
"Kenny."
Suara Sehan yang memanggil namanya membuat Kenny seketika menghentikan basa-basinya.
Tahu bosnya sudah berhasil menyembunyikan Catalina, ia tidak lagi menghalangi Lexus. Ia menyingkir dan menoleh ke arah Sehan. "Ya, Tuan," jawabnya. Benar saja, Catalina yang semula duduk di pangkuan Sehan, sekarang sudah tidak ada lagi.
Firasatnya berkata gadis itu bersembunyi di bawah meja. Karena jika dia bersembunyi di ruang pribadi, ia pasti akan mendengar langkah kakinya. Alih-alih bersembunyi di tempat yang nyaman, ia tidak mengerti mengapa Catalina memilih untuk bersembunyi di bawah meja.
Benar-benar sulit di pahami.
"Siapa yang datang?" tanya Sehan, pura-pura tidak tahu. Ia mengusap tengkuknya saat merasakan tangan Catalina mulai menyentuh bagian bawahnya. Tangannya yang halus menyentuhnya dengan lembut. Membelai semuanya seolah gadis itu sedang bereksplorasi dengan penemuan baru.
Meski awalnya menolak, Catalina bukan gadis yang tidak masuk akal. Ada barang bagus di depannya, tidak mungkin ia masih mempertahankan sikap jual mahalnya.
Terlepas dari itu, ia juga sedikit penasaran dengan barang milik pria.
Kenapa wanita begitu menyukainya, kenapa wanita begitu menggilainya, kenapa wanita begitu terobsesi dengannya, selain bisa memberikan kenikmatan yang tak terdeskripsikan, ia penasaran seperti apa penampakan aslinya.
Karena biasanya ia selalu menjadi yang pasif ketika berhubungan intim dengan Sehan, ia tidak pernah melakukan hal seperti menyentuh atau menjilatnya. Dan juga, ia masih sedikit malu untuk melakukan adegan-adegan yang biasanya dilakukan orang dewasa. Itu sebabnya ini adalah kali pertama ia menjadi orang yang aktif.
Ia tidak tahu bagaimana harus memulai. Jadi pertama-tama ia menyentuh dan membelai terlebih dulu seperti bagaimana Sehan memperlakukan dirinya.
"Tuan muda Lexus," jawab Kenny.
"Biarkan dia masuk!" ucap Sehan memberi perintah.
Kenny mempersilahkan Lexus untuk masuk dan membungkukkan sedikit badannya ketika pria itu berjalan melewatinya.
"Terima kasih. Kau bisa pergi," ujar Lexus.
Kenny berjalan keluar dan menutup pintu kembali. Menyisakan Sehan yang duduk di kursi kerjanya dan Lexus yang berjalan menghampirinya.
"Kau datang? Apa syutingmu sudah selesai?" tanya Sehan kepada pria yang enam tahun lebih muda darinya.
"Belum, kami semua mendapat cuti. Jadi aku datang menemuimu," sahut Lexus. Sehan adalah kakak laki-lakinya sekaligus satu-satunya saudaranya, jadi sesibuk apapun ia, bahkan jika ia tidak merindukannya, ia masih akan datang untuk menyapa.
Ketika Lexus hampir mencapai meja kerjanya, Sehan menaikan tangan, melarang Lexus mendekat lebih jauh dan memberikan isyarat agar pria itu mendudukan diri di kursi yang terletak di depan mejanya.
__ADS_1
Lexus menghentikan langkah dan tercengang. "Kau tidak ingin memelukku?" Ia menatap Sehan penuh keheranan. Tidak biasanya Sehan menolak ia mendekatinya. Ada apa dengannya hari ini? Apa yang salah?
"Tidak untuk saat ini," jawab Sehan. Gadis di bawahnya sangat nakal. Meski awalnya gadis itu tampak malu-malu dengan hanya menyentuhnya, ketika dia memasukannya ke dalam mulutnya, gadis itu cukup pandai melakukannya.
Dia melakukannya dengan lembut, tidak sakit sama sekali. Giginya tidak mengenainya dan rasanya benar-benar menyenangkan. Sensasi ketika mulutnya yang hangat bertemu dengan miliknya yang tegang, membentuk kolaborasi yang berpadu sempurna dengan cara yang luar biasa.
Selagi sebagian milik Sehan masuk ke dalam mulutnya, Catalina menggunakan tangannya untuk menggerakkan batangnya ke atas dan bawah. Hingga pada akhirnya bukan hanya mulutnya yang bekerja, tetapi tangannya juga.
Catalina tahu milik Sehan memang besar, kencang dan panjang. Hingga mulutnya menjadi terisi penuh sampai hanya ada miliknya dan aroma khasnya yang memenuhinya. Ia bahkan menjadi penasaran, ingin mengukur berapa lingkar dan berapa panjang milik pria itu. Mengapa bisa sangat penuh di mulutnya.
Lexus tercengang sekali lagi. Tidak untuk saat ini? Kenapa? Apa maksudnya?
Meski sedikit terganggu, Lexus bukan orang yang suka mengeluh dan bukan orang yang banyak bertanya. Karena Sehan menginginkannya seperti itu, maka ia hanya bisa mematuhinya. Ia mendudukkan diri pada salah satu kursi di depan meja kerja Sehan dan mulai bermain-main dengan kursinya.
"Lain kali jika datang, tidak bisakah kau menghubungiku terlebih dahulu?" Sehan kembali buka suara.
"Memang aku pernah menghubungimu jika mau datang?" Lexus bukan orang yang suka menghubungi orang lain. Bahkan jika Sehan adalah kakaknya, ia tidak akan pernah menghubunginya.
Begitu juga jika ia pulang ke rumah. Ia akan tiba-tiba sampai di rumah dan tidak mengatakan kedatangannya atau tanggal kepulangannya kepada siapapun bahkan kedua orang tuanya.
Hal itu juga berlaku jika ia datang ke perusahaan Geffrey. Ia akan datang dan masuk seperti ia memasuki rumahnya sendiri.
"Baiklah." Lexus mengangguk. "Bagaimana kabarmu?" tanyanya.
"Seperti yang kau lihat, aku cukup baik," jawab Sehan. Ia terlihat sangat santai. Posisi duduknya nyaman seolah ia tidak melakukan sesuatu yang aneh. Wajahnya juga datar meski sejujurnya rasa nikmat membuatnya ingin melenguh namun ia menghentikan dirinya untuk tidak melakukannya.
"Kau tidak menanyakan kabarku?" tanya Lexus lagi ketika Sehan tidak menanyakan kabarnya. Meski hanya basa-basi, seharusnya pria itu juga melakukan hal yang sama.
"Kau terlihat sangat baik."
Lexus kehilangan semua kata-katanya. Hanya karena terlihat baik, tidak bisakah pria itu sedikit perhatian?
Pria itu benar-benar menyebalkan.
Mencoba melupakan apa yang Sehan lakukan padanya, Lexus memutar-mutar kursinya seperti anak kecil. Kursi di ruang kerja kakaknya sangat nyaman dan bisa berputar dengan leluasa. Ia selalu menikmati momen menjadi anak kecil ketika berada di sini. Namun pergerakannya berhenti ketika pandangannya tidak sengaja menangkap sesuatu yang aneh di sofa.
Tas wanita, kacamata hitam dan juga masker?
__ADS_1
Kenapa barang-barang seperti itu tergeletak di sana?
Belum reda kecurigaannya, sesuatu yang aneh juga berada di atas meja. Dua cangkir teh dan cemilan di atas nampan.
Apa-apaan ini?
Mencoba untuk tidak curiga, namun ia gagal melakukannya.
Bagaimanapun perilaku kakaknya terlalu aneh hari ini. Bahkan jika dia menyangkal tidak menyembunyikan seorang gadis, ia tidak akan mempercayainya.
Bukti sudah ada di depan mata.
Ia yakin sembilan ribu sembilan puluh sembilan persen, Sehan pasti menyembunyikan seorang gadis di ruangan ini. Jika tidak, tidak mungkin keanehan itu datang satu persatu pada waktu yang sama.
Namun saat memperhatikan tas itu lekat, ia merasa pernah melihat tas itu di suatu tempat. Tas berukuran sedang berwarna putih itu terlihat sangat mirip dengan tas yang di pakai Catalina.
Ketika Lexus bertemu dengannya di bandara, Catalina juga memakai tas yang sama. Model yang sama, warna yang sama. Namun tidak mungkin gadis yang di sembunyikan kakaknya adalah Catalina.
Sangat tidak mungkin.
Gadis itu sudah memiliki kekasih. Ia mendengarnya menelepon kekasihnya ketika sedang melihat lukisan. Dan ia bahkan cukup yakin kekasihnya sudah melamarnya karena ketika makan malam bersama, gadis itu menyinggung tentang pernikahan.
Yang bersama kakaknya, pastilah gadis lain.
Tidak ingin terbelenggu dengan sejuta kemungkinan yang tumpang tindih di kepalanya, Lexus memutuskan untuk menanyakannya secara langsung kepada orang yang bersangkutan. "Apa ada tamu yang datang?" tanyanya.
"Kau," jawab Sehan.
"Aku tidak membawa tas wanita," Lexus menjawab lugas.
Sehan yang semula fokus dengan apa yang Catalina lakukan, pandangannya menatap ke arah yang Lexus maksud. Di sofa, tas, kacamata hitam juga masker milik Catalina memang berada di sana. Di atas meja juga ada dua cangkir teh yang Kenny sajikan.
Sehan tahu ia tidak bisa lagi berbohong setelah Lexus menangkapnya. Namun ia tidak bisa mengatakan keberadaan Catalina di sini. Gadis di bawah meja juga menghentikan aktivitasnya, tampak terkejut.
Catalina tahu itu adalah kecerobohannya.
Jika bersembunyi, seharusnya ia juga membawa tasnya serta. Tapi karena panik, ia hanya menyembunyikan dirinya sendiri dan melupakan barang-barangnya.
__ADS_1
Karena tas itu adalah tas yang sama yang ia pakai ketika pulang dari Newcastle upon Tyne, dan Lexus pasti melihatnya, ia hanya berharap semoga Lexus tidak mencurigai apapun. Tidak mencurigai bahwa wanita yang Sehan sembunyikan adalah dirinya.
Sehan menghela nafas panjang. "Dia seorang wanita. Dia sedang membersihkan dirinya di kamar mandi. Jika kau tidak ingin mengganggu acara kami selanjutnya, pergilah sekarang!"