
Selesai memesan taksi, Catalina segera bangun dari ranjang lalu mengganti pakaian tidurnya dengan pakaian yang lebih pantas dikenakan ketika keluar rumah.
Meski gelisah, ia menekan kegelisahannya dan mencoba untuk mengalihkan perhatiannya dengan hal lain. Dan ia bergegas pergi begitu taksi sampai di depan gedung kondominium.
Tidak lupa ia memakai masker, kacamata hitam dan juga topi sebelum masuk ke dalam mobil.
Meski sudah jam dua lebih, namun ia tidak mau selalu bergantung pada keberuntungan. Hari sial tidak ada di kalender. Dan ia tipe orang yang lebih suka mencegah daripada memperbaiki.
Catalina duduk dengan tenang di kursinya dan pandangannya tidak beralih dari luar jendela. Pemandangan malam tanpa bintang selalu menjadi sesuatu yang menarik dan ia tidak pernah bosan sebanyak apapun melihatnya.
Ketika tinggal di Valdes, ia selalu di temani langit tanpa bintang ketika pulang dari kerja paruh waktunya. Selain menenangkan, kegelapan juga membuat panca inderanya terasah dengan sempurna. Dan berkat itu, ia memiliki banyak kemampuan. Salah satunya adalah menggigit anjing yang menggonggong padanya.
Sekarang ia tidak mengerti.
Terkadang, ia memimpikan tempat sialan itu.
Dan diam-diam ia ingin kembali ke sana. Bukan dengan identitas yang berbeda. Tetapi dengan situasi dan kondisi yang berbeda. Ia ingin memulai kehidupan barunya di sana sebagai orang yang sama. Sebagai Catalina. Namun dengan perekonomian yang lebih baik.
Ia ingin membeli rumah sederhana di daerah sepi. Lalu membeli toko dan memulai bisnisnya sendiri. Sementara Tatiana menjaga toko, ia akan mencari pekerjaan di perusahaan dan menghabiskan harinya dengan bekerja sebagai pegawai.
Itu adalah mimpi yang sangat sederhana.
Sangat-sangat sederhana.
Namun ia tidak yakin apakah bisa mewujudkan mimpi itu atau tidak. Kenyataannya mimpi sederhana itu tidak sesederhana dalam bayangannya. Atau bahkan bisa dikatakan jauh lebih rumit dari kerumitan yang biasa di definisikan oleh orang-orang.
Rasa takut juga selalu mendominasi tiap kali ia menerima telepon menyebalkan di malam hari. Membawa kabar yang tak di sangka-sangka. Membuat rasa khawatir, cemas, resah, risau, berkumpul menjadi satu dan menghantuinya tanpa henti di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.
Satu yang ia syukuri, Sehan sudah pergi. Jika tidak, pria itu mungkin akan mengetahui semua kebohongannya dan bersiap untuk pergi meninggalkannya. Jika itu sampai terjadi, ia tidak tahu lagi bagaimana harus menjalani hidup ke depannya.
Catalina bergegas turun dari mobil ketika mobil berhenti di depan rumah sakit. Tidak ingin membuang satu detik waktunya, ia berlari menuju ruang tempat Tatiana di rawat. Tidak peduli dengan rasa sakit di kaki dan di tubuhnya, ia terus berlari sekuat yang ia bisa.
__ADS_1
Jam setengah tiga pagi, keadaan rumah sakit sangat sepi. Selain sepi, juga sedikit mencekam dan itu cukup menyeramkan.
Namun Catalina sedang tidak ingin memikirkan hantu yang mungkin bergentayangan di sini. Ketakutan kehilangan Tatiana, jauh lebih besar daripada rasa takut karena apapun.
Setelah mencapai pintu ruang perawatan, Catalina segera menempelkan kartu akses dan pintu segera terbuka. Sejak hari ia pergi syuting ke Newcastle upon Tyne, ini adalah pertama kalinya ia datang mengunjungi Tatiana.
Ia sangat gugup. Gugup bercampur takut.
Setitik bening tiba-tiba jatuh di pipinya.
Ia tidak tahu kenapa ia menangis. Namun jika apa yang Nick katakan adalah benar, seharusnya gadis itu..
"Nick," panggil Catalina ketika melihat pria itu duduk di sofa dengan setumpuk dokumen di hadapannya. Dari gelagat yang pria itu tunjukkan, juga senyum kecil yang tersungging dari bibirnya, apa yang ia pikirkan tidak salah lagi.
Benar.
Tatiana.. sudah sadar.
Catalina berjalan perlahan menuju Nick namun pandangannya tidak berpindah dari Tatiana. Ada dua dokter dan dua perawat yang tampak sibuk memeriksa Tatiana. Sementara gadis itu tampak diam dan tidak bergerak dan itu tidak seperti yang ada dalam benaknya.
Ia pikir, ia akan melihat gadis itu bangun dan memanggilnya. Namun tampaknya semua tidak sesederhana itu. Ini sudah sangat lama sejak Tatiana koma. Dan meskipun gadis itu sudah membuka mata seperti yang Nick katakan, ia tahu membutuhkan waktu lama agar gadis itu pulih. Juga, ini masih belum pasti apakah gadis itu benar-benar sadar atau hanya sekedar gerakan refleks seperti jari yang tiba-tiba bergerak.
Seharusnya ia tidak terlalu banyak berharap.
Ya, seharusnya begitu.
Namun entah kenapa ia tidak bisa melakukannya.
Ia sangat berharap. Bahkan jauh di dalam lubuk hatinya, ia ingin Tatiana tidak hanya sekedar membuka mata, tetapi juga bangun dan berbicara seperti sebelumnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Catalina begitu mencapai Nick. Ia mendudukkan diri di samping pria itu dan menatap wajahnya lekat, menanti jawaban.
__ADS_1
"Kenapa kau menangis?" Melihat Catalina berlinang air mata, tangan Nick bergerak dan membantu Catalina mengusap air matanya.
"Aku hanya.." Catalina menjeda kalimatnya. "Sangat senang."
Nick terkekeh. "Bukan kah kau berlebihan?"
Mengabaikan perkataan Nick, Catalina menghela nafas panjang. "Apakah dia akan bangun?" Meski hanya membuka mata, namun ia tahu ada nol koma satu persen harapan. Harapan untuk Tatiana bangun. Ia mengalihkan pandangan, menatap dokter yang sedang memeriksa Tatiana.
Nick mengangkat bahu. "Entahlah. Dokter sedang memeriksanya. Mudah-mudahan dia bangun. Namun ku sarankan, jangan berharap terlalu banyak." Tidak ada yang bisa memprediksi apapun. Tentang kehidupan dan kematian. Manusia hanya bisa mengupayakan semampunya, selebihnya takdir yang akan memutuskan akan seperti apa akhirnya.
"Aku tahu," sahut Catalina. Ia juga tidak berani berharap meski sangat berharap. Ia takut keinginannya terlalu tidak masuk akal untuk Dia kabulkan.
Ia pergi ke tempat ibadah, ia juga memberikan seperpuluh dari penghasilannya untuk panti asuhan yang terkadang ia kunjungi. Ia pernah mengatakan itu ketika selamat dari kematian. Dan ia benar-benar melakukannya. Tidak hanya itu, ia bahkan melakukannya sampai sekarang.
Kebetulan hal seperti itu adalah yang ia sukai.
Bertemu dengan anak-anak, memberikan sedikit uang untuk mereka, berbagi kebahagiaan, ia merasa lega bisa melakukan itu. Dan anehnya, ia tidak merasa miskin. Uang di akunnya cukup banyak. Entah itu dalam pecahan dolar atau poundsterling.
Dan tidak tahu kenapa, belakangan ini Sehan juga selalu memberinya uang. Uang yang sangat banyak. Seolah pria itu memiliki hutang padanya. Namun ya, hutang apa yang Sehan miliki padanya? Haish.. ia sungguh tidak mengerti jalan pikiran pria itu.
Namun tentu saja ia tidak akan menolak uang-uang itu.
Tidak mudah mencari uang.
Bisa mendapatkannya dengan mudah, itu adalah anugerah.
Ia juga bukan orang yang tidak masuk akal. Semakin banyak uang yang Sehan berikan, ia tidak akan marah, ia justru semakin senang.
Nick dan Catalina mengaitkan tangan dan saling menggenggam tangan satu sama lain ketika kegelisahan perlahan datang menghantui. Tidak hanya Catalina, Nick juga sangat gugup. Mereka tidak tahu hasil apa yang dokter dapatkan. Namun mereka akan menerima apapun hasilnya.
Beberapa saat kemudian, ketika dokter selesai memeriksa, Catalina dan Nick bangun dari duduknya secara serempak dan berjalan menuju dokter. "Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Catalina. Ia hanya melihat Tatiana dari jarak yang cukup jauh. Sebelum dokter mengizinkannya, ia tidak berani mendekatinya meski sejujurnya ia sangat ingin melihatnya dari dekat. Apalagi masih ada perawat di sekitarnya. Ia semakin tidak berani mendekat.
__ADS_1
"Selamat." Dokter mengulurkan tangannya kepada Catalina. "Nona Tatiana sudah sadar."