat mulutnya tidak melakukannya. Ini rumah pria itu, dan ia hanya tamu. Kemana dia pergi, ia bukan orang yang bisa mencegah atau melarang.


Catalina berdehem untuk menghilangkan kegugupannya. "Kenapa kau di sini?" tanyanya sambil berjalan menuju pria itu. Meski cemas, ia tidak ingin Sehan melihat kecemasannya.


Memang apa yang perlu di takuti dari pria ini?


Kau lupa, dia mesum?


Baiklah dia memang mesum.

__ADS_1


Isi kepalanya berdebat dan menyimpulkan hal yang sama. Pria itu sangat mesum sehingga ia harus menghindarinya.


Tapi, bagaimana caranya menghindar?


Bukan ia lupa cara menghindar, ia sudah berusaha keras. Namun ia datang ke sarang harimau setelah keluar dari sarang serigala, dan harimau jantan menunggunya untuk memangsanya. Sudah tersudut seperti ini, bagaimana lagi ia bisa menghindar? Masih utuh dan tidak di mangsa saja sudah untung.


Melihat seorang gadis keluar dari kamar mandi dan sedang mengeringkan rambutnya, Sehan memperhatikannya lekat. Gadis itu terlihat sangat cantik. Wajahnya yang tampak segar sedikit memerah karena mandi dan dia terlihat agak manis.


Hidungnya yang kecil dan fitur wajah yang indah entah bagaimana membuatnya tertarik. Memikirkan rasa yang pernah ia cicipi sebelumnya, sebenarnya ia merasa sedikit ingin mencobanya lagi. Namun menyadari sesuatu yang buruk baru saja terjadi padanya, ia tidak memiliki hobi memanfaatkan ketidakberdayaan orang lain.


"Kemari!" Sehan menepuk sofa di sebelahnya. Ia memberikan banyak toleransi pada gadis itu dan selalu mencoba memahaminya. Namun apa yang ia lakukan tampaknya masih tidak cukup untuk gadis itu.


Catalina mendudukan diri di samping Sehan dengan patuh. Kepalanya menunduk, menatap sandal rumah kebesaran yang dipakai di kakinya.


"Berikan tanganmu!" Sehan kembali berkata.


Catalina menoleh, menatap Sehan. "Ada apa?" tanyanya. Mengulurkan tangannya, apa dia akan menganiayanya lagi?


"Jangan biarkan aku mengulanginya sampai kedua kalinya," tegasnya. Ia bukan orang yang suka menjelaskan. Bahkan untuk Catalina,


Catalina cemberut. Ia mengulurkan tangannya setelah beberapa saat mempertimbangkan. Ia tidak tahu apa yang akan Sehan lakukan. Namun jika dia berniat menganiayanya lagi, ia tidak akan tinggal diam.


Tetapi apa yang Catalina pikirkan berbeda dengan apa yang Sehan lakukan.


Catalina terkejut dengan apa yang Sehan lakukan.


Pria itu sebenarnya tidak menganiayanya, tetapi sedang membantunya dengan lukanya.


Melihatnya yang begitu lembut dan teliti, sejujurnya ia sangat tersentuh.


Ia tidak bisa membayangkan bahwa pria yang begitu kuat dan tidak dapat diprediksi akan begitu serius melakukan hal-hal ini untuknya. Pria yang biasanya seperti penguasa yang mengendalikan hidup orang lain, tapi saat ini ia menjadi pria yang lembut dan perhatian.


Perasaan kontradiktif ini sangat mengganggunya.


Ia akan goyah.


Namun itu adalah hal yang masuk akal karena ia adalah manusia. Sebagai manusia, ia memiliki perasaan. Perasaan kehilangan, perasaan memiliki, perasaan mencintai. Ia buta warna, Sehan memberinya warna. Ia kedinginan, Sehan memberinya kehangatan. Ia terluka, Sehan mengobati lukanya.


Segala hal benar-benar berjalan ke arah yang tidak semestinya.

__ADS_1


Sesaat kemudian ekspresi Catalina segera berganti menjadi rintihan kecil. Dahinya mengernyit karena rasa sakit. Meski tahu Sehan melakukannya dengan lembut dan hati-hati, namun tidak lantas membuat rasa sakitnya hilang.


Merasakan tubuhnya menegang, Sehan berkata, "Tahan sebentar lagi. Kau akan baik-baik saja setelahnya," hiburnya. Sesekali ia meniupnya perlahan untuk mengurangi rasa sakitnya. Karena sudah terlalu lama, area di sekitar luka mulai membengkak. Itu pasti sangat sakit. Namun jika tidak di obati, akan semakin sakit esok harinya.


"Uh huh." Catalina mengangguk. Ia bukan gadis manis yang tidak pernah terluka. Ia bukan gadis manja yang ketika mendapat luka gores, akan menangis seperti kehilangan nyawanya. Ia tidak mendapatkan kemewahan semacam itu dalam hidupnya. Jadi, terluka adalah hal yang wajar dan ia tidak pernah merengek akan hal itu.


Biasanya, ia akan membiarkan luka-lukanya sembuh dengan sendirinya. Namun ini adalah pertama kalinya ada orang yang memperhatikannya seperti ini. Tidak. Sebenarnya ini kedua kalinya. Pertama adalah Nick yang membantu mengobati lukanya saat masih di Valdes. Dan kedua adalah Sehan. Tetapi perasaan yang bergemuruh di dadanya berbeda dengan saat Nick mengobatinya. Perasaan di hibur oleh pria seperti Sehan, tidak lagi sebatas bentuk kepedulian sesama umat manusia, namun lebih dari itu.


Catalina memperhatikan lekat wajah tampan Sehan yang fokus mengobati lukanya.


Seseorang dari keluarga Geffrey, pria yang ditakuti karena kekejamannya, siapa sangka dia dengan hati-hati mengaplikasikan obat di tangannya? Jika tidak mengalaminya sendiri, ia tidak akan mempercayainya.


Benar. Dan di dalam hatinya, ia meyakini pria ini tidak hanya tertarik padanya, ia merasa pria ini menyukainya dan mungkin.. mencintainya.


Jantungnya terus berdebar kencang, seolah hendak melompat keluar dari dadanya.


Catalina dengan paksa menekan detak jantungnya dan menatap Sehan dalam-dalam. Ia tidak akan mengakui bahwa ia bisa melihat tatapan lembut dan sayang dari mata pria itu. Ia tidak berani melupakan bahwa dia bukan pria biasa. Dia adalah Sehan Geffrey, tuan muda dari keluarga Geffrey.


Ia tersenyum tipis dan menekan perasaan singkat yang baru saja ia rasakan. Kesenjangan di antara mereka terlalu besar. Ia hanya gadis kecil yang tidak berarti. Sedangkan dia adalah tuan muda dari keluarga konglomerat.


Nyatanya ia tidak harus membuat pilihan. Ia tidak perlu khawatir karena dari awal hingga akhir hanya ada satu jalan untuknya, jauhi pria itu dan bawa Tatiana pergi.


Namun apakah ia bisa melakukannya?


Sekarang ia mulai ragu.


"Selesai," ucap Sehan setelah selesai mengobati luka di tangan Catalina. "Sekarang berikan kakimu!" Sehan sudah siap mengobati kaki Catalina juga. Karena yang terparah bukan luka ditangannya, tetapi luka di kakinya.


Catalina menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu. Aku akan melakukannya sendiri," tolaknya halus. Tangan adalah bagian yang wajar, meski sebenarnya tidak mau, ia masih akan memberikan tangannya untuk diobati olehnya. Tetapi tidak dengan kaki. Orang seperti Sehan tidak pantas menyentuh kakinya.


"Meski kau bisa melakukannya sendiri, aku akan tetap membantumu," tungkas Sehan.


"Tapi.."


Belum sempat Catalina melanjutkan perkataannya, Sehan berinisiatif meraih kedua kaki Catalina lalu meletakannya di pangkuannya. Setelah melepas sandalnya dan meletakan di lantai, ia mulai melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan di tangannya. "Jangan bergerak, huh? Aku akan melakukannya dengan sangat hati-hati."


Catalina tidak mengatakan apapun juga tidak menolak perlakuan baiknya. Ia menyentuh dadanya dan menilai Sehan secara terang-terangan.


Pria ini, bagaimana mungkin ia menghindarinya? Sedangkan semua yang ia lakukan, selalu berhasil membuat jantungnya berpacu hebat.

__ADS_1


Perasaan ini..


Apa sebenarnya?


__ADS_2