
Catalina terkekeh. "Ternyata nyata, aku pikir mimpi," gumamnya sambil membalas pelukan Sehan. Ia tidak menduga Sehan benar-benar datang. Pria itu mengirim pesan dan memintanya agar tidur lebih awal. Jadi ia pikir Sehan sangat sibuk. Tetapi siapa sangka pria itu muncul di depan pintunya? Secara tiba-tiba dan mengejutkannya?
Entah ia harus marah atau terharu, namun yang jelas, ia tidak akan memukul pria itu meski sedikit kesal.
Sehan melonggarkan pelukannya lalu mengangkat dagu Catalina. "Sekarang kau senang karena mimpi mu menjadi nyata?" Setelah mengatakan itu, ia menempelkan bibirnya di bibir merah gadis itu. Hanya kecupan. Kecupan kecil yang panjang.
Ketika Sehan ingin melanjutkan ke ciuman yang lebih panas, Catalina menarik diri. "Kau memintaku beristirahat lebih awal. Jika kau melakukan ini, kau akan membuatku tidak tidur sepanjang malam," ucapnya. Ia cukup yakin bahwa penilaiannya tentang pria itu tidak salah. Pria itu menginginkannya, menginginkan dirinya. Jika ia membiarkannya menciumnya, mungkin ia tidak dapat beristirahat malam ini.
Sehan merengut. "Pertama kali aku datang ke sini, kau dan aku berciuman hari itu. Aku tidak berkeliling mencium orang begitu saja. Aku menciummu, jadi kau kekasihku. Aku menyentuhmu, Jadi kau milikku. Aku tidur denganmu, jadi kau milikku seutuhnya." Sehan ingin menambahkan 'kau juga calon istriku', tetapi ia berhasil menghentikan dirinya sendiri.
Beberapa hal membuat orang mudah emosional.
Seperti saat ini. Sehan juga seperti itu.
Ketika melihat Catalina, ia ingin mengatakan banyak hal yang selama ini tak terucapkan. Namun beberapa hal benar-benar tidak bisa di katakan. Dan pada akhirnya, hanya sebagian kecil yang berhasil terucap.
Catalina tercengang. Ia tidak tahu apa yang Sehan katakan. Namun itu melenceng jauh dari jawaban yang seharusnya. Pria itu seperti sedang mengklaim kepemilikan. Namun di satu sisi, pria itu tampak ragu.
Jadi ketika Sehan membawanya ke kamar tidur, membaringkannya di sana, melepaskan pakaiannya dan melampiaskan hasratnya, ia tidak melakukan sedikit pun perlawanan.
Baginya, hari ini Sehan terlalu aneh.
Pria itu mungkin memiliki masalah yang mengganggunya. Itu sebabnya, ia lebih dari bersedia menjadi tempat yang pria itu tuju ketika dia sedang tidak baik-baik saja. Ia tidak keberatan menjadi dermaga yang sewaktu-waktu bisa pria itu kunjungi tidak peduli apakah dia sedang senang atau tidak.
Ketika Sehan berhasil melepaskan cairan putih di dalam Catalina, ia mencium dahi gadis itu sebelum membaringkan tubuhnya di sampingnya, mencoba menstabilkan nafas yang terengah.
Catalina memiringkan tubuhnya, menatap pria yang tampak berantakan setelah menyelesaikan satu ronde yang panjang dan menyenangkan. "Kau baik-baik saja?" tanyanya kemudian. Ia sedikit mengkhawatirkannya. Tidak. Ia sangat mengkhawatirkannya.
Sehan tersenyum kecil, ia memiringkan tubuhnya lalu menyentuh sisi wajah Catalina dan merapikan helaian rambutnya yang berantakan di wajahnya. Ia mengangguk. "Uh huh. Aku baik-baik saja." Ia mencoba menahan diri untuk tidak melakukannya lagi.
__ADS_1
Rasa Catalina, sentuhannya di setiap bagian tubuhnya, ia menginginkannya lagi. Dan ini sangat tidak baik. Tidak baik bagi hasrat yang semakin meluap di bawah perutnya, juga bagi janjinya untuk menjaga celananya tetap terpasang rapi.
Janji yang konyol.
Seharusnya ia tidak membuat janji yang tak mungkin bisa ditepati. Tapi waktu itu, berjanji adalah satu-satunya cara untuk membuatnya berani datang ke tempat ini.
Sekarang, setelah datang ke tempat ini dan melakukan pergulatan yang panjang dengan Catalina, ia ingin menertawakan janji itu. Ia benar-benar tidak bisa. Tidak bisa jauh dari Catalina. Tidak bisa jika tanpa dia.
Ia menarik Catalina dan memeluknya erat.
Meskipun ia dengan murah hati meyakinkan dirinya untuk secara mental siap untuk tidak memilikinya, saat ia memeluk Catalina, ia tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi padanya tanpa Catalina.
Keinginan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, rasa memiliki yang tersembunyi sangat dalam, gairah yang telah ditekan hari demi hari, telah tumbuh seperti rumput liar. Semua melunak di bawah pelukannya yang menenangkan.
Cinta yang keluar dari hatinya menyapu setiap sudut tubuhnya.
Catalina tercengang.
Meski bukan pertama kali Sehan mengatakan hal semacam ini, namun perkataannya kali ini terdengar berbeda. Meski suaranya sangat lembut, emosi berat yang tampak nyata membuatnya merasakannya sendiri.
Hati Catalina melunak. Dalam pelukan Sehan, ia berkata, "Sebenarnya dulu aku tidak percaya dengan hal yang namanya cinta. Tetapi kau berkali-kali membuatku tahu, jika mencintai seseorang adalah bersedia mengorbankan hidupnya untuknya." Catalina menjeda sebentar kalimatnya. "Terima kasih karena kau sudah mencintai orang sepertiku. Bisa bertemu denganmu, aku sangat bahagia." Ia melonggarkan sedikit pelukannya dan menatap wajah tampan Sehan. "Apa aku pernah bilang kalau aku mencintaimu? Jika belum, maka aku akan mengatakannya sekarang. Sehan, aku juga mencintaimu. Sangat."
Sehan terdiam. Ia tidak pernah bisa mendefinisikan apa arti 'kebahagiaan'. Baginya hal semacam itu tidak terlalu penting. Daripada kebahagiaan, yang paling penting adalah keberhasilan. Terlepas dari apakah ia bahagia atau tidak, itu bukan hal utama yang ingin ia kejar, juga hal yang tidak akan pernah ia sesali jika tidak merasakannya.
Jika di hitung berapa banyak jumlah ia tersenyum karena sesuatu yang berarti dalam dua puluh delapan tahun ia hidup, jumlahnya mungkin tidak seberapa. Namun saat ini, senyum yang tidak tersungging di bibirnya, benar-benar mencapai hatinya dan ia sangat bahagia.
Sehan berusaha menenangkan gejolak di hatinya dan berusaha agar tidak meledak seperti remaja. Ia mencium dahi Catalina dengan tenang. "Aku senang karena kau juga mencintaiku." Jika di banding Catalina, kebahagiaannya mungkin berkali-kali lipat lebih besar dari yang gadis itu rasakan. Namun ia tidak akan mengatakannya. Tidak akan pernah.
"Aku juga senang. Sangat senang."
__ADS_1
Keduanya terlelap dalam mimpi indah setelah mengutarakan perasaan satu sama lain. Kelegaan serta rasa manis yang melingkupi, membuat mereka hanyut dalam pelukan satu sama lain dan memimpikan sesuatu yang belum pernah mereka mimpikan sebelumnya.
Ketika Catalina bangun di tengah malam karena terkejut mendengar dering ponsel, ia tidak mendapati Sehan di sisinya. Ranjang di sampingnya sudah dingin. Ia juga tidak mendengar suara di kamar mandi. Mungkin pria itu sudah pergi, batinnya.
Ketika melihat pakaian sudah menempel di tubuhnya, ia menduga Sehan membersihkan tubuhnya dan memakaikannya pakaian sebelum pergi dari sini.
Ia terkekeh. Meski pergi tanpa mengatakan apapun, setidaknya pria itu tahu apa yang harus di lakukan untuk wanitanya.
Catalina mengambil ponselnya dan melihat waktu baru menunjukkan pukul dua dini hari. Ketika panggilan mati, dan panggilan baru datang lagi, ia bertanya-tanya, apa yang pria itu lakukan sampai menghubunginya malam-malam begini?
Catalina segera menekan simbol jawab dan menempelkan ponsel di telinganya. "Halo," ucapnya. "Kenapa kau menelepon malam-malam begini?" Ia masih menggunakan nada yang sama. Nick menelepon, mungkin ada sesuatu yang terjadi, dan mungkin itu sangat penting. Jadi meski masih mengantuk, ia akan berusaha mencerna setiap kata yang akan Nick ucapakan nanti.
"Hai, apa aku mengganggumu?" tanya Nick dengan hati-hati.
Catalina menguap. "Jam dua dini hari menelepon orang lain, kau pikir tidak mengganggu?"
"Aku menelepon karena ada sesuatu yang penting," Tiba-tiba Nick masuk ke mode serius. "Dengar, jangan terkejut atau panik. Ini tentang Tatiana."
Catalina mendengarkan dengan seksama ketika Nick mengoceh di balik panggilan. Dan ketika pria itu berhasil mencapai inti pembicaraan dan menyebut nama Tatiana, ia terkejut. "Ada apa dengan Tatiana? Apa sesuatu terjadi?" Firasatnya berkata ini bukan sesuatu yang baik, namun mudah-mudahan ia keliru.
"Ya, dia.. .... .."
Saat mendengar perkataan Nick, Catalina menjatuhkan ponselnya. Ia mengerjap linglung bahkan ketika Nick memanggil namanya beberapa kali, ia masih terdiam dengan pikiran kosong hingga akhirnya panggilan terputus.
Catalina tidak sempat memeriksa apakah Nick berbohong atau tidak. Namun pikirannya menjadi kacau.
Tatiana..
Bagaimana mungkin?
__ADS_1