Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 68 • RGSA - Bertingkah Seperti Layaknya Manusia ^^


__ADS_3

Di dalam lift, Catalina terjebak pada posisi yang sangat intim dengan Sehan. Pria itu memeluknya dan terus menciumi dahinya. Untung saja kacamata dan masker menutupi sebagian wajahnya hingga yang dapat dicium sejauh ini hanya dahi. Jika tidak, ia yakin semua sudah habis di mangsa pria itu.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Catalina ketika melihat Sehan berhenti menciumnya namun sebaliknya dia terus menatapnya.


"Kau sangat cantik," jawab Sehan.


"Aku tahu," sahut Catalina. Mungkin ia terlalu percaya diri dan menyakini bahwa ia cantik. Namun ia tidak peduli. Ia tidak akan merendahkan dirinya setelah dipermalukan habis-habisan oleh Sehan.


Sehan terkekeh. "Kita sudah sampai." Belum juga perkataannya selesai di ucapkan, pintu lift sudah terbuka. Mereka berdua turun dan berjalan sebentar sebelum akhirnya di sambut oleh keterkejutan semua orang.


Melihat Sehan menjemput Catalina secara pribadi, jangankan dua sekretaris, Kenny pun sejujurnya sedikit terkejut. Meski sudah menduga gadis ini yang Sehan maksud, namun tetap saja Kenny masih kesulitan mempercayai apa yang ia lihat. Namun mengingat betapa profesionalnya ia, ia berhasil menyembunyikan raut keterkejutannya dengan baik.


Kenny dan dua sekretaris berdiri kemudian membungkukkan sedikit badannya. "Selamat datang, Nona." Mereka menyapa Catalina secara serempak. Karena gadis itu datang bersama Sehan, gadis itu pasti sangat istimewa. Apalagi ini adalah pertama kalinya seorang gadis datang bukan untuk urusan bisnis.


Karena jika untuk urusan bisnis, yang akan turun ke bawah dan menyambut pasti Kenny, bukan Sehan. Dari situ, mereka menyimpulkan bahwa gadis ini adalah kekasihnya. Kekasih yang dikatakan rumor.


Catalina mengangguk kecil.


"Siapkan teh dan cemilan," ucap Sehan ketika berjalan melewati mereka, mengajak Catalina masuk ke ruangannya.


Begitu siluet Sehan dan Catalina menghilang di balik pintu, mereka bertiga menghela nafas lega. Berdekatan dengan Sehan terlalu menyeramkan. Lebih seram dari rumah hantu. Namun mereka tidak menduga si rumah hantu itu ternyata membawa masuk seorang gadis ke ruangannya.


Tidak hanya itu, Sehan bahkan tampak memperlakukan gadis misterius itu dengan sangat baik hingga gadis itu terlihat nyaman berada di dekatnya. Situasi yang cukup langka. Tidak. Sangat langka.


Tetapi sayangnya, gadis itu menutup wajahnya dengan masker dan kacamata hitam, membuat mereka gagal mengenalinya kecuali Kenny. Di antara mereka bertiga, hanya Kenny yang mengetahui siapa gadis itu dan darimana asal-usulnya.


Gabriella, sekretaris yang lebih tua buka suara, "Tuan Kenny, apa kau tahu sesuatu tentang gadis itu? Entah kenapa aku merasa dia sedikit familiar." Ia menatap Kenny penuh harap. Berharap pria itu akan memberitahukan siapa gadis yang bos bawa.


Posturnya yang tinggi, tubuhnya yang ramping dan indah, juga pakaiannya yang mahal, Gabriella menduga identitas gadis ini tidak biasa. Entah dia anak konglomerat atau selebriti, gadis itu terlihat seperti selebriti kaya anak konglomerat.

__ADS_1


Kenny mengangkat bahu. "Tidak semua hal bisa kalian ketahui. Ada beberapa hal yang lebih baik tetap seperti itu." Selesai berkata, ia melangkah pergi menyiapkan hal-hal yang Sehan minta.


Sementara itu di ruang kerja, begitu masuk ke dalam, Catalina segera meletakkan tasnya dan mendudukkan dirinya di sofa. Setelah mengatur nafas, ia melepas masker dan kacamata hitamnya lalu meletakkannya di atas tasnya.


Tidak lupa ia mengedarkan pandangannya mengawasi sekeliling.


Ruang kerja Sehan jauh dari apa yang ia bayangkan. Daripada dingin, kesan yang ditampilkan di sini cukup lembut dan tidak membosankan.



"Kau lelah?" Sehan mendudukkan diri di samping Catalina kemudian menumpuk tangannya di tangan gadis itu dan menggenggamnya.


"Tidak juga," jawab Catalina. "Aku hanya sedikit gugup," imbuhnya. Ini adalah pertama kalinya ia datang. Jika ia datang sendiri atau Kenny yang menjemputnya di lobi, maka tidak akan menjadi masalah.


Namun masalahnya, Sehan turun ke bawah secara pribadi.


"Kau gugup atau tidak sabar?" tanya Sehan, sedikit mengejek.


"Tidak sabar?" Catalina terkekeh. "Sehan, aku serius." Menghadapi Sehan, memang tidak pernah mudah. Jika dulu pria itu terlalu lalim dan tidak berperasaan, sekarang pria itu sangat cabul dan mesum.


"Kau pikir aku tidak serius?"


Catalina menggelengkan kepala, enggan menanggapi lagi.


Melihat Catalina diam dan tidak lagi berbicara, Sehan bangkit dari duduknya lalu menarik tangan gadis itu. "Aku hanya bercanda. Jangan marah lagi, oke? Sekarang, ayo kita bekerja." Sambil menunggu tanggapan dari Catalina, Sehan menatapnya lekat.


Catalina mengulas senyum tipis. "Siapa yang marah? Aku tidak," ucapnya sembari bangkit dari duduknya lalu melangkah bersama menuju meja kerja pria itu.


Sehan duduk di kursinya dan menarik pinggang Catalina hingga gadis itu jatuh dan terduduk di pangkuannya.

__ADS_1


Catalina terkejut. "Sehan, kau sendiri yang bilang kita akan bekerja, jangan lupakan itu!"


"Ya, kita memang akan berkerja." Sehan mendorong kursinya mendekat sedikit ke meja. "Kau lihat, di depanmu adalah dokumen yang dikirim dari Rusia. Kita bisa mendiskusikannya sekarang." Selesai berkata, Sehan mencium bibir Catalina dan menyelesaikan ciumannya dengan cepat sebelum mempersilahkan Catalina untuk mulai membaca dokumennya.


"Apa kau bercanda? Bagaimana kita bisa bekerja jika posisi kita seperti ini?" tanya Catalina, sedikit kesal. Ruang kerja Sehan bukanlah ruangan dengan jumlah kursi terbatas, atau bukan ruangan yang kekurangan kursi. Di depan meja kerjanya bahkan ada dua kursi kosong yang tidak di duduki siapapun.


Mengabaikan keluhan Catalina, Sehan menciuminya kecil-kecil di leher. "Kau tahu, beberapa hari yang lalu aku mengubah susunan furniture di sini," ucap Sehan, memberikan sedikit informasi sekedar untuk mengalihkan perhatian Catalina.


Benar saja, seketika Catalina melupakan keluhannya dan lebih fokus dengan apa yang Sehan katakan. "Benarkah?" tanyanya. Meski tidak tahu bagaimana susunan perabotannya sebelum di ubah, namun Catalina merasa tatanan yang seperti adalah yang terbaik.


"Ya. Dulu kursi dan meja kerjaku membelakangi jendela. Melawan arah cahaya. Sekarang tidak lagi." Entah sejak kapan Sehan menyukai melihat keindahan melalui jendela. Mungkin sejak mengenal Catalina. Lebih tepatnya setelah gadis itu benar-benar masuk ke dalam hidupnya.


Gadis itu mengajarkan betapa indah dunia yang selama ini ia kesampingkan.


Jika dulu hidupnya hanya tentang bekerja dan mencari uang, maka sekarang tidak lagi. Sekarang ia memiliki harapan. Harapan untuk masa depan yang lebih baik dengan seorang gadis.


Catalina mendengarkan dengan seksama sambil membayangkan tatanan ruang kerja Sehan sebelum di ubah ketika suara ketukan di pintu terdengar.


Tahu itu adalah Kenny, Sehan segera memberikan instruksi. "Masuk." perintahnya.


Gabriella membantu membukakan pintu kemudian Kenny masuk dengan nampan berisi dua cangkir teh serta cemilan. Melihat bosnya tampak sangat menikmati waktu berdua dengan Catalina, ia bersorak di dalam hati.


Sudah sepatutnya bos bertingkah seperti ini layaknya manusia normal. Karena dengan kehadiran Catalina di sini, mampu menetralisir aura-aura jahat yang biasanya berputar di sekitarnya.


"Letakan di sana," Sehan kembali memberikan perintah sambil menunjuk ke arah meja sofa tanpa sedikit pun melonggarkan pelukannya di pinggang Catalina.


Kenny segera meletakkan nampannya dan bersiap pamit undur diri namun ia terkejut ketika melihat pintu tiba-tiba terbuka dari luar. Melihat siapa yang datang, bola matanya membulat. Jantungnya hampir saja jatuh di kakinya ketika melihat sosok itu.


Orang ini, kenapa berada di sini?

__ADS_1


__ADS_2