
"Apa?" Catalina terkejut. "Memang kenapa? Kau masih bertanya?" Ia tidak tahu bagaimana pola pikir orang seperti Sehan bekerja. Namun dia tidak mungkin sebodoh itu untuk membuat bayi, kan?
Membuat bayi, oke, baiklah, membuat bayi adalah proses yang sangat menyenangkan. Bahkan belakangan ini ia mulai menyukainya. Namun hanya membuat, tidak menjadikannya.
Membuat dan menjadikan adalah dua hal yang berbeda.
Ia pikir menjadikan bayi seharusnya dilakukan oleh pasangan manis yang sudah memiliki rencana untuk menikah. Setidaknya, hal seperti itu seharusnya dilakukan oleh pasangan yang memiliki harapan untuk menikah.
Dan daripada memiliki bayi, Catalina lebih memilih untuk menggunakan alat kontrasepsi ketika berhubungan intim dari pada menghancurkan masa muda demi seorang pria dengan kehadiran seorang anak.
Lagipula, Sehan tampan dan mapan. Dia masih memiliki jalan yang panjang. Dia akan menikah dan mempunyai istri di kemudian hari yang jelas bukan dirinya. Istrinya kelak akan kesulitan menerima kenyataan bahwa Sehan memiliki bayi dari hubungan di masa lalunya. Kemudian karena kebencian, istrinya akan menargetkan putranya.
Jika sudah seperti itu, pertengkaran sesama putra akan memperkeruh keadaan. Lebih dari itu, ia tidak rela putranya terjebak di perebutan kekuasaan keluarga kaya.
Skema, skandal, dan rencana-rencana gila anak-anak orang kaya benar-benar mengerikan. Ia tidak ingin menanggung beban ketidakbahagiaan putranya hanya karena nafsu semata.
Tidak. Ia tidak akan pernah melakukannya.
Ia tidak mungkin memiliki bayi dengan Sehan, apapun alasannya.
"Ya, aku bertanya. Tidak bisakah kita memiliki bayi?" tanya Sehan.
Catalina tersenyum. Perkataan Sehan benar-benar lucu. Apa dia tidak tahu apa artinya memiliki bayi? Artinya mereka memiliki tanggung jawab yang besar untuk merawatnya, untuk membesarkannya, untuk menyayanginya dan untuk memberikan kehidupan yang baik untuknya.
Namun karena Sehan tidak mengerti hal semacam itu, Catalina bersedia untuk menjelaskannya. "Sehan, begini, aku masih sangat muda. Aku baru dua puluh tahun. Dan kau juga. Kau masih muda dan tampan. Jalan di depan kita masih sangat panjang. Menjadi orang tua bukan sesuatu yang mudah." Karena jika memang semudah itu, ia dan Tatiana tidak mungkin ditinggalkan di panti asuhan. Setidaknya, mereka mungkin akan merawat dan membesarkannya. Tidak membuangnya.
Catalina tertawa di dalam hati.
Lucu, bukan?
Menjadi anak yang ditinggalkan, tidak pernah mudah.
Tatiana dan ia harus bekerja keras untuk tetap hidup. Mereka berdua memiliki jalan takdir sendiri dan itu sungguh sangat sulit. Ia tidak ingin kesulitan yang ia alami sejak kecil terjadi pada anak-anaknya atau bahkan ia tidak pernah berpikir untuk memiliki mereka.
__ADS_1
Mungkin menikah dan memiliki anak tidak pernah menjadi keinginannya sejak awal. Dan itu bukan target yang ingin ia kejar. Ia hanya ingin memiliki hidup yang baik dengan Tatiana. Hanya mereka berdua. Tidak ada orang lain.
Melihat perubahan ekspresi Catalina, Sehan tahu ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat. Catalina tidak sedang baik-baik saja. Mungkin dia takut memiliki anak karena dirinya adalah anak yatim piatu yang tumbuh besar di panti asuhan. Itu sebabnya dia tidak memiliki gambaran kebahagiaan untuk berumah tangga dan memiliki anak.
Sehan dapat memaklumi itu.
Kehidupannya selama ini tidak mudah. Jauh dari kata mudah. Trauma masa kecil mungkin mengubahnya menjadi dirinya yang penakut.
Sehan mencium pipi Catalina dan membelai puncak kepalanya sebagai cara untuk menghibur kemudian berkata, "Kau adalah orang yang sangat kontradiktif, percaya diri, namun paranoid terhadap semua orang dan segala hal. Namun tidak apa-apa. Aku menyayangimu dan aku akan menuruti semua yang kau katakan. Jika kau berkata kita tidak perlu memiliki bayi, maka kita tidak perlu memilikinya." Sehan tidak tahu sejak kapan toleransinya begitu besar untuk gadis ini. Namun saat melihatnya sedih, hatinya sakit dan ia merasa ingin memberikan seluruh dunia kepadanya.
Catalina merapatkan dirinya pada Sehan kemudian menyembunyikan wajahnya di dadanya. "Terima kasih sudah mengerti." Catalina tidak tahu sejak kapan berbicara dengan Sehan menjadi begitu mudah. Perkataannya yang biasanya mutlak dan tidak bisa dibantah, sebenarnya cukup nyaman jika mereka tidak saling berdebat.
Sehan hendak mengatakan sesuatu ketika terdengar suara ketukan di pintu. Sebelah alisnya terangkat. "Siapa? Mengganggu sekali," keluhnya di telinga Catalina.
"Mungkin dia Stacey," jawab Catalina, santai. Dan ya, untungnya dia hanya Stacey. Karena jika itu Nick, jika pria itu tahu ia menyembunyikan seorang pria di kamar hotel, ia yakin pria itu pasti sudah merobohkan gedung karena marah.
Untuk beberapa alasan, ia bersyukur karena Nick tidak ada di sini.
Catalina melepaskan diri dari pelukan Sehan, namun Sehan menolak untuk melepaskannya. "Aku harus menemuinya atau dia akan curiga." Daripada menggunakan kata 'khawatir', Catalina lebih memilih untuk menggunakan kata 'curiga' karena kata itu jauh lebih meyakinkan.
"Biarkan saja. Dia tidak akan curiga." Sehan enggan melepaskan Catalina. Jauh-jauh datang ke sini, percuma jika tidak ada Catalina.
"Sehan, sebentar saja, oke? Aku janji."
Sehan masih tidak melepaskannya. "Bujuk aku!"
Catalina terkekeh. "Kau ingin dibujuk dengan cara apa? Apa aku perlu membelikanmu permen?" Ia tidak tahu mengapa Sehan menjadi begitu kekanak-kanakan. Namun, mengingat bagaimana karakternya yang biasanya jahat dan kejam, sebenarnya dia yang seperti ini sedikit manis.
"Kenapa harus permen? Kau bisa memberikan yang lain."
"Baiklah, kalau begitu aku akan memberimu ciuman." Dengan satu kalimat itu, Catalina segera mencium pipi Sehan. Ciuman itu ringan dan singkat. Dan dalam sekejap, ia sudah menarik diri.
Melihatnya buru-buru menjauhkan diri, Sehan tersenyum kecil. "Wah, lihat betapa perhitungannya harimau betina kita? Ish ish ish," ucapnya sambil menggelengkan kepala namun ia melepaskan Catalina dari pelukannya.
__ADS_1
"Beberapa hal memang harus diperhitungkan," ucap Catalina. Ia bangun dari ranjang kemudian mengambil handuk yang tergeletak di sofa lalu melilitkannya di tubuhnya. Melihat Sehan masih mengawasinya dengan mata yang berapi-api tanpa niat untuk bersembunyi, ia kembali berbicara, "Tutupi dirimu atau dia akan melihatmu."
"Kenapa aku harus? Bukankah bagus jika dia tahu?" Mengabaikan omelan Catalina, Sehan masih berada di posisi yang sama dan tidak berniat menyembunyikan dirinya meski yang perlu ia lakukan hanya menarik selimut dan menutupi kepalanya.
"Kau picik sekali!" Hanya itu yang bisa Catalina katakan untuk saat ini. Ia baru saja berpikir, berbicara dengan Sehan menjadi jauh lebih mudah akhir-akhir ini, namun sekarang ia menarik kata-kata itu lagi. Tidak mudah berbicara dengan manusia seperti Sehan. Tidak akan pernah mudah.
Catalina berjalan menuju pintu dan membukanya. "Selamat pagi, Stacey," ucapnya begitu melihat Stacey berdiri di depan pintu kamarnya.
"Selamat pagi, Nona. Apa tidur Anda nyenyak?" ucap Stacey.
Catalina mengangguk. "Ya, aku tidur cukup nyenyak." Melihat buket bunga mawar merah di tangan Stacey, sebelah alisnya terangkat. "Kau membeli bunga pagi-pagi begini?" tanyanya.
"Tidak. Saya mengambilnya di resepsionis. Mereka bilang, seseorang meninggalkannya untuk Anda." Stacey mengulurkan bunganya kepada Catalina.
Catalina tercengang. "Untukku?"
"Ya."
"Baiklah." Catalina menerimanya lalu melihat kartu kecil yang terselip di sana.
'Apa kau tidak ingin bertanggung jawab?'
Adalah kalimat yang tertulis di kartu itu.
Seketika wajah Catalina menjadi dingin. Siapa yang mengirimkan bunga mawar itu, ia memikirkan satu pelaku yang paling mungkin.
Tidak ingin menerimanya, Catalina mengembalikan bunga itu kepada Stacey. "Tolong buang ke tempat sampah. Terima kasih, kau boleh pergi. Aku akan turun sebentar lagi." Dengan begitu, Catalina mengakhiri percakapan dan menutup pintunya.
Catalina menghela nafas panjang.
Sekarang ia benar-benar kesal. Sangat kesal.
__ADS_1