
Catalina tidak tahu bagaimana harus menyapa Lexus. Lebih tepatnya ia tidak tahu bagaimana biasanya Tatiana menyapa pria itu.
Apakah ia harus berlari ke arahnya sambil tersenyum ramah? Atau, apakah ia harus bertingkah manja dan sok akrab dengannya? Haruskah ia melakukannya?
Tidak mungkin.
Ia bukan orang yang bisa bersikap kekanak-kanakan meski hanya akting. Ia bukan Tatiana yang bisa bertingkah polos dan lembut hanya untuk menutupi kebusukan hidupnya. Ia bukan Tatiana yang rela menderita hanya agar publik berpikir ia adalah teratai putih. Ia bukan Tatiana dan sampai kapanpun ia tidak akan pernah menjadi gadis itu.
Ia akan menjadi dirinya sendiri. Dan fakta itu tidak akan berubah sampai kapan pun.
Untungnya, tidak ada perkenalan, tidak perlu latihan, pengambilan gambar untuk adegan pertama tentang pertemuan pemeran wanita kedua dan pemeran utama pria berjalan dengan baik dan sangat profesional.
Baik Lexus atau Catalina, keduanya berhasil mengambil gambar dengan satu pengambilan. Tidak perlu melakukan pengulangan atau perbaikan karena keduanya melakukannya dengan baik.
Fred tampak sangat puas. "Sangat bagus. Kalian bisa beristirahat terlebih dahulu," ucapnya sambil memberikan instruksi agar kru segera menyiapkan set baru.
Catalina mengangguk. Ia menoleh, menatap pria tampan yang berdiri di depannya. "Terima kasih, Lexus, kau sangat hebat," pujinya. Kali ini pujian tulus datang dari hatinya. Ia benar-benar tidak menduga akting Lexus sehebat itu. Tidak heran, semua film layar lebar yang dia mainkan selalu memenangkan penghargaan. Belum lagi nominasi aktor terbaik, Lexus selalu berhasil menjadi nominasi dan memenangkannya.
Ternyata, selain tampan, pria itu juga berkemampuan.
Wajar saja, dia adalah adik Sehan. Sehan sehebat itu, adiknya juga pasti tidak kalah hebat.
Lexus mengangguk. "Uh huh, kau juga hebat."
Catalina tersenyum kecil sebelum membungkukkan badan dan kembali duduk di kursinya. Seperti yang Sehan katakan bahwa ia tidak boleh terlibat dengan Lexus, ia akan mematuhi itu. Ia benar-benar tidak akan terlibat dengan pria itu. Tidak akan pernah.
Syuting kembali di lanjutkan dan baru berakhir setelah jam sembilan malam. Karena kelelahan, Catalina kembali ke hotel bersama Stacey dan segera beristirahat dan bangun keesokan harinya.
Hari yang indah, Catalina menggeliat dalam tidurnya. Rasa lelah kemarin terbayar lunas dengan istirahat yang cukup. Ketika membuka mata, ia siap dengan hari yang baru, rasa lelah yang baru, hal-hal baru, orang-orang baru, ia sudah siap dengan semua itu.
Catalina memaksa tubuhnya untuk bangun dan segera pergi ke kamar mandi. Dua puluh lima menit kemudian ia keluar sambil melilitkan handuk kecil di tubuhnya dan terkejut saat melihat sesuatu berada di kamarnya.
Tidak. Bukan. Bukan sesuatu tetapi seseorang.
"Ah." Terkejut, Catalina menjerit. Melihat sesosok pria menyusup masuk ke kamar tidurnya, ia terkejut setengah mati. Jantungnya yang semula aman, berdetak kencang dan firasat buruk mengalir di hatinya. Keterkejutan itu juga membuatnya bingung dan linglung hingga tanpa sadar ia mengendurkan ikatannya dan handuk yang menutupi tubuhnya jatuh di lantai.
Tepat ketika Catalina tercengang dan tidak tahu bagaimana harus bereaksi, suara serak yang familiar terdengar.
__ADS_1
"Sayangku, apa kau sedang menggodaku? Lihat, kau bahkan melepaskan handukmu di depanku dengan antusias. Katakan, 'aku menginginkan mu' maka aku akan mendedikasikan diriku padamu." Sehan dengan tidak tahu malunya melontarkan omong kosong mesum di pagi hari.
Melihat tubuh basah wanitanya dan sekarang tidak memiliki sesuatu pun yang menutupi tubuhnya, ia mengawasi dari atas ke bawah dan mengagumi setiap inci keindahan yang tersaji di depannya dengan sungguh-sungguh.
Catalina merinding. Ia tidak memiliki waktu untuk mendengarkan omong kosongnya. Jangankan mendengar omong kosongnya, handuk yang jatuh pun ia melupakannya.
Sehan, benar, pria itu adalah Sehan. Dia benar-benar datang ke sini pagi-pagi sekali. Tapi ia ingat dengan betul pria itu berkata akan melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Jika begitu, lalu kenapa? Kenapa dia datang? Kenapa? Apa alasannya? Apa karena Lexus? Apa Sehan berpikir ia menggoda Lexus jadi dia bergegas datang ke sini karena khawatir?
Hampir tanpa sadar, Catalina ingin kembali masuk ke kamar mandi dan mengunci diri di sana. Ia tidak lupa betapa mengerikannya pria itu. Jika kedatangannya adalah untuk Lexus, bahkan jika ia menjelaskan bahwa ia tidak merayu Lexus, Sehan tidak akan percaya.
Lebih dari itu, Sehan mungkin bisa melakukan sesuatu yang kejam kepadanya. Rasa takut perlahan datang dan mengalir di setiap aliran darahnya. Baru saja ia berpikir ini adalah hari yang baik untuk memulai, tapi melihat bagaimana Sehan menyelinap masuk ke kamarnya tanpa ketahuan, adalah bukti bahwa bencana besar akan segera datang.
"Kemari!" perintah Sehan. Sejak Catalina meninggalkan kediamannya pada hari itu, ini adalah pertama kali ia melihatnya lagi. Tubuhnya, ia pikir sangat bagus ketika terakhir kali. Namun sekarang, setelah ia melihatnya lagi, dada dan pantatnya tampak menjadi jauh lebih besar.
Kenapa perubahan bentuk tubuhnya terjadi begitu signifikan? Apakah ia yang membuatnya membesar? Apakah itu adalah ulahnya?
Sehan tersenyum cabul. Jika begitu, kenapa ia tidak melakukannya lagi?
Catalina mengambil handuknya di lantai dengan gerakan lambat dan begitu handuk itu teraih, ia menutupi tubuhnya dengan tergesa-gesa. Pria itu duduk di sofa. Kemeja hitamnya membuatnya terlihat lebih jahat dan mendominasi.
Pria itu menatapnya dengan tatapan santai seolah-olah dia sedang menonton pertunjukan yang bagus. Dia terlihat sangat tidak berbahaya dan sangat tenang. Namun, Catalina masih saja merasa takut dan waspada.
Hati Catalina berdebar.
Meski takut, Catalina hanya bisa menggerakkan anggota tubuhnya yang kaku dan perlahan berjalan menuju pria itu.
Sehan menariknya dan gadis itu jatuh di pangkuannya. "Bagus. Gadis baik yang penurut. Aku menyukainya," ucapnya sambil melepaskan kaitan handuk hingga tubuh indah Catalina kembali terekspos.
Catalina tidak berani melawan. Catalina hanya bisa membiarkan Sehan membuka handuknya dan membiarkannya memperhatikan tubuhnya dengan tatapan membara tanpa bisa mencegahnya.
"Sehan, begini.."
"Mm. Apa?" Sehan memotong ucapan Catalina dan menggigit kecil-kecil telinganya. Tangannya yang dingin mulai bergerak menyusuri setiap inci tubuhnya dengan lembut dan hati-hati. Kemudian ia meraih dagunya dengan jari-jarinya yang panjang dan menciumnya. Menggiring Catalina pada nafsu yang bergemuruh, lidahnya mendesak dan berhasil masuk memenuhi mulut gadis itu lalu mereka saling menjerat.
Di kamar hotel yang sunyi, suara terengah-engah muncul dan udara mulai kental dengan nafsu.
Aroma Sehan menyerbu semua inderanya seolah ingin menyatu dengan jiwanya. Ciuman itu begitu intens sehingga lidahnya menari bersamanya dalam irama dan ritme yang panjang.
__ADS_1
"Ah, Sehan, aku ingin bicara." Teringat sesuatu yang penting, Catalina berusaha menghentikan Sehan dari kegilaannya. Namun ia bukan tandingannya. Pria itu terlalu kuat. Sangat kuat.
"Uh huh. Kalau begitu, bicara saja." Sehan tidak menghalangi Catalina untuk bicara namun ia terus menciumi bibirnya.
"Hentikan ciumannya," pinta Catalina.
"Baiklah." Sehan menyetujuinya dengan cepat namun bukan berarti ia setuju untuk tidak mencium sesuatu yang lain. Bibirnya berpindah dari bibir ke leher. Menciuminya dengan lembut tanpa berniat menghentikannya.
"Sehan, dengar, Lexus dan aku, kami.."
"Stt. Jangan bicarakan pria lain saat bersamaku." Sehan menyela ucapan Catalina karena ia tahu apa yang akan dia katakan selanjutnya.
Catalina tercengang. "Tapi, kau datang untuk itu, kan?"
Sehan menggeleng. "Tidak."
"Lalu?" Catalina semakin bingung dan otaknya yang sudah terkontaminasi kemesuman Sehan, mendadak tumpul dan tidak bisa memikirkan apapun.
"Aku datang untukmu."
"Untukku?"
Sehan membalik tubuh Catalina dengan kuat agar menghadapnya. "Diamlah!" Mulut Sehan membungkam Catalina dengan ciuman. Gadis ini terlalu berisik. Dan ia harus membungkamnya dengan sesuatu yang bisa membuatnya diam.
Benar saja, ciuman itu benar-benar ampuh.
Gadis itu berhenti bicara dan tidak lagi berpikir untuk membicarakan adiknya ketika sedang bersamanya.
Catalina masih kebingungan ketika ciuman Sehan semakin kuat. Yang terngiang di telinganya hanya perkataan terakhirnya, 'aku datang untukmu'.
Jadi, Sehan datang untuknya? Benar-benar datang untuknya? Tidak datang untuk Lexus? Tetapi.. untuknya?
Catalina masih tidak mengerti, namun ia mulai memahami.
Mata Sehan yang berapi-api, sejak awal memang tidak menunjukkan emosi yang berarti. Daripada emosi, itu lebih seperti nafsu.
Jadi, mungkinkah pria itu hanya menginginkan tubuhnya dan tidak berniat untuk menyakitinya? Mungkinkah ia terlalu banyak berpikir buruk tentang Sehan?
__ADS_1
Ah sial. Sepertinya ia memang sudah salah memahami sesuatu.