Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 27 • RGSA - Gagal Memukul dan Jatuh ke Pelukannya ^^


__ADS_3

Melihat kekesalan Catalina, Sehan tersenyum samar.


Sehan ingin tahu apa yang akan Catalina lakukan mengingat dia bukan Tatiana yang asli. Mungkinkah dia akan menamparnya? Atau mungkin memukulnya? Itu bukan tidak mungkin. Jadi ia siap untuk kemungkinan itu.


Benar saja, sedetik kemudian, kepalan tangan Catalina benar-benar terbang ke arahnya. Jika bukan karena refleks cepatnya, ia pasti sudah berdarah dan hidungnya pecah.


Tangannya bereaksi sebelum berpikir dan menangkap tinjunya. Meski tahu gadis ini cukup kuat, namun ia masih saja terkejut dan diam-diam terkesan pada kekuatan yang dikemas di balik tangan mungil itu.


Catalina menarik tangannya, namun Sehan memegangnya erat.


Catalina memukul dengan tangan yang lain, namun lagi-lagi Sehan dapat menangkapnya dengan sempurna. Kedua tangannya di tahan oleh pria itu dan detik berikutnya Sehan melepaskan satu tangannya dan menarik tangan yang lain hingga Catalina tertarik dan jatuh ke dalam pelukannya dengan sangat intim.


Sehan menyeringai, tampak puas. "Kau ingin melawanku? Kau yakin bisa melakukannya? Jika tidak berhasil, ini lah resikonya." Jatuh ke pelukanku, lanjutnya di dalam hati. Ia memperhatikan wajah cantik gadis itu, dan kepalanya menunduk tanpa sadar lalu mencium sekilas bibirnya. Kemudian ia melepaskan bibirnya dan memandangnya dengan puas.


Catalina menggertakan gigi. "Bajingan!" Ia meronta. Sehan berada di depannya, mengikat tangannya di belakangnya dengan satu tangan, dan tangan yang lain memeluk pinggangnya.


Meski memakai sepatu bertumit tinggi, tingginya tetap tidak bisa mensejajari tinggi pria itu. Dan dengan jarak yang hanya beberapa inci, ia dapat mencium aroma pria itu dengan jelas.


Mengabaikan makian Catalina, Sehan menjatuhkan pantatnya di sofa dan Catalina secara otomatis duduk di pangkuannya.


Sehan meletakan dagunya di bahu Catalina, lalu berbisik, "Aku hanya menghindar. Aku tidak melakukan perlawanannya." Satu yang pasti, Sehan tidak memukul perempuan. Ia hanya akan meminta orang lain untuk memukulnya jika diperlukan.


Catalina menggigit bibirnya. Ia sudah menduga akan kalah melawan pria ini. Namun ia tidak tahu akibat dari kekalahannya akan jatuh ke dalam pangkuannya dan dipeluk sedemikian mesra. Jika tahu akhirnya seperti ini, ia tidak akan menyerangnya dan membuatnya marah.


Namun sudah terlambat untuk menyesal.


Nasi yang sudah menjadi bubur tidak mungkin bisa kembali menjadi beras.


Di belakangnya, Sehan dapat mencium aroma samar sampo yang Catalina pakai. Ia sedikit mengernyit ketika rambut panjangnya jatuh di lengannya. Ia menelan ludah dan suaranya terdengar sangat serak. "Kau tidak berbicara? Apa menyenangkan duduk di pangkuanku?"


Catalina menghela nafas gusar. Apa ia terlihat senang duduk di pangkuannya? Sehan mengikat tangannya dan memeluknya erat, bergerak saja sulit, bagaimana mungkin ia melepaskan diri? Pria itu pasti sangat narsis sampai berpikir ia menyukainya, padahal jelas-jelas ia tidak ingin terjebak di posisi ini.


Meski Catalina tidak melakukan apapun, Sehan merasa seperti tubuhnya terbakar. Ia bisa merasakan api di perutnya dan merasa haus yang tak bisa dijelaskan. Vena mulai berdenyut di dahinya. Ia menelan ludah.


Dulu ia tidak punya keinginan. Apa yang terjadi padanya hari ini?


Untuk mencegah sesuatu yang buruk terjadi, ia bahkan menggunakan semua tekad yang ia miliki untuk tidak membawanya ke kamar tidur lalu membaringkannya di ranjang dan kemudian..


Sial.


Ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba merasa sangat posesif terhadapnya. Gadis itu membuatnya gila!

__ADS_1


"Sekarang beri tahu aku, kenapa kau datang ke sini hari ini?" tanya Catalina setelah cukup lama hening. Ia tidak tahu sampai kapan akan berada di posisi ini. Dan ia sudah tidak tahan lagi. Namun ia tidak tahu bagaimana cara mengusirnya. Ponsel masih di meja, tapi ia tahu Sehan tidak akan membiarkannya menghubungi siapapun. "Jika tidak ada urusan, silakan pergi. Aku sedang sibuk," imbuhnya.


"Ya, benar. Kau sibuk menggoda banyak pria."


Catalina melotot. Menggoda banyak pria? Apa pria itu gila? Ia tidak menggoda siapapun, oke?


Sehan harus mengambil beberapa saat untuk menenangkan diri dan mengingat mengapa ia datang ke sini hari ini. Awalnya hanya karena ingin menagih kompensasi yang belum di bayar lunas oleh gadis itu. Laporannya yang terperinci dan komprehensif yang dia berikan cukup berharga.


Untuk kepala perusahaan besar seperti ia, Catalina adalah sumber daya yang belum dimanfaatkan yang menunggu untuk dieksploitasi. Sehan merasa seperti seorang penjelajah yang menemukan tambang emas yang berharga. Naluri pertamanya adalah menandai wilayahnya, mengklaim kepemilikan, dan mencegah pesaing mengambil bagian.


Semuanya adalah miliknya! Dan Catalina adalah miliknya!


Tetapi ketika Catalina berani dan terang-terangan mengabaikannya, ia semakin frustrasi sampai-sampai gadis itu ada di pikirannya setiap hari. Ia ingin bertemu dengannya, berbicara dengannya, mengenalnya.


Ia sama sekali tidak peduli padanya sebelumnya, namun ia tahu gadis itu bukan Tatiana. Dan ia tidak bisa memperlakukannya hanya sebagai salah satu dari banyak gadis yang mencoba menangkap adiknya. Dan yang terpenting, Catalina tidak tahu apapun. Dia bahkan tidak mengenalnya, apalagi Lexus.


Tetapi ketika ia bertemu dengannya secara langsung untuk pertama kalinya di lobi hotel, ia menemukan bahwa gadis itu memiliki lebih banyak hal. Jauh lebih banyak. Ia memiliki keinginan untuk menyimpannya untuk dirinya sendiri, tidak membiarkan orang lain menemukan sisi dirinya yang tidak diketahui dan menarik ini.


Dan sekarang, saat melihatnya setelah sekian lama, ia ingin memilikinya, untuk dirinya sendiri.


Sehan menghela nafas sebelum menjawabnya. "Aku ingin kau melakukan beberapa pekerjaan untukku."


"Aku tahu. Kau bisa melakukannya ketika kau punya waktu luang. Seperti yang aku katakan, harga tidak menjadi masalah."


Catalina tidak menjawab. Sejujurnya, ia tidak keberatan menerima pekerjaan semacam ini. Hanya saja, ia merasa tidak nyaman setiap kali berurusan dengan pria itu. Itulah mengapa ia lebih suka tidak menerima tawarannya. Namun bagaimana caranya mengatakannya?


Sehan mengangkat sedikit tubuh Catalina lalu menempatkan di sampingnya. Sebelum Catalina bisa kabur, Sehan menggenggam pergelangan tangannya. "Jadilah baik," ucapnya.


Catalina cemberut. Ia kesal karena tidak bisa melakukan apapun kepada pria sial ini. Ia kesal karena tidak punya kekuatan dan kekuasaan untuk melakukannya. Namun pada titik ini ia berpikir, apa mungkin ia sudah salah memahami sesuatu? Mungkinkah Nick menyimpulkan kesimpulan yang salah? Mungkinkah Sehan tidak ada hubungannya dengan kecelakaan Tatiana?


Ia berpikir keras untuk menemukan jawaban. Namun percuma, ia tidak menemukan jawaban apapun.


Ia hanya merasa kesimpulan yang terburu-buru di simpulkan olehnya dan Nick, kurang meyakinkan. Jika Sehan adalah orang di balik kecelakaan Tatiana, pria itu tidak mungkin mendekatinya sekarang. Masalahnya, saat ini ia adalah Tatiana. Setidaknya, pria itu tidak tahu ia Catalina.


Kenapa hubungan mereka tidak baik di masa lalu, bisa saja karena kesalahpahaman. Buktinya, sekarang Sehan tidak mengejarnya untuk menusuknya, tetapi datang untuk menggodanya.


Sampai di sini, ia semakin ragu.


Ia takut menyimpulkan hal yang salah. Ia takut mencurigai orang yang tidak seharusnya. Dan ia takut hasil seperti ini, bukan sesuatu yang Tatiana inginkan.


Sementara Catalina sibuk berkutat dengan pemikirannya, Sehan mengambil ponselnya di saku celananya, mengetik sesuatu, lalu ponsel di meja bergetar.

__ADS_1


Sehan menoleh ke samping, melihat Catalina tampak frustasi, ia berkata, "Buka ponselmu!"


Catalina terkejut. Lamunannya buyar. Ia mengambil ponselnya dengan patuh dan membukanya. Melihat sejumlah uang masuk ke akun banknya, matanya menyipit.


Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, ia mendekatkan lagi ponselnya. Namun apa yang tertulis masih sama.


Melihat lima puluh ribu dolar tertera di sana, itu adalah jumlah yang sangat besar. Ia bisa membeli rumah sederhana yang cukup bagus di Valdes dan membuka toko kecil. Lalu ia bisa menggunakan sisa uang Tatiana untuk membawa gadis itu pulang bersamanya ke Alaska.


Rencana yang sempurna.


Ia bisa mewujudkan impian sederhana itu jika Tatiana bangun. Tetapi, idiot mana yang bersedia memberikan uang sebanyak ini secara cuma-cuma?


Catalina menoleh secara alami ke samping dan melihat Sehan sedang menyimpan ponselnya.


"Apa itu cukup?" tanya Sehan. Ia menatap gadis yang kebingungan di sampingnya sebelum pandangannya berpencar mengawasi sekeliling, mencari dimana letak dapur.


"Kenapa?" tanyanya dengan suara rendah. Pelakunya memang Sehan, si idiot itu. Tapi, kenapa? Bukankah ia bekerja untuknya sebagai kompensasi? Pun hanya membahas dua perusahaan. Mungkin itu tidak banyak membantu mengingat berapa banyak jumlah pegawai profesional yang Sehan pekerjakan. Dan kalaupun membayar, mungkin juga tidak sebanyak itu. Jadi motivasi apa yang Sehan miliki sampai memberikan uang sebanyak ini kepadanya?


"Tidak ada alasan," jawab Sehan.


Catalina terpaku. Tidak ada alasan? "Tapi aku perlu alasan."


"Jika bersikeras, kau bisa menganggapnya sebagai pembayaran." Untuk ciumannya. Untuk kalimat ini, Sehan menyimpannya di dalam hati.


Catalina sedang mengendur sekarang, jika ia mengatakan kalimat lain yang tidak sesuai, mungkin Catalina akan melempar ponselnya ke wajahnya. Hubungan yang sudah lebih baik, ia tidak akan mengacaukannya. Juga, bibirnya cukup enak.


"Kita hanya membahas dua perusahaan. Juga, itu adalah kompensasi dariku karena sudah menggagalkan rencanamu. Kau bisa mengambil uang ini kembali." Meski Catalina membutuhkan uang itu, namun ia tidak sebodoh itu untuk menerima pemberian orang lain. Memberikan uang sebanyak itu tanpa ia harus bekerja, baginya terlalu berlebihan dan ya, ia tidak bisa menerimanya.


Sebelum Catalina menekan layar ponselnya untuk melakukan pengembalian dana, Sehan lebih dulu merebut benda pipih itu dari tangannya. "Aku tidak suka mengambil kembali apa yang sudah aku berikan," ucapnya.


"Tidak." Catalina menggelengkan kepala. "Aku tidak bisa."


"Jangan keras kepala. Itu untukmu dan kau bisa menggunakannya." Selesai berkata, Sehan bangkit dari duduknya. Ia meletakan ponselnya jauh dari Catalina sebelum melepas jasnya dan melipat lengan kemejanya. Kemudian ia pergi menuju dapur.



Catalina menatap punggung Sehan yang perlahan menjauh tanpa bisa mengatakan apapun. Ekspresinya menjadi rumit. Ia mengambil napas dalam-dalam beberapa kali sebelum bisa mengendalikan emosi di hatinya.


Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Namun ia merasa kebenciannya kepada Sehan bukan sesuatu yang benar. Pria itu, terlepas dari seberapa mesumnya dia, dia cukup baik dan, entahlah, kepalanya pusing.

__ADS_1


__ADS_2