
Tangis Catalina pecah.
Bukan tangis karena Nick mencengkeram rahangnya, bukan tangis karena cengkeraman itu sangat kuat, bukan tangis karena cengkeraman itu sangat menyakitkan. Bukan Nick penyebab tangisannya. Namun tangis itu terjadi karena rasa sakit yang datang dari hatinya benar-benar nyata.
Semuanya, penolakan, sanggahan, elakan serta tepisan yang ia lakukan hanyalah bagian dari ketidakpercayaannya pada kenyataan yang sudah ada di depan mata. Hanya karena belum terpampang di depannya, ia pikir 'menolak untuk percaya' adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan.
Namun ternyata ia keliru.
Kenyataan bahwa ia mencintai Sehan adalah benalu. Cinta membuatnya memikirkan banyak alasan. Alasan untuk menolak semua kenyataan itu.
Ia benci di khianati oleh orang yang ia percaya, ia benci di bohongi oleh orang yang ia cintai. Itulah alasan kenapa ia masih menolak dan enggan mengakuinya. Namun setelah benar-benar ditampar oleh keadaan, sekarang ia mengerti.
Benar, ia tidak boleh egois.
Sesakit apapun itu, ia tidak boleh hanya terpaku pada lukanya sendiri. Bukan hanya ia yang terluka, bukan hanya ia yang tersakiti. Selain dirinya yang terluka karena keserakahannya sendiri, Tatiana hampir mati karena ulah seseorang.
Dan benar, ia ingin tahu semua alasannya. Ia ingin tahu alasan mengapa Sehan mengirim orang secara berkala untuk melihat kondisi Tatiana. Ia ingin tahu mengapa Sehan yang sudah mengetahui identitasnya memilih untuk tetap membohonginya. Ia ingin tahu kenapa wanita itu ingin membunuh Tatiana. Ia ingin tahu semua jawabannya.
Tatiana yang mendengar percakapan ini, juga menjatuhkan air matanya.
Tatiana tahu sehancur apa Catalina saat ini.
Jika ia bisa bergerak, jika ia bisa bicara, ia akan memeluk Catalina dan menenangkannya. Namun ia sangat tidak berguna. Tidak hanya tidak bisa berjalan, ia juga tidak bisa mengatakan apapun walau hanya satu kata. Ia tidak bisa melakukan apapun saat Catalina membutuhkannya.
Nick melonggarkan cengkeramannya lalu membantunya mengusap air matanya. "Catalina, aku membiarkanmu menikmati hari-harimu yang indah namun kau semakin tenggelam di dalamnya. Aku senang melihatmu bahagia, namun kebahagiaan itu benar-benar membutakan mu. Kau lupa siapa yang harus diburu. Kau lupa apa yang harus dikejar. Dan sekarang aku sedang mengingatkanmu. Agar kau kembali ke jalan yang semula. Sekarang Tatiana sudah sadar, kau harus ingat untuk tidak membuat kesalahan. Musuh tetaplah musuh. Apapun alasannya, mereka tetap musuh. Kau tidak boleh melupakan itu." Nick tidak keberatan untuk mengingatkan Catalina tentang hal-hal yang gadis itu lupakan. Sebanyak apapun, ia bersedia untuk melakukannya.
Catalina menatap Nick setelah berhasil menata pikirannya. "Kau benar, Nick. Aku salah." Catalina menampik tangan Nick lalu bangkit dan berjalan menuju jendela. Ia melipat tangannya di dada dan melihat ke luar jendela dengan tatapan tajam.
Catalina menjadi kuat dalam sekejap seolah yang tadi menangis dan hancur bukan dirinya. Ia berhasil melupakan semua rasa sakit itu setelah menghapus segala ketidakberdayaan dalam dirinya.
Menjadi lemah adalah tragedi.
Dan ia tidak boleh menjadi lemah. Benar-benar tidak boleh.
Nick menatap tangannya yang basah karena air mata milik Catalina sebelum bangkit dan berjalan menuju sofa. Ia mendudukkan dirinya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. "Bagus kau menyadarinya," timpalnya.
"Namun kau tahu, rasa sakit ini benar-benar menyadarkan ku. Sekarang aku tidak akan pernah ragu, sekarang aku tidak akan pernah goyah." Catalina tertawa. "Sungguh bodoh. Aku benar-benar bodoh, bukan? Aku menangisi seorang pria yang kemungkinan besar terlibat dalam kecelakaan Tatiana. Pantas saja kau marah. Menghadapi orang bodoh, memang harus menamparnya sedikit." Catalina tidak pernah menyalahkan Nick. Tidak pernah sekalipun.
__ADS_1
Pria itu terlalu benar.
Pria itu sangat benar.
Kebodohannya karena tenggelam dalam perasaan yang ia percaya adalah benar. Ketololannya karena berpikir Sehan tulus mencintainya. Keegoisannya karena merasa sudah mendapatkan dunia di tangannya. Sekarang ia menyadari bahwa semua itu hanya ilusi.
Kebahagiaan, cinta, kasih sayang, semua itu hanya omong kosong.
Sekarang saatnya bangun dari mimpi.
Sekarang saatnya melupakan mimpi menjijikkan itu.
Nick diam, tidak menanggapi. Ia tidak tahu cara menghibur. Ia hanya tahu cara menyadarkan. Ia hanya tahu cara membangunkan seseorang dari mimpi indah yang menipu.
Catalina menghela nafas panjang. Ia tahu cepat atau lambat hubungannya dengan Sehan akan berakhir. Namun ia tidak menduga hubungan mereka akan berakhir secepat ini. Maksudnya, perpisahan itu, seharusnya tidak seburuk ini.
Ia berpikir, mereka masih bisa bertukar kabar dan Sehan bisa mengundangnya jika suatu hari pria itu menemukan gadis yang cocok untuk dinikahi. Ia pikir, mereka masih bisa berteman dan saling mengunjungi. Namun ternyata harapan hanya tinggal harapan.
Pria itu adalah pria terburuk yang pernah ia kenal.
Keadaan menjadi hening untuk sementara waktu sampai suara serak Nick memecah kesunyian. "Kau tahu siapa yang mencoba membunuh Tatiana?"
"Ya, kau benar. Pamela adalah penyebab kecelakaan itu," sahut Nick. "Dan kau bertanya padaku, darimana kebencian Pamela muncul." -bab 92-
"Uh huh. Namun kau tidak menjawabnya." Catalina selalu bertanya-tanya tentang alasan kebencian Pamela kepada Tatiana. Namun sebanyak apapun ia mencari, ia tetap tidak menemukan alasan. Bahkan sampai detik ini, ia masih penasaran, bagian mana dari diri Tatiana yang membuatnya iri.
"Apa sekarang kau masih penasaran?" tanya Nick.
Catalina mengangguk. "Aku selalu penasaran."
"Haruskah aku memberitahumu?"
Catalina menoleh, menatap Nick dengan sedikit senyum di bibirnya. "Sudah kuduga kau mengetahuinya." Namun tentu saja pria itu tidak akan mengatakannya sebelum ia mendapatkan karma atas semua perbuatan buruknya. Mencintai tunangan adiknya, mungkin ini adalah harga yang harus ia bayar.
"Aku punya alasan kenapa tidak mengatakannya."
"Kau ingin menunggu sampai aku sadar?" tebak Catalina.
__ADS_1
"Mm."
"Aku selalu sadar, Nick. Aku tidak mabuk."
"Kau mabuk cinta."
Catalina terkekeh. "Iya, kau benar. Aku mabuk cinta. Sangat mabuk sampai menjadi bodoh." Namun itu wajar, karena selain membuat bahagia, jatuh cinta bisa membuat seseorang menjadi bodoh.
Menurut Prof. Robin Dunbar, seorang evolutionary psychologist dari University of Oxford berpendapat bahwa bagian-bagian rasional dari otak manusia tertutup saat seseorang sedang jatuh cinta. Dan itu sudah dibuktikan melalui serangkaian penelitian.
Jadi jika ia menjadi bodoh karena mencintai Sehan, ia tidak akan terlalu menyalahkan dirinya sendiri. Salahkan pria itu karena terlalu menggoda.
"Setidaknya kau bisa belajar banyak hal dari kebodohan itu," Nick mencibir. Namun itu juga merupakan sebuah masukan. Intinya, jangan mengulangi kebodohan yang sama.
"Meski sedikit memalukan, aku mengakuinya." Catalina berjalan menuju sofa, lalu membaringkan tubuhnya di sana. Ia menutup matanya dan menggunakan lengannya untuk menutupi matanya. "Sekarang katakan, kenapa Pamela sangat membenci Tatiana? Tatiana-ku yang imut dan menggemaskan tidak memiliki kehidupan yang menyenangkan, tetapi kenapa dia begitu iri?" Catalina membalikkan pembahasan ke topik semula. Ia tidak akan membiarkan dirinya menjadi objek pembahasan lagi. Apalagi judul taglinenya adalah 'kebodohan karena cinta'. Haish, itu sangat memalukan. Benar-benar memalukan.
Teringat sesuatu, Catalina membuka matanya. "Katakan satu alasan yang paling masuk akal, Nick. Hanya itu yang aku butuhkan. Karena setelahnya aku bisa menyimpulkannya sendiri," tambahnya.
"Iya, iya, aku tahu," sahut Nick.
"Jadi?" Catalina bertanya dengan santai.
"Pamela adalah tunangan Lexus."
Catalina terkejut. "Apa? Kau bilang apa?" Ia memaksa tubuhnya untuk duduk lalu menatap Nick dengan tidak percaya. Ia merasa telinganya sedikit bermasalah. Ia mendengar Nick berkata Pamela adalah tunangan Lexus. Sesuatu yang jelas tidak mungkin.
Lexus adalah adik Sehan. Jadi..
Tunggu!
Catalina tercengang.
Masuk akal.
Sebenarnya semua itu sangat masuk akal.
Lexus adalah adik Sehan. Tidak hanya itu, dia juga tunangan Pamela. Jika itu benar, tidak heran Nick berkata kecelakaan yang menimpanya dan menimpa Tatiana dilakukan oleh orang yang sama namun di tutupi oleh orang yang berbeda, jadi.. ini? -bab 89-
__ADS_1
Pamela ada penyebab kecelakaan dan Sehan membantu Pamela menutupi kasus itu?