Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 35 • RGSA - Bisakah Ia Memanjatnya?


__ADS_3

Catalina bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Tangannya meraih kenop pintu dan memutarnya. Namun sekuat apapun ia memutarnya, pintu tidak dapat dibuka. Sepertinya di kunci dari luar. Tidak. Itu sudah pasti di kunci. Dan mungkin seperti inilah Yoana memaksa Tatiana untuk melayani klien. Mengurung dan tidak membiarkannya pergi.


"Dasar binatang." Ia mengumpat.


Ia tahu di luar sana penuh dengan orang-orang Yoana. Dan keadaan di luar juga tidak bagus. Ada beberapa pria tua dan gadis muda yang tampak sedang berpesta. Kalaupun keluar, belum tentu ia bisa mencapai pintu keluar. Ia pasti akan ditangkap dan ditahan oleh mereka.


Lalu bagaimana ini?


Ia pergi memeriksa sekeliling. Tidak ada jendela di sini. Hanya ada ventilasi udara yang letaknya cukup tinggi. Dan itu juga tidak terlalu besar. Tetapi cukup untuk dirinya keluar jika ia mau. Dan tentu saja ia mau. Namun pertama-tama ia harus menyingkirkan pria hidung belang di kamar mandi.


Bagaimana cara menyingkirkannya, ia harus membuatnya pingsan terlebih dahulu. Baru setelah itu ia bisa keluar dari sini dengan tenang tanpa membuat orang lain curiga.


Pertama-tama, Catalina mengambil botol whisky di atas meja. Ia memilih yang ukurannya paling besar dan berat. Kemudian ia berjalan menuju pintu kamar mandi dan menunggu di depan pintu dengan sabar.


Ia siap menggunakan semua kekuatannya untuk memecahkan botol ini di kepala pria mesum itu jika dia keluar dari kamar mandi.


Sudah lebih dari tiga menit dan ia masih menunggu dengan tenang. Meski lelah lantaran botol whisky di tangannya cukup berat, namun ia tidak boleh lengah. Orang yang datang ke sini, jelas bukan orang sembarangan. Jika ia gagal membuatnya pingsan dalam sekali pukul, takutnya orang itu akan membuat keributan dan menggagalkan rencananya.


Ia juga berpikir pria itu mungkin seperti yang sering digambarkan dalam novel-novel yang biasa ia baca. Selain tua, pria itu pasti memiliki perut buncit, botak di kepalanya, tambun, dan sangat mesum. Pria seperti itu biasanya lemah dan tidak berguna namun berkuasa. Hanya dengan satu kali pukul, ia yakin mampu membereskannya.


Namun ia masih tidak bisa membayangkan gadis semanis Tatiana tidur dengan orang yang lebih pantas menjadi kakeknya. Mereka benar-benar tua dan lebih pantas menjadi sesepuhnya, bukan menjadi pasangan seksnya.


Kehidupan ini benar-benar kejam dan sangat menyeramkan.


Ketika pintu di buka dari dalam, Catalina menarik bibirnya membentuk sebuah senyum. "Halo," ucapnya sebelum mengayunkan botolnya ke kepala pria itu. Ia benar-benar menggunakan seluruh kekuatannya dan.. botol pecah di kepalanya. Meninggalkan bunyi yang cukup keras. Namun ia yakin tempat seperti ini pasti memiliki peredam suara yang bagus. Jadi ia sama sekali tidak khawatir seseorang akan datang, karena itu tidak mungkin.


Belum sempat memikirkan apa yang terjadi, tubuh pria itu terhuyung dan ambruk di lantai. Darah keluar dari kepalanya namun bau anyirnya tertutup dengan aroma whisky yang kuat. Dia hanya melihat sesosok gadis cantik sebelum kesadarannya perlahan hilang.


Catalina mendekati pria itu dan melambaikan tangan di depan matanya untuk mencari tahu apakah dia pingsan atau pura-pura pingsan. Namun sepertinya dia memang pingsan.

__ADS_1


Catalina menghela nafas panjang. Tangannya sedikit bergetar namun ia berusaha menghentikannya. "Bagus, kau berhasil melakukannya dengan baik, Catalina," gumamnya, berusaha menghibur diri dari ketakutan. Ia hanya berharap semoga orang itu tidak mati. Atau kalau tidak, ia akan mendapat masalah besar.


Meski bukan pertama kali membuat orang pingsan, namun biasanya kasusnya tidak seperti ini. Mereka adalah penjahat jalanan yang berusaha merampok atau memperkosanya. Mereka orang-orang yang tidak memiliki kekuatan untuk membalas jika mereka terluka. Mereka orang-orang yang layak untuk di pukul dan tidak akan ada yang menghentikan jika ia melakukannya.


Namun sekarang berbeda, bajingan ini berbeda.


Dia orang kaya. Dia punya uang dan kekuasaan. Dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan. Apa jadinya jika bajingan itu kesal dan memburunya?


Catalina menghela nafas panjang sekali lagi dan mendudukkan dirinya di ranjang. Ia mencoba menenangkan diri dari kegelisahannya. Kekerasan memang bukan jalan satu-satunya untuk menyelesaikan masalah, namun berbicara dengan orang ini, ia cukup yakin permasalahan juga tidak akan terselesaikan.


Setelah merasa lebih baik, ia melepas sepatu hak tingginya, kemudian memperhatikan sosok pria yang terbaring di lantai.


Pria itu hanya mengenakan handuk mandi yang menutupi bagian bawah tubuhnya, memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang atletis dengan otot-ototnya. Dia masih muda dan wajahnya juga tampan. Namun pria yang datang ke tempat seperti ini, pasti bukan pria baik-baik. Jadi mau setampan apa wajahnya, dia tidak lebih buruk dari sampah.


Karena dompetnya tertinggal di ruang makan, Catalina mengawasi sekeliling sekali lagi untuk mencari sesuatu yang berharga. Lebih tepatnya.. uang. Ia butuh uang untuk melarikan diri dari sini. Jika mengambil dompetnya, ia harus keluar melalui pintu, dan ia yakin tidak akan selamat. Satu-satunya cara adalah melalui ventilasi udara dan meninggalkan dompetnya.


Itulah gunanya memiliki otak.


Biasanya ia tidak pernah memakai password, namun karena harus pergi ke sarang iblis, ia menerapkan password sebagai antisipasi. Siapa sangka itu benar-benar berguna?


Catalina bangkit dari duduknya dan pergi ke kamar mandi.


Datang ke sini, tidak mungkin pria itu tidak membawa dompet. Karena tidak ada di sini, ia menduga pria ini meninggalkannya di kamar mandi. Dan benar saja, ia melihat sebuah dompet di meja wastafel. Ia membukanya dan mengambil beberapa lembar sebelum mengembalikannya ke tempat semula. Tidak lupa ia menyelipkan uang itu di bra-nya.


Ia berjalan dengan hati-hati dan saat melewati pria itu, tangan pria itu tiba-tiba bergerak dan mencengkeram pergelangan kakinya. Terkejut, Catalina membungkuk dan memukul wajahnya. Dan genggamannya terlepas. Dia kembali pingsan.


Catalina mengusap tangannya dan mengumpat. "Sial. Kau mengagetkanku. Mengapa kau bangun? Membuatku takut saja." Ia mengabaikannya dan mendorong kursi untuk di gunakan sebagai pijakan. Kemudian ia membuka jendela ventilasi dan mengawasinya terlebih dahulu untuk memastikan aman atau tidaknya.


Ia tentu tidak gegabah. Hanya karena sudah tidak tahan dengan tempat ini, bukan berarti ia harus tergesa-gesa. Ia justru harus sangat berhati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan.

__ADS_1


Bagian belakang kamar tidur ini seperti lorong kecil yang jarang di lalui orang. Itu sangat berdebu dan banyak jaring laba-laba di sekitarnya. Jika begitu, baik-baik saja maka.


Catalina memanjat dengan hati-hati. Ingat ada sesuatu yang tertinggal, ia turun kembali. Setelah mengambil sepatunya, ia kembali naik ke kursi lalu melemparkan sepatunya ke luar sebelum memanjat dinding.


Perlu usaha keras dan untungnya ia berhasil.


Meski jatuh dengan cara yang buruk dan posisi yang tidak tepat, namun tidak masalah. Hanya sedikit sakit di tangannya karena kepalanya mendarat lebih dulu di lantai sementara tangannya menutupinya. Dan hasilnya ada beberapa lecet kecil di sana.


Catalina tidak lengah hanya karena tangannya memiliki beberapa lecet. Sebaliknya, ia mengambil sepatunya dan bergerak cepat mengikuti lorong sempit itu. Tidak ada apapun, tidak ada siapapun. Tempat ini gelap dan cukup aman untuknya melangkah dengan leluasa tanpa takut ketahuan.


Cukup lama berjalan, ia menemukan tangga dan naik tanpa ragu. Beberapa saat kemudian, halaman yang luas tertangkap penglihatannya. Jika dilihat, ini seperti halaman belakang. Lampu redup yang bersinar di sekitarnya tidak dapat menerangi setiap bagiannya namun ia tahu itu sangat luas. Di sekitarnya, ada dinding yang sangat tinggi.


Jika ingin pergi, sepertinya ia harus memanjat dinding.


Tapi itu benar-benar tinggi. Bahkan setelah dilihat dari dekat, ia takut tidak bisa memanjatnya.


Ia memutuskan untuk berkeliling dan mencari jalan keluar lain. Namun ia tidak menemukan apapun. Satu-satunya cara hanya dengan memanjatnya.


Kalau begitu, karena tidak punya banyak pilihan, kenapa tidak? Panjat, ya panjat. Memang ia anak manja yang tidak bisa memanjat? Namun saat melihat dinding itu sekali lagi, nyalinya ciut seketika.


Itu benar-benar sangat sulit.


Jika ia jatuh dari ketinggian itu, apa ia akan mati?


Ah sial.


Ia sangat ingin memukul kepalanya sendiri karena plin plan.


Sekarang ia sedikit pesimis, bisakah ia memanjatnya?

__ADS_1


__ADS_2