
Beberapa hari berlalu dengan cepat. Tidak terasa syuting berjalan hampir separuhnya. Karena semua orang sudah bekerja keras, sutradara memberikan cuti selama tiga hari untuk semua orang.
"Mari kita akhiri untuk hari ini dan makan malam bersama sebelum kembali ke kota masing-masing," ucap Fred dengan suara lantang. "Jika tidak ikut, jangan harap mendapatkan cuti," ia menambahkan.
Catalina yang awalnya berencana untuk izin tidak ikut makan malam bersama, menutup mulutnya kembali. Meski sangat ingin menjauh dari orang-orang ini, namun ia tidak bisa melawan keinginan Fred.
Jika Fred ingin semua orang ikut, maka Catalina tidak punya pilihan dan dengan sangat terpaksa harus ikut juga.
Lagipula hanya makan malam, baiklah, itu bukan masalah besar.
Mereka kembali ke hotel terlebih dahulu sebelum berangkat bersama-sama menuju restauran yang sudah di pesan. Karena semua pemeran dan kru menginap di hotel yang sama, tidak sulit untuk berangkat bersama.
Hanya perlu berjalan kaki kurang lebih sepuluh menit, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Merupakan sebuah restauran Scotlandia dengan desain vintage tahun lima puluhan. Penataan ruang serta lukisan yang tergantung di dinding seperti rumah-rumah pada zaman dahulu. Namun meski begitu, tempatnya sangat nyaman dan menyenangkan.
Catalina mengawasi sekeliling dengan kekaguman di matanya. Semua yang berada di sini sangat menarik dan ia tertarik untuk melihat lebih banyak. Dekorasi, perabotan, lukisan, semuanya sangat mengagumkan.
Catalina mendekat ke sebuah lukisan dan memperhatikannya lekat selama beberapa detik. Lukisan sederhana berupa seorang pria yang memakai Kilt dan sedang meniup Bagpipe berhasil mencuri perhatiannya.
Kilt adalah pakaian tradisional Skotlandia dan bangsa Keltik. Sedangkan Bagpipe adalah sebuah alat musik tiup tradisional khas Skotlandia yang biasanya dimainkan saat acara-acara adat tertentu.
Hanyut dengan dunianya, Catalina tidak menyadari seorang pria sudah mendekat dan berdiri di sampingnya.
"Kau menyukainya?"
Suara seorang pria yang tertangkap pendengaran menyentak lamunan Catalina. Catalina menoleh ke arah sumber suara dan terkejut melihat Lexus berdiri di sampingnya dan tampak fokus melihat lukisan yang sama yang sedang ia lihat.
Catalina menaikan sebelah alisnya. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya. Ia menoleh ke belakang dan melihat semua orang sudah naik ke lantai dua, pergi ke ruang pribadi. Menyisakan mereka berdua dengan manager masing-masing yang berdiri tidak jauh dari mereka.
__ADS_1
"Melihat lukisan," jawab Lexus.
Catalina tidak menjawab dan keadaan menjadi hening. Hingga ketika ponsel yang berada di dalam tas Catalina berdering, keheningan baru berakhir.
Catalina mengambil ponselnya dan saat melihat nama yang tertera, ia sedikit ragu. Refleks ia melirik ke samping dan saat melihat Lexus tampak sangat tenang dan tidak terganggu, ia baru menerima panggilannya. "Halo," sapanya. "Iya. Kami sedang makan malam bersama. Kami semua mendapat cuti. Mm. Aku tahu. Ya, aku juga merindukanmu. Mm. Ingat untuk makan dengan benar. Jangan terlalu keras bekerja. Oke. Aku mengerti. Aku akan menutup panggilannya. Sampai jumpa. Ya, aku juga."
Catalina segera menyimpan ponselnya setelah panggilan berakhir. Kemudian ia menoleh ke samping. "Apa kau akan terus di sini, tidak pergi makan?" Ia sudah bersiap-siap, hendak pergi.
"Ayo kita pergi bersama."
Catalina tercengang. Ia bersikap sopan karena ia pikir Lexus akan pergi sendiri. Tapi siapa sangka dia akan mengajaknya untuk pergi bersama? Pergi dengan Lexus, apakah tidak apa-apa? Ia takut iblis itu marah besar.
Melihat Catalina tidak bergerak, Lexus kembali berbicara, "Kau tidak akan pergi?"
Catalina cemberut. "Tentu saja aku pergi." Lupakan tentang iblis itu. Lexus adalah adiknya, seharusnya tidak apa-apa.
Mereka berdua naik ke lantai dua bersama dan manager mereka mengikuti di belakang tanpa banyak bicara. Sepanjang perjalanan, diisi keheningan. Baik Catalina atau Lexus, keduanya tidak ada yang ingin berbicara atau memulai pembicaraan.
Sejauh ini, ia benar-benar tidak mengerti. Namun ia tidak tahu harus bertanya pada siapa.
Hubungan yang rumit ini, kenapa ia terjebak di dalamnya?
Sungguh sial.
***
Catalina memakan makanannya dengan tenang dan sesekali membalas pesan teks yang masuk ke ponselnya. Ia tidak tahu sejak kapan Sehan menjadi begitu senggang dan terus mengiriminya pesan teks. Namun firasatnya berkata, pria itu tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Namun, bagian mana atau apa yang membuatnya tidak baik-baik saja, ia tidak tahu. Lagipula ia tidak harus mengetahuinya. Urusan Sehan bukan urusannya dan urusannya bukan urusan Sehan. Jadi tidak perlu bagi mereka untuk ikut campur urusan satu sama lain.
"Stacey," panggil Catalina.
"Ya, Nona?" Stacy yang duduk di samping Catalina langsung menyahut.
"Menurutmu, apa itu pernikahan?" tanya Catalina. Ia selalu penasaran kenapa orang-orang memasukkan 'pernikahan' ke daftar target yang harus diraih pada usia-usia tertentu. Memang, apa hebatnya pernikahan? Apakah pernikahan sehebat itu?
"Kontrak seumur hidup untuk berumah tangga," jawab Stacey.
Catalina terkekeh. "Sial, sepertinya kau benar." Ia enggan mengakui, namun sepertinya itu benar. Pernikahan memang kontrak seumur hidup untuk berumah tangga. Mereka melanjutkan hidup dari yang sendiri menjadi berdua. Mereka mengadakan pesta dan membuang-buang uang untuk dua orang yang hanya melanjutkan hidup. Lalu dengan berdua, apakah semua menjadi jauh lebih mudah? Apakah kehidupan mereka akan menjadi jauh lebih bahagia?
"Kenapa Anda menanyakan ini? Apakah Anda berpikir untuk menikah?" tanya Stacey.
"Omong kosong," sanggah Catalina. "Aku bahkan merinding hanya dengan mendengarnya."
Stacey tersenyum. "Benarkah?"
"Ya. Hidup sendiri saja sudah cukup sulit. Bagaimana mungkin aku menambahnya dengan kesulitan lain?" Catalina meraih gelasnya dan meminum sedikit winenya. "Kau tahu, aku bahkan tidak tahu seperti apa hidupku sekarang. Aku pikir hidupku benar-benar berantakan dan aku tidak tahu dimana aku harus mulai memperbaikinya. Semuanya berantakan, berantakan pada waktu yang sama. Menambah orang lain hanya akan membuat segalanya semakin kacau."
Mendengar perkataan Catalina, Fred yang duduk tidak jauh darinya, buka suara. "Kalian masih sangat muda. Kenapa kalian begitu serius memikirkan hidup? Kalian lihat, aku tidak menikah, dan aku sangat bahagia dengan hidupku meski aku tidak muda lagi. Kalian, orang-orang muda, seharusnya kalian bersenang-senang dan hidup dengan gembira. Jangan memikirkan sesuatu yang hanya akan menjadi beban." Ia menjeda sebentar kalimatnya sebelum melanjutkan. "Percayalah, omongan orang tua ini selalu benar."
"Fred benar. Jangan terlalu mengkhawatirkan hal-hal yang tidak bisa kau kendalikan. Hidup hanya sekali. Kau harus merasakan dan menikmatinya agar tahu keindahannya." Julie turut angkat bicara. "Atau, apa mungkin seseorang mengajakmu menikah?"
Semua tatapan berpindah kepada Catalina dan Catalina tersenyum sambil menundukkan sedikit kepalanya. "Tidak." Ia menggelengkan kepala. "Mana mungkin seseorang mengajakku menikah?" Dan kalau pun ada, ia juga tidak akan menerimanya.
Pernikahan, sama beratnya seperti hamil dan memiliki bayi.
__ADS_1
Semua itu membutuhkan pertimbangan karena tanggung jawabnya sangat besar. Seseorang yang tidak siap untuk menikah, tidak ada yang bisa mengubahnya. Karena paksaan hanya akan membuat kehidupan pernikahan menjadi semakin sengsara.
Lexus yang mendengar ini, tersenyum kecil dan menatapnya dengan tatapan rumit. Gadis itu, kenapa menggemaskan sekali?