Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 64 • RGSA - Penurunan Harga Saham ^^


__ADS_3

Diwaktu yang sama ditempat yang berbeda.


Sehan sedang duduk di kursi kerjanya di perusahaan ketika bertukar pesan dengan Catalina. Ia tahu gadis itu sedang sibuk dan tidak bisa menerima telepon. Itu sebabnya ia memilih untuk mengirim pesan teks kepadanya.


Saat Kenny masuk dan melihat bosnya tampak jauh lebih baik daripada terakhir kali, ia segera meletakkan dokumen di atas meja kerjanya dan berkata, "Kami sudah berhasil menarik saham dari perusahaan Chatsfield." Meski sedikit sulit karena prosesnya cukup berbelit-belit namun pada akhirnya mereka bisa melakukannya.


Sehan mengangguk. "Kerja bagus." Meski sangat lamban dan sedikit terlambat, namun tidak apa-apa jika akhirnya ia mampu menarik beberapa persen sahamnya di perusahaan sampah itu. Ia lebih rela kehilangan uangnya daripada kehilangan harga dirinya sebagai pria.


"Dengan kami menarik saham, rumor akan menyebar dengan cepat. Mungkin perusahaannya akan mengalami penurunan harga saham untuk sementara waktu." Kenny menambahkan beberapa informasi penting lainnya.


"Mm. Aku tahu," jawab Sehan. Itu pula alasan kenapa ia menarik lima persen sahamnya dari perusahaan Chatsfield. Ia ingin membuat pemilik perusahaan itu sedikit sibuk sehingga dia tidak memiliki waktu untuk menggoda wanita orang lain.


Sementara Sehan sangat tenang, kesibukan terjadi di perusahaan Chatsfield. Di ruang kerjanya, Trent tampak sibuk menjawab telepon dari beberapa orang.



Penurunan harga saham yang terjadi kali ini cukup signifikan. Dan itu semua terjadi karena lima persen saham milik Sehan Geffrey di tarik dengan alasan yang tidak jelas.


Itu hanya lima persen. Benar. Itu jumlah yang tidak banyak dan seharusnya tidak mempengaruhi apapun.


Namun bukan jumlah sahamnya yang mempengaruhi penurunan harganya, tetapi pengaruh keluarga Geffrey. Pengaruh yang mereka miliki cukup untuk membuat beberapa pemegang saham meragukan kinerja perusahaannya.


Sangat merepotkan.


Meski bukan masalah besar, namun ia sedikit kesal.


"Bagaimana?" tanya Trent ketika melihat asistennya masuk dengan setumpuk dokumen.


"Staf PR sedang menanganinya. Semua kekacauan akan segera reda," ucap Matthew menjelaskan sambil meletakkan dokumennya di atas meja Trent. "Itu karena pengaruh keluarga Geffrey cukup kuat. Dan ketika Sehan menarik sahamnya, beberapa pemegang saham juga ingin menarik saham mereka. Berpikir perusahaan kita bangkrut."


"Benar-benar sekumpulan orang bodoh," ucap Trent. Perusahaannya bukan perusahaan kecil, juga bukan perusahaan yang sedang berkembang. Di antara banyak perusahaan besar di Britania, miliknya adalah salah satunya. Tetapi ia tidak tahu bagaimana menjelaskan hal semacam ini kepada orang-orang bodoh itu.


"Ya, Anda benar. Mereka hanya sekumpulan orang bodoh." Matthew menyetujui apa yang Trent katakan. "Sekarang, apa yang akan Anda lakukan?"


Trent mengusap dagu. "Jika mereka ingin menarik saham mereka, biarkan saja seperti itu. Perusahaan kita bukan perusahaan yang kekurangan uang. Dan yang terpenting, aku tidak ingin orang-orang bodoh seperti mereka menjadi bagian dari perusahaan kita."

__ADS_1


"Itu keputusan yang bijaksana," Matthew menimpali. "Kalau begitu, saya akan melakukan seperti yang Anda inginkan. Saya permisi." Ia membungkukkan sedikit badannya sebelum undur diri. Menyisakan Trent seorang diri yang masih terpaku menatap ke arah kepergian Matthew.


Ia tidak tahu alasan mengapa Sehan menarik sahamnya.


Mereka tidak pernah terlibat masalah. Hubungan mereka sejauh ini bahkan cukup baik. Tapi, kenapa? Apa alasannya?


Tidak lama kemudian, ponselnya berdering setelah cukup lama hening. Trent memeriksa siapa yang memanggil dan sebelah alisnya terangkat. "Orang ini, apa lagi maunya?" gumamnya sebelum dengan enggan menerima panggilannya. "Halo, ada apa?"


"Sudah lama Anda tidak datang. Bagaimana jika Anda mampir? Kebetulan ada barang baru yang sangat sesuai dengan selera Anda. Saya yakin Anda akan menyukainya." Di ujung panggilan, Yoana berkata dengan sangat lembut dan hati-hati.


"Jika kucing liar itu masih belum menunjukkan dirinya di sana, jangan harap aku datang!" Dengan satu kalimat itu, Trent menutup panggilannya. Ia sedang kesal karena urusan perusahaan, ditambah Yoana yang terus mengubungi dan meminta ia datang padahal Tatiana saja masih belum kembali, membuat kekesalannya menjadi berlipat ganda.


Sebenarnya kemana perginya otak semua orang hari ini?


Haish.. sangat menyebalkan.


Di kediamannya, Yoana menjauhkan ponsel dari telinganya dengan marah ketika panggilan terputus. "Sial," makinya. Ia tahu Tatiana adalah gadis kesayangan Trent. Namun ia tidak menduga pria itu benar-benar menyayanginya.


Sekarang, apa yang harus ia lakukan?


Mengingat bagaimana penolakan yang Tatiana lakukan, ia tahu Tatiana tidak akan pernah kembali. Bahkan orang-orang yang ia kirim untuk menyeret gadis itu, kembali berturut-turut dengan tangan kosong.


Bagaimana jika gadis itu gigih untuk tidak kembali?


Kepalanya menjadi pusing tiap kali memikirkannya.


Uangnya, sumber uangnya yang berharga, ia tidak bisa kehilangannya. Tidak. Ia tidak boleh kehilangannya. Tidak akan pernah.


***


Beberapa orang ditakdirkan tidak bisa tidur sepanjang malam. Namun Catalina tidur dengan nyenyak dan bangun keesokan harinya dengan bahagia.


"Selamat pagi." Catalina membuka matanya dengan senyum kecil yang mengembang. Hari kepulangan adalah hari yang selalu ia nantikan. Meski tidak ada hal atau kegiatan istimewa yang bisa ia lakukan di kondominium, namun ia merasa kondominiumnya adalah tempat terbaik yang pernah ada.


Ia ingin segera tiba di sana dan tidur di kasurnya. Membuat mie instan dan merokok. Bersih-bersih. Ia merindukan semuanya. Merindukan hal-hal kecil yang biasanya ia lakukan.

__ADS_1


Catalina mengalihkan pandangannya ke sekeliling dan melihat dua koper milikinya sudah terkemas dengan baik dan juga sudah siap terbang bersamanya ke London.


Dan bajingan itu, Nick, masih tidak muncul juga. Benar-benar manager paling santai yang pernah ada. Namun meski sangat menganggur, Nick mematok harga yang sangat mahal. Padahal daripada manager, pria itu lebih pantas disebut lintah darat karena menghisap habis semua uangnya.


Catalina bangun lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dua puluh menit kemudian ia keluar dan mulai merias wajahnya sebelum mengenakan pakaian santai berupa celana jeans pendek dan crop top yang dipadukan dengan sneaker.


Catalina bercermin sekali lagi sebelum keluar dari kamar dengan menyeret dua kopernya. "Selamat pagi, Stacey," ucapnya begitu melihat gadis itu berdiri di depan pintu kamarnya.


"Ya, selamat pagi, Nona," sahutnya sambil mengambil alih satu koper berukuran sedang. Menyisakan Catalina dengan satu koper berukuran kecil. Kemudian mereka bersama-sama pergi ke bandara dan tidak sengaja bertemu dengan Julie dan Lexus.


Meski mereka berdua memakai masker, kacamata dan topi, sama seperti dirinya, namun Catalina dapat mengenali mereka dengan sekali lihat. Lagipula, orang-orang yang tidak ingin ia temui, bagaimana mungkin ia tidak mengenalinya?


Sial. Betapa sialnya ia bertemu mereka.


Haish..


Dengan perasaan tidak senang, Catalina berjalan mendekat menghampiri mereka. "Aku pikir kalian mengambil penerbangan malam?" tanyanya sambil menatap mereka berdua secara bergantian. Jika mereka belum saling melihat, ia tidak mungkin repot-repot mengapa. Namun karena mereka sudah melihatnya dan ia sudah melihat mereka, tidak ada alasan baginya untuk menghindar.


"Cuaca tadi malam tidak begitu bagus," jawab Julie. Ia sudah mengemas semua barang-barang dan mempersiapkan semuanya termasuk tiket pesawat. Tetapi karena cuaca buruk dan masih tidak ada kepastian, ia kembali ke hotel dan menunggu penerbangan selanjutnya.


Catalina mengangguk kecil. "Aku mengerti." Untungnya ia tidak jadi mengambil penerbangan malam. Meski ia sudah sangat ingin pulang, namun ia berpikir penerbangan malam terlalu merepotkan. Itu sebabnya ia memilih penerbangan pagi. Dan ternyata pilihannya tidak terlalu buruk.


"Aku tidak menyangka kita akan bertemu di sini setelah berpisah tadi malam," Julie kembali berbicara. Karena mereka sama-sama berasal dari London, sebenarnya bukan tidak mungkin mereka kembali bersama. Namun masalahnya, mereka tidak lagi berkomunikasi setelah itu.


Belum lagi pria di sampingnya, yang biasanya tinggal di luar negeri, sekarang mendadak kembali ke London.


Julie menatap Lexus dan berbicara "Kau juga. Aku pikir kau akan kembali ke luar negeri, aku tidak menduga kau akan kembali ke London bersama kami."


"Aku harus menemui seseorang," jawab Lexus santai.


"Oh, apakah itu kekasihmu?" tanya Julie.


Lexus terkekeh. "Kau ini, berisik sekali. Sudah, jangan bicara lagi."


"Wah, lihat, kau menjadi sangat sensitif. Apa secara tidak langsung kau mengakuinya?"

__ADS_1


"Sudah ku bilang, diam."


Catalina hanya mendengarkan percakapan ini tanpa berniat untuk ikut campur. Entah Lexus punya pacar atau tidak, entah siapa yang akan dia temui, sama sekali bukan urusannya. Ia hanya ingin secepatnya meninggalkan dua orang ini dan tidak ingin terlibat lagi dengan mereka atau kesialan benar-benar akan datang kepadanya.


__ADS_2