Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 23 • RGSA - Dia Gadis Murahan


__ADS_3

Tidak mendapat jawaban dari Sehan, Ethan menyentuh bahunya dan pandangannya mengikuti kemana Sehan memandang. "Apa yang kau lihat, huh?" Tatapannya jatuh pada sesosok gadis yang tampak tidak asing. "Eh?" Tatapannya tetap berada di sana dan tidak berpindah untuk waktu yang lama.


Ethan berpikir, apa ia mengenal gadis itu?


Entah kenapa ia merasa sosok gadis itu cukup familiar. Dan pandangannya turun ke bawah lalu naik ke atas sekali lagi untuk memastikan. Namun sebanyak apapun ia memperhatikan, ia bukan orang bodoh yang tidak bisa mengenali sosok seseorang bahkan jika hanya bertemu satu kali dengannya.


Juga, meski gadis itu memakai masker yang menutupi hampir sebagian wajahnya, bukan berarti ingatannya tentang seseorang begitu buruk. Ia benar-benar mengenalinya dan ia yakin itu. Namun ia masih harus memastikan.


"Tunggu!" Ethan menaikan tangan. "Kau, Tatiana?" tanyanya begitu menyadari gadis itu sangat mirip dengan gadis yang belakangan ini menjadi muridnya. Tidak. Mereka tidak sekedar mirip, ia yakin dia memang gadis itu.


Sehan menaikan sebelah alisnya, melirik Ethan. Dia mengenal gadis itu?


Mendengar suara yang tidak asing, ditambah memanggil nama palsunya, Catalina menoleh ke arah sumber suara. Begitu melihat sosok itu, ekspresi tertekannya berubah seketika. "Guru, itu kau?" Catalina tidak percaya bertemu tutor systemanya di sini. Di club malam, malam-malam begini. Apa yang dia lakukan di sini?


Tidak. Bukan itu.


Yang benar adalah, kenapa dia bersama Sehan?


Apa mereka saling mengenal? Atau.. apa pria itu teman Sehan?


Mungkinkah?


Catalina menatap Ethan lalu berpindah ke Sehan. Tangan Ethan yang berada di bahu Sehan sudah menjawab segalanya. Pria itu memang teman Sehan.


Sial.


Bagaimana mungkin ini terjadi?


Catalina mengunci mulutnya yang hampir menganga. Ia tidak menduga dunia yang ia pikir lebar, ternyata sesempit ini. Bertemu Sehan, adalah bencana. Lalu tutor systemanya, teman Sehan. Apa tempat ini semacam kutukan yang mengungkapkan sesuatu yang tidak masuk akal?


Catalina frustasi.


Belum juga keadaan membaik, Andreas dan Daniel keluar dari ruangan. Melihat Ethan dan Sehan masih berada di sana, mereka berdua saling memandang. Merasakan ketegangan, Andreas buka suara, "Ada apa ini?" Melihat Ethan dan Sehan sedang melihat ke arah yang sama, Andreas juga mengikuti arah pandang mereka. Melihat seorang gadis berdiri di sana sedang berpelukan dengan seorang pria, keningnya berkerut. "Ethan, apa yang terjadi? Siapa gadis ini? Apa kau mengenalnya?" tanyanya, penasaran.


Ethan bangun dari keterkejutannya dan mengangguk. "Ya, ini aku." Namun bukan menjawab pertanyaan Andreas, ia menjawab pertanyaan Catalina.


"Senang bertemu denganmu, Guru." Catalina menyapa seramah mungkin. Meski ia bukan orang yang ramah, tapi keberadaan Ethan di sini, mungkin bisa membantunya keluar dari lubang neraka. Kegelisahan serta ketakutan ini, tidak lain adalah peringatan dari tubuhnya karena adanya bahaya. Dan bahaya itu adalah Sehan, si pencipta lubang neraka.


"Apa? Guru?" Andreas dan Daniel berkata secara serempak. Pikiran mereka berdua terkoneksi dan kesimpulan mereka jatuh pada hal yang sama. "Jangan bilang..."

__ADS_1


"Ya, dia muridku. Gadis yang ku ceritakan," Ethan menjawab cepat. Catalina adalah gadis yang ia ceritakan. Gadis yang menarik dan penuh talenta. Ia menyukainya sebagai muridnya.


"Wah, jadi gadis itu?" Andreas mengawasi Catalina lekat. Melihat setiap inci tubuhnya untuk memeriksa seberapa menarik dia sampai Ethan menceritakannya. Dan, ya, "Kau benar. Dia seperti yang kau katakan," ujarnya, mengakui jika gadis itu memang cukup menarik. Meski tidak terlihat wajahnya, ia tidak mungkin salah menilai.


Ethan menoleh menatap Andreas. "Memang apa yang kukatakan?"


"Kau bilang dia cantik," jawabnya.


"Oh." Ethan mengangguk. "Dia memang cantik," sahutnya. Ia yang biasanya acuh pun mengakui itu. Ia melihat kecantikan Catalina tiap pergi ke kondomiumnya. Dan jenis kecantikan seperti itu tidak membuat orang bosan sebanyak apa orang melihatnya. Siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak, adalah pria yang sangat beruntung.


Catalina memutar bola matanya, tidak tahu harus berkata apa. Ethan menceritakan tentang dirinya kepada teman-temannya, orang seperti dirinya pun bisa merasa malu. Apalagi teman-temannya tidak terlihat seperti orang biasa. Melihat cara berpakaian serta bagaimana mereka berperilaku, mereka jelas berasal dari kalangan atas.


"Omong-omong, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ethan. "Juga, kenapa pria itu?" Dari Catalina, tatapannya berpindah kepada pria yang bersandar pada Catalina.


"Oh, ini," Catalina menatap pria menyebalkan yang bersandar padanya sambil memberikan penjelasan. "Temanku mabuk dan seseorang memintaku untuk menjemputnya," ujarnya. Alasan ia datang tentu karena mereka tidak bisa membuang Nick ke jalanan. Jika mereka bisa melakukannya, ia tidak sudi datang ke tempat ini dan menjemputnya. Karena jika tidak menjemputnya, ia tidak mungkin bertemu dengan orang yang tidak ingin ia lihat. Jadi, pokok permasalahan dan orang yang harus disalahkan jelas Nick.


Tunggu sampai Nick sadar dan ia benar-benar akan meminta kompensasi yang pantas ia dapatkan atas kekacauan yang sudah pria itu buat. Jika tidak, demi apapun, ia tidak akan membiarkan pria itu menjalani hidupnya dengan nyaman.


"Bukankah dia berat? Perlu bantuan?" Melihat bagaimana ekspresi Catalina, gadis itu jelas tidak bisa membawa Nick seorang diri. Apalagi, untuk menuju tempat parkir, mereka masih harus menuruni tangga. Ia tidak yakin Catalina bisa menangani hal ini seorang diri.


Bukan ia meragukan, kekuatan Catalina cukup bagus untuk ukuran seorang gadis. Tetapi mau sekuat apapun dia, dia tetap seorang gadis. Kekuatannya jelas berbeda dengan pria. Itu sebabnya Ethan berinisiatif memberikan bantuan.


Catalina menggelengkan kepala. "Tidak, terima kasih. Aku bisa melakukannya sendiri." Catalina menolak secara langsung. Meski itu bohong, meski ia tidak mungkin bisa membawa Nick seorang diri, ia tidak akan menerima bantuan mereka meski mereka yang menawarkan.


Untuk beberapa alasan, Catalina merasa harus menjauhi orang-orang seperti mereka.


Tuan muda dari keluarga kaya yang ia baca di novel, biasanya sangat mendominasi. Mereka adalah orang-orang yang tidak boleh disinggung. Jadi, daripada menyinggung mereka, Catalina lebih memilih untuk tidak berurusan dengan mereka.


Sederhananya, lebih baik mengantisipasi daripada memperbaiki.


"Jangan sungkan. Kau akan kesulitan." Ethan mendekat dan bergerak membantu Catalina memapah Nick dari sisi yang berbeda.


"Bukankah itu merepotkan?" tanya Catalina. Ethan yang sudah membantu, tidak mungkin ia menolaknya lagi. Juga tidak ada alasan yang kuat untuk menolaknya. Jadi ia hanya bisa mengatakan perkataan super klasik seperti ini. Berharap Ethan akan menjawab 'ya', kemudian pergi bersama teman-temannya.


"Tidak sama sekali," jawab Ethan. Kemudian ia menatap Andreas. "Andreas, kenapa kau diam saja? Cepat gantikan Nona ini," desaknya.


Andreas mengangguk dan bergerak cepat menggantikan Catalina. Meski ia tidak berkeinginan untuk membantu, namun karena Ethan yang meminta, ia tidak bisa menolaknya begitu saja.


Pada akhirnya, Catalina tersingkir. Ia tercengang sesaat sebelum senyum canggung menghiasi bibirnya. Apa-apaan ini? Kenapa mereka memaksa sekali?

__ADS_1


"Ayo kita pergi," ujar Ethan.


Mereka berjalan bersama menyusuri koridor. Dengan Nick yang dibantu Andreas dan Ethan, Catalina tidak membawa beban apapun lagi selain beban moral dan beban pikiran karena harus berjalan bersama Sehan dan kelompoknya.


Berada di tengah-tengah mereka, Catalina seperti kelinci putih di tengah kawanan serigala. Ia takut nyawanya benar-benar melayang kali ini. Juga bukan karena hanya ada dirinya, tetapi ada Nick juga. Jika mati, maka mereka mati berdua, mati bersama-sama.


"Jadi, gadis ini yang kau ceritakan?" Suara serak Sehan memecah keheningan di antara mereka. Pertanyaannya ditujukan kepada Ethan namun matanya melirik Catalina yang berjalan tidak jauh darinya.


"Ya," jawab Ethan.


"Kau bilang dia gadis yang baik?" tanya Sehan lagi.


"Ya, dia memang gadis yang baik," Ethan menjawab tanpa ragu. Ia tidak mungkin bicara tanpa bukti. Jika ia berkata Catalina adalah gadis yang baik, maka itu kenyataannya.


"Dia gadis murahan," ujarnya, berkata seenak jidat.


"Apa?" Catalina tercengang. "Murahan?" Ia menunjuk dirinya sendiri. "Aku, murahan?" Ia tidak tahu dimana Sehan belajar berbicara, dan tidak tahu darimana Sehan menemukan gelar seperti itu untuk diberikan kepadanya. Namun, ia tidak murahan, oke? Ia masih perawan dan ia bahkan belum pernah berciuman. Bagian dirinya sebelah mana yang murahan?


Tahu apa yang Catalina pikirkan, Sehan kembali menambahkan. "Dia membiarkan orang lain menyentuhnya, jika bukan murahan, lalu apa?" Matanya masih melirik Catalina namun kali ini lirikannya sangat tajam, seolah mengandung banyak tuduhan.


"Menyentuh?" Catalina menaikan volume suaranya. Ia menghentikan langkah dan menatap Sehan dengan tatapan penuh amarah. "Apa maksudmu? Siapa yang menyentuhku?" tanyanya. Jika yang Sehan maksud adalah Nick, Nick mabuk dan dia tidak melakukannya dengan sengaja. Pun dia hanya menyenggol, bukan menyentuh dan meremas-remasnya.


Ia tidak tahu darimana Sehan mendapatkan kesimpulan itu, entah karena Sehan mendengarnya saat memarahi Nick atau apa, ia tidak tahu dan tidak peduli. Namun perkataan pria itu sangat kasar seolah ia adalah wanita murahan yang membiarkan orang lain menyentuhnya sesuka hati.


Langkah kaki Sehan dan semua orang pun ikut berhenti. Andreas, Ethan, dan Daniel yang menyaksikan keributan ini pun bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka? Kenapa mereka berdua bertingkah seperti pacar yang melihat pacarnya berselingkuh? Apa artinya ini?


Sehan tidak menjawab. Namun maksud ucapannya sangat jelas merujuk pada Nick.


Catalina sudah menduganya. Orang yang Sehan maksud, tidak lain tidak bukan memang Nick. Namun tidak seperti yang Sehan pikir. Tidak ada apapun yang terjadi di antara mereka. Dan jika pikiran kotor Sehan tidak segera dibersihkan, takutnya orang lain juga akan terkontaminasi pikiran kotor itu dan berpikir ia murahan. Jadi, ia segera berkata, "Dengar, dia managerku." Catalina menunjuk Nick. "Dia mabuk dan dia tidak melakukannya dengan sengaja," ujarnya, menekankan kata perkata nya dengan sangat jelas.


Sehan mengerutkan kening. "Jadi kau akan membiarkan dia menyentuhmu hanya karena dia mabuk? Jika aku atau orang lain yang mabuk, apa itu berarti kami juga boleh menyentuhmu?"


Keadaan yang semula tegang, semakin tegang.


Kulit wajah Catalina perlahan mengeras saat ia mendengarkan perkataan Sehan. "Apa maksudmu?" Perkataannya sopan, tapi kemarahan di dalamnya luar biasa. Tangannya yang gemetar seperti pohon aspen, membuatnya mudah ditebak seberapa besar ia menahan emosinya.


Ia geram dan tangannya gatal ingin memukul wajah sombong itu. Jika ia memukulnya sekarang, ia tidak akan masuk penjara, kan? Ya, tentu saja tidak. Pukulan adalah hukuman yang pantas untuk mulut yang hanya tahu cara menghina.


Melihat bagaimana keadaan mulai memanas, Daniel menyentuh bahu Sehan. "Sehan, cukup! Kau menakutinya." Daniel yang sedari tadi hanya memperhatikan dan menyimak, tidak tahan lagi. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Sehan hari ini. Namun baginya, itu sangat keterlaluan. Dan ia tidak ingin keadaan yang buruk ini terus berlanjut.

__ADS_1


__ADS_2