Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 47 • RGSA - Pria Ini Adalah Penyebabnya


__ADS_3

Catalina tidak dapat memikirkan hal lain lagi.


Ia hanya memandangi pria yang memeluknya dan tidak tahu bagaimana harus merespons. Dia cukup manis dan untuk ke sekian kalinya hatinya bergejolak karena pria itu.


Tuan muda yang biasanya kejam dan menuntut, bersedia mengalah dan bersikap lembut, bahkan memikirkan panggilan sayang? Tuan muda yang seperti ini, siapa yang tidak tergoda?


Tapi siapa yang berani tergoda?


Tergoda hanya akan menyakiti diri dengan mudah.


Catalina sudah memperingatkan dirinya sendiri bahwa semua ini tidak nyata. Kebahagiaan ini hanya ilusi. Dan yang terpenting, ia tidak boleh menggunakan hatinya.


Begitulah cara dunia bekerja untuk orang miskin seperti dirinya.


Ia harus pandai-pandai melindungi diri agar suatu saat ketika Sehan bosan dan berbalik menginjaknya, ia tidak memiliki alasan untuk menangis.


Pria seperti Sehan, ia percaya bahwa jika dia menyayangi seorang wanita, dia benar-benar akan meletakkan semua yang menurutnya baik di depannya.


Namun, semakin banyak yang dia berikan, semakin ia percaya bahwa sekali pria itu tidak membutuhkannya lagi, dia akan meninggalkannya lebih bersih daripada saat ia membutuhkannya di awal.


"Kudengar panggilan sayang cukup banyak di gunakan oleh mereka yang menjalin hubungan," ucap Sehan lagi. Ia memberikan ciuman kecil di pipinya dengan lembut namun tatapannya sedikit tajam dan mengancam. Seolah tahu apa yang Catalina pikirkan melalui matanya, hatinya perlahan mengeras.


Harimau betina ini, sepertinya masih sulit untuk menjinakkannya. Padahal ia sudah menyenangkan dan memanjakannya dengan cara yang luar biasa. Tetapi gadis ini sangat sulit untuk mempercayainya bahkan setelah semua sejelas siang hari.


Catalina tercengang saat melihat sorot mata Sehan. Apa dia marah? Ia benar-benar bisa merasakan sekelebat emosi dari suaranya yang tenang. Apa karena ia tidak menjawab panggilan mana yang akan ia gunakan atau karena alasan lain?


Catalina tidak bisa memikirkan kemungkinan apapun. Ia berkata dengan suara rendah, "Kalau begitu, aku akan memanggilmu dengan namamu." Karena merasa sedikit takut, ia memilih untuk patuh. Jika tidak, tidak tahu berapa banyak yang bisa Sehan lakukan padanya. Pria itu bisa saja menyakitinya, bahkan mungkin membunuhnya.

__ADS_1


"Kau benar-benar tidak romantis," sahut Sehan.


"Tidak penting apakah itu romantis atau tidak. Yang penting hubungan kita baik-baik saja," ujar Catalina. Tidak ada yang lebih penting dari hubungan yang baik-baik saja. Karena dibanding 'romantis', 'hubungan yang baik-baik saja' jauh lebih penting untuk menyelematkan nyawa yang hanya bergantung pada seutas benang.


"Tetapi orang yang menjalin hubungan tidak seperti itu."


Catalina memutar bola matanya. "Aku tidak pernah menjalin hubungan. Bagaimana aku tahu?" gumamnya, sedikit bingung. Ia adalah gadis yang benar-benar masih suci. Ia tidak pernah tertarik dengan pria. Ia tidak pernah ingin menjalin hubungan. Dunianya hanya tentang bekerja dan bertahan hidup. Itu pun sulit setengah mati.


Ia hanya tahu sedikit melalui novel romantis yang sering ia baca. Pun hanya dijelaskan secara implisit. Otaknya berimajinasi namun masih tidak bisa membayangkannya dengan benar.


Jadi, bagaimana ia tahu tentang mereka yang menjalin hubungan?


Ia sangat dangkal dalam hal ini dan ia mengakui itu.


Meski hanya gumaman, Sehan dapat mendengarnya dengan jelas. Membuatnya gagal menyembunyikan senyum. Gadis ini, meski kuat dan kejam, namun sebenarnya dia sangat polos. Berbeda dengan kesan nakal dan dewasa yang dia tunjukkan melalui tingkah laku dan dari caranya berpakaian, kenyataannya dia tidak tahu apapun tentang hubungan antara pria dan wanita.


"Kau ingin aku menjadi tutormu?" Sehan sedikit menggoda. Meski ia juga tidak banyak tahu tentang hubungan pria dan wanita, namun ia masih sedikit lebih pintar dari Catalina. Setidaknya, ia tidak sebodoh itu sampai tidak tahu apa-apa. Jadi, ia bisa mengajarinya. Tidak. Lebih tepatnya, mereka bisa belajar bersama.


Catalina yang awalnya terkejut, sekarang meragukannya.


Ia benar-benar yakin instingnya tidak salah.


Pria seperti Sehan, yang tidak pandai bersosialisasi dengan orang lain, siapa yang akan percaya jika dia berkata berpengalaman dalam sebuah hubungan? Anjing pun akan tertawa mendengar ini.


Tahu apa yang Catalina pikirkan, Sehan menjentikkan jarinya di dahinya. Setelah itu ia memeluknya penuh penyesalan sambil mengusap dahinya sebagai cara untuk mengobati rasa sakitnya. "Berhenti membahas itu," ucapnya. "Kau harus bangun dan sarapan."


Catalina mengangguk. "Uh huh, kau benar." Ia memang harus bangun, makan yang banyak lalu kembali ke kondominium dan mengejar penerbangan ke luar kota. Syuting akan di mulai besok, dan malam ini, ia harus sudah sampai di lokasi syuting.

__ADS_1


Catalina memaksa tubuhnya untuk duduk dan terkejut mendapati dirinya berada di tempat yang berbeda. Ranjang yang berbeda, dekorasi yang berbeda, furniture yang berbeda dan segalanya benar-benar berbeda.


Siapa yang memindahkannya ke sini, siapa lagi jika bukan Sehan?


Ia mengedipkan mata seperti orang bodoh.


Karena kelelahan, ia tidur seperti orang mati dan tidak menyadari apapun lagi setelah itu. Tahu-tahu ketika bangun dan membuka mata, ia sudah berada di tempat yang berbeda dengan terakhir kali ia tertidur. Pun ia baru menyadarinya setelah beberapa saat berlalu.


Ia ini, sebenarnya masuk kategori bodoh atau tidak waspada, sih?


Hanya karena kelelahan, bukan berarti ia menurunkan kewaspadaan hingga Sehan memindahkannya tanpa ia menyadarinya, bukan? Tidak masalah jika itu Sehan, tapi bagaimana jika itu orang lain? Biasanya ia tidak seperti ini, tapi kenapa sekarang ia seperti ini?


Tidak mau memikirkannya lagi, Catalina turun dari ranjang. Selimut turun dari tubuhnya dan seketika tubuh telanjangnya terlihat saat tidak ada lagi yang menutupinya.


Jakun Sehan perlahan turun melihat pemandangan ini. Sudah ia duga tubuh Catalina memang indah. Tubuh yang sedari tadi menempel padanya di bawah selimut, seindah lukisan yang dilukis oleh pelukis terbaik. Jika tidak mengingat setiap bagian miliknya sudah ia rasakan, ia tidak akan begitu menginginkannya.


Karena ia sudah tahu rasanya, betapa enaknya, ia menginginkannya lagi.


Catalina melakukan perenggangan sederhana dan berkata, "Dimana kamar mandinya?" tanyanya sambil mengedarkan bola matanya mengawasi sekeliling. Ruangan ini sangat besar. Lebih besar dari kamar tidur yang tadi malam ia gunakan.


Karena Sehan membawanya ke sini dan pria itu tidur di sampingnya, sudah pasti ini kamar pria itu.


Belum sempat menoleh ke belakang untuk memastikan apa yang akan Sehan katakan, tubuhnya lebih dulu terangkat dan melayang di udara. Terkejut, Catalina mendesis, "Apa yang kau lakukan?"


"Memandikanmu tentunya," jawab Sehan sambil membawa Catalina dalam gendongannya menuju kamar mandi. Catalina telanjang, namun ia hanya bertelanjang dada. Dan berkat celana panjang yang menutupi kakinya, miliknya yang berdiri pun tersamarkan dengan baik.


Catalina diam dan tidak bicara lagi. Mencium aroma khas Sehan yang menemaninya sepanjang malam, sekarang ia mengerti kenapa tidurnya begitu nyenyak.

__ADS_1


Pria ini adalah penyebabnya.


Aromanya, pelukannya, kehangatannya serta segala tentangnya membuatnya melupakan kegelisahan yang selama ini membelenggu dalam pikirannya.


__ADS_2