
Viona menatap Catalina dengan penuh kebencian dan gagal menyembunyikannya. Namun Catalina tidak punya waktu untuk memperdulikannya. Ia sangat muak dengan keluarga ini dan jika tidak menimbang harus mencari tahu sesuatu, wajahnya yang sok cantik itu pasti sudah ia lempar menggunakan apa saja yang ada.
Dia pikir siapa dia sampai berani memandang rendah dirinya?
Jika tidak mengingat fakta bahwa dia putri kandung orang tua angkat Tatiana, demi apapun, ia akan membuatnya menyesal sudah meremehkannya.
"Oh, sayang, kau datang?" Suara Yoana yang lembut memecah keheningan. Ia tidak repot-repot bergerak menyambut putri angkatnya, ia tetap duduk di kursinya dan hanya menepuk kursi kosong di sampingnya. "Datang dan duduk di sini, Tatiana!"
Catalina mengangguk dan melangkah pelan menghampiri Yoana kemudian ia mendudukkan dirinya di kursi kosong di sampingnya sesuai permintaannya. Baru saat itu ia bisa melihat suasana hati Yoana dan Edgar tampak jauh lebih baik.
Viona, tidak perlu ditanya, betapa jelek wajahnya. Namun jangan harap Catalina akan peduli. Semakin jelek ekspresinya, semakin ia merasa senang.
"Bagaimana keadaanmu? Apa sekarang menjadi jauh lebih baik?" Yoana menggenggam jemari Catalina di bawah meja dan menatap Catalina dengan tatapan lembut.
Catalina mengangguk. "Sekarang jauh lebih baik. Hanya saja, aku masih harus melakukan fisioterapi."
"Kalau begitu, makan lebih banyak." Yoana membantu mengisi piring Catalina dengan daging dan sayuran, kemudian ia juga meminta pelayan untuk membuatkan susu hangat. "Kau harus tetap sehat dan menjadi lebih kuat di masa depan."
Catalina tidak tersentuh sama sekali dengan semua kebaikan yang Yoana lakukan. Untuk beberapa alasan, ia merasa kebaikannya tidak sesederhana itu. Ia yakin dia menginginkan sesuatu darinya. Tapi, apa itu?
"Sudah, jangan bicara lagi. Biarkan Tatiana menikmati makanannya dengan tenang. Sudah lama dia tidak pulang. Jika kau terus bicara, kau akan membuatnya tidak nyaman." Edgar yang semula diam, buka suara. Perkataannya merujuk pada Yoana yang sedari tadi hanya bicara. Padahal aturan di meja makan keluarga Atkinson jelas melarang siapapun berbicara saat makan.
Yoana mengangguk dan tidak bicara lagi.
Keadaan menjadi hening sepanjang makan malam.
Semua orang tampak menikmati makan malamnya namun tidak dengan Catalina. Selain terpaksa menelan makanannya, ia masih merasa ada yang salah dengan keluarga ini. Ia merasa rumah ini seperti menyimpan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
Setelah makan malam berakhir, barulah Edgar berbicara, "Bawa Tatiana bersamamu! Tunjukan jalannya." Ia memberi perintah kepada Yoana yang berada di samping Catalina.
Catalina terpaku. Membawanya? Kemana? Untuk apa?
Belum sempat menemukan jawaban atas pertanyaannya, Yoana lebih dulu membantunya bangun kemudian mengajaknya pergi. "Ayo, Sayang. Jangan kecewakan kami. Kau tahu, kami paling menyayangimu. Dan jika kau menyayangi kami, lakukan apa yang harus kau lakukan."
"Maksudmu?" Catalina masih tidak mengerti apa maksud Yoana. Dia selalu berkata menyayangi Tatiana dan paling menyayanginya, namun apa yang mereka ingin ia lakukan? Membayarnya? Dengan apa? Dengan cara apa ia harus membayar apa yang mereka katakan sebagai balasan atas rasa sayang mereka?
Yoana tersenyum lembut. "Sudah lama kau tidak datang, dan aku tahu kau masih belum terbiasa dengan dunia lamamu. Namun kau harus membiasakannya kembali mulai sekarang."
Catalina menaikan sebelah alisnya, masih tidak mengerti. Dunia lama? Membiasakannya kembali?
__ADS_1
Cukup lama otaknya berputar dan setelah perputaran itu berhenti, seketika kontrolnya tersentak. Semua kata-kata yang keluar dari mulut wanita itu, mungkinkah?
Tidak.
Tidak ada mungkin.
Ini bukan lagi mungkin atau kemungkinan. Ini bukan lagi sesuatu yang masih harus diragukan. Ini bukan lagi sesuatu yang masih harus dipertanyakan. Ini bukan lagi sebuah tanda tanya tanpa jawaban. Semua yang Yoana katakan sejelas siang hari. Dan ia tahu persis apa artinya.
Tahu apa yang Catalina pikirkan, Yoana membenarkan, "Ya, Tatiana, persis seperti yang kau pikirkan." Ia dengan hati-hati menuntun Catalina menuruni tangga. Kemudian menyusuri koridor. Namun sepanjang perjalanan, Catalina sibuk dengan pikirannya sendiri dan tidak sempat memikirkan kemana Yoana membawanya.
Rasa sakit yang teramat besar tiba-tiba menghantam hatinya.
Kakinya bahkan menjadi lemas. Tubuhnya terhuyung dan hampir jatuh ke lantai. Jika Yoana tidak sigap menopangnya, sudah pasti ia tidak bisa melakukan apapun lagi.
"Hati-hati," ujar Yoana. "Kau tahu itu sangat berbahaya?"
Catalina mengabaikannya. Ia sedang menikmati rasa sakit yang rasanya hampir membunuhnya. Seperti mengetahui sesuatu yang tidak pernah disangka-sangka. Seolah berpikir sudah keluar dari hutan, namun ternyata menginjak lumpur hisap. Bukan jalan keluar yang di dapat, namun bencana besar yang menunggu.
Catalina menatap Yoana dengan tatapan tajam. Dan Yoana tersenyum. "Jangan menatapku seperti itu, Tatiana," ujarnya. Karena gadis itu baru bangun dari koma, ia tidak keberatan untuk menjelaskan lebih banyak. "Sudah lama kau tidak datang." Ia mengeratkan cengkeraman tangannya pada lengan Catalina. "Kau tahu berapa banyak kerugian yang kau ciptakan? Itu sangat banyak. Hampir bisa menghidupi keluarga kita selama beberapa bulan. Dan kau tahu apa yang harus kau lakukan? Kau harus menebusnya." Ada kilatan aneh di matanya dan ada sedikit ancaman di setiap kata yang ia lontarkan. Tidak. Hampir seluruhnya adalah ancaman.
Catalina melotot. Sialan wanita ini. Dia bukan manusia. Dia iblis. Hanya wajah cantiknya yang membuatnya tampak seperti manusia, namun kenyataannya, dia lebih menyeramkan dari iblis yang keluar dari lubang neraka.
Sayangnya Yoana tidak tahu jika ia bukan Tatiana. Sehingga ancaman seperti itu tidak membuat Catalina takut. Ia justru ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri untuk membuktikan bahwa semua yang ia pikirkan salah.
Tatiana, Tatiana-nya yang berharga, tidak mungkin, tidak mungkin gadis semanis itu menjalani kehidupan segila ini. Ini pasti tidak nyata. Ini pasti tidak benar. Ini tidak mungkin terjadi. Dan ia menggelengkan kepala, tidak percaya. Lebih tepatnya menolak untuk percaya.
Disepanjang koridor, pemandangan yang tersaji seperti seseorang memasuki hotel. Pintu berbaris di sepanjang dinding dan itu cukup banyak. Catalina bahkan tidak bisa menggunakan jari-jarinya untuk menghitung. Dan ia berpikir ruangan ini terletak di bawah tanah. Sialnya, ia tidak memperhatikan pintu ketika ia masuk. Ia hanya ingat mereka menuruni tangga. Yang itu berarti, ruangan ini benar berada di lantai bawah.
Langkah kaki mereka tidak berhenti dan ketika mencapai ujung lorong, Yoana baru menghentikan langkah. Secara otomatis Catalina juga ikut berhenti. Yoana mengulurkan tangan dan menyeka rambut Catalina kemudian menempatkannya di belakang telinganya sebagai cara untuk menghibur. "Kau sangat cantik hari ini. Dan aku sangat puas dengan penampilanmu."
Catalina diam, tidak menanggapi. Melihat wajah Yoana yang menyebalkan, ia menahan diri untuk tidak meludahinya.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka.
Catalina dan Yoana menolah secara bersamaan dan melihat keadaan yang terjadi di depan mata sungguh mencengangkan. Sementara Catalina tercengang, ekspresi Yoana masih sama, tidak berubah dari awal hingga akhir. Tidak ada jejak keterkejutan di sana, yang berarti pemandangan ini sudah biasa untuknya.
Tangan Catalina mengepal.
Benar.
__ADS_1
Tempat ini.. sebenarnya..
Belum sempat Catalina melanjutkan pemikirannya, pergelangan tangannya lebih dulu di tarik oleh seorang pria. Tidak lama setelah itu, pria lain juga mendekat. Ia menoleh ke belakang dan melihat Yoana tersenyum seperti iblis.
"Silahkan nikmati malam kalian," ucap Yoana sebelum menutup pintunya perlahan.
Catalina tercengang.
Tidak salah lagi.
Tempat ini..
Tempat sialan ini..
Sebenarnya..
Tempat prostitusi.
Sial. Catalina mengumpat. Kesadarannya bahkan belum terkumpul semua saat ia di bawa oleh dua pria dan di lemparkan ke sebuah kamar dan pintu tertutup dengan bantingan keras.
Catalina jatuh di tempat tidur dengan posisi telungkup. Ia bangun kemudian menyingkirkan helaian rambutnya yang berantakan di wajahnya.
Menyadari tempat ini sangat sunyi, bola matanya bergerak mengawasi sekeliling. Ini adalah kamar tidur biasa. Ada ranjang besar, meja, lemari, lukisan yang tergantung di dinding, juga beberapa botol whisky di atas meja. Namun yang aneh adalah kenapa ia di lemparkan ke kamar kosong ini?
Tidak.
Ini bukan kamar kosong.
Ada suara gemericik air yang terdengar dari kamar mandi. Yang berarti ada seseorang di dalam sana. Tidak mungkin seorang wanita. Dia pasti pria hidung belang yang harus Tatiana layani.
Namun ia Catalina, bukan Tatiana.
Diminta menjadi kunang-kunang dan penjaga ranjang, ia tidak sudi. Bahkan jika kematian mengancamnya, ia masih tidak bersedia. Ia masih akan tetap memilih kematian daripada harus tidur dengan pria hidung belang.
Betapa bodohnya ia berpikir Tatiana memiliki kehidupan yang baik? Selain harus melayani tamu setiap pulang ke rumah orang tua angkatnya, orang tua angkatnya diam-diam memiliki bisnis kotor ini di belakang pantatnya dan Tatiana menjadi salah satu yang terlibat dalam bisnis itu.
Catalina ingin menangis. Namun ia menahan air matanya agar tidak jatuh. Ini bukan waktu yang tepat untuk menangis. Juga.. masih ada masalah lain yang lebih penting dari sekedar menyesali apa yang menimpa saudari kembarnya.
Bajingan itu.. masih ada di kamar mandi. Jadi ia harus menyingkirkannya terlebih dahulu sebelum memikirkan hal lain.
__ADS_1