Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 59 • RGSA - Memang Kenapa Jika Kau Hamil?


__ADS_3

Setelah mengetahui gambaran keseluruhannya, Catalina ingin tertawa terbahak-bahak. Ia tidak menduga pikirannya yang dangkal mengantarkan dirinya tersesat semakin jauh. Padahal jalan lurus tampak di depan mata, namun akibat kehambaran pikirannya, ia membiarkan dirinya menapak jalan yang salah.


Menyadari bahwa Sehan tidak sepicik itu, rasa bersalah perlahan hadir dan memenuhi seluruh hatinya. Ia melingkarkan tangannya di lehernya dan menempelkan tubuhnya seperti gurita sambil menekan emosinya.


"Jangan di sini," ucap Catalina dengan suara rendah. Ia malu untuk mengatakannya, namun ia tidak ingin melakukannya di sofa. Setidaknya, ia ingin tempat yang lebih nyaman.


"Seperti yang kau inginkan." Sehan membawa Catalina ke ranjang dan melepas semua pakaiannya sebelum dengan lembut melakukan sedikit pemanasan.


Sentuhan demi sentuhan yang Sehan lakukan membakar tubuh Catalina sepanas lava vulkanik. Dan satu-satunya yang bisa menyelamatkannya saat ini hanyalah pria ini.


Sehan masih setia dengan sentuhannya dan dengan hati-hati mencoba mendorong miliknya saat ia menciumnya secara bersamaan.


"Ah! Sakit." Catalina tersentak dan mengerutkan kening. Meski bukan pertama kali Sehan melakukannya, namun itu masih sangat menyakitkan. Ukuran tubuhnya bukanlah sesuatu yang bisa di terima olehnya dengan mudah.


Sehan berhenti dan tidak berani bergerak sedikit pun. Ia dengan lembut mencium bibirnya, alisnya, dahinya, matanya lalu membelai wajahnya.


Perlahan, ketika Catalina menjadi santai karena ciumannya, pria di atasnya mulai bergerak dengan tempo lambat. Gerakannya ringan namun menghentak. Mengantarkan Catalina ke titik yang lebih tinggi. Dan lambat laun gerakannya berubah lebih cepat namun teratur.


Ciuman mereka lembut namun tubuh mereka begitu liar.


Di kamar hotel yang sunyi, nafas memburu dan suara terengah-engah dari pasangan itu muncul sedikit demi sedikit.


Catalina menempel erat di tubuh Sehan dan naluri bertahan hidupnya akhirnya membuatnya melepaskan semua perlawanan.


Rasa sakit disertai kesenangan perlahan naik sedikit demi sedikit, seperti kembang api, membuatnya merasa seperti ia adalah satu-satunya makhluk hidup di gunung berapi.


Catalina tenggelam begitu pula Sehan.


Tahu mustahil mendapatkan kendali dirinya, Sehan menyerah. Ia mencium Catalina dan berbagi setiap jeritan, mendorongnya ke tujuan yang sama.


Sehan sendiri dibutakan hasrat. Pandangannya menggelap, intensitas tersebut menguras semua energinya. Mereka terus berciuman, menghirup dan mencicipi setiap desah satu sama lain.


Ketika mencapai puncak, Sehan memperlambat gerakannya sebelum akhirnya berhenti dan ia mencium Catalina ringan di dahi. "Sayang.." Seharusnya Sehan tahu harus berkata apa. Memanfaatkan kata-kata adalah satu hal yang dibutuhkan untuk menyenangkan gadis ini. Namun saat ini ia sama sekali tidak sanggup bicara.


Benaknya serasa meledak.


Ia belum pernah merasakan hasrat serta ketertarikan seluar biasa ini.

__ADS_1


Sehan menjatuhkan tubuhnya di samping Catalina dan memutuskan untuk memeluknya tanpa mengatakan apapun. Ia hanya merasakan tubuh berkeringat mereka menempel satu sama lain di atas ranjang dan ia menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.


"Sehan." Catalina masih berusaha mengatur nafas.


"Mm." Sehan memejamkan matanya dan enggan membukanya lagi. Demi untuk mengunjungi Catalina, ia mengerjakan semua pekerjaannya sekembalinya dari luar negeri dan menghabiskan satu malam tanpa tidur. Belum lagi ia harus mengejar penerbangan pagi ke kota ini. Sekarang ia lelah dan mengantuk. Ia ingin Catalina di sini, tidur bersamanya, menemaninya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Catalina saat melihat wajah lelah dan mengantuk Sehan. Ia pikir, mungkin pekerjaannya di luar negeri tidak berjalan baik, itu sebabnya Sehan bekerja keras memperbaikinya hingga tidak berisitirahat dengan benar.


Jika tahu bahwa semua rasa lelah yang Sehan derita karena sangat ingin menemuinya, Catalina mungkin akan meneteskan air mata karena terharu. Namun sayangnya, Sehan tidak akan membiarkan Catalina mengetahuinya.


Sehan mengulas senyum tipis. Senyum yang jarang ia tunjukkan kepada siapapun, dengan mudahnya ia tersenyum kepada Catalina. "Apa kau menghawatirkan ku?"


Catalina cemberut. "Kau pikir aku tidak?" Sejak Sehan berkata bahwa kedatangannya ke sini bukan untuk Lexus, tetapi untuknya, ia sudah memutuskan untuk memperlakukan pria ini dengan baik di masa depan.


Sehan tidak hanya tidak membahas Lexus, dia bahkan melarangnya menyebutkan nama itu seolah dia tidak lagi khawatir ia mendekatinya.


Jika dipikir lagi, apa mungkin Sehan mulai mempercayainya?


Kalau benar demikian, bukankah hubungan mereka sudah satu langkah lebih baik?


Membayangkannya, Catalina tidak bisa berhenti tersenyum.


"Kau tampak ketakutan saat aku datang," jawab Sehan. Meski ketakutan itu ia dapat menangkapnya sebagai kesalahpahaman, namun karena Catalina tidak tahu jika ia sudah mengetahui identitasnya yang sebenarnya, ia tidak akan meluruskan apapun. Ia juga tidak akan membahas tentang Lexus karena Catalina tidak tahu apapun dan tidak ada hubungannya dengan Lexus.


"Aku pikir kau jauh-jauh datang ke sini karena khawatir aku mendekati adikmu."


Sehan membuka mata dan berkata, "Kau tahu tidak, sebenarnya aku memang khawatir."


Eh? Catalina terkejut. Apa maksudnya ini?


"Kau ingin aku berkata jujur atau tidak?" Sehan kembali berbicara.


Catalina memutar bola matanya sebelum otaknya berhasil terkoneksi. "Terserah kau. Aku akan memutuskan setelah mendengar perkataan jujur dan bohongmu."


"Kalau begitu, aku akan memberikan jawaban jujur agar tidak perlu susah payah merangkai kebohongan."


"Huh uh, aku akan mendengarkan."

__ADS_1


"Aku adalah orang yang paling menyayangimu," ujar Sehan.


Perkataan Sehan membuat Catalina menjadi bingung. "Lantas? Apa hubungannya?"


"Jika kau bertanya padaku sebagai priamu, aku akan memintamu menjauhinya," Sehan menjawab jujur. Sebelum Catalina mengajukan pertanyaan, ia lebih dulu menambahkan, "Bukan karena aku tidak percaya padamu. Aku sangat mempercayaimu dan tidak akan pernah meragukanmu. Tetapi aku tidak percaya pada pria itu. Dan jika kau bertanya padaku sebagai kakaknya, maka jawabanku masih sama. Aku tidak suka adikku dekat-dekat denganmu karena aku tidak percaya padanya. Sederhananya, aku mengkhawatirkan mu."


Catalina tercengang. Sehan mengkhawatirkannya? Bukan Lexus?


"Apa kalian bukan saudara kandung?" Catalina bertanya dengan serius.


"Saudara kandung atau bukan, pria punya perasaan." Tidak peduli sekental apa darah, jika menyangkut perasaan, sesuatu yang tidak rasional bisa menjadi sangat rasional.


Itu yang Sehan pelajari setelah bertahun-tahun menjadi pebisnis.


Dan fenomena dari generasi ke generasi selalu memunculkan banyak kesimpulan. Seperti perebutan tahta pemimpin keluarga, perebutan harta warisan, atau karena wanita. Kebanyakan mereka yang saling berebut memiliki label 'saudara' di darah mereka. Dan ya, mereka tidak segan untuk saling menyakiti hanya karena keserakahan.


Dulu ia melarang Tatiana mendekati Lexus karena Tatiana terlalu murahan. Gadis kotor yang bahkan menggunakan obat-obatan terlarang, tidak cocok menjadi istrinya apalagi menjadi adik iparnya. Namun karena gadis yang bersamanya saat ini bukan Tatiana, ia melarangnya mendekati Lexus, murni karena kecemburuannya.


Jangankan Lexus, bahkan jika Catalina dekat dengan ibunya, ia akan berpikir ibunya merebut Catalina darinya.


Catalina terkekeh. Perasaan? Sejak kapan pria dari keluarga Geffrey memiliki perasaan? Namun itu bukan hal yang ingin ia ketahui jawabannya. Mereka punya perasaan atau tidak, tidak ada hubungannya dengannya. Lagipula jika masa sudah tiba, ia akan meninggalkan Sehan dan kembali ke Alaska bersama Tatiana.


Mereka akan memulai hidup baru di tempat yang baru dan melupakan masa lalu yang menyakitkan.


Tapi, lupakan! Pemikiran itu terlalu berat untuk dipikirkan sekarang. Daripada berpikir tentang bagaimana pria dari keluarga Geffrey berpikir, atau bagaimana ia akan kembali ke negara asalnya, ada satu hal yang membuatnya sangat penasaran.


"Sehan," panggilnya.


"Mm?"


"Apa aku boleh bertanya sesuatu?"


"Jika aku tahu jawabannya, aku akan menjawabnya."


Catalina sedikit ragu namun ia memberanikan diri untuk bicara. "Mm.. mungkin pertanyaan ini sedikit ceroboh. Namun aku tidak peduli. Aku cukup penasaran dan aku tahu tidak mungkin menemukan jawaban jika tidak bertanya padamu."


Sebelah alis Sehan terangkat. "Kenapa kau formal sekali?"

__ADS_1


Catalina mengabaikan keluhan Sehan dan segera melanjutkan, "Sebenarnya aku tidak tahu kenapa kau membiarkan cairanmu masuk ke perutku? Maksudku, aku bisa hamil." Dibanding apapun, kehamilan adalah hal yang paling Catalina takutkan. Daripada dicampakkan oleh Sehan, ia lebih takut ada makhluk yang hidup di perutnya.


Sehan mengerutkan kening. "Memang kenapa jika kau hamil?" Ia tidak menduga Catalina akan mengajukan pertanyaan ini. Semua yang ia lakukan, semua tindakannya, tidak mungkin tanpa pemikiran, tidak mungkin tanpa perhitungan. Jika ia membiarkan benih bayinya memenuhi perut Catalina, apa yang ia inginkan sejelas siang hari. Apa gadis itu masih tidak mengerti? Atau apa mungkin ia masih kurang jelas menunjukannya?


__ADS_2