
Sehan mengerang saat bibir Catalina membuka di bawah bibirnya. Gadis itu manis, bersedia dan sama berhasratnya seperti dirinya. Dan ketika gadis itu membalas ciumannya, ia bertekad untuk memberikan yang terbaik hari ini.
"Sehan.."
"Astaga, kau nikmat," bisik Sehan di sela-sela ciumannya. Wajahnya yang memerah di bawah kendalinya, menyapu dan menyeretnya ke dalam pusaran hasrat yang menggebu.
Seperti aliran listrik, ia tersengat dan arusnya membuat sekujur tubuhnya menjeritkan namanya, menginginkannya.
Ciuman yang semula ringan dan lembut berubah menjadi intens dalam waktu singkat. Ciuman itu ganas, penuh hasrat, mencakar bagai binatang buas. Mendesaknya untuk mengambil dan mengambil. Dan gadis itu pun sama menuntutnya.
Bibir Sehan panas, dan Catalina tahu kapan harus berdebat dan kapan harus diam. Yang pasti sekarang bukan waktu yang tepat untuk berdebat.
Lidah Sehan memikatnya ke dalam tarian, nafas dan mulut, bibir dan lidah, tarian antara keduanya, tarian dengan satu tujuan. Satu akhir.
Catalina bergabung dalam tarian itu, menari bersamanya, mendambakan akhir yang menyenangkan. Ia memainkan jemari di dada pria itu dan menggerakkannya perlahan ke bawah melewati dada berotot keras, ke perut yang berbentuk menawan.
Sehan menggeram di tengah ciuman.
Kenapa ia harus menunggu sedemikian lama untuk mengulangi hal ini?
Bercinta dengan Catalina adalah pengalaman paling sempurna, tidak rumit dan menakjubkan dalam hidupnya.
Ia menginginkannya lagi.
Sekarang.
Namun sebelum semua itu bisa terwujud, sebuah suara datang dari samping. "Wah, lihat, sudah kuduga kalian memiliki hubungan." Ethan membungkuk dengan santai dan suara yang keluar dari mulutnya begitu lembut. Menyaksikan dua orang saling menjerat dalam ciuman, tidak ada raut keterkejutan sedikit pun di wajahnya.
Ia sudah menduga hal ini pasti terjadi.
Ia menduga ada sesuatu di antara mereka.
Dan benar saja, hari ini dugaannya sudah terkonfirmasi.
__ADS_1
Ia menyentuh dagu dan menyaksikan pemandangan di depannya seolah apa yang ia lakukan bukan kejahatan. Mengganggu orang berciuman bukan kejahatan, oke? Kalau pun itu kejahatan, ia senang berbuat jahat.
"Ah." Catalina dan Sehan terkejut dan ciuman mereka terputus secara alami. Catalina dan Sehan sama-sama menarik diri dengan buru-buru. Nafas mereka terengah seperti baru saja tertangkap basah berbuat mesum
Padahal, ya, mereka memang berbuat mesum. Namun ini bukan tempat umum, ini kediaman pribadi, jadi kata 'tertangkap basah' sepertinya kurang tepat.
Dibanding Catalina, Sehan sedikit lebih tenang saat tahu itu hanya Ethan. Ia bahkan merasa puas karena Catalina sudah menjadi miliknya dan tidak akan ada yang berani mencocok-cocokkan Catalina dengan Ethan lagi.
Catalina tersenyum canggung. "Kau, kau, kau, guru, kau mengejutkanku." Ia tergagap. Ia berusaha bangun dari pangkuan Sehan namun Sehan menahannya dan tidak membiarkannya pergi. Ia hanya bisa tersenyum sambil diam-diam memberikan cubitan di lengannya.
"Jangan mencubitku," Sehan berbisik di telinga Catalina. Nafasnya yang hangat mengenai telinganya dan ia dapat melihat telinganya memerah.
Catalina melotot.
Ethan menarik diri dan menegakkan tubuhnya, tidak lagi melihat mereka dari jarak dekat. "Kau membatalkan latihan untuk beberapa minggu, ku pikir kau akan pergi ke suatu tempat," celetuknya. "Aku tidak menduga kau justru berada di sini. Terjebak dengan singa lapar yang tidak bermoral." Ia menggelengkan kepala. Meski perkataannya di tujukan untuk Catalina, namun tatapannya berpusat pada Sehan dengan maksud mencemooh.
Bajingan busuk ini benar-benar menghancurkan kepolosan seorang gadis. Jika itu gadis lain, ia tidak akan peduli. Namun Catalina adalah muridnya, dan siapapun yang menodai kepolosan muridnya, ia merasa bajingan itu pantas di eksekusi mati.
"Kenapa kau datang?" Pertanyaan Sehan memotong perkataan Catalina. Ia tidak mau dan tidak suka Catalina menjelaskan dirinya kepada orang lain. Jadi ia hanya melingkarkan tangannya pada pinggangnya dan menariknya ke dalam pelukannya.
"Sehan, lepaskan aku!" pinta Catalina.
"Stt, diam dan jangan bicara apapun lagi padanya," Sehan berkata dan mengabaikan permintaan Catalina untuk melepaskannya.
"Kenapa?"
"Dia bukan orang yang baik," Sehan menimpali.
Catalina tercengang. Bukan orang baik? Ia menatap Ethan dan berpindah menatap Sehan. Daripada Sehan, bukankah Ethan tampak jauh lebih baik? Setidaknya, pria itu berwibawa dan tampak memiliki moral.
"Itu sebabnya aku akan menyiapkan tutor lain untukmu. Jangan memilih tempatnya lagi. Kau tahu, tempatnya tidak bagus dan tidak profesional. Banyak orang mengeluhkan itu. Dan kebanyakan dari mereka mengeluhkan hal yang sama, orang-orang di sana sangat mesum." Daripada bisikkan, itu lebih pantas di sebut ucapan biasa. Karena orang yang dibicarakan, dapat mendengarnya dengan jelas.
"Benarkah?" Catalina menanggapinya dengan serius. Hampir percaya omong kosong yang Sehan ucapkan dengan mudahnya setelah mendengar kata-kata 'mengeluh' dan 'mesum'.
__ADS_1
Sehan mengangguk. "Uh huh." Ia sengaja memasang tampang meyakinkan agar gadis lugu itu termakan omongannya dan percaya padanya untuk menjauhi Ethan. "Kau pikir aku berbohong?"
"Tidak, bukan, maksudku, bukankah dia temanmu?" Catalina bukan tidak percaya. Namun, mana ada orang yang menjelek-jelekkan dan membicarakan keburukan temannya sendiri di depan orang yang bersangkutan? Bukankah itu sedikit tidak sopan? Apa Sehan tidak berlebihan terhadap temannya sendiri?
"Dia memang temanku, namun bukan berarti aku menyetujui perilakunya," jawab Sehan.
Bibir Ethan berkedut saat mendengarkan percakapan ini. Wajahnya berubah masam dan perutnya tiba-tiba menjadi mual. Ucapan pria itu, bukankah terlalu melebih-lebihkan?
Masalahnya orang yang sedang mereka bicarakan tepat berada di depan mereka. Tapi seperti sudah ditakdirkan, orang seperti Sehan memiliki kekasih seperti Catalina.
Yang satu licik, pandai membodohi dan lihai menghasut, yang lain lugu, mudah dibodohi dan mudah dihasut. Mau di pikirkan berapa kali pun, mereka benar-benar cocok secara logika. Menyeimbangkan ketimpangan.
Ethan berdehem, "Ehm. Sudah cukup membicarakan ku," ucapnya. "Kau ingin usahaku bangkrut?" Meski perkataan Sehan tidak berarti apapun dan tidak mempengaruhi apapun, namun Ethan tidak suka saat orang mesum meneriaki orang baik sebagai orang mesum. Cukup Sehan saja yang mesum, jangan melibatkan dirinya yang tidak berdosa.
Sehan mengusap punggung Catalina dan menimpali, "Kau belum menjawab, kenapa kau datang pagi-pagi begini?" Mengabaikan perkataan dan pertanyaan Ethan, ia mengulangi pertanyaannya.
"Aku berniat mengambil mobilku," jawab Ethan tanpa basa-basi. Kedatangannya pagi-pagi sekali untuk mengambil mobilnya yang tertinggal di sini karena ia harus pergi ke suatu tempat menggunakan mobil itu. Namun siapa sangka kejutan yang ia dapatkan setelah menggerutu lebih dari setengah jam sangat menyenangkan? Tahu begitu, ia akan datang lebih awal untuk menyaksikan keajaiban ini lebih lama.
"Kalau begitu, ambil dan pergi," jawab Sehan. Beberapa hari yang lalu, para pengacau itu datang ke rumahnya. Namun Ethan pergi bersama Daniel ke suatu tempat dan meninggalkan mobilnya begitu saja.
"Wah, kau kejam sekali," Ethan melangkah pergi sambil menggerutu. Ternyata benar kata orang, pria yang sudah memiliki kekasih seketika akan menghempaskan teman-temannya. Awalnya ia tidak percaya ungkapan seperti itu, namun setelah membuktikannya sendiri, sekarang ia mengerti kenapa ungkapan itu ada dan di ciptakan.
Melihat kepergian Ethan, Catalina buka suara. "Apa kau tidak terlalu berlebihan? Bukankah kau terlalu lugas?" Meski dirinya juga lugas, namun ia tidak berharap Sehan sama seperti dirinya. Lugas dan bicara seenaknya tanpa berpikir.
Sehan menjepit dagu Catalina. "Jangan membicarakan pria lain saat bersamaku."
"Dia bukan pria lain. Dia temanmu dan juga.. tutorku," jawab Catalina. Terlepas dari apakah yang Sehan katakan tentang Ethan benar atau tidak, Ethan adalah guru yang baik untuknya. Ia belajar banyak hal dari pria itu, dan ya.. Ethan tidak seburuk itu.
"Dia memang temanku dan juga tutormu, tapi aku tidak suka kau dekat dengannya atau membicarakannya." Mungkin ia egois, namun ia peduli. Ia tidak tahan saat mendengar Daniel menyimpulkan kedekatan Catalina dan Ethan seenaknya sendiri. -bab 24-
Catalina menatap Sehan, tercengang selama beberapa saat sebelum tersenyum mengejek. "Lihat, bukankah botol cuka kita sudah tumpah? Lihat betapa cemburunya dirimu pada temanmu sendiri." Catalina tidak menduga hari seperti ini akan datang. Pria itu benar-benar cemburu dan itu menggelikan.
Sehan meraih tangan Catalina lalu memasukkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke mulutnya. "Ketika kau memberi makan binatang yang lapar, kau seharusnya sudah siap untuk ini."
__ADS_1